LOGINAcara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr
Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel
Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia
Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He
Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B
Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.







