로그인Ruangan kerja mewah di apartemen dengan cahaya lampu-lampu kota yang menyala dari luar memantul di balik jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Namun, di dalam ruangan itu sendiri, suasana terasa begitu membentang oleh ketegangan yang menyesakkan, seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak tersedot habis oleh beban masalah yang luar biasa besar.Udara malam seolah membeku, membawa serta sisa-sisa badai kekacauan yang baru saja dihantamkan oleh dunia luar. Tampak di atas meja kerja yang biasanya tertata sangat rapi dan steril, kini berserakan dokumen-dokumen kontrak penting, serta laporan-laporan perusahaan yang dibiarkan tergeletak begitu saja berantakan.Asher menyesap cairan whisky amber berharga mahal langsung dari gelas kristalnya yang berat, membiarkan sensasi terbakar meluncur perlahan di tenggorokannya. Di tangan kirinya, sebatang rokok terbakar perlahan, mengepulkan asap tipis ke udara malam yang dingin. Matanya yang tajam menatap lurus ke luar
“Mom, aku bosan di rumah! Aku ingin bermain di taman, tapi aku tidak mau kalau hanya ditemani oleh pengasuhku dan pengawal-pengawal bertubuh besar itu! Aku bosan, Mom! Mereka tidak bisa aku ajak bermain secara bebas, mereka cuma bisa melarangku!”Protes keras meluncur begitu saja dari bibir mungil Alyssa sembari menekuk bibirnya dalam-dalam di kala langkah kaki kecilnya menerobos masuk ke dalam kamar tidur utama milik ibunya. Gadis kecil itu langsung melipat kedua tangannya erat-erat di depan dada, memasang raut wajah cemberut penuh amarah khas anak kecil yang merasa hak kebebasannya direnggut paksa.Bukan tanpa alasan Alyssa bersikap begitu keras kepala hari ini. Hari-hari yang dijalaninya di dalam kediaman megah bertingkat itu terasa kian mengekang, kaku, dan membosankan. Ke mana pun dia melangkah—bahkan hanya untuk sekadar memetik bunga di pekarangan belakang—dia selalu dibuntuti oleh bayang-bayang pengasuh pribadi dan dua pengawal berbadan tegap yang mengawasi setiap gerak-gerikny
“Nora, di mana Adeline? Apa dia pulang?”Adam dibuat bingung setengah mati di kala kakinya melangkah masuk ke dalam ruang istirahat lokasi syuting. Maksud hatinya datang ke sana adalah untuk menjenguk Adeline yang mendadak kurang sehat dan sedang beristirahat. Namun, alih-alih mendapati Adeline yang terbaring di sofa, ia justru dihadapkan pada pemandangan ruang istirahat yang lengang dan sunyi. Udara dingin dari pendingin ruangan berembus menusuk kulit, menghantam wajah Adam yang mendadak menegang. Tidak ada siapa pun di sana.Ya, sebelum Adam datang, Nora sebenarnya sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Pun kini, Nora dibuat bingung sekaligus terkejut bukan main. Pikirannya mendadak kalut melihat ruangan yang benar-benar kosong melompong. Benda-benda yang ada di atas meja kecil di sudut ruangan justru makin menambah rasa cemas yang menghimpit dadanya.Bahkan ponsel dan tas Adeline saja ditinggal begitu saja. Tas kulit kesayangannya masih tergeletak miring di atas mej
Suara hantaman pintu yang tertutup rapat masih berdengung di dalam rongga dada Asher, meninggalkan getaran kehampaan yang luar biasa tajam. Ruangan apartemen mewah bernuansa monokrom itu kini terasa jauh lebih luas, sekaligus begitu menyesakkan. Bau sisa pertengkaran, aroma air mata yang asin, dan bau amis darah dari buku-buku jari Asher yang terkoyak berpadu menjadi satu atmosfer yang suram, dingin, dan mencekam.Asher masih berdiri mematung di tempat yang sama, tepat di hadapan dinding pembatas ruang tamu. Tangannya yang terluka mengeluarkan tetesan darah segar ke lantai marmer putih, tetapi rasa perih di fisiknya sama sekali tak sebanding dengan hantaman telak yang meremukkan jiwanya. Kata-kata terakhir Adeline terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak—menyayat, menghakimi, dan menelanjangi segala kebusukan masa lalunya tanpa ampun.“Mencintai seseorang dengan tulus, tapi orang yang paling dicintai malah memberikan luka yang begitu hebat, itu sama rasanya dengan membunuh ses
Suara tawa hambar mendadak lolos dari bibir Adeline—sebuah suara yang terdengar begitu hampa, kering, dan menyayat hati, meski manik matanya sama sekali tidak memancarkan secercah pun rasa lucu.“Kenapa? Terkejut karena aku tidak lagi selemah dulu saat kau buang begitu saja ke jurang penderitaan?” cemooh Adeline, suaranya bergetar tipis namun mengandung racun yang mematikan. “Kau pikir setelah apa yang kau perbuat padaku, aku akan dengan sukarela membiarkan anak-anakku tahu siapa ayah mereka? Oh, tidak, Asher. Sampai kapan pun, aku tidak mau mereka tahu bahwa mereka memiliki darah seorang pengkhianat di tubuh mereka.”“Anak-anak itu juga darah dagingku!” bentak Asher, suaranya menggelegar dahsyat, memecah keheningan apartemen mewah itu hingga seolah menggetarkan dinding dan kaca jendela.Hilang sudah sisa-sisa kesabaran di dalam diri pria itu. Langkah kakinya maju menerjang bagaikan predator lapar yang kehilangan kendali, mencengkeram kedua bahu Adeline dengan kasar tanpa ampun. Cengk
“A-Asher … l-lepaskan aku,” ucap Adeline tertatih susah payah, meminta Asher melepaskan dirinya. Dia mati-matian berusaha untuk berontak, tapi jelas itu tidak mudah. Pria itu mencengkeram lehernya cukup kuat, bahkan mengunci seluruh pergerakannya dengan tubuh kokohnya, membuatnya benar-benar tak bisa lepas dari kungkungan maut itu.Kemarahan hebat membentang dan membakar setiap saraf di dalam diri Asher. Pria itu sudah kehilangan kewarasannya, sampai-sampai tak memedulikan rintihan sakit serta isakan tertahan yang lolos di bibir Adeline. Seluruh benaknya kini telah gelap, hanya terisikan oleh satu fakta telak yang baru saja terbongkar, Adeline telah dengan sengaja melakukan sabotase pada hasil tes DNA yang pertama. Pengkhianatan itu merayap ke kepalanya bagaikan racun mematikan.“Berani sekali kau menipuku, Adeline?!” geram Asher penuh amarah, suaranya bergemetar rendah penuh ancaman di dekat telinga wanita itu.Adeline nyaris kesulitan untuk bernapas akibat cengkeraman tangan Asher y
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng
Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m







