Share

BAB 20 Confess

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-04-12 13:23:05

Hari-hari berlalu, satu minggu, lalu dua minggu. Hazel mulai terbiasa dengan hidupnya yang sekarang. Bukan berarti semuanya membaik, karena rasa takut itu masih ada, masih tinggal di dalam dirinya seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kadang saat mendengar langkah kaki terlalu keras di belakangnya, tubuh Hazel refleks menegang, kadang saat ada laki-laki yang berdiri terlalu dekat di minimarket atau di halte, napasnya ikut berubah, kadang malam-malam tertentu, ia masih terbangun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 127 Mengurus Anak-Anak

    Suasana ruang VVIP itu perlahan mulai lebih tenang setelah semuanya dibicarakan. Hazel Chiara Parameswari masih terlihat lelah di atas ranjang rumah sakit. Matanya sembab, tubuhnya juga tampak jauh lebih lemah dibanding biasanya. Sedangkan Miranti duduk di samping ranjang sambil sesekali mengusap kepala Hazel pelan. Sementara itu, Lintang mulai membantu membereskan tas kecil tiga anak tersebut yang tadi dibawa dari sekolah. Tatapannya sesekali jatuh ke arah Hazel setiap melihat wajah perempuan itu dadanya terasa makin berat. Akhirnya laki-laki itu kembali mendekat ke sisi ranjang. “Kalau gitu… Aku bawa anak-anak dulu ya.” Hazel perlahan mengangkat wajahnya. Sedangkan Lintang kembali bicara tenang. “Sekalian aku pinjam kunci cadangan rumah kamu. Kalian belum ganti pakaian dari sekolah.” Tatapannya bergantian melihat tiga anak kecil yang masih duduk dekat ranjang Hazel. “Kasihan juga kalau mereka terlalu lama di rumah sakit.” Hazel langsung diam berdiri. Dirinya memang tidak

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 126 Untuk Hazel

    Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkir rumah sakit. Suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat dari sekolah tadi. Leyan yang biasanya paling ribut sekarang duduk diam sambil memeluk tas sekolahnya. Sesekali anak itu melirik ke arah gedung rumah sakit dengan wajah cemas. Sedangkan Liana terlihat menggigit bibir kecilnya pelan sejak tadi. Matanya beberapa kali berkaca-kaca meski dirinya berusaha terlihat kuat. Dan Lintang kecil, anak itu justru paling diam. Tatapannya kosong mengarah keluar jendela mobil. Jemarinya menggenggam kuat tali tas di pangkuannya sampai buku-buku jarinya sedikit memutih. Lintang memperhatikan semuanya diam-diam dari kaca tengah. Melihat reaksi tiga anak itu, dadanya terasa makin berat. Dia sadar Hazel benar-benar pusat dunia mereka. Mobil akhirnya berhenti. “Ayo…” Suara Lintang terdengar pelan sekarang. Jauh lebih lembut dibanding biasanya. Leyan langsung turun cepat lebih dulu. Diikuti Liana, sedangkan Lintang kecil keluar paling

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 125 Karena Ada Ayah

    Pintu ruang rawat sebenarnya sudah tertutup sejak Lintang pamit tadi. Laki-laki itu juga sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari ruangan. Namun tepat saat dirinya hendak benar-benar pergi menuju lift langkahnya perlahan berhenti. Suara tangisan pelan dari dalam ruangan masih samar terdengar. Lintang langsung diam di tempat. Tangannya yang tadi hendak memasukkan ponsel ke saku perlahan turun lagi. Tanpa sadar kakinya justru kembali bergerak pelan mendekati pintu ruang rawat itu. Bukan untuk masuk, hanya dirinya tidak sanggup benar-benar pergi dalam keadaan Hazel seperti itu. Lintang berdiri diam di dekat pintu. Tatapannya kosong mengarah ke lantai koridor rumah sakit. Lalu suara Miranti terdengar lirih dari dalam. “Apa sebenarnya yang terjadi nak…” Beberapa detik kemudian, suara tangis Hazel mulai terdengar pecah. “Aku capek bu…” Kalimat itu langsung membuat dada Lintang terasa seperti diremas keras. Tangannya perlahan mengepal di samping tubuh. Sedangkan dari dalam suara Ha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 124 Semua Luka

    Suasana di dalam ruang rawat itu perlahan mulai lebih tenang. Meski mata Hazel masih terlihat sembab, napas perempuan itu sudah jauh lebih stabil dibanding tadi. Sedangkan Lintang masih berdiri di dekat ranjang sambil memegang ponsel Hazel di tangannya. Tatapan laki-laki itu sesekali jatuh pada layar ponsel yang terus dipenuhi panggilan dan pesan dari Rehan Pratama. Namun untuk sementara Lintang memilih mengabaikannya dulu. Fokusnya sekarang hanya satu, Hazel. Laki-laki itu akhirnya kembali duduk di kursi dekat ranjang. Tatapannya mengarah pada Hazel yang terlihat masih sangat lelah. “Anak-anak pulang jam berapa?” Hazel yang tadi sedang menunduk perlahan mengangkat wajah. “Jam sepuluh biasanya…” Suaranya masih terdengar pelan dan lemas. Lintang langsung melirik jam di tangannya. Pukul 09.40 pagi. Berarti sekitar dua puluh menit lagi anak-anak akan selesai sekolah. Lintang mengangguk kecil pelan. “Ya udah.” Nada suaranya tetap tenang. “Nanti kalau ibu datang… aku yang jemput anak-

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 123 Password

    Ruangan rawat itu kembali dipenuhi sunyi setelah pertanyaan kecil dari Hazel tadi. Perempuan itu masih menunduk, jemarinya menggenggam pelan ujung selimut rumah sakit di atas tubuhnya. Sedangkan Lintang duduk di kursi dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel tanpa berkedip. Dia tau perempuan itu menahan semua lukanya sendiri, sangat teringat jelas dikepalanya. Sulit baginya untuk mengabaikan. Memar di lengan, bekas cengkeraman, luka di leher dan sudut bibir yang pecah. Lintang mengusap wajahnya kasar pelan. Lalu akhirnya menarik napas panjang sebelum kembali bicara. “Hazel…” Suaranya terdengar jauh lebih berat sekarang. Perempuan itu perlahan mengangkat wajah. Tatapannya terlihat lelah. Sedangkan Lintang menatapnya lurus, sorot matanya serius sekali. “Kamu mau nunggu apa lagi sekarang?” Hazel langsung diam. “Kamu masih mau mikirin apa?” Nada suara Lintang mulai terdengar lebih tegas sekarang. Dia tidak sedang membentak. Namun jelas sekali emosinya sedang ditahan kuat-kuat. “Sem

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 122 Rapuh

    Ruangan pemeriksaan itu akhirnya mulai kembali tenang setelah seluruh pengecekan selesai dilakukan. Suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi. Hazel masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Infus sudah terpasang di tangan kirinya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bekas memar di pipinya sekarang terlihat lebih jelas setelah make up yang menutupinya tadi dibersihkan. Sudut bibirnya juga tampak sedikit bengkak. Sedangkan Lintang berdiri tidak jauh dari ranjang. Tatapannya sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari Hazel. Semakin lama dirinya memperhatikan perempuan itu semakin sesak dadanya terasa. Dokter yang tadi menangani Hazel akhirnya menutup map hasil pemeriksaan pelan. Lalu menoleh pada Lintang. “Secara fisik pasien memang kelelahan.” Nada suara dokter itu terdengar tenang dan profesional. “Tensi juga sempat turun cukup j

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 40 Amarah Kevin

    Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu meny

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status