ログインPagi itu, Hazel sudah bangun lebih awal seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menembus jendela kamar kosnya, tapi ia sudah menyiapkan tas, buku catatan, dan beberapa peralatan praktis untuk kuliah. Rambutnya dikuncir sederhana, kacamata menempel di wajahnya, dan kemeja nude oversize yang rapi dipadukan celana panjang serta sepatu snickers membuatnya siap melangkah cepat di kampus. Meski sederhana, ada aura percaya diri yang terpancar, bukan karena ingin menarik perhatian siapa pun, tapi karena ia selalu mengatur hidupnya sendiri. Sejak ayah dan ibunya meninggal lima tahun lalu, Hazel belajar untuk mandiri sepenuhnya. Setiap langkahnya terasa terencana, meski kadang spontan, terutama ketika energi dan rasa ingin tahunya muncul.
Di lorong fakultas kedokteran, ia menyapa beberapa teman sekelas, membalas senyum, dan sesekali tertawa ringan saat bercakap-cakap. Namun Hazel tidak pernah terlalu lama berhenti, ia punya jadwal yang ketat. Hari ini, ia harus menghadiri kuliah anatomi, lalu praktik laboratorium, dan setelah itu menjenguk beberapa pasien simulasi di laboratorium klinik. Saat berjalan, Hazel menyesuaikan langkahnya dengan ritme sepatu snickers, matanya tetap fokus pada buku catatan yang dibawanya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok sederhana itu, ada gadis cerdas, tangguh, dan penuh strategi kecil yang selalu siap menghadapi apa pun. Di sela-sela kuliah, Hazel menyempatkan diri menatap kalender di ponselnya. Beberapa tugas, jadwal praktik, dan catatan penting tertulis rapi. Setiap detail diperhatikannya, karena bagi Hazel, kerapian bukan sekadar soal penampilan, itu adalah cara untuk menjaga kendali hidupnya sendiri. Saat ia duduk di bangku laboratorium, menatap mikroskop dengan seksama, seorang teman menepuk bahunya. “Hazel, kamu tu selalu fokus banget ya. Bisa nggak sih santai sebentar?” Hazel tersenyum ringan, menatap temannya dengan mata hazel yang cerah. “Santai itu penting, tapi prioritas tetap harus jalan. Lagipula, kalau aku nggak siap sekarang, nanti aku yang repot sendiri.” Temannya hanya bisa tersenyum, mengagumi tekad gadis itu. Hazel tidak hanya cerdas, tapi juga disiplin, dan aura mandirinya selalu memikat, meski ia sama sekali tidak berniat menarik perhatian siapa pun. Selesai praktik, Hazel berjalan keluar laboratorium, mengambil napas panjang. Angin sore menyapa wajahnya, membawa aroma segar dari taman kecil di kampus. Ia menatap beberapa bunga yang ditanam di tepi jalan setapak, tersenyum pelan. Sejenak, ia merindukan waktu ketika masih membantu ibunya di toko bunga, waktu yang sederhana, tapi penuh warna dan kebahagiaan. “Miranti pasti lagi sibuk di toko… harus aku bantu nanti”, gumam Hazel pelan, menenteng tasnya, dan melangkah lebih cepat, siap menjalani hari-harinya yang padat namun teratur. • Siang itu, Hazel berjalan di koridor fakultas kedokteran, menenteng beberapa buku catatan sekaligus laptop. Rambutnya digerai, kacamata menempel rapi di wajahnya, celana panjang dan sepatu snickers membuat langkahnya ringan dan mantap. Saat melewati tangga yang sedikit licin karena hujan semalam, Hazel tanpa sengaja tersandung. Buku-buku di tangannya hampir berjatuhan, dan untuk beberapa detik ia kehilangan keseimbangan. Dengan reflek cepat, Hazel menahan diri pada pegangan tangga, menyeimbangkan tubuhnya, dan mengatur napas. “Huh… untung nggak kenapa-kenapa", gumamnya pelan sambil tersenyum lega. Beberapa mahasiswa yang melihat tersenyum ringan, mengagumi kelincahan Hazel. Ia menata kembali buku-bukunya, memastikan semuanya aman. Bagi Hazel, setiap insiden kecil seperti ini hanyalah latihan cepat karena sejak kecil ia terbiasa bergerak di ladang cengkeh dan perkebunan teh, memanjat pohon, dan menyeimbangkan diri di medan yang tidak rata. Setelah kejadian itu, Hazel melanjutkan langkahnya ke laboratorium klinik. Di sana, ia segera mengambil posisi, memeriksa perlengkapan praktik, dan membantu teman-temannya yang kesulitan. Kecepatan dan ketelitian Hazel membuat dosen tersenyum puas. “Hazel, kamu cepat sekali menyesuaikan diri ya, baru juga masuk”, kata salah satu teman sekelas. Hazel hanya tersenyum, menata kembali kemejanya yang sedikit berantakan karena tangga tadi. “Lumrah saja sih. Kalau nggak sigap, kita bisa rugi sendiri”, jawabnya ringan, matanya tetap fokus pada peralatan di depannya. Saat praktik selesai, Hazel berjalan keluar, menarik napas panjang sambil menatap taman kecil di dekat laboratorium. Angin sore menyapa wajahnya, membawa aroma segar bunga dan tanah basah. Sekejap, kembali ia teringat ibunya, toko bunga, dan ladang teh, sebuah masa lalu sederhana yang selalu memberinya kekuatan. Dengan langkah mantap, Hazel melanjutkan hari-harinya yang padat, siap menghadapi apa pun, tanpa menyadari bahwa kehidupan di kampus ini perlahan sedang menyiapkan kejutan yang akan mengubah jalannya. • Sorenya, matahari Jakarta mulai menurunkan sinarnya, menyebar cahaya hangat ke seluruh halaman kampus. Hazel melangkah pelan di jalan setapak kampus, menenteng tas dan beberapa catatan praktikum. Rambut yang tadinya digerai bebas sekarang sudah diikat asal meski begitu tetap saja memancarkan aura cantiknya, kacamatanya tetap menempel rapi di wajah, bahkan lengan bajunya sudah digulung sampai ke siku. Ia baru saja selesai dari laboratorium, dan rencananya ingin mampir sebentar ke perpustakaan untuk menyalin beberapa catatan penting. Sepanjang perjalanan, Hazel menikmati suasana sore yang sejuk, menghirup udara segar di antara pepohonan kecil dan bunga-bunga yang ditanam universitas di beberapa sudut. Tanpa sengaja, ia hampir menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. Orang itu memakai masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya, hanya terlihat matanya yang tajam. Hazel menahan langkahnya dan tersenyum sopan. “Oh, maaf.. saya tidak sengaja!”, ucap Hazel dengan nada ramah. Orang itu hanya mengangguk singkat, matanya menatap sekilas ke arah Hazel, lalu melanjutkan langkahnya. Ada sesuatu yang aneh tapi samar di wajahnya, tatapan tajam, seolah menghitung, menilai. Hazel hanya mengangkat alis tipis, tidak terlalu memikirkan orang asing itu, dan melanjutkan langkahnya. Beberapa meter kemudian, Hazel berhenti di tepi taman kampus, menatap bunga-bunga kecil yang berwarna-warni. Sambil menata tas dan catatan di tangannya, ia tersenyum pelan. “Sepertinya sore ini cukup damai”, gumamnya sendiri. Di kejauhan, orang bermasker tadi sempat menoleh sebentar ke arah Hazel, matanya menahan sesuatu, seperti ada gurat penasaran atau perhatian, Hazel tidak tahu itu. Hazel tetap fokus pada dunianya sendiri, langkahnya ringan, penuh energi, dan sama sekali tidak menyadari bahwa tatapan orang itu perlahan mengikuti setiap gerakannya dari jauh. Tanpa sadar, Hazel melangkah lebih cepat, meninggalkan jalan setapak, dan orang bermasker itu pun berjalan menjauh, meninggalkan bayangan samar yang belum bisa dikenali oleh Hazel. Dan begitu sore semakin merunduk, Hazel tetap tersenyum, menyadari bahwa hari ini… biasa saja, namun ada sesuatu yang samar terasa berbeda, seolah sebuah cerita baru sedang mulai terbentuk di antara langkah-langkahnya. • Matahari Jakarta perlahan menurun di langit, menyebar cahaya oranye lembut di antara gedung-gedung kampus. Hazel melangkah pelan menuju kostannya, menenteng tas kecil berisi catatan kuliah dan beberapa alat tulis. Tubuhnya sedikit lelah setelah seharian penuh kuliah, dari laboratorium anatomi hingga praktik klinik. Di jalan, ia singgah sebentar ke minimarket tak jauh dari kos-kosannya. Hazel memilih beberapa bahan masakan untuk makan malam, sayur, telur, dan beberapa bumbu sederhana. Semua dibawanya sendiri, menumpuk ringan di tas kain yang sudah mulai longgar. Meski sederhana, Hazel menikmati momen ini, kesendirian, rutinitas, dan rasa puas karena bisa mengurus dirinya sendiri. Setibanya di kostan, Hazel menaruh belanjaannya di meja dapur kecil, menata semua bahan dengan rapi. Ia menghela napas panjang, melepas kacamata sebentar, dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kosan yang sederhana namun hangat. Sambil menatap, pikirannya kembali ke kejadian di kampus tadi, praktikum yang melelahkan, beberapa teman yang minta bantuan, dan momen kecil ketika ia hampir tersandung di tangga. Hazel tersenyum pelan, merasa lega karena berhasil melewati semua hal di hari ini tanpa masalah besar. “Heh... capek juga ya”, gumamnya pelan, menutup mata sejenak. Energi yang seakan tidak ada habisnya sejak kecil memang membantunya menghadapi hari-hari padat, tapi tubuhnya tetap manusia biasa. Hazel menarik selimut tipis ke tubuhnya, membiarkan diri sejenak beristirahat, menikmati sunyi sore di kamar kosan. Di sudut pikirannya, ada rasa ringan yang muncul, tentang dunia kampus, tentang orang-orang yang ia temui hari ini, tentang rutinitas yang kadang membuatnya lelah tapi tetap memuaskan. Hazel tahu, hari-hari seperti ini adalah bagian dari hidupnya, bagian dari dirinya yang mandiri, cerdas, dan selalu siap menghadapi apa pun. Setelah beberapa menit merebahkan diri, Hazel bangkit perlahan. Ia menata kembali rambutnya, mengenakan kacamata, dan mulai menyiapkan bahan-bahan masak untuk makan malam. Energi yang tersisa akan ia gunakan sebaik mungkin meski lelah, Hazel selalu berusaha membuat setiap hari berarti.Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkiran rumah sakit. Lampu putih di area basement memantul samar di kaca depan mobilnya. Mesin mobil perlahan dimatikan. Namun Lintang tidak langsung turun. Tubuhnya masih bersandar di kursi kemudi beberapa detik sambil mengembuskan napas pelan.Percakapan dengan pengacara tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang bukti, tentang proses hukum, tentang kemungkinan perceraian dan tentang bagaimana semuanya perlahan mulai mengarah ke jalur yang tidak bisa ditarik mundur lagi.Tatapan matanya turun ke arah ponsel milik Hazel yang masih berada di kursi sebelah. Sejak tadi ponsel itu memang sengaja dibawa Lintang dan tepat saat dirinya hendak mengambilnya layar ponsel kembali menyala. Nama yang muncul di layar langsung membuat rahang Lintang mengeras.“REHAN.”Panggilan masuk lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Tatapan Lintang berubah dingin, kali ini—panggilan itu berhenti sendiri dan beberapa detik setelahnya notifikasi pesan kembali masuk, satu,
Setelah keluar dari restoran, akhirnya mereka berdiri sebentar di area parkiran sambil menentukan mau ke mana. Lintang sebenarnya berniat kembali ke rumah sakit untuk menemani Hazel. Sedangkan Levian masih ngotot ingin datang ke kantor cabang Bandung. Tentu saja niat itu langsung membuat Lintang mulai curiga. “Jangan bikin masalah.” Tatapan Lintang tajam saat bicara. Sedangkan Levian langsung mengangkat kedua tangan malas. “Yaelah… Gue cuma mau lihat kantor cabang. Sekalian lihat anak buah lo stres kalau direktur utama datang.” Dan ucapan itu langsung membuat Lintang Aksara Narendra memijat pelipis sebentar. Dia tahu persis kakaknya ini memang suka bikin suasana kantor mendadak mencekam hanya karena muncul tiba-tiba. Namun yang lebih parah ternyata tiga anak kecil itu malah langsung semangat ikut. “Aku ikut om!” Leyan paling cepat bersuara. “Aku juga.” Liana langsung mengangkat tangan tinggi. Sedangkan Lintang kecil hanya berdiri tenang di dekat Lintang sambil memandang dua s
Setelah selesai makan akhirnya mereka beranjak keluar dari restoran. Leyan berjalan paling depan sambil memegang perutnya sendiri. “Aku kenyang banget…” Sedangkan Liana langsung menyahut cepat. “Makanya jangan rakus. Kamu tadi nambah nasi dua kali.” Leyan langsung membela diri tanpa malu. “Kan ikannya enak.” Sementara Lintang kecil berjalan tenang di samping Lintang Aksara Narendra sambil membawa botol minumnya. Sedangkan Levian berjalan di belakang mereka dengan kedua tangan masuk saku celana. Tatapannya sesekali masih memperhatikan adiknya. Lintang semakin terlihat benar-benar cocok berada di tengah tiga anak kecil itu. Namun tepat saat mereka hampir keluar dari area restoran, langkah Lintang mendadak berhenti. Tatapan matanya langsung berubah dingin. Beberapa langkah di depan mereka berdiri seorang perempuan dengan pakaian cukup mencolok dan makeup bold, Melisa. Perempuan itu tampak cukup kaget melihat mereka. Terutama saat melihat Lintang masih bersama tiga anak kecil terse
Setelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…
Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond
Suasana ruang tengah rumah itu terasa semakin berat. Lampu ruang tamu menyala redup kekuningan. Sedangkan dari lantai dua, masih terdengar samar suara anak-anak berceloteh kecil sambil mandi dan berganti pakaian. Suara-suara kecil itu membuat pengakuan Lintang terasa jauh lebih menyakitkan. Anak-anak yang tertawa di atas sana, lahir dari malam yang menghancurkan hidup seseorang. Levian masih duduk diam memandang adiknya. Sedangkan Lintang sendiri terlihat sangat lelah sekarang. Bukan lelah fisik, melainkan lelah karena terlalu lama memendam semuanya sendirian. Setelah cukup lama diam akhirnya laki-laki itu kembali bicara. “Gue gak tau… Gue bingung harus bereaksi gimana.” Tatapannya kosong lurus ke depan. “Pas tau mereka anak gue… gue seneng.” Kalimat itu keluar lirih. “Sumpah gue seneng.” Itu adalah kejujuran paling polos yang keluar dari dirinya sejak tadi. Selama bertahun-tahun, Lintang hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah punya keturunan. Divonis s
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Lintang masih memandang ke arah jalan tempat gadis itu menghilang beberapa detik lebih lama. Langkahnya ringan, cepat, seolah-olah kejadian tadi hanyalah hal kecil baginya. “Dia anak yang hebat”, kata wanita itu tiba-tiba. Lintang kembali menoleh pada ibunya. “Mom tidak tanya namanya?” Wanita
Kabut pagi masih menggantung tipis di atas hamparan kebun teh yang luas ketika Hazel Chiara Parameswari berdiri di tepi jalan setapak yang membelah perkebunan milik keluarganya. Udara Bandung selalu terasa berbeda baginya, lebih dingin, lebih tenang, dan entah kenapa selalu berhasil membuat dadanya







