Home / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 19 Trigger dan Perubahan

Share

BAB 19 Trigger dan Perubahan

Author: Adw_Canss781
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-10 02:19:33

Sore hari datang lebih cepat dari yang Hazel sadari. Kelas demi kelas terlewati begitu saja, tanpa benar-benar ia ingat apa yang diajarkan. Semuanya terasa seperti potongan waktu yang kabur, ia hadir, duduk, mencatat, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar ada di sana.

Saat akhirnya jam pulang tiba, Hazel mengemasi barangnya dengan gerakan pelan seperti biasa, tidak terburu-buru. Namun juga tidak ingin berlama-lama, ia menyampirkan tas ke bahunya, lalu berjalan keluar dari gedung bersama ar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 147 Ayah Jahat

    Sementara Lintang masih berada di lorong rumah sakit, suasana di dalam ruang rawat justru berubah jauh lebih tenang. Levian duduk santai di sofa panjang sambil memperhatikan tiga anak kecil yang sekarang mulai sibuk sendiri. Leyan sedang makan camilan yang tadi dibelikan Levian. Sedangkan Liana sibuk memainkan gantungan boneka kecil di tas sekolahnya. Sementara Lintang kecil duduk lebih diam dibanding dua adiknya. Dan makin lama melihat mereka, pikiran Levian makin dipenuhi rasa aneh. Tiga anak ini terlalu nyaman dengan adiknya. Nyaman sampai terasa seperti keluarga sungguhan. Akhirnya laki-laki itu memutuskan bertanya langsung. “Kenapa kalian panggil Lintang ayah? Apa dia ayah kalian?” Pertanyaan itu membuat dua anak kecil langsung menoleh bersamaan. Sedangkan Lintang kecil menjawab lebih dulu pelan. “Bukan.” Jawabannya singkat. Namun sebelum Levian sempat lanjut Liana langsung menyahut polos. “Soalnya ayah Lintang baik. Gak kayak ayah tiri kami.” Detik itu senyum santai di wa

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 146 Pemeriksaan

    Setelah pemeriksaan luka luar selesai dilakukan ruangan visum itu kembali hening beberapa saat. Hazel masih duduk di atas bed pemeriksaan sambil memegangi ujung cardigan rumah sakit yang tadi dipakaikan perawat untuk menutupi tubuhnya kembali. Matanya sedikit kosong, proses tadi terasa jauh lebih berat secara mental dibanding rasa sakit fisiknya. Melihat memar-memar di tubuhnya difoto, diukur, dicatat satu per satu. Itu seperti dipaksa melihat kenyataan yang selama ini dirinya coba abaikan. Sedangkan dokter perempuan di depannya masih menulis beberapa catatan tambahan di berkas visum. Perawat lain mulai membantu membereskan alat dokumentasi medis. Setelah beberapa menit, dokter akhirnya kembali mendekat ke arah Hazel dengan nada yang tetap lembut dan profesional. “Bu Hazel, pemeriksaan luka luar sudah selesai.” Hazel mengangguk kecil pelan. Namun dokter melanjutkan lagi sambil membuka lembar pemeriksaan berikutnya. “Nanti saya juga akan mencatat keluhan nyeri ibu secara detail.”

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 145 Visum

    Suasana yang tadi sempat hangat kembali berubah pelan setelah pertanyaan Lintang terdengar. “Kamu udah siap mau visum?” Kalimat itu terasa menggantung cukup lama di udara. Di atas ranjang, Hazel terlihat menundukkan wajahnya perlahan. Jemarinya kembali saling menggenggam di atas selimut. Ragu itu masih ada, takut itu juga belum hilang. Dia tahu setelah visum dilakukan, langkah berikutnya mungkin akan semakin jauh. Sedangkan Miranti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara pelan. Perempuan itu mendekat sedikit lalu duduk di sisi ranjang Hazel. Tangannya mengusap lengan Hazel lembut. “Ibu tau kamu takut…” Nada suaranya hangat. “Namun apa kamu mau hidupmu jadi seperti ini terus?” Hazel langsung diam. Tatapannya turun makin dalam. Karena ucapan itu tepat sekali mengenai hatinya dan di saat suasana mulai terasa berat, suara kecil polos tiba-tiba terdengar. “Visum itu apa?" Semua mata langsung beralih ke Liana Naya Parameswari. Anak perempuan itu berdiri sambil memiringkan kepalanya

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 144 Coretan

    Ruangan itu kembali ramai oleh suara anak-anak setelah obrolan absurd tentang direktur utama tadi. Hazel yang sejak tadi lebih banyak mendengar akhirnya tersenyum kecil sambil membuka kedua tangannya ke arah anak-anak. “Gimana sekolahnya tadi?” Tatapannya bergantian ke tiga anak itu. “Gak nakal kan?” Leyan langsung menjawab paling cepat sambil menggeleng heboh. “Nggak dong bunda.” Nada suaranya penuh keyakinan. Seperti sudah hafal pola saudara kembarnya, Liana langsung memutar mata kecilnya. “Ih… Kamu bikin nangis Sella tadi.” Seketika kepala Miranti langsung menoleh cepat ke arah Leyan. “Kamu bikin nangis Sella lagi?” Nada suaranya sudah seperti nenek yang capek menghadapi cucu usil. Sedangkan Leyan langsung refleks membela diri. “Dia duluan kok! Masa buku tulisku dicoret-coret sama dia. Ya aku bales lah.” Di sisi lain Lintang kecil yang sejak tadi tenang akhirnya ikut bicara pelan. “Dia balasnya di soal dari bu guru yang udah dijawab.” Detik itu Hazel langsung memejamkan ma

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 143 Kembaran Ayah

    Setelah percakapan panjang itu, suasana ruangan sempat kembali hening cukup lama. Hazel masih diam sambil memikirkan semua cerita Levian Ankara Narendra tadi. Meski dirinya pernah mendengar sedikit cerita tentang kecelakaan Lintang langsung dari laki-laki itu sendiri. Hazel tidak pernah tahu situasinya ternyata separah itu. Yang dia tahu hanya garis besar kecelakaan, cedera berat dan pemulihan panjang. Namun detail tentang bagaimana Lintang hampir kehilangan nyawanya, bagaimana keluarganya hancur melihat kondisinya dan bagaimana laki-laki itu menghadapi vonis sulit memiliki keturunan, semuanya baru benar-benar terasa nyata sekarang. Sedangkan Miranti sejak tadi hanya diam. Perempuan itu sesekali melirik Hazel pelan. Semakin lama hubungan hidup Hazel dan Lintang terasa semakin rumit dan tepat saat suasana mulai terlalu tenggelam dalam pikiran masing-masing pintu ruangan kembali terbuka. Suara langkah kecil langsung terdengar masuk lebih dulu. “Bundaaaaa…” Detik berikutnya tiga an

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 142 Cerita Levian

    Setelah Lintang keluar dari ruangan suasana mendadak terasa sedikit lebih tenang dan lebih longgar juga. Karena aura dingin laki-laki itu memang cukup memenuhi ruangan walaupun dirinya tidak banyak bicara. Sedangkan Levian masih duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya beberapa saat. Namun rasa penasarannya ternyata masih belum hilang. Tatapannya perlahan bergerak ke arah Hazel yang sedang bersandar di ranjang. Lalu laki-laki itu akhirnya membuka suara santai. “Kamu kenal Lintang dimana?” Hazel sedikit menoleh. Sedangkan Levian melanjutkan sambil menyandarkan tubuhnya lebih nyaman. “Perasaan semenjak dia kecelakaan dulu, gue gak pernah lagi lihat dia jalan dekat perempuan.” Nada suaranya terdengar ringan, namun jelas dia memang penasaran. Perubahan adiknya kali ini terlalu aneh untuk diabaikan. Sedangkan Hazel terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan. “Oh… Sama mas Lintang sebenarnya baru akrab akhir-akhir ini.” Tatapannya sedikit turun. “Itupun karena a

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 1 Gadis yang Tidak Pernah Menyerah

    Kabut pagi masih menggantung tipis di atas hamparan kebun teh yang luas ketika Hazel Chiara Parameswari berdiri di tepi jalan setapak yang membelah perkebunan milik keluarganya. Udara Bandung selalu terasa berbeda baginya, lebih dingin, lebih tenang, dan entah kenapa selalu berhasil membuat dadanya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status