LOGINKeheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.
“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Adeline yang sejak diam.
Pertanyaan Nora belum dijawab oleh Adeline. Lebih tepatnya, Adeline masih melamun, dengan pikiran yang entah ke mana.
“Adeline?” panggil Nora sedikit keras.
Adeline langsung membuyarkan lamunannya. “Hm? Kenapa Nora?”
Nora menghela napas kasar. “Tadi aku tanya, kenapa kau malah pergi dari restoran lebih dulu? Tuan Lennox saja belum berpamitan. Tindakanmu tadi tidak sopan. Kau tahu itu?”
Adeline terdiam mendengar teguran dari Nora. Jelas dia tahu bahwa tindakannya tadi sedikit kurang sopan. Harusnya dia menunggu paling tidak, sampai sang investor pergi. Namun, kali ini kasus amat berbeda. Sebab, sang investor adalah mantan suaminya sendiri.
Adeline tak mungkin bercerita sekarang dengan Nora. Dia tak ingin sampai Nora berpikir macam-macam. Sejak di awal dirinya mengenal Nora, dirinya hanya mengaku seorang wanita yang berpisah dengan suaminya. Tidak lebih dari itu.
Empat tahun berlalu. Tepatnya sudah tiga tahun Adeline menetap di Paris. Wanita itu tak pernah mau sedikit pun menceritakan tentang sosok mantan suaminya pada Nora. Ya, Nora adalah manajer sekaligus teman baiknya. Namun, dia mengenal Nora baru tiga tahun terakhir. Jadi, jelas Nora tak mengenal siapa mantan suami Adeline. Apalagi selama ini Adeline selalu tak mau bercerita apa pun.
“Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik. Perutku sedikit sakit. Jadi, aku memutuskan pulang. Tapi, tadi aku sudah berpamitan dengan Tuan Lennox,” ucap Adeline berbohong.
Nora tampak khawatir. “Kau ingin kita ke dokter?”
Adeline menggeleng cepat, di kala mendapatkan tawaran ke dokter oleh Nora. “Tidak usah. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin segera beristirahat.”
“Kau ingin aku langsung antar ke apartemenmu?”
“Ya, please. Tolong langsung antar aku ke apartemenku saja.”
Nora mengangguk setuju.
“Hm, Nora, aku ingin tanya sesuatu padamu.”
“Ada apa, Adeline?”
“K–kalau misalkan aku menolak tawaran proyek film ini menurutmu bisa tidak?”
Nora menginjak pedal rem mendadak, membuat tubuh Adeline terdorong ke depan. Beruntung ada sabuk pengaman yang membuat dua wanita itu terlindungi.
“What? Kau ingin menolak proyek ini?” Mata Nora membola, menatap Adeline penuh tuntutan.
Adeline berusaha untuk tetap tenang. “Aku hanya tanya saja. Maksudku, apa memungkinkan kalau aku menolak proyek ini?”
Nora mendecakkan lidahnya. “Come on, Adeline. Bayaranmu itu mahal. Kau dipilih menjadi pemeran utama di proyek film ini. Jadi, tolong jangan berpikir aneh-aneh. Bukankah kau sendiri yang bilang kau butuh uang? Ingat, kau tidak hanya menghidupi dirimu. Kau memiliki anak-anak yang harus kau hidupi. Tinggal di Paris tidak murah. Kau jelas tahu itu.”
Adeline terdiam mendengar kalimat Nora. Harus dia akui bahwa apa yang dikatakan Nora benar. Dia tidak hanya bekerja untuk menghidupi dirinya saja. Namun, dia juga harus menghidupi anak kembarnya yang sedang membutuhkan banyak biaya.
Leo Nathaniel Hart dan Aurelia Adeline Hart adalah anak kembar Adeline yang kini berusia tiga tahun. Ini adalah keajaiban. Tak pernah sama sekali wanita itu sangka empat tahun lalu dirinya mengandung anak kembar.
Keluar meninggalkan rumah mantan suaminya, membawa benih di rahimnya. Itu hal yang pilu dan menyesakkan. Bahkan Adeline pernah bertahan di jalanan. Kepingan memori kenangan buruk, kembali mengingatkannya akan derita yang dia alami sebelum berada di titik sekarang ini.
Adeline bisa berada di dunia entertainment, karena dirinya bertemu dengan Nora. Kala itu dia sedang menjadi pelayan lepas di sebuah kafe yang ada di Brooklyn. Dia menjadi pelayan lepas dalam keadaan mengandung. Sifat ramah dan baik, membuat Nora menyukainya.
Saat itu kebetulan Adeline bertemu dengan pelanggan yang tak bisa bahasa Inggris. Dia membantu dengan tulus—dan dari sana membuat Nora semakin yakin mengajak Adeline bekerja di dunia entertainment. Ditambah dengan paras Adeline yang luar biasa cantik.
Adeline tak memiliki apa pun. Diajak bekerja di dunia enterianment jelas atas bantuan Nora. Namun, kesabarannya membuahkan hasil. Dia bahkan kini mampu menyabet artis pendatang baru terbaik. Berada dititik ini tak mudah, dan dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
“Adeline, please. Jangan tolak proyek ini. Okey?” lanjut Nora meyakinkan Adeline.
“Aku membutuhkan banyak uang. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anakku,” jawab Adeline pelan.
Nora tersenyum, dan mengangguk. “Good. Aku setuju dengan apa yang kau pikirkan,” balasnya sambil kembali melajukan mobil.
Keheningan membentang. Adeline melihat ke jendela mobil. Pandangannya lurus ke depan, tetapi menyimpan banyak arti. Dia membenci keadaan di mana kembali harus bertemu dengan mantan suaminya.
Tak selang lama, mobil Nora mulai memasuki lobi apartemen di mana unit Adeline berada. Lokasi restoran dengan apartemen Adeline tak terlalu jauh—membuat mobil Nora cepat tiba.
Adeline turun dari mobil, dan Nora segera berpesan agar Adeline langsung istirahat. Tak ada percakapan tentang pekerjaan lagi, karena Adeline sudah setuju untuk tetap ikut proyek film besar ini.
Mobil Nora mulai pergi. Adeline masuk ke dalam apartemen. Kebetilan apartemen Adeline dan Nora memang tidak sama, tetapi lokasi keberadaan tempat tinggal mereka tetap saling berdekatan.
Saat memasuki unit apartemennya, Adeline melangkah pelan menuju kamar anak kembarnya. Tampak seketika matanya terpaku melihat anak kembarnya tidur pulas di ranjang.
Adeline mendekat, dan duduk di tepi ranjang. Wanita cantik itu menatap kelembutan bercampur dengan mata yang sudah berkaca-kaca pada anak kembarnya yang sudah terlelap. Tak menampik rasa bersalah merayapi di kala kembali bertemu dengan Asher.
Bulir air mata terjatuh. Buru-buru, Adeline menyeka air matanya tak ingin sampai anak kembarnya itu melihat. Namun, ternyata sentuhan lembut tangan Adeline sukses membuat si kembar terbangun.
“Mommy,” panggil Leo sambil mengerjapkan matanya.
“Mommy? Mommy sudah pulang?” sambung Aurelia lembut sambil menguap.
Adeline tersenyum. “Iya, Mommy sudah pulang. Maaf membuat kalian bangun.”
“Mommy, tadi aku mimpi Daddy,” kata Aurelia tiba-tiba.
Raut wajah Adeline langsung berubah, mendengar ucapan polos putrinya.
Aurelia memeluk Adeline. “Di mimpiku Daddy sangat tampan. Dan Daddy bilang dia merindukanku, Leo, dan Mommy.”
Adeline tak bisa mengeluarkan kata.
Kening Leo mengerut. “Tapi, Mommy bilang, kan, Daddy ada di surga? Apa kau mimpi sedang ada di surga, Aurelia?”
“Aku bermimpi ada di taman bersama Daddy, Mommu, dan kau. Aku rasa Tuhan mulai menjawab doaku. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar Daddy selalu datang dimimpiku,” kata Aurelia semangat.
Leo menekuk bibirnya. “Aku juga sudah berdoa agar Daddy datang dimimpiku. Tapi kenapa Daddy belum datang?”
“Doamu harus lebih keras, Leo,” kata Aurelia lagi.
“Ah, baiklah. Besok sebelum tidur aku akan kembali berdoa lagi,” sambung Leo antusias.
Tidak ada kata yang mampu terucap di bibir Adeline. Lidahnya seakan kelu—tak sanggup merangkai kata. Pun tenggorokannya begitu tercekat. Dia sadar bahwa dirinya telah menipu dua anaknya mengatakan bahwa ayah mereka telah berada di surga.
Namun, alasan apa yang paling masuk akal? Leo dan Aurelia mulai tumbuh besar. Berbohong demi kebaikan adalah cara Adeline. Wanita itu ingin menghapus total mantan suaminya. Pertemuannya kembali dengan sang suami adaah mimpi buruk, yang tak pernah dia sangka.
Maafkan Mommy, Sayang, batin Adeline dengan mata yang menunjukkan kesedihan menatap kembar yang tampak antusias membaha ayah mereka.
Sampai kapan pun, Adeline tak akan pernah memberi tahu Leo dan Aurelia tentang ayah mereka. Tidak akan pernah. Sebab, dia tak ingin keberadaan kembar membuat adanya ikatan antara dirinya dan mantan suaminya itu.
Malam di kota New York tak sunyi. Banyak orang yang tampak sibuk dan tak jarang orang berlalu lalang di trotoar. Polisi tak luput dari sana. Keamanan di kota itu memang sangat ketat dan luar biasa.Adeline duduk di dalam mobil dengan raut wajah tenang, tapi sorot mata yang terlihat memikirkan sesuatu. Dia kini dalam perjalanan kembali ke apartemen, tapi mood-nya agak kacau akibat gangguan sang mantan suami.“Adeline, kau memikirkan apa?” tanya Nora sambil melajukan mobil, melirik Adeline yang duduk di sampingnya.Adeline diam, tak menyadari pertanyaan Nora.Kening Nora mengerut, menatap bingung Adeline. “Adeline?” panggilnya dengan suara agak keras agar sahabatnya itu mendengar.Adeline tersentak, dan suara Nora membuyarkan semua hal yang ada di pikirannya. Buru-buru dia menoleh, menatap Nora. “Hm? Ya?” jawabnya seakan tak terjadi apa pun.Nora menghela napas dalam. “Adeline, kau ini memikirkan apa? Dari tadi aku bicara, tapi kamu tidak mendengarkanku.”“Ah, tidak. Aku hanya terlalu l
“Acting-mu sangat bagus, Adeline. Dari tadi Adam terlihat menyukai acting-mu,” kata Nora sambil menyerahkan orange juice pada Adeline, tepat di kala waktu syuting hari itu sudah berakhir.Adeline tersenyum sambil menerima orange juice dari Nora. “Thanks, Nora. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik. Aku tidak mau membuat Adam ataupun beberapa pihak yang terlibat difilm ini kecewa. Aku berharap film ini akan sangat besar.”“Kau sudah melakukan yang terbaik, Adeline,” sambung Raphael tiba-tiba, menginterupsi percakapan Adeline dan Nora.Adeline menoleh, menatap Raphael yang mendekat. Detik itu senyuman di wajahnya terlukis melihat kemunculan Raphael. “Kau belum kembali ke hotel?” tanyanya yang agak terkejut, karena dia pikir Raphael sudah kembali ke hotel.Raphael mendekat, dan menatap hangat Adeline. “Nope, aku belum kembali ke hotel. Tadi, temanku baru saja meneleponku.”“Ah, begitu. Baiklah.” Adeline mengangguk paham.“Hmm, Adeline, aku ke parkiran dulu. Aku ingin memanaskan mobil
“Tuan, Anda harusnya tidak bicara seperti itu pada Adam.” Paul dengan berani mengatakan demikian pada tuannya di kala merasa bahwa apa yang dikatakan tuannya mendatangkan bencana.Mata Asher menyipit, menatap dingin sang asisten. “Memangnya aku bicara apa?” jawabnya merasa tak bersalah sama sekali.Paul mendesah gelisah. “Tuan, Anda menjelek-jelekkan Raphael Duret di depan sutradara. Ini jelas akan menimbulkan masalah.”“Aku tidak menjelekkan. Dia memang sudah jelek,” jawab Asher dingin.Mata Paul melebar panik mendengar jawaban tuannya. “Tuan, saya mohon jangan membuat kekacauan. Nanti kalau sampai orang berpikir macam-macam, masalah akan panjang.”Asher berdecak kesal. “Aku tidak membuat masalah. Aku juga tidak menjelekkan. Aku hanya mengatakan apa adanya.”Paul menggaruk tengkuk lehernya, tak gatal. “Tuan—”“Paul, aku tidak idiot. Aku tadi tetap bisa mengendalikan diriku. Untuk apa yang aku katakan tentang aktor sialan itu berdasarkan penilaianku. Sudah, kau jangan berisik,” potong
“ACTION!” Adam, sang sutradara memberikan interuksi agar adegan dilanjutkan. Ya, detik di mana Adam berseru ‘Action’, Raphael langsung masuk ke dalam kamar, dan memberikan ciuman liar di bibir Adeline.Hari itu scene tambahan adalah adegan intim, menjurus hampir seks. Raphael yang memerankan Ben datang ke apartemen Clarissa yang diperankan oleh Adeline. Bercerita tentang Ben yang menyesal, dan merindukan Clarissa. Ciuman serangan diberikan oleh Ben agar Clarissa luluh. Seperti yang terjadi di scene ini di mana Raphael mencium bibir Adeline dengan sangat liar.“L-lepas!” Adeline berusaha mendorong tubuh Raphael, sesuai dengan script yang dia baca memang dia dituntut untuk menolak lebih dulu.“Aku merindukanmu, Clarrisa,” bisik Raphael yang terus mencium Adeline dengan liar. Pria tampan itu mendorong tubuh Adeline hingga tergeletak di ranjang, dan tanpa diduga dia menindih tubuh wanita itu, memberikan ciuman yang benar-benar membuat Adeline nyaris kesulitan mengimbangi.Adeline sempat be
Mendadak mendapatkan adegan tambahan baru cukup membuat Adeline kini harus fokus pada script. Dia bahkan sejak tadi terus berada di ruangan khusus para artis, untuk membaca isi script dengan baik. Dia tidak mau sampai ada kesalahan. Pun untungnya tidak ada gangguan.Tenggelam dalam mempelajari isi script membuat Adeline jelas tak sadar kalau sejak tadi Raphael berdiri di dekatnya menatapnya dengan tatapan hangat, dan senyuman maut—yang bertengger di wajah pria tampan itu.“Kau terlihat ... sangat serius,” ucap Raphael yang seketika itu juga membuat Adeline mengalihkan pandangannya, menatap pria itu.“Raphael?” Adeline tersenyum melihat Raphael. Raphael mendekat. “Adegan baru yang diberikan Adam sepertinya sampai membuatmu tidak sadar kehadiranku.”Adeline mengangguk, dan tetap tersenyum. “Maaf, aku terlalu serius, sampai tidak sadar kehadiranmu.”Raphel menyodorkan kopi susu hangat yang dia sengaja beli untuk Adeline. “Aku tadi meminta kru membelikan kopi susu untukmu. Ini masih han
“Adeline, tiga hari lagi Luxe Vision Entertaiment akan mengadakan jamuan makan malam untuk beberapa artis, aktor, dan para pengusaha ternama,” ucap Nora memberi tahu pada Adeline. Dia kini sedang melajukan mobil, menuju lokasi syuting. Pagi menyapa, dia sudah berangkat lebih dulu. Ini adalah minggu terakhir syuting. Besok adalah weekend, dan itu yang membuatnya makin bersemangat.“Okay, lalu?” jawab Adeline menunjukkan rasa tak tertarik, dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya tu.Nora berdecak pelan. “Cole bilang kalau dia meminta kita wajib datang. CK! Kau ini kenapa malah terlihat tidak tertarik menghadiri pesta?”Nora mengenal Adeline cukup lama. Dia tahu betul kalau Adeline tak suka menghadiri sesuatu, sahabatnya itu akan terlihat tidak berminat setelah dia memberi tahu. Tentu hal ini yang membuatnya sekarang langsung kesal luar biasa. Maksud hati memberi tahu Adeline mendapatkan undangan khusus, tapi malah respons sahabatnya itu tidak bagus.“Aku memang tidak tertarik menghadi







