FAZER LOGIN“T-tuan, kau tidak apa-apa?” cicit Adeline terbata-bata di sela napasnya yang memburu. Suaranya hampir tenggelam di antara derasnya air hujan yang tumpah ruah menghantam tanah dan rumput basah.Pria itu tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang kelabu menatap lurus, mengunci manik mata Adeline yang melebar karena syok. Dia perlahan menggeser tubuhnya dari tanah basah, lalu bangkit berdiri dengan gerakan yang tegap dan tenang, seolah insiden yang nyaris merenggut nyawa mereka barusan hanyalah tiupan angin berlalu.Tangan kokohnya terulur ke depan. Adeline, dengan sisa-sisa tenaga dan rasa terkejut yang masih menguasai dadanya, menerima uluran tangan itu. Tarikan tangan pria tersebut begitu kuat dan mantap, membantu Adeline berdiri tegak meski kedua kakinya masih terasa gemetar hebat.“Aku baik-baik saja,” jawab pria itu rendah. Suaranya berat, tenang, dan tertata rapi. Matanya menyapu penampilan Adeline sekilas dari atas sampai bawah. “Tapi sepertinya kau yang jauh dari kata baik-
Langkah kaki Adeline terasa begitu berat dan lambat saat dia mendorong pintu yang membatasi koridor utama dengan ruang rias khusus pemain utama. Udara di dalam ruangan itu terasa dingin menusuk kulit, berbau aroma khas campuran semprotan parfum mahal, hairspray, dan sisa-sisa produk tata rias yang berhamburan di atas meja kayu berbingkai lampu-lampu sorot. Cermin besar bertingkat itu memantulkan wajahnya yang tampak amat pucat pasi, menyisakan guratan kelelahan mental yang luar biasa di balik pulasan bedak tipis yang dipakaikannya tadi pagi.Adeline menghela napas panjang, berniat mendudukkan dirinya di atas kursi kulit untuk sekadar menenangkan debar jantungnya yang masih menggila akibat suasana penuh tekanan di luar tadi. Dia di sana sendiri, sedangkan Nora keluar sebentar menjawab telepon. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh sandaran kursi, suara ketukan hak sepatu tinggi terdengar bergema pelan di ambang pintu—sebuah ritme langkah yang lambat, terukur, dan penuh dengan keang
Gelombang kemarahan yang membakar dada Talia bagai lahar panas yang mendesak untuk segera meledak, menuntut jalan keluar atas sesak yang meremukkan rongga dadanya. Tampak di tengah riuhnya lalu lintas kota malam itu, mobil mewah berjenis SUV yang dikemudikannya melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan aspal basah oleh sisa gerimis yang baru saja reda. Pantulan lampu-lampu neon dari gedung pencakar langit tampak buram di kaca depan mobil, seirama dengan pandangan matanya yang berkabut karena emosi. Tatapannya lurus ke depan, penuh amarah yang memburu, sementara jemarinya mencengkeram lingkar kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah setir berlapis kulit itu adalah leher seseorang yang ingin ia hancurkan hingga tak bernyawa.Skandal murahan antara Asher dan Adeline yang berseliweran di layar ponselnya baru saja menyulut api di dalam dirinya, tetapi ada satu nama yang terus berputar di kepalanya, memicu rasa jijik sekaligus murka yang teramat sangat.Isolde.Ota
Ruangan kerja mewah di apartemen dengan cahaya lampu-lampu kota yang menyala dari luar memantul di balik jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Namun, di dalam ruangan itu sendiri, suasana terasa begitu membentang oleh ketegangan yang menyesakkan, seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak tersedot habis oleh beban masalah yang luar biasa besar.Udara malam seolah membeku, membawa serta sisa-sisa badai kekacauan yang baru saja dihantamkan oleh dunia luar. Tampak di atas meja kerja yang biasanya tertata sangat rapi dan steril, kini berserakan dokumen-dokumen kontrak penting, serta laporan-laporan perusahaan yang dibiarkan tergeletak begitu saja berantakan.Asher menyesap cairan whisky amber berharga mahal langsung dari gelas kristalnya yang berat, membiarkan sensasi terbakar meluncur perlahan di tenggorokannya. Di tangan kirinya, sebatang rokok terbakar perlahan, mengepulkan asap tipis ke udara malam yang dingin. Matanya yang tajam menatap lurus ke luar
“Mom, aku bosan di rumah! Aku ingin bermain di taman, tapi aku tidak mau kalau hanya ditemani oleh pengasuhku dan pengawal-pengawal bertubuh besar itu! Aku bosan, Mom! Mereka tidak bisa aku ajak bermain secara bebas, mereka cuma bisa melarangku!”Protes keras meluncur begitu saja dari bibir mungil Alyssa sembari menekuk bibirnya dalam-dalam di kala langkah kaki kecilnya menerobos masuk ke dalam kamar tidur utama milik ibunya. Gadis kecil itu langsung melipat kedua tangannya erat-erat di depan dada, memasang raut wajah cemberut penuh amarah khas anak kecil yang merasa hak kebebasannya direnggut paksa.Bukan tanpa alasan Alyssa bersikap begitu keras kepala hari ini. Hari-hari yang dijalaninya di dalam kediaman megah bertingkat itu terasa kian mengekang, kaku, dan membosankan. Ke mana pun dia melangkah—bahkan hanya untuk sekadar memetik bunga di pekarangan belakang—dia selalu dibuntuti oleh bayang-bayang pengasuh pribadi dan dua pengawal berbadan tegap yang mengawasi setiap gerak-gerikny
“Nora, di mana Adeline? Apa dia pulang?”Adam dibuat bingung setengah mati di kala kakinya melangkah masuk ke dalam ruang istirahat lokasi syuting. Maksud hatinya datang ke sana adalah untuk menjenguk Adeline yang mendadak kurang sehat dan sedang beristirahat. Namun, alih-alih mendapati Adeline yang terbaring di sofa, ia justru dihadapkan pada pemandangan ruang istirahat yang lengang dan sunyi. Udara dingin dari pendingin ruangan berembus menusuk kulit, menghantam wajah Adam yang mendadak menegang. Tidak ada siapa pun di sana.Ya, sebelum Adam datang, Nora sebenarnya sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Pun kini, Nora dibuat bingung sekaligus terkejut bukan main. Pikirannya mendadak kalut melihat ruangan yang benar-benar kosong melompong. Benda-benda yang ada di atas meja kecil di sudut ruangan justru makin menambah rasa cemas yang menghimpit dadanya.Bahkan ponsel dan tas Adeline saja ditinggal begitu saja. Tas kulit kesayangannya masih tergeletak miring di atas mej
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng







