Beranda / Romansa / Saat Aku Melepasmu / Bab 6. Kesialan Tanpa Habisnya

Share

Bab 6. Kesialan Tanpa Habisnya

Penulis: Abigail Kusuma
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-04 23:58:32

Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.

Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir, tetapi tak ada suara gelegar—seolah langit memberikan tanda bahwa cuaca tidak baik di suasana musim semi itu.

“Tuan Asher ....” Paul Benson—asisten pribadi Asher—melangkah menghampiri Asher yang sejak tadi hanya berdiam diri di depan jendela besar—menatap hamparan kota Paris.

“Kenapa kau tidak bilang padaku tentang Adeline?!” Ini kalimat pertama yang Asher katakan, tepat di kala sang asisten menghampirinya.

Ya, Asher tak pernah tahu kalau Adeline berkarier di Paris, bahkan sampai menjadi artis ternama. Selama ini, bisa dikatakan dirinya terlalu fokus dengan pekerjaannya yang ada di New York, sampai tak mengikuti perkembangan yang terbaru.

Hari ini, tepat di kala Asher bertemu kembali dengan Adeline setelah empat tahun berpisah, membuatnya cukup tercengang. Apalagi fakta tentang Adeline menjadi seorang artis adalah hal yang tak pernah dia sangka sama sekali.

Empat tahun ini, Asher bisa dikatakan tak pernah tahu kabar Adeline. Pernah dia ingin tahu, tetapi dia menahan diri, karena dia ingat perpisahan ini terjadi atas keinginannya. Dia berpikir Adeline mungkin saja pergi ke sebuah kota terpencil, dan melanjutkan hidup di sana.

Namun, tak pernah sama sekali dia sangka Adeline berada di kota mewah ini. Hal yang paling tak pernah Asher kira adalah Adeline menjadi seorang artis. Yang selama ini dia tahu Adeline tak bisa berbahasa Prancis, tapi kenapa tiba-tiba wanita itu mampu berbahasa asing?  

Banyak dugaan-dugaan muncul di kepalanya, mencoba menerka-nerka mencari jawaban yang tepat. Sialnya banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya itu—tak langsung mendapatkan jawaban pasti. Semua seakan abu-abu tak menunjukkan arah sama sekali.

Paul menundukkan kepala, di kala mendapatkan teguran keras dari tuannya. “Tuan, jujur saya sendiri tidak menyangka Nyonya Adeline menjadi seorang artis. Saya memang sudah mendengar kemungkinan artis yang akan menjadi peran utama di project film ini, tapi nama Adeline Hart di dunia ini bukan hanya satu, Tuan. Itu yang membuat saya jujur merasa ragu.”

“Tapi kenyataannya pemeran utama dari project film ini adalah Adeline Hart, mantan istriku,” ucap Asher tampak geram.

Paul masih belum berani mengangkat kepalanya. Dia menyadari kesalahannya yang tidak dulu memasikan. Alhasil sekarang dia mendapatkan masalah. Dia menganggap bahwa nama Adeline Hart di dunia ini banyak, Cara pikirnya membuat malapetaka untuk dirinya sendiri.

“Tuan, apa Anda ingin saya mencari tahu tentang kehidupan Nyonya Hart selama berada di Paris?” tawar Paul, seraya memberanikan diri menatap Asher.

Asher mendecakkan lidahnya. “Untuk apa aku harus tahu kehidupan mantan istriku?” balasnya tajam.

Paul menggaruk tengkuk lehernya tak gatal, bingung dengan apa mau dari tuannya itu. “Hm, Tuan, lalu setelah Anda tahu artis yang menjadi pemeran utama di project film ini adalah istri Anda, apa yang kira-kira Anda ingin lakukan, Tuan?” tanyanya dengan nada sangat hati-hati.

Asher mengembuskan napas kasar. “Tidak ada. Tidak ada yang ingin aku lakukan,” jawabnya dingin, dan tajam. “Sekarang kau keluarlah. Jangan ganggu aku!” Pria itu langsung mengusir asistennya, di kala kepalanya terasa benar-benar penat. Meski banyak pertanyaan bergejolak, tetapi logika membuat ego di dalam dirinya muncul—hingga lidahnya tak bisa untuk mengeluarkan pertanyaan.

“Baik, Tuan. Saya permisi.” Paul menundukkan kepalanya, dan melangkah pergi meninggalkan tuannya.

Asher tetap bergeming di tempatnya, melihat gemerlap kota Paris di malam hari. Sorot mata pria tampan itu tajam—menunjukkan banyak hal yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.  

***

{Adeline, hari ini ingin bertemu dengan sepupuku. Maaf, aku tidak bisa menemanimu bertemu dengan Cole. Tolong kau temui Cole di kafe langganan kita sendiri saja, ya? Nanti aku akan mengirimkan pesan pada Cole. Sekali lagi, maafkan aku. Ada hal urgent yang tidak bisa aku tinggal. Nanti malam aku akan menemuimu.}

Pagi menyapa, di kala Adeline sedang menikmati secangkir teh hijau, ada pesan masuk dari Nora. Ya, sekitar satu jam lalu, memang Nora menghubunginya, mengatakan Cole Black mengajakannya bertemu. Tentu seperti biasa Nora seharusnya menemaninya, tetapi pesan singkat yang baru saja masuk ini, membuatnya harus menemui Cole sendirian.

Adeline mendesah panjang. Wanita cantik itu melirik jam dinding, melihat waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Anak kembarnya sudah berangkat sekolah ditemani pengasuh. Maksud hati dia menunggu sampai Nora datang menjemputnya, tapi mau tak mau kali ini dia harus berangkat sendirian.

Tak ingin menunda-nunda, Adeline segera mengambil ponsel dan tasnya, dan melangkah keluar dari apartemen. Sambil berjalan menuju lobi, dia menghubungi taksi agar datang menjemputnya di lobi.

Adeline memiliki satu mobil yang dia dapatkan dari hasil jerih payah menjadi seorang artis, tetapi dia jarang sekali mengemudi. Dia terlalu terbiasa diantar oleh Nora. Hal itu yang membuatnya nyaman untuk memanggil taksi daripada harus mengemudi.  

Perjalanan apartemen Adeline menuju kafe yang ditentukan oleh Nora untuk bertemu dengan Cole memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Jujur, dia tak tahu apa alasan Cole memintanya untuk menemui pria itu. Padahal tadi malam, dia sudah bertemu dengan Cole, walau pembahasan menurutnya masih abu-abu di pandangannya.

Tadi malam harusnya menjadi malam yang spektakuler. Adeline harusnya bahagia membahas projec film terbaru. Apalagi film ini diangkat dari sebuah novel best seller. Akan tetapi, semua seakan buyar di kala dirinya dipertemukan dengan Asher—sang mantan suami yang sudah bertahun-tahun tak lagi dia temui.

Adeline kini turun dari taksi, dan membayar sang sopir dengan beberapa lembar uang. Meski ada kembalian dari sang sopir taksi, tetapi dia meminta sang sopir taksi untuk menyimpan kembalian tersebut. Sopir yang sudah tua, membuat Adeline iba. Dia tak tega sampai harus menerima kembalian uang dari sang sopir taksi itu.  

Sopir taksi sudah pergi setelah mengucapkan terima kasih pada Adeline. Lantas, Adeline masuk ke dalam kafe, dan di kala dia hendak menghampiri Cole—dia malah melihat Cole bangkit berdiri.

“Cole,” panggil Adeline bingung, melihat Cole tampak seperti ingin pergi. Padahal dirinya baru saja datang. Pun dia merasa bahwa dirinya datang tepat waktu.

Cole tersenyum, sambil menatap Adeline. “Hey, Adeline. Aku sudah dengar dari Nora, dia tidak bisa menemanimu, karena hari ini dia memiliki urusan. Thanks, kau sudah datang tepat waktu. Kita langsung berangkat saja sekarang.”

Kening Adeline mengerut, menatap Cole dengan tatapan tak mengerti. “Wait, kita berangkat ke mana? Bukankah ini tempat yang sudah ditentukan Nora untuk kau bertemu denganku?” tanyanya memastikan.

Cole mengangguk. “Kau benar. Nora memang sudah menentukan tempat ini. Tapi, tadi baru saja asistenku melaporkan padaku, bahwa aku harus bertemu dengan Tuan Asher Lennox. Jadi, menurutku lebih baik kau ikut saja denganku. Nanti kita bisa sambil ngobrol di sana.”

Raut wajah Adeline menegang mendengar apa yang dikatakan Cole. “Kau mengajakku bertemu dengan A–Asher?” tanyanya lagi spontan.

Kening Cole mengerut, menatap bingung Adeline yang memanggil Asher Lennox—sang investor besar dengan sebutan nama. “Kau terlihat sudah akrab dengan Tuan Lennox? Apakah tadi malam percakapanmu dengannya sudah sangat dekat?” balasnya bertanya.

Adeline panik, menyadari apa yang dia ucapkan salah. Sungguh, dia merutuki dirinya yang bodoh kenapa sampai memanggil nama Asher Lennox dengan panggilan non formal, seakan dirinya mengenal pria itu.

“M–maaf, aku sepertinya masih mengantuk. Tadi malam aku tidur tidak pulas. Maksudku kenapa kau harus mengajakku bertemu dengan Tuan Lennox? Aku yakin kau bisa berangkat sendiri, kan?” ujar Adeline berusaha tenang.

“Ya, aku memang bisa berangkat sendiri. Tapi, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan padamu. Jadi, aku rasa kau harus ikut.”

“Cole, tapi—”

“Come on, Adeline. Aku tidak memiliki banyak waktu. Tuan Lennox paling tidak suka menunggu lama. Tolong jangan buat aku terlambat,” potong Cole mulai kesal dengan Adeline.

Adeline benar-benar merasa tersudut. Wanita itu bingung harus seperti apa. Namun, di sisi lain dia sadar bahwa dirinya tak bisa untuk bersikap seenaknya. Dia bekerja di dunia entertainment—di mana dia harus menuruti aturan yang ada.

“Baiklah, aku ikut denganmu,” jawab Adeline terpaksa. Baru saja dia ingin mengawali pagi, dengan tanpa memikirkan mantan suaminya, tapi malah takdir seakan membuatnya dekat dengan sang mantan suami.

Cole tersenyum samar. “Good, thanks tidak mempersulitku,” jawabnya yang melangkah keluar dari kafe.  

Adeline bergeming sebentar di kala Cole sudah pergi. Kakinya seakan enggan untuk pergi. Namun mata Cole mengisyaratkannya untuk bergerak—membuatnya tak berdaya sama sekali. Dia melangkah mengikuti Cole—dengan raut wajah membendung rasa kesal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 90. Hargai Pemberian Orang Lain!

    Pagi menyapa, Adeline terbangun dengan mata yang masih mengerjap dan dikejutkan dengan sebuah kotak berukuran besar. Paket datang di pagi hari, dan diterima oleh Marie. Tampak dia mengerutkan kening, bingung melihat ada paket datang. Padahal dia merasa tak memesan apa pun.“Marie, ini paket untukku?” tanya Adeline mamstikan.Marie mengangguk. “Ya, Nyonya. Ini paket untuk Anda.”Adeline terdiam sebentar. “Tapi, aku tidak membeli apa pun.”“Hmm, mungkin Nona Nora membelikan sesuatu untuk Anda,” kata Marie menduga.Adeline tampak bingung, dan di kala dia hendak membuka paket, tiba-tiba saja Nora muncul. Detik itu, dia menoleh menatap Nora yang baru saja tiba di apartemennya.“Bonjour,” sapa Nora dengan senyuman di wajahnya.“Kau membelikanku sesuatu?” tanya Adeline tanpa menjawab sapaan Nora.Nora mendekat, menatap bingung Adeline. “Hah? Membelikanmu sesuatu? Membelikan apa?” tanyanya tak mengerti.“Ada paket datang. Tertulis untukku. Tapi, aku tidak merasa membeli apa pun,” jawab Adelin

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 89. Demi Membangun Kedekatan di Hadapan Publik

    Keheningan membentang di dalam ruang kerja milik Asher Lennox. Pria tampan itu menatap dingin, dan tajam langit malam yang tampak mendung. Musim semi telah tiba, tapi sayangnya awan mendung menyelumuti kemegahan langit luas.Tampak sorot mata Asher menunjukkan sesuatu hal yang memancing emosi di dalam dirinya. Namun, sedari tadi dia diam menahan semua gejolak. Pria itu mengambil sejak tadi menenggak vodka sambil mengisap rokok.Aroma kental tembakau bercampur dengan alkohol cukup memenuhi ruangan itu. Bukan tanpa sebab, dia bahkan sudah tak terhitung berapa putung rokok yang dihabiskan, dan berapa gelas vodka yang dia tenggak hingga tandas.Pikiran yang tak tenang, membuat Asher memang tak bisa berpikir jernih. Alkohol dan rokok seakan menjadi obat penenang sementara untuk dirinya. Namun, meski ada obat penenang sementara, tetap saja tak bisa membuatnya benar-benar tenang.Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi. Asher yang sedang berdiri di kaca besar ruang kerjanya langsung menoleh,

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 88. Merasa Ada Yang Aneh

    “Adeline? Are you okay?”Nora muncul, menatap Adeline yang tampak duduk melamun sambil memegang gelas di tangan. Dia mendekat, tapi sepertinya Adeline benar-benar tak menyadari kehadirannya.“Adeline?” panggil Nora lagi, di kala Adeline tetap tak menyadari kehadirannya. Padahal dia sudah mendekat, dan pastinya Adeline hafal parfumnya. Entah, apa yang dipikirkan sahabatnya itu.Adeline yang melamun, langsung tersentak di kala menyadari suara Nora. Dia mendongak, menatap Nora yang ada di depannya. Detik di mana dia melihat Nora, dia segera mengeyahkan pikiran yang mengganggu.“Kau kenapa?” tanya Nora merasa ada yang aneh dengan Adeline.Adeline bangkit berdiri, sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya agak lelah hari ini. Bisa kita pulang sekarang?”Nora terdiam sebentar, masih merasa bingung. “Kau lapar tidak?” tanyanya lagi memastikan.“Sedikit,” jawab Adeline tenang.“Kalau begitu sebelum pulang kita makan dulu. Tadi aku sudah menghubungi Marie. Dia bilang kembar tad

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 87. Ingin Mencari Celah Kekurangan

    “Berengsek! Pelacur sialan!”Makian Talia lolos di bibirnya begitu dia tiba di salah satu apartemen mewah pribadinya. Jika merasa jenuh dengan semuanya, dia kerap mendatangi apartemen pribadinya yang ada di salah satu kawasan elit di jantung kota New York. Talia menenggak vodka-nya, dia mengambil satu puntung rokok, menghidupkan rokoknya dan mengisap sambil mengembuskan asap ke udara. Pikiran yang kacau membuatnya benar-benar membutuhkan nikotin.Kedatangan ke lokasi syuting, menemui mantan istri dari suaminya itu sengaja ingin menyudutkan. Pun dia ingin berbangga hati karena sudah mendapatkan Asher. Namun, sialnya bukan Adeline yang marah, malah dia benar-benar seakan disudutkan.“Wanita itu mulai berani sekarang,” geram Talia penuh dengan amarah, dan dendam yang membara dalam dirinya.Hal yang membuat amarahnya terpancing adalah Adeline berani melawan. Wanita itu seakan memiliki kekuatan yang bisa untuk melindunginya. Hanya menjadi artis tak berarti apa pun.“Nyonya?” Mia Lane, asi

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 86. Hanya Pelacur yang Merebut Suami Orang

    Syuting berjalan tak semulus biasasanya. Adeline beberapa kali harus mengulang-ulang adegan. Mungkin bisa dikatakan mood Adeline belum sepenuhnya baik. Namun, beruntung di kala Adam memaparkan kekecewaan selalu saja Raphael membela. Pria itu seaakan berdiri tegak di depan Adeline, memastikan bahwa Adeline diperlindungan yang aman.Isolde sempat menyindir Adeline, tapi tentu Adeline Hart bukan lagi wanita yang lemah. Setiap sindiran halus Isolde mampu dilawan Adeline dengan mudah. Apalagi Adeline memegang kartu Isolde. Ya, kecelakaan waktu itu tak bisa dianggap enteng. Adeline sengaja tak membongar ke media agar bisa selalu memiliki senjata melawab Isolde—yang selalu tak pernah menyukainya.Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Adeline baru saja menyelesaikan satu adegan yang terbilang cukup penting. Nora sedang keluar sebentar, sedangkan Adeline kini hanya sendiri di ruang artis sambil meminum teh hangat.“Adeline?” panggil Adam yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan khusus artis.Adeli

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 85. Dendam yang Makin Berkobar

    “Nyonya, ada tamu.”Seorang pelayan melapor begitu melihat Talia baru saja keluar dari ruang kolam renang. Pun wanita itu masih mengenakan bathrobe. Dia hendak menuju kamar, tetapi langkahnya terhenti di kala mendapatkan laporan dari sang pelayan.“Tamu? Siapa?” tanya Talia sambil menatap sang pelayan. Dia ingat betul dirinya tak memiliki janji dengan siapa pun.“Nyonya Sandra Lawson, teman Anda datang. Beliau ingin bertemu dengan Anda,” jawab sang pelayan sopan.Talia mengangguk, di kala ternyata salah satu teman sosialitanya datang. “Baiklah. Minta dia untuk masuk.”“Baik, Nyonya.” Pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Talia. Tak selang lama, tatapan Talia teralih pada Sandra Lawson yang muncul. Detik itu Talia tersenyum dan memberikan pelukan. Dia masih memakai bathrobe, dan memilih untuk tak berganti pakaian dulu.“Hey, kau tidak bilang mau ke sini?” tanya Talia ramah.“Aku hanya mampir sebentar. Aku akan liburan dengan suamiku ke Spanyol. Aku ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status