LOGINSuasana di dalam mobil itu terasa tegang. Arash mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Sesekali ia melirik Gisel yang duduk dengan tidak tenang. Kedua pergelangan tangan perempuan itu masih terikat, membuatnya kesulitan bergerak bebas. Gisel terus berusaha melepaskan ikatan tersebut. Namun, semakin keras ia menariknya, semakin terasa sakit kulit di sekitar pergelangan tangannya. Ia tidak punya banyak pilihan selain menunggu kesempatan untuk meloloskan diri. "Lepasin aku, Arash! Kamu sudah keterlaluan! Kita sudah resmi bercerai. Aku bukan istri kamu lagi, jadi berhenti mengganggu hidupku!" Arash meliriknya sekilas. Rahangnya mengeras mendengar ucapan itu. "Perceraian kita cuma urusan hukum, Gisel. Itu nggak mengubah apa pun. Kamu tetap milikku!" "Jangan bicara seolah-olah aku masih punya hubungan sama kamu! Kamu sendiri yang menghancurkan semuanya. Setelah semua yang kamu lakukan, kamu masih merasa berhak mengatur hidupku?"
Suara benturan dan gesekan ban dengan aspal memecah keheningan malam. Motor itu terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Bhaskar dan Gisel ikut terjatuh bersama kendaraan tersebut. Keduanya sempat terguling di atas aspal, tetapi beruntung tidak terseret terlalu jauh. Meski begitu, beberapa bagian tubuh mereka mengalami luka lecet akibat bergesekan dengan permukaan jalan. Rasa nyeri juga mulai terasa di siku, lutut, dan bagian tubuh lainnya. Gisel segera bangkit setelah terjatuh. Ia menoleh ke arah Bhaskar yang berada tidak jauh darinya, lalu buru-buru menghampiri pria itu. "Kak Bhaskar! Kakak nggak apa-apa?" Belum sempat Bhaskar menjawab, mobil hitam yang tadi menyerempet mereka tiba-tiba berhenti beberapa meter di depan mereka. Lampu belakangnya masih menyala, menerangi sebagian jalan yang gelap. Pintu pengemudi kemudian terbuka dan seorang pria berbadan tegap keluar dengan langkah cepat. Wajah pria itu terlihat kusut. Tatapannya tajam, sementara sorot matanya menunjukk
"Mari, Bu Gisel. Hati-hati pulangnya. Sudah malam ini," sapa Pak Yono, salah satu staf senior yang kebetulan baru saja hendak meninggalkan gedung kantor. Gisel menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh sambil tersenyum ramah. "Iya, Pak. Terima kasih. Bapak juga hati-hati, ya." Setelah berpamitan, Gisel kembali melangkah menuju pintu utama. Suasana lobi kantor sudah cukup sepi. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Ia baru saja menyelesaikan beberapa tumpukkan berkas laporan yang harus diserahkan keesokan paginya, sehingga ia terpaksa harus lembur. Dengan langkah sedikit lelah, Gisel mendorong pintu kaca utama dan keluar menuju pelataran parkir. Ia berniat memesan taksi online untuk pulang karena tidak membawa kendaraan sendiri hari itu. Namun, sebelum sempat berjalan lebih jauh, suara dari pos keamanan membuatnya berhenti. "Mau nunggu jemputan, Bu Gisel?" tanya satpam yang sedang berjaga malam itu. Gisel menoleh dan tersenyum tipis. "Enggak, Pak. Saya mau
Sejak Bhaskar siuman, hubungan keduanya terasa semakin dekat. Gisel tidak lagi ragu menunjukkan perhatiannya, sementara Bhaskar mulai terbiasa menerima kehadiran perempuan itu di sisinya. Hampir setiap pulang kerja, Gisel menyempatkan diri datang untuk menjenguknya. Hingga pada suatu sore di penghujung pekan, dokter yang merawat Bhaskar akhirnya mengizinkannya pulang. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan bahwa kondisinya terus membaik. Respons tubuhnya terhadap obat cukup baik, tekanan darahnya stabil, dan tidak ada keluhan baru yang mengharuskannya tetap dirawat di rumah sakit. Meski begitu, dokter tetap mengingatkan Bhaskar agar tidak terlalu banyak beraktivitas. Ia harus beristirahat di rumah, mengurangi aktivitas yang berat, meminum obat sesuai jadwal, dan menjalani pemeriksaan rutin untuk memantau kondisi jantungnya. Kabar itu disambut lega oleh Lintang bahkan Zio. Gisel pun ikut merasa senang karena akhirnya Bhaskar bisa meninggalkan rumah sakit dan beristirahat di rumah
Hari yang ditunggu-tunggu Gisel akhirnya tiba. Setelah melalui proses hukum yang cukup panjang dan melelahkan, perceraiannya dengan Arash kini resmi selesai. Pengacaranya baru saja mengirimkan pesan yang mengabarkan bahwa putusan perceraian mereka telah berkekuatan hukum tetap dan pengurusan akta cerai bisa dilanjutkan.Gisel membaca pesan itu berulang kali, memastikan dirinya tidak salah memahami isinya. Beban berat yang selama ini menghimpit hidupnya seolah terangkat begitu saja. Pernikahan yang telah membuatnya begitu lama menderita akhirnya benar-benar berakhir.Kabar itu datang di tengah kekhawatirannya terhadap Bhaskar. Beberapa jam sebelumnya, Lintang mengirimkan pesan yang mengabarkan bahwa pria itu sudah siuman. Begitu membacanya, Gisel langsung bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk menjenguk Bhaskar. Langkah Gisel menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa hingga akhirnya berhenti di depan kamar VVIP tempat Bhaskar. Di sana, ia melihat Lintang yang baru saja kelua
Gisel bergegas masuk ke rumah sakit bersama Dara. Begitu tiba di ruang tunggu, ia langsung melihat Lintang yang duduk dengan kepalanya yang tertunduk. Di dekatnya, ada Bara yang sedang memangku Zio, sementara di sisi lain, Joji dan Reva berdiri dengan wajah tak kalah cemas. “Tante Lintang...” panggil Gisel dengan suara bergetar. Mendengar suara Gisel, Lintang segera bangkit dan menghampirinya. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia memegang kedua pundak Gisel. “Gisel...” ucapnya lirih. Suaranya pecah, seolah ia sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Gisel menatap Lintang dengan mata berkaca-kaca. “Tante, sebenarnya apa yang terjadi sama Kak Bhaskar? Kenapa dia sampai begini?” Lintang menunduk sejenak sebelum kembali menatap Gisel. Air matanya mengalir lagi saat akhirnya ia mengungkapkan sesuatu yang selama ini disembunyikan putranya. “Bhaskar punya penyakit jantung bawaan sejak lahir, Sel.” Gisel terdiam. Ia menatap Lintang tanpa berkedip, berusaha memahami kalima







