MasukDania terkejut bukan main ketika membaca nama yang tertera di kartu kecil pada buket bunga itu.Selamat Ulang Tahun, Sayang. ~ Devano SebastianUntuk beberapa saat, ia hanya terpaku menatap tulisan tersebut. Jantungnya berdegup tidak nyaman, seolah-olah seseorang baru saja menariknya kembali ke masa lalu yang susah payah ia tinggalkan.Buket bunga yang semula terlihat indah itu mendadak terasa seperti sesuatu yang menjijikkan.Devano.Dari sekian banyak orang di dunia ini, mengapa harus pria itu yang mengirimkan bunga kepadanya?Dania bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Devano mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Selama tiga tahun menjadi istri rahasia pria itu, ulang tahunnya tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang istimewa. Tidak ada kejutan, tidak ada hadiah, bahkan tidak ada ucapan sederhana yang benar-benar tulus.Dulu, Dania selalu berusaha memaklumi semuanya. Ia berpikir mungkin Devano memang bukan tipe pria romantis. Ia juga meyakinkan dirinya sendiri bahwa selama
“Aku punya satu hadiah lagi untukmu,” tutur Kaivan tiba-tiba saat Dania telah beranjak mendekati ranjang. Dania kembali menoleh dan menatap suaminya dengan sorot heran. Entah kenapa, tiba-tiba saja dirinya menjadi gugup. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Terlebih, tatapan Kaivan tampak berbeda dari beberapa menit lalu. “Hadiah apa?” tanya Dania dengan suara pelan. “Kamu sudah memberi hadiah yang sangat berharga untukku. Aku tidak ingin merepotkanmu,” lanjut wanita itu sembari menetralkan kegugupannya. Tetapi tetap saja tak berhasil. Padahal beberapa menit lalu dirinya dan Kaivan baru membicarakan tentang rencana dua minggu ke depan dengan santai. Namun, dalam hitungan menit saja atmosfer di sekitar mereka langsung berubah drastis. Sepertinya hanya Dania yang merasakannya. Karena Kaivan masih tampak santai. “Hanya hadiah kecil. Aku harap kamu menyukainya,” jawab Kaivan seraya mempertipis jaraknya dengan Dania. “Ini sama sekali tidak merepotkan. Karena aku juga menyukainya
Dania tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Sejak meninggalkan ruang tamu, pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Jemima. Perempuan itu datang dengan kemarahan yang begitu besar hanya karena Kaivan menghentikan sokongan dana untuk perusahaan Devano.Dania bahkan tidak tahu harus merasa kesal atau kasihan. Pada akhirnya, ia hanya memilih untuk tidak memikirkannya lagi. Zavian sudah tidur di kamar sebelah. Setelah memastikan putranya nyaman, Dania kembali ke kamar utama dan menunggu Kaivan yang masih berada di bawah.Namun, rasa lelah yang sejak tadi ia tahan akhirnya membuat matanya semakin berat. Ia bahkan tidak menyadari kapan akhirnya tertidur. Sampai sebuah suara keras tiba-tiba terdengar.Brak!Dania terlonjak. Matanya langsung terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Dalam keadaan masih setengah sadar, ia segera bangkit dari tempat tidur.“Apa itu?”Dania menoleh ke sisi lain ranjang. Kosong. Kaivan tidak ada. Ia langsung teringat kejadian beberapa hari terakhir. Orang asin
“Ma!” Suara kecil itu terdengar dari arah dalam rumah.Dania yang masih berdiri di ruang tamu langsung menoleh. Sebelum sempat mengatakan apa-apa, Zavian tiba-tiba berlari keluar dari arah lorong. Langkah kecilnya terdengar tergesa-gesa.“Ma!”Dania refleks membuka kedua tangannya. “Zavian, jangan lari!”Namun, bocah kecil itu sudah lebih dulu menghampirinya.Dania segera berjongkok dan menangkap tubuh mungil tersebut sebelum mengangkatnya ke dalam pelukan. “Pelan-pelan, Sayang. Jangan berlari seperti itu.”Zavian langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Dania. Ia sama sekali tidak peduli dengan suasana tegang yang sejak tadi memenuhi ruang tamu. Bahkan, anak itu tampak tidak menyadari bahwa ada seorang perempuan asing yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.Dania justru sedikit panik. Ia baru menyadari bahwa Zavian sudah berada di sana ketika melihat tatapan Jemima berubah. Perempuan itu yang sebelumnya terlihat marah tiba-tiba terdiam. Matanya tertuju kepada Zavian. Ada se
“Perusahaan Devano Sebastian Mendadak Kehilangan Sokongan Dana, Ada Masalah dengan Pihak Investor?”Dania mengernyit. “Devano?”Ia membuka berita tersebut. Semakin lama membaca, semakin serius ekspresinya. Beberapa portal bisnis memberitakan hal yang hampir sama.Salah satu sumber pendanaan terbesar perusahaan Devano disebut tiba-tiba menghentikan dukungan finansial. Tidak ada penjelasan resmi mengenai penyebabnya, tetapi perubahan tersebut terjadi tidak lama setelah Devano terlibat dalam sejumlah masalah bisnis.Dania membaca sampai selesai. Kemudian kembali membaca dari awal. Ia baru mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Ternyata perusahaan Devano selama beberapa tahun terakhir mendapatkan sokongan dana dari salah satu perusahaan milik Kaivan.Dania menatap layar dengan bingung. “Sejak kapan?”Selama mengenal keduanya, Dania selalu melihat Kaivan dan Devano seperti dua orang yang tidak pernah bisa berada dalam satu ruangan tanpa saling bersitega
“Jangan menyentuh urusan yang bukan milikmu.” Devano yang sejak tadi berdiri di hadapan meja kerja Kaivan langsung mengernyit. Tatapan pria itu berubah menjadi penuh kecurigaan. “Apa maksudmu?!” Kaivan tertawa sumbang. Tawa pendek itu justru membuat suasana di ruangan menjadi semakin menekan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, kemudian menatap Devano tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar. “Jangan berpura-pura bodoh.” Suara Kaivan terdengar tenang, tetapi justru itulah yang membuat ancamannya terasa lebih nyata. “Aku tahu kamu yang mengganggu istriku.” Devano terdiam. Kaivan menyipitkan mata. “Apa begitu sulitnya melupakan Dania?” Ekspresi Devano berubah signifikan. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Untuk sesaat, pria itu seperti kehilangan kata-kata. Kaivan menangkap perubahan tersebut. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Apa kamu sangat kurang kerjaan sampai mengikuti bulan madu kami?” “Jangan asal menuduh!” Devano membalas dengan sua







