MasukDelapan tahun.Benar, aku sudah menyia-nyiakan delapan tahun hidupku untuknya.Dan dalam hidup ini, berapa banyak delapan tahun yang masih kita punya?Harvey terus bersujud, setiap kali menghantamkan kepalanya semakin keras.Seolah-olah rasa sakit yang kurasakan selama ini bisa dia tebus dengan menyakiti dirinya sendiri.Orang-orang di sekitar kami makin banyak. Mereka berhenti berjalan dan mulai memperhatikan kami.Bisikan-bisikan mulai terdengar, semua orang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.Harvey, yang dulu paling peduli dengan pandangan orang lain, kini seolah tidak peduli siapa pun.Tatapannya kosong, tetapi dia terus bersujud."Bangun."Namun dia menolak. Bahkan kepalanya kembali menghantam lantai lebih keras."Harvey, menurutmu semua ini ada gunanya?""Semuanya sudah terjadi. Ibuku sudah dimakamkan. Apa gunanya kamu lakukan semua ini sekarang?""Celine ...."Bibirnya bergerak, suaranya bergetar."Aku tahu aku seharusnya nggak datang. Aku tahu kamu nggak mau lihat ak
Harvey baru mengetahui keberadaanku lebih dari sebulan kemudian.Dia meminta bantuan banyak orang dan bertanya ke sana-sini.Sampai akhirnya, seorang kenalan lama yang dulu tidak terlalu dekat dengannya memberi petunjuk."Aku pernah lihat dia di Kota Handara."Hari itu juga Harvey langsung membeli tiket.Begitu pesawat mendarat, dia berdiri di pintu keluar bandara, menatap kota asing yang tidak dikenalnya.Untuk sesaat dia bahkan tidak tahu harus mulai mencari dari mana.Kota Handara ini terlalu luas, dengan begitu banyak perusahaan.Dia mencoba mencari satu per satu, menelepon satu per satu.Ada yang mengatakan tidak kenal, ada juga yang langsung menutup teleponnya.Dari sore hingga malam, dia terus menelepon sampai baterai ponselnya habis dan tenggorokannya kering.Keesokan harinya dia mengubah caranya. Dia mendatangi perusahaan satu per satu dan bertanya langsung.Dia membawa fotoku, lalu menanyakan ke resepsionis apakah pernah melihatku.Sebagian besar orang menatapnya seperti oran
Harvey mencari ke seluruh rumah duka dan pemakaman di penjuru kota.Satu per satu tempat dia datangi, satu per satu orang dia tanyai.Hingga akhirnya, di sebuah pemakaman yang dipenuhi bunga, dia menemukan nama ibuku.Batu nisannya masih baru. Foto Ibu yang terpasang di sana menampilkan senyum yang cerah.Senyum itu begitu mirip dengan senyum Ibu setiap kali bertemu dengannya.Dulu, Ibu selalu menggenggam tangannya dan berkata dengan mata berbinar, "Harvey, aku titip Celine sama kamu. Kamu harus perlakukan dia dengan baik, ya."Harvey berlutut di depan makam itu. Kedua lututnya menghantam tanah dengan keras hingga terasa sakit.Namun dia sama sekali tidak merasakan apa pun."Tante ...."Dia mulai berbicara, tetapi suaranya sudah serak hingga terdengar asing di telinganya sendiri.Tidak ada satu pun kata yang mampu keluar.Apa yang bisa dia katakan?Haruskah dia mengatakan bahwa saat luka di punggungku dijahit sebanyak tujuh belas jahitan, dia justru sedang mengobati luka Shenia?Harusk
Tanpa sadar, Harvey kembali mengingat penyebab penyakit ibuku.Dia teringat saat tiba di rumah sakit. Ibu sudah terbaring lemah di ranjang, menatap kosong ke langit-langit dengan wajah pucat.Saat itu, aku mencengkeram erat tangan Shenia dan berteriak kepadanya dengan perasaan hancur.Ternyata, aku bukan sedang marah tanpa alasan.Shenia-lah yang membuat kondisi ibuku memburuk hingga akhirnya jatuh sakit.Namun saat itu, Harvey justru berpihak padanya dan melawanku. Dia mendorongku menjauh dan memilih membela Shenia.Bahkan ketika melihat luka di punggungku, dia tetap pergi tanpa ragu.Saat menyadari semua itu, Harvey merasa seluruh tenaganya seakan hilang.Dia jatuh terduduk di lantai, tangannya yang menggenggam ponsel bergetar hebat."Maafin aku, Celine. Aku salah ... aku benar-benar salah.""Tolong ... angkat teleponku."Dia terus meneleponku, terus berharap keajaiban akan terjadi.Namun pada akhirnya, nomor yang dulu selalu terhubung dengannya kini sudah tidak aktif.Pada saat itu,
Keesokan paginya, Harvey terbangun oleh sinar matahari yang terasa menyilaukan.Dia hendak mengangkat tangan untuk menutupi cahaya, tetapi baru menyadari Shenia masih tertidur dengan kepala bersandar di lengannya.Harvey menatapnya lama, tetapi entah kenapa hatinya justru terasa kosong.Sejak kemarin sampai sekarang, aku sama sekali tidak menghubunginya.Biasanya, aku pasti sudah mengirim pesan berkali-kali. Marah, cemas, lalu memintanya pulang.Tapi kali ini, ponselnya tetap sepi, dan itu justru membuatnya gelisah.Tanpa sadar, pikirannya kembali ke kejadian terakhir saat bertemu denganku.Saat itu aku terjatuh dengan begitu menyedihkan, punggungku berlumuran darah.Aku merangkak keluar kamar sambil memanggil dokter dengan suara yang hampir tak terdengar.Saat itu, dadanya terasa seperti diremas. Dia bahkan sempat ingin menghampiriku.Tapi setelah melihat sikapku terhadap Shenia, dia menahan diri.Dia merasa aku perlu "diberi pelajaran", agar lebih pengertian dan tidak selalu menuntut
Hari ini, ketika aku sedang mengurus kepulangan Ibu dari rumah sakit, aku turun sebentar untuk mengambil sesuatu, dan tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari dalam kamar rawat.Begitu kembali, aku melihat Shenia sedang berlutut di depan ranjang Ibu, memohon ampun sambil terus bersujud."Maaf, Tante. Aku sudah nyakitin Celine dan menghancurkan hubungan mereka.""Aku memang nggak tahu malu. Aku yang menggoda Harvey. Tante boleh pukul atau marahin aku!""Jangan khawatir, Tante. Aku akan pergi dengan kemauanku sendiri dan aku akan kembalikan kebahagiaan Celine."Ibu yang baru saja pulih kembali harus menghadapi pukulan yang begitu berat.Dengan wajah penuh amarah, dia menunjuk Shenia lalu berusaha bangkit dari ranjang."Diam kamu!""Aku nggak akan pernah biarkan Celine bersama pria seperti dia!"Namun, baru beberapa langkah keluar, tiba-tiba tubuh Ibu ambruk ke lantai.Tangannya mencengkeram dada erat-erat, seolah kesulitan bernapas."Tante! Tante, kenapa?"Shenia buru-buru hendak men







