Mag-log inAdeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi.
Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasokan oksigen. Adeline bahkan kini merasa tak bisa bernapas. Terlalu sesak—membuat paru-parunya seakan penuh dengan kumpulan air. Oh, ini gila. Dia tak lagi bisa berpikir jernih.
Pria yang ada di hadapan Adeline sangat jelas. Dia adalah pria yang memberikan luka amat dalam padanya. Namun, kenapa semesta mengajaknya bercanda dengan mempertemukannya kembali dengan pria yang sampai detik ini dirinya upayakan mati-matian untuk melupakan.
Saat Adeline tenggelam akan pandangannya, pria itu jelas mulai menyadari kehadiran sosok Adeline. Tampak tatapan mata pria itu menyorot menatap Adeline penuh keterkejutan nyata. Ruangan itu cukup penuh dengan banyak orang, tetapi atmosfer—seakan menunjukkan di ruangan itu hanya ada Adeline dan dirinya.
Mereka saling bertatap dalam. Tatapan yang memiliki jutaan arti di balik aura wajah yang memancarkan jelas keterkejutan. Tenggorokan mereka seakan sama-sama tercekat, tak mengeluarkan kata apa pun.
AC dingin merayapi setiap sudut ruangan itu, tetapi kenyataannya meski ruangan dingin, ada dua insan yang saling merasakan ada bara api yang berada di sekeliling mereka. Bara api panas timbul dari suasana pertemuan yang seharusnya tak kembali ada.
“Tuan Lennox, terima kasih atas kedatangan Anda,” sapa Cole Blake, sang produser, memberikan senyuman sopan pada investor yang berdiri di hadapannya.
Asher Lennox tetap bergeming tak bergerak apa pun. Bahkan sapaan sang produser, masih belum dia jawab. Pria tampan itu masih menatap dalam sosok wanita di depannya. Wanita yang sudah lama tak lagi dia temui.
“Tuan Lennox, perkenalkan wanita cantik di depan Anda adalah Adeline Hart, artis yang baru-baru ini menyabet penghargaan artis wanita terbaik di Prancis,” ujar Cole Blake, memperkenalkan Adeline.
Tak ada kata yang diucapkan oleh Asher. Pria tampan itu tetap diam, dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan. Telinganya mendengar jelas ketika Cole memperkenalkan sosok Adeline. Bahkan perkenalan singkat tentang Adeline—bagaikan sebuah teka-teki yang berputar di kepalanya.
“Adeline, di depanmu adalah Tuan Asher Lennox. Beliau adalah investor besar di Luxe Vision Entertainment,” ujar Cole memperkenalkan Asher Lennox sebagai investor.
Adeline berusaha melukiskan senyuman anggun di wajahnya. Sangat terpaksa. Senyuman yang sebenarnya tak ingin dia lukiskan. Namun, jika dia memasang wajah dingin, dia khawatir akan menimbulkan sebuah kecurigaan.
“Selamat malam, Tuan Lennox. Suatu kehormatan untuk saya bisa bertemu dengan Anda,” ucap Adeline dengan formal, dan tetap sopan.
Asher tetap diam, menatap Adeline dengan penuh maksud. Detik selanjutnya, pria tampan itu mengangguk, berusaha untuk tenang. Rasa terkejut memang mengguncang, tetapi dia tak ingin ada orang yang curiga.
“Baiklah, aku rasa kita bisa memukai makan malam. Pelayan sudah menghidangkan makan malam kita. Mari kita duduk,” ajak Cole, sopan pada semua orang.
Semua orang setuju, mereka duduk di tempat yang sudah disediakan. Adeline berusaha untuk mengambil tempat yang jauh dari Asher, tetapi sayangnya Cole malah memerintahkannya untuk duduk di dekat Asher. Hal ini membuat Adeline menjadi tak nyaman.
“Tuan Lennox, terima kasih sudah datang ke Paris. Apa Anda akan lama di kota ini?” tanya Cole sembari menikmati makanan yang terhidang.
“Tidak akan lama,” jawab Asher dingin.
Cole mengangguk. “Ah, benarkah? Aku pikir akan lama. Kebetulan tim Luxe Vision Entertainment akan kembali ke New York di akhir bulan ini.”
“Good. Selesaikan saja dulu pekerjaan kalian di sini,” jawab Asher tetap dingin.
Cole tersenyum sopan. “Tuan, saya pikir Anda datang bersama dengan istri Anda.”
Basa-basi Cole sukses membuat raut wajah Adeline berubah. Wanita cantik itu menikmati steak lezat di restoran itu, tetapi rasanya terasa pahit bahkan seakan dirinya seperti menelan racun. Bukan karena rasa makanan di restoran itu tak enak. Jelas makanan di restoran itu enak. Hanya saja rasa pahit yang muncul, akibat mendengar ucapan Cole.
Adeline tampak menunjukkan senyuman paksaan. Dia tahu bahwa pasti Asher sudah menikah lagi. Pengkhianatan yang diberikan pria itu membuatnya harusnya ingat bahwa dirinya tak sama sekali penting. Empat tahun berpisah itu adalah waktu yang lama. Jadi, sangat wajar jika Asher kembali memulai kehidupan baru dengan wanita lain.
“Aku hanya berdua dengan asistenku,” jawab Asher sambil mengambil gelas wine di hadapannya, dan menyesap perlahan.
Cole mengangguk. “Tuan, proyek film ini akan memakan banyak dana. Syuting akan diadakan dibeberapa negara. Tapi syuting pertama akan ada di New York sekitar satu minggu.”
“Kau atur saja. Aku percaya dengan Luxe Vision Entertainment,” jawab Asher lagi sambil meletakan gelas wine, dan tetap menunjukkan aura wajah dingin.
Adeline duduk di samping Asher. Setiap gerak gerik wanita itu mampu dilihat di ekor mata Asher. Dia tahu bahwa sejak tadi Adeline menunjukkan kegelisahan. Namun, Adeline terlalu hebat dalm berakting, hingga orang lain tak sadar.
Percakapan proyek film kembali dibahas. Adeline menjawab hanya singkat, sedangkan Nora menggebu-gebu akan proyek ini. Cole menjelaskan dengan detail, dan Asher mendengarkan walau tak sepenuhnya.
Asher duduk di tempatnya, mendengarkan dengan baik ucapan Cole, tapi pria itu tak fokus. Sebab, fokusnya teralihkan di kala dirinya kembali melihat sang mantan istri.
Makan malam berakhir. Semua staff Luxe Vision Entertainment tampak sibuk dengan urusan mereka. Beberapa ada yang mendokumentasikan mengambil video dan gambar. Sementara Cole pamit keluar untuk menjawab panggilan telepon. Pun Nora menjawab telepon—yang kebetulan ponselnya juga berdering bersamaan dengan ponsel Cole.
Hanya tinggal Asher dan Adeline. Mereka duduk berdampingan. Belum ada kata yang terucap. Mereka sama-sama tenggelam dengan fakta ini. Keterkejutan yang membentang—membuat mereka seakan belum bisa untuk mengeluarkan kata.
“Kau sekarang menjadi artis,” ucap Asher dingin, memulai percakapan.
“Seperti yang kau lihat,” balas Adeline tetap tenang.
“Lama tidak melihatmu di New York, ternyata kau di Paris,” ucap Asher lagi.
Adeline mengatur napasnya, mencoba untuk tenang. “Paris adalah kota yang indah. Aku suka berada di sini.”
“Kenapa harus menjadi seorang artis?” tanya Asher tiba-tiba.
“Apa ada yang salah menjadi seorang artis?” balas Adeline tenang.
“Tidak ada yang salah. Hanya tidak cocok,” kata Asher lagi.
Kening Adeline mengerut. “Baru hanya kau yang bilang tidak cocok. Semua orang yang aku jumpai di Paris, mereka bilang aku sangat cocok menjadi seorang artis.”
“Artis hanya menjual fisik, bukan otak,” ucap Asher sarkas.
Adeline tersenyum, mendengar kalimat sarkas Asher. “Aku di sini harus bisa bicara dalam Bahasa Prancis. Aku di sini dituntut pandai berakting dengan siapa pun. Aku di sini harus cerdas dalam berpenampilan dan menjaga fisikku. Kau bilang hanya menjual fisik? Aku rasa kau salah besar. Bisa Bahsa Prancis artinya membutuhkan otak yang cerdas, bukan? Bisa berakting, menghafal script, dan memikirkan penampilan serta fisik juga harus memiliki keterampilan ide, bukan? Artis adalah pekerja seni, bukan pelacur, Tuan Lennox.”
Asher tampak tersenyum sinis. “Kau sudah bisa menjawabku, Adeline. Gemerlap kehidupan para artis sepertinya sudah mengubahmu.”
“Kau salah. Aku berubah bukan gemerlap kehidupan para artis. Aku berubah, karena banyaknya badai kehidupan yang aku lalui, Tuan Lennox,” ucap Adeline lugas, dan penuh percaya diri.
Asher menatap dingin Adeline.
“Maaf, sepertinya aku harus lebih dulu pulang. Aku permisi,” pamit Adeline sambil bangkit berdiri, dan melangkah meninggalkan Asher.
Nora yang baru saja selesai menjawab telepon terkejut di kala Adeline sudah keluar dari restoran. “Wait, Adeline! Kenapa kau meninggalkanku?” serunya buru-buru, mengambil tas, dan berlari mengjar Adeline.
Cole yang juga baru selesai meenjawab telepon, tampak terkejut di kala Adeline sudah pulang. “Tuan Lennox, Adeline sudah pergi?” tanyanya pada Asher.
Asher mengangguk. “Ya, sepertinya ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan sampai harus pulang duluan.”
“Ah, begitu.” Cole manggut-manggut.
Asher menatap dingin bayang-bayang Adeline, yang mulai lenyap dari bayangannya. Kilat matanya memancarkan rasa kesal, di kala menyadari perubahan Adeline. Ini bukan hanya sedikit perubahan, tetapi ini adalah perubahan total.
Malam di kota New York tak sunyi. Banyak orang yang tampak sibuk dan tak jarang orang berlalu lalang di trotoar. Polisi tak luput dari sana. Keamanan di kota itu memang sangat ketat dan luar biasa.Adeline duduk di dalam mobil dengan raut wajah tenang, tapi sorot mata yang terlihat memikirkan sesuatu. Dia kini dalam perjalanan kembali ke apartemen, tapi mood-nya agak kacau akibat gangguan sang mantan suami.“Adeline, kau memikirkan apa?” tanya Nora sambil melajukan mobil, melirik Adeline yang duduk di sampingnya.Adeline diam, tak menyadari pertanyaan Nora.Kening Nora mengerut, menatap bingung Adeline. “Adeline?” panggilnya dengan suara agak keras agar sahabatnya itu mendengar.Adeline tersentak, dan suara Nora membuyarkan semua hal yang ada di pikirannya. Buru-buru dia menoleh, menatap Nora. “Hm? Ya?” jawabnya seakan tak terjadi apa pun.Nora menghela napas dalam. “Adeline, kau ini memikirkan apa? Dari tadi aku bicara, tapi kamu tidak mendengarkanku.”“Ah, tidak. Aku hanya terlalu l
“Acting-mu sangat bagus, Adeline. Dari tadi Adam terlihat menyukai acting-mu,” kata Nora sambil menyerahkan orange juice pada Adeline, tepat di kala waktu syuting hari itu sudah berakhir.Adeline tersenyum sambil menerima orange juice dari Nora. “Thanks, Nora. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik. Aku tidak mau membuat Adam ataupun beberapa pihak yang terlibat difilm ini kecewa. Aku berharap film ini akan sangat besar.”“Kau sudah melakukan yang terbaik, Adeline,” sambung Raphael tiba-tiba, menginterupsi percakapan Adeline dan Nora.Adeline menoleh, menatap Raphael yang mendekat. Detik itu senyuman di wajahnya terlukis melihat kemunculan Raphael. “Kau belum kembali ke hotel?” tanyanya yang agak terkejut, karena dia pikir Raphael sudah kembali ke hotel.Raphael mendekat, dan menatap hangat Adeline. “Nope, aku belum kembali ke hotel. Tadi, temanku baru saja meneleponku.”“Ah, begitu. Baiklah.” Adeline mengangguk paham.“Hmm, Adeline, aku ke parkiran dulu. Aku ingin memanaskan mobil
“Tuan, Anda harusnya tidak bicara seperti itu pada Adam.” Paul dengan berani mengatakan demikian pada tuannya di kala merasa bahwa apa yang dikatakan tuannya mendatangkan bencana.Mata Asher menyipit, menatap dingin sang asisten. “Memangnya aku bicara apa?” jawabnya merasa tak bersalah sama sekali.Paul mendesah gelisah. “Tuan, Anda menjelek-jelekkan Raphael Duret di depan sutradara. Ini jelas akan menimbulkan masalah.”“Aku tidak menjelekkan. Dia memang sudah jelek,” jawab Asher dingin.Mata Paul melebar panik mendengar jawaban tuannya. “Tuan, saya mohon jangan membuat kekacauan. Nanti kalau sampai orang berpikir macam-macam, masalah akan panjang.”Asher berdecak kesal. “Aku tidak membuat masalah. Aku juga tidak menjelekkan. Aku hanya mengatakan apa adanya.”Paul menggaruk tengkuk lehernya, tak gatal. “Tuan—”“Paul, aku tidak idiot. Aku tadi tetap bisa mengendalikan diriku. Untuk apa yang aku katakan tentang aktor sialan itu berdasarkan penilaianku. Sudah, kau jangan berisik,” potong
“ACTION!” Adam, sang sutradara memberikan interuksi agar adegan dilanjutkan. Ya, detik di mana Adam berseru ‘Action’, Raphael langsung masuk ke dalam kamar, dan memberikan ciuman liar di bibir Adeline.Hari itu scene tambahan adalah adegan intim, menjurus hampir seks. Raphael yang memerankan Ben datang ke apartemen Clarissa yang diperankan oleh Adeline. Bercerita tentang Ben yang menyesal, dan merindukan Clarissa. Ciuman serangan diberikan oleh Ben agar Clarissa luluh. Seperti yang terjadi di scene ini di mana Raphael mencium bibir Adeline dengan sangat liar.“L-lepas!” Adeline berusaha mendorong tubuh Raphael, sesuai dengan script yang dia baca memang dia dituntut untuk menolak lebih dulu.“Aku merindukanmu, Clarrisa,” bisik Raphael yang terus mencium Adeline dengan liar. Pria tampan itu mendorong tubuh Adeline hingga tergeletak di ranjang, dan tanpa diduga dia menindih tubuh wanita itu, memberikan ciuman yang benar-benar membuat Adeline nyaris kesulitan mengimbangi.Adeline sempat be
Mendadak mendapatkan adegan tambahan baru cukup membuat Adeline kini harus fokus pada script. Dia bahkan sejak tadi terus berada di ruangan khusus para artis, untuk membaca isi script dengan baik. Dia tidak mau sampai ada kesalahan. Pun untungnya tidak ada gangguan.Tenggelam dalam mempelajari isi script membuat Adeline jelas tak sadar kalau sejak tadi Raphael berdiri di dekatnya menatapnya dengan tatapan hangat, dan senyuman maut—yang bertengger di wajah pria tampan itu.“Kau terlihat ... sangat serius,” ucap Raphael yang seketika itu juga membuat Adeline mengalihkan pandangannya, menatap pria itu.“Raphael?” Adeline tersenyum melihat Raphael. Raphael mendekat. “Adegan baru yang diberikan Adam sepertinya sampai membuatmu tidak sadar kehadiranku.”Adeline mengangguk, dan tetap tersenyum. “Maaf, aku terlalu serius, sampai tidak sadar kehadiranmu.”Raphel menyodorkan kopi susu hangat yang dia sengaja beli untuk Adeline. “Aku tadi meminta kru membelikan kopi susu untukmu. Ini masih han
“Adeline, tiga hari lagi Luxe Vision Entertaiment akan mengadakan jamuan makan malam untuk beberapa artis, aktor, dan para pengusaha ternama,” ucap Nora memberi tahu pada Adeline. Dia kini sedang melajukan mobil, menuju lokasi syuting. Pagi menyapa, dia sudah berangkat lebih dulu. Ini adalah minggu terakhir syuting. Besok adalah weekend, dan itu yang membuatnya makin bersemangat.“Okay, lalu?” jawab Adeline menunjukkan rasa tak tertarik, dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya tu.Nora berdecak pelan. “Cole bilang kalau dia meminta kita wajib datang. CK! Kau ini kenapa malah terlihat tidak tertarik menghadiri pesta?”Nora mengenal Adeline cukup lama. Dia tahu betul kalau Adeline tak suka menghadiri sesuatu, sahabatnya itu akan terlihat tidak berminat setelah dia memberi tahu. Tentu hal ini yang membuatnya sekarang langsung kesal luar biasa. Maksud hati memberi tahu Adeline mendapatkan undangan khusus, tapi malah respons sahabatnya itu tidak bagus.“Aku memang tidak tertarik menghadi







