Share

Bab 37. Mas Raksa

Penulis: Bayang Wiradipa
last update Tanggal publikasi: 2026-08-14 16:30:57

Satu per satu anggota keluarga Atmadhira masuk ke kamar untuk istirahat saat malam semakin larut.

Laksmi dan suaminya lebih dulu masuk ke kamar. Bella menyusul beberapa saat kemudian setelah menerima telepon dari Sean.

Ruang televisi yang sebelumnya ramai perlahan menjadi sunyi.

Laras bangkit dari sofa. “Saya mau ke luar sebentar, Pak. Bapak silahkan istirahat.”

Raksa hanya mengangguk.

Laras berjalan menuju teras, meninggalkan Raksa yang hanya bisa menatap punggung Laras yang semakin menjauh.

B
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 62. Bertukar Nomor

    Raksa menatap Linda sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Laras. "Mau nambah?"Laras menoleh, Raksa menunjuk piring Laras dengan dagunya. "Kamu makan lahap sekali, kalau masih kurang pesan lagi," ucapnya lembut.Linda yang daritadi bicara langsung terdiam. Raksa tidak meresponnya. Seolah ia tidak ada di sana.Linda tersenyum kaku. "Pak Raksa...""Makan kamu sedikit, pantas pertumbuhan kamu terhenti," ledek Raksa, yang tentu saja tertuju pada pujaan hatinya, Laras."Saya makan banyak, kok," protes Laras, ia tidak terima.Linda memperhatikan keduanya. Tatapan Raksa kepada Laras jelas-jelas bukan seperti seorang atasan ke karyawannya.Linda masih terus berusaha mengembalikan percakapan. Kenapa selalu Laras, lagi-lagi Laras. Ia dibakar amarah sejak semalam karena Bagas malah memikirkan Laras saat bersamanya, dan sekarang.. lelaki setampan Raksa malah memperhatikan Laras.Dasar perempuan gatel, nggak cukup Mas Bagas, sekarang Pak Raksa juga.. Linda menggigit bibirnya, rasa ir

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 61. Makan Siang

    Begitu tiba di kantor, meja kerja Laras sudah penuh oleh berkas.Matanya berbinar, ia meregangkan tangannya sebelum mulai membereskan kekacauan yang menumpuk di atas mejanya. Laras jadi semakin menyukai pekerjaannya, karena sekalipun membuat sakit kepala, setidaknya ia tidak mengingat rumah tangganya saat bekerja.Laras meletakkan tas, lalu meraih ponsel. Ternyata layarnya tidak menyala. "Baterainya habis?"Laras baru teringat bahwa semalam ia tidak mengecas ponsel. Ia segera mencolokkannya ke charger. Ia memilih mengabaikannya untuk sementara dan mulai fokus.Ketika jam makan siang tiba, Fika menghampiri meja Laras."Makan, yuk."Laras mengangkat kepala dari balik tumpukan kertas."Ayo. Aku juga udah lapar."Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika seorang karyawan dari bagian depan menghampiri."Bu Laras. Ada yang mencari Ibu di lobi."Laras berhenti. "Siapa?""Katanya keluarga Ibu."Fika langsung menoleh. "Siapa, Lars?"Laras mengendikkan bahunya tak acuh. "Nggak tahu."Sesampa

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 60. Suami yang Adil

    Laras sontak beringsut menjauh, membuat Raksa terbahak."Pfft.. Jangan takut, saya cuma bercanda. Kamu pikir saya akan benar-benar melakukannya?""Kelihatannya begitu," gumam Laras."Saya jadi tersinggung. Secara tidak langsung kamu ngatain saya mesum?""Emangnya nggak?" sungut Laras."Yah.. kamu tidak salah sih," canda Raksa, membuat Laras terbelalak. "Nah.. panggil saya Mas. Ayo, coba..""Kenapa harus Mas, sih?" gerutu Laras, ia lalu memalingkan wajahnya ke jendela, menatap gelapnya malam."Kalau kamu terus-terusan manggil saya Pak, ngobrol santai pun rasanya kaya lagi rapat. Hahh.." Raksa menghela napas. "Saya ingin pembicaraan kita lebih santai.""...""Atau... Kamu masih merasa nggak nyaman sama saya? Kamu sengaja jaga jarak?" tanya Raksa, ia terdengar sedih.Laras semakin gusar. "Mas.. Raksa," panggilnya malu-malu.Senyum Raksa mengembang."Kenapa Bapak senyum-senyum gitu? Aneh kan?" protes Laras.Raksa tertawa, membuat Laras semakin salah tingkah. Dari sudut matanya, ia melihat

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 59. Candaan Berbahaya

    "Pak, udah jam segini." Laras baru menyadari waktu sudah mendekati tengah malam.Raksa melirik jam di pergelangan tangannya. "Hm, lalu? Kenapa?"Laras membelalak. "Emangnya Bapak nggak mau pulang?""Nggak," jawab Raksa ketus, ia kesal.. kenapa waktu cepat sekali berlalu.Laras tidak habis pikir, kenapa lelaki di depannya itu senang sekali mencari ribut dengannya. "Kalau kita jalan sekarang, kira-kira bisa sampai di kota S jam berapa, Pak?" "Kalau jalanan lancar, sekitar dini hari.""Maaf, Pak. Saya terlalu asyik belanja sampai lupa waktu."Laras membeli pernak pernik lucu, dan beberapa barang lain. Ia memanfaatkan uang Raksa dengan baik, anggap saja lemburan menemani atasan? Siapa suruh dompetnya disita."Jangan merasa bersalah. Saya juga menikmatinya. Dan juga.. kan saya yang ngajak kamu jalan-jalan."Laras baru teringat dompetnya masih ada di Raksa. "Pak, dompet saya..""Nanti, kalau udah sampai. Kamu nggak lihat saya lagi fokus nyetir?" Tiba-tiba terbesit pikiran untuk mengusili L

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 58. Kencan

    Laras menatapnya curiga. "Film? Tiba-tiba? Sekarang?""Iya.""Film apa?""Nanti kamu juga tahu.""Bapak kan bisa nonton nanti kalau sudah di kota S. Kenapa harus jauh-jauh di sini?""Sama kamu?""Kenapa sama saya?""Barusan kamu ngajak saya nonton lagi kan kalau udah di kota S? Oke, saya akan meluangkan waktu buat kamu.""Astaga," Laras memijat pelipisnya.Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Laras menatap Raksa, ia masih tidak percaya dengan kelakuan random atasannya itu."Pak, kita beneran mau nonton?"Raksa turun dari mobil, lalu berjalan mengitari bagian depan kendaraan untuk membukakan pintu bagi Laras. "Kamu masih mempertanyakan itu setelah kita berhenti di sini. Ayo turun, princess."Laras merengut, ia menerima uluran tangan Raksa dan turun dari mobil dengan bibirnya yang mengerucut."Kenapa kamu memasang wajah menggoda begitu, kamu minta saya cium?" Raksa berbisik di sebelah Laras.Laras langsung memukul Raksa, ia celingukan ke sana sini, takut orang di sekitar mereka

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 57. Jalan-jalan

    Laksmi bangkit dan menghampiri Laras. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk Laras.Laras sedikit terkejut dengan sikap tiba-tiba Laksmi padanya. Namun sesaat kemudian, tubuhnya perlahan lebih rileks dalam pelukan itu."Kalau kamu capek, jangan dipendam sendiri ya," bisik Laksmi.Laras menelan ludah. "Iya, Tante.""Mamah kamu mungkin tinggal di kota sebrang, tapi di sini ada Tante. Jangan sungkan untuk datang ke sini kalau kamu butuh sesuatu, ya?"Laras mengangguk. Ia merasa takjub, bagaimana bisa ibu dan anak mengatakan hal yang sama padanya."Terima kasih, Tante."Menjelang sore, Dyah dan Laras akhirnya berpamitan."Terima kasih udah mampir," kata Laksmi. "Kapan-kapan main ke sini lagi ya, yang lama. Kalau bisa nginep."Dyah terkekeh, ia sudah lebih lega setelah mencurahkan isi hatinya pada Laksmi. "Iya, iya."Laras memeluk Laksmi sekali lagi. "Kami pulang ya, Tante."Baru saja mereka hendak menuju mobil, terdengar suara langkah dari arah dalam rumah. Raksa menghampiri mereka, ia

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 6. Wanita Sempurna

    "Kenapa kamu bisa nggak tahu, Lin?" desaknya lagi, karena Linda tak kunjung menjawab.Linda menggeleng pelan."Linda nggak tahu, Mas.. Linda nggak pernah ikut kalau orang-orang lagi ngegosip. Linda nggak suka ngomongin orang," ucapnya pelan, dengan wajah yang ia buat lugu.Bagas terdiam. Raut wajah

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 5. Penghuni Baru

    Laras berdiri di depan cermin. Pantulan wajahnya menatap balik.Perempuan yang berdiri di sana terasa asing dengan tatapannya yang kosong.Tangannya bergerak pelan, membuka keran.Air mengalir.Laras lalu membasuh wajahnya.Sekali.Dua kali.Lalu lagi.Dan lagi.Menggosoknya.Membasuh dengan air.Go

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 4. Suami Penyayang

    "Sayang masih marah? Maaf, Sayang.. semalam Mas mau balik ke kamar, tapi Linda kesaki...""Sudah matang. Mas tunggu di meja," potong Laras."Sayang.. Laras.." panggilnya sendu. Ia memeluk Laras dari belakang. "Istriku.. Mas minta maaf, Mas yang salah. Laras boleh marah sama Mas, tapi jangan lama-la

  • Saat Aku Berhenti Menjadi Istrimu   Bab 3. Ular Berbisa

    "Bertiga?" tanya Laras, keningnya berkerut."Iya.. aku, kamu, Linda. Kita sekarang kan keluarga.""Linda juga? Linda seneng banget Mas. Mulai sekarang Linda jadi adiknya Mbak Laras, ya?"Laras memutar bola matanya malas. "Adik? Mending aku adopsi kambing aja buat jadi adik.""Hehe.. Mbak Laras peng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status