INICIAR SESIÓNLaras perlahan menoleh dan mendapati Raksa yang sedang menatapnya dengan sangat tajam.Senyum Laras langsung menghilang. Ia mengalihkan pandangannya.Kenapa?Atasannya itu terlihat marah. Laras lalu kembali mencuri pandang.Tapi ternyata Raksa masih menatapnya.Apa aku terlalu kampungan? Mungkin dia malu punya bawahan seperti aku yang heboh minta foto artis. Laras mulai merasa gusar.Ia menelan ludah. Atau... dia hanya sedang kesal?Entahlah, mood pria itu memang terkadang naik turun. Laras memilih diam dan memainkan ponselnya, melihat-lihat hasil jepretan foto tadi.Namun perhatian Raksa langsung tertuju pada tangan Laras. Ada perban yang melilit salah satu tangannya. Sejak tadi ia memang tidak menyadarinya karena Laras terus menutupi tangan itu.Kenapa tangannya diperban? Apa yang terjadi?Dan yang paling mengganggu pikirannya adalah satu hal. Bagas. Apa yang dilakukan si brengsek itu kali ini?Raksa mengepalkan tangannya di bawah meja.Di tengah kekesalan Raksa yang belum mereda, ma
"Hmm.." Bagas malah semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Laras. "Yaudah, mas coba lihat dulu.." lirihnya. "Tapi.. nanti malam Mas mau melepas rindu sama istri Mas ini yaa," ucapnya manja.Laras tersenyum. “Iya, Mas. Yaudah sana, tenangkan Linda.”Bagas mengurai pelukannya, ia mencubit pipi Laras pelan. "Kamu ini, jangan terlalu baik, Sayang.""Aku cuma nggak mau ribut, Mas. Gimana pun kan kita tinggal bareng serumah."Sementara ini, lanjut Laras dalam hati.Bagas akhirnya menurut, ia pergi meninggalkan Laras sendiri di kamar itu. Begitu langkah kakinya menghilang, Laras menghembuskan napas lega. Untuk sementara, ia berhasil keluar dari situasi itu.Namun... Bagaimana jika suatu hari nanti Bagas kembali menuntut haknya sebagai suami?Tadi saja.. Laras hampir terbuai oleh kelembutan suaminya. Ia lupa, jika kelembutan itu tidak hanya Bagas berikan pada dirinya.Kalau kejadian seperti tadi terulang lagi, akankah ia mampu untuk terus menolak?***Keesokan harinya setelah tragedi di r
Laras mengangkat wajahnya, sesaat ia terbuai dengan perhatian Bagas. Tidak memungkiri, bertahun-tahun waktu yang mereka lalui bersama, membuat Laras tidak semudah itu menghilangkan rasa cintanya pada sang suami. Apalagi, Bagas kini bersikap lembut padanya."Sayang, jawab Mas. Beritahu Mas kalau ada sesuatu, ya?""Iya, Mas." Jawab Laras patuh.Bagas memandang lekat istrinya. Ada sesuatu yang selama ini ia lupakan semenjak Linda datang ke rumah ini, wajah menggemaskan istrinya. Dan juga.. istrinya yang selalu menurut padanya tanpa banyak protes.Tangannya masih menggenggam tangan Laras."Laras... Sayang..." Panggilnya parau.Bagas perlahan mendekat. Dari jarak yang hanya sejengkal itu, ia bisa merasakan aroma yang ia kenal selama bertahun-tahun hidup bersama sang istri. Sesuatu dalam dirinya bergolak, pandangan matanya mulai sayu.Bagas mendekatkan wajahnya, sebelah tangannya membelai lembut pipi Laras. Wajah polos istrinya yang balas memandangnya membuat Bagas semakin tersulut. Hingga
Waktu pulang kerja, kini menjadi waktu yang paling dibenci Laras. Begitu pintu rumah terbuka, Laras langsung berhadapan dengan Linda.Perempuan itu berdiri di ruang tamu dengan wajah yang terang-terangan tidak senang melihat kehadiran Laras."Cih, kirain Mas Bagas."Laras tidak menjawab. Ia melepas sepatu dan beniat menuju kamarnya. Sama sekali tidak mempedulikan eksistensi wanita ular itu.Linda menyilangkan tangan di depan dada, kepalanya menengadah berusaha menunjukkan kekuasaannya di rumah yang ia tumpangi itu."Percuma Mas Bagas punya istri, kalau kerjaannya keluyuran terus." Sindir Linda.Laras menoleh.Linda tersenyum sinis. "Linda cuma kasihan sama Mas Bagas. Pulang kerja capek, tapi istrinya malah jarang ada di rumah."Ia lalu melangkah mendekat. "Seorang istri seharusnya mengurus suaminya. Bukan sibuk main-main nggak jelas sampai lupa kalau ada suami yang menunggu di rumah. Remaja juga bukan."Laras menatapnya datar."Bahkan babi sekalipun bisa mengenali baunya sendiri," sin
"Kita berangkat bersama," ajak Raksa.Laras yang sedang berjalan menuju mobilnya pun berhenti. "Berangkat... bersama?""Kita kan searah," sahut Raksa acuh tak acuh."Saya berangkat sendiri aja, Pak." Laras langsung menolak.Alis Raksa terangkat. "Kenapa? Itu sangat tidak praktis."Tidak praktis? Yang ada hidup saya bisa terancam terkikis kalau berangkat bareng Bapak. Mikir dong, hey.. wahai Bapak Raksasa yang maha benar. Bapak mah enak atasan, lah saya.. gimana nasib saya yang cuma kroco ini. Protes Laras, yang tentu saja hanya berani ia ucapkan dalam hatinya."Kita bisa jadi bahan gosip, Pak," jawab Laras. "Saya sudah pernah memberitahu Bapak kan? Kreativitas orang-orang di perusahaan dalam mengembangkan cerita sudah setara penulis novel."Bahasa halusnya tukang gibah. Lanjut Laras dalam hatinya."Itu urusan mereka. Saya tidak peduli.""Tapi, saya, amat, sangat, peduli, Pak." Ucap Laras penuh penekanan.Raksa menatap Laras, ia lalu terkekeh. "Baiklah. Kita berangkat masing-masing saj
"Tante juga udah bilang ke mamah kamu, katanya boleh kok.." bujuk Laksmi."Iya, tante." Ucap Laras akhirnya. Ia tidak bisa lagi menolak.Senyum Laksmi langsung mengembang.Kamar tamu yang disiapkan untuk Laras ternyata nyaman dan jauh lebih sederhana daripada yang ia bayangkan. Tempat tidur yang sudah dirapikan, meja kecil di sampingnya, serta beberapa bantal membuat Laras kembali menguap hanya dengan melihatnya."Kalau butuh apa-apa, bilang saja. Jangan sungkan, anggap rumah sendiri," ujar Raksa dari ambang pintu.Laras terlonjak, ia tidak tahu Raksa di sana. Pria itu terlihat lebih santai dengan kaos dan celana pendek.Raksa mendekat dan memberikan baju ganti. "Pakai ini, kamu pasti nggak nyaman istirahat pakai baju itu."Laras menerimanya. Namun kenapa ada baju wanita muda di sini? Modelnya terlalu modern untuk tante laksmi. Laras melirik pria di depannya yang ternyata sedang memandangnya itu."Kenapa? Kamu nggak suka? Saya carikan yang lain, sebentar.." Raksa hendak berbalik pergi
"Kenapa kamu bisa nggak tahu, Lin?" desaknya lagi, karena Linda tak kunjung menjawab.Linda menggeleng pelan."Linda nggak tahu, Mas.. Linda nggak pernah ikut kalau orang-orang lagi ngegosip. Linda nggak suka ngomongin orang," ucapnya pelan, dengan wajah yang ia buat lugu.Bagas terdiam. Raut wajah
Laras berdiri di depan cermin. Pantulan wajahnya menatap balik.Perempuan yang berdiri di sana terasa asing dengan tatapannya yang kosong.Tangannya bergerak pelan, membuka keran.Air mengalir.Laras lalu membasuh wajahnya.Sekali.Dua kali.Lalu lagi.Dan lagi.Menggosoknya.Membasuh dengan air.Go
"Laras, bantu Mas... cepat!"Laras terpaku di ambang pintu. Napas Linda terdengar berat, seperti menahan sakit."Mas.. sakit.." lirihnya. Keningnya dipenuhi keringat.Bagas tampak semakin panik. "Sakit sekali? Tahan ya, Lin.. ayo kita ke rumah sakit sekarang."Genangan air perlahan merambat, mendek
Ada banyak cara untuk menghancurkan hati seorang istri, dan Bagas memilih cara yang paling kejam.. dengan membawa perempuan itu pulang.Laras tidak pernah tahu, jika perasaan cinta yang selama bertahun-tahun suaminya bisikkan dengan lembut, ternyata sedangkal itu.Kepercayaan yang Laras jaga sepenu







