Share

BAB 3 Rutinitas

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-03-19 22:47:59

Lintang Aksara Narendra melangkah ringan di lorong fakultas bisnis dan ekonomi. Setiap langkahnya seolah menarik perhatian tanpa harus ia minta. Beberapa mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman menoleh, berbisik pelan satu sama lain, bahkan ada yang mencoba menatap sekilas dari balik buku. Lintang tidak peduli, ia memang terbiasa. Populer, tajam, dan hampir sempurna di mata banyak orang. Rambut hitamnya lurus rapi, mata hitam legamnya yang tajam seakan mampu menilai setiap orang hanya dalam satu detik, hidungnya mancung lurus, bibir tipis yang jarang tersenyum, wajahnya V-line sempurna, dan tinggi badannya 180 cm membuatnya tampak seperti sosok yang selalu berada satu langkah di atas orang lain.

Dia duduk di bangku panjang dekat taman fakultas, membuka laptop dan memeriksa catatan proposal skripsinya. Sudah semester tujuh, dan dunia akademiknya hampir mencapai garis akhir. Namun, meski sibuk dengan skripsi, Lintang selalu menyisihkan waktu untuk hal-hal yang lebih kompleks daripada sekadar kuliah.

“Lintang…”, suara lembut dari seorang junior membuatnya menoleh sebentar. Seorang mahasiswi tersipu, menyerahkan secarik kertas berisi pertanyaan tentang mata kuliah yang sama.

Lintang mengambilnya, membacanya sebentar, lalu mengangguk dengan nada singkat. “Ini harus kamu selesaikan sendiri. Aku yakin kamu bisa.”

Gadis itu menatapnya kagum, lalu tersenyum malu-malu sebelum bergegas pergi. Lintang hanya menunduk kembali ke laptopnya, seolah tidak ada yang terjadi.

Di luar sana, dunia melihatnya sebagai pria yang sempurna, dingin, dan tak tergoyahkan. Tetapi di balik tatapan tajam dan karisma itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Sebuah rasa ingin memiliki, dan rasa frustrasi yang tersembunyi. Karena tidak semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan, dan kadang, ketika sesuatu menghalangi jalannya, Lintang Aksara Narendra tidak segan untuk menempuh cara yang tak biasa.

Langkahnya tenang, tatapannya dingin, namun pikirannya sudah mulai merancang sesuatu. Sesuatu yang akan menguji batas kemampuan, kesabaran, dan mungkin hati manusia lain. Hari itu, kampus tetap berjalan seperti biasa. Tetapi bagi Lintang, hari ini hanyalah awal dari sebuah permainan yang jauh lebih besar daripada skripsinya.

•

Lintang Aksara Narendra berjalan santai di lorong fakultas bisnis dan ekonomi, wajahnya tertutup masker hitam yang rapi. Mata hitamnya tetap tajam, menembus keramaian mahasiswa tanpa terlihat berlebihan. Di tengah kerumunan, pandangannya tertuju pada Melisa Cahyani. Ia duduk di bangku taman, tertawa pelan dengan teman-temannya, rambutnya hitam panjang berkilau, senyumnya menawan. Tapi Lintang tahu, senyum itu bukan untuknya, setidaknya untuk sekarang belum.

Dengan langkah tenang, ia mendekat, tetap memakai maskernya. Beberapa mahasiswa memberi jalan otomatis karena karisma dan aura dominannya. Saat duduk di bangku di samping Melisa, masker itu menutupi sebagian ekspresi wajahnya tapi matanya tetap berbicara, tajam, fokus, dan sedikit mengundang penasaran.

“Melisa”, sapanya ringan, suara tenang menembus keramaian.

Melisa menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan. “Oh… kak Lintang.”

Lintang membalas dengan anggukan ringan, menyesuaikan posisi duduk, matanya menatap Melisa melalui tepi masker. Ia mulai berbicara tentang tugas kuliah, proyek kelompok, dan sedikit candaan ringan. Melisa tertawa pelan, dan Lintang menyadari bahwa senyum itu benar-benar berbeda, lebih hangat dari yang ia bayangkan. Ada sesuatu di balik senyum itu, rasa ingin diperhatikan. Dan Lintang, yang terbiasa mendapatkan hampir semua yang ia inginkan, merasa ada tantangan baru di depannya.

Ia sedikit membungkuk ke arah Melisa, menatap matanya. “Kalau kamu mau, nanti aku bisa bantu menjelaskan bagian itu. Aku rasa kamu bisa lebih cepat paham kalau kita kerjakan bersama.”

Melisa mengangguk malu-malu. “Terima kasih… itu sangat membantu.”

Lintang tersenyum tipis, tapi ada percikan kecil kepuasan di matanya. Ia tahu, ini hanya langkah pertama. Mendekati Melisa mungkin mudah untuk sebagian orang, tapi bagi Lintang, ini juga bagian dari permainan dan ia tidak pernah kalah dalam permainan apa pun.

Saat mereka bercakap-cakap, beberapa mahasiswa lain menoleh, berbisik pelan, tetapi Lintang tetap tenang. Matanya mengamati Melisa, merencanakan langkah berikutnya, sambil masker menutupi sebagian ekspresi yang bisa menimbulkan kecurigaan.

Sementara itu, dari kejauhan, seorang gadis dengan kacamata dan kemeja sederhana melintas. Rambutnya digerai bebas, celana panjang dan sepatu snickers membuatnya tampak lincah dan praktis, ya Hazel Chiara Parameswari.

Hari itu, Lintang terus fokus ke Melisa, tetapi bayangan gadis misterius tadi tetap tersimpan di sudut pikirannya tanpa disadari, itu adalah awal dari sesuatu yang kelak akan mengubah jalannya.

Percakapan dengan Melisa selesai, Lintang tersenyum tipis, bangga dengan langkah pertama PDKT-nya. Tapi di hatinya, ada rasa penasaran halus yang tidak bisa ia abaikan, sebuah rasa penasaran yang, kelak, akan menjeratnya dalam drama dan kesalahan yang tak terduga.

•

Setelah Lintang pergi dari bangku taman, Melisa duduk kembali di antara teman-temannya, tersenyum tipis sambil menata catatan kuliahnya. Suasana ceria, tetapi teman-temannya tampak penasaran.

“Eh, Melisa”, suara salah satu temannya memecah keheningan, “aku nggak ngerti deh… akhir-akhir ini kamu sering banget bareng kakak tingkat itu, Lintang, kan? Apa kalian… lagi PDKT, gitu?”

Melisa mengangkat alis, menahan senyum kecil. “PDKT? Ah, kalian terlalu lebay aja,” jawabnya santai, menatap teman-temannya satu per satu.

Temannya yang lain menimpali, setengah bercanda tapi penuh penasaran, “Tapi kan… kamu kan udah punya pacar? Pacaran lumayan lama juga. Terus sekarang malah didatangi kakak tingkat yang terkenal sekali kepopulerannya lagi dikampus ini. Gimana, gimana rasanya didatangi orang seperti Lintang?”

Melisa hanya tersenyum, lalu menyandarkan diri sedikit ke bangku. “Aku tahu kalian khawatir, tapi… lingkungan kuliah berbeda dengan kehidupan di luar. Pacarku tetap prioritas, jelas. Tapi kalau ada kakak tingkat terkenal, pintar, kaya, karismatik, dan… ya, tampan, siapa yang akan menolak kalau dia mendekati kita?”

Teman-temannya terdiam sesaat, tersenyum malu-malu karena menyadari logikanya.

Melisa menambahkan, setengah bergurau tapi terdengar meyakinkan, “Lagipula, aku sudah mengagumi sosok Lintang ini sejak awal kuliah. Dia ketua panitia ospek waktu itu. Jadi ya… kalau aku bisa mendapat sedikit perhatian darinya, kenapa harus disia-siakan? Anggap saja ini… keberuntungan.”

Mereka semua tertawa pelan, dan topik itu perlahan beralih. Tapi di mata Melisa, ada kilatan kesadaran, sadar akan kesempatan yang ada, tahu cara memanfaatkan perhatian Lintang tanpa harus mengorbankan hubungan aslinya. Sifat cerdas baginya itu membuatnya selalu selangkah di depan, setidaknya untuk saat ini.

•

Setelah beberapa jam di kampus berlalu, Lintang berdiri di balkon lantai tiga fakultas bisnis dan ekonomi, memandang ke arah taman dari kejauhan. Bangku tempat Melisa tadi duduk kini kosong, hanya tersisa beberapa catatan yang tertinggal, tersibak angin sore.

Ia menurunkan masker sebentar, menghela napas ringan, lalu memasangnya kembali. Wajahnya tetap tenang, tapi di mata hitam legam itu ada sesuatu yang berbeda perhitungan, perhatian yang teliti, dan sedikit rasa puas.

“Baiklah…”, gumamnya pelan, suaranya hampir terseret oleh angin sore. “Langkah pertama selesai, tapi permainan ini baru dimulai.”

Ia menatap sekeliling kampus yang mulai sepi. Gedung-gedung tinggi, mahasiswa yang berlarian pulang, semuanya tampak biasa. Tapi di matanya, setiap gerakan, setiap peluang, bahkan percakapan ringan adalah bagian dari strategi. Lintang tahu cara membaca situasi, memahami orang, dan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Meski hari ini hanya sekadar mendekati Melisa, di benaknya sudah mulai muncul skema-skema lain. Perhatian kecil, senyum sopan, kata-kata ringan, semua akan ia gunakan dengan tepat. Tidak ada ruang untuk kesalahan, dan tentu saja, tidak ada tempat untuk emosi yang lemah.

Lintang menghela napas lagi, menatap ke kejauhan, membayangkan langkah-langkah berikutnya. Dunia bisa saja tampak biasa, tapi baginya setiap orang hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar. Dan seperti biasanya, Lintang Aksara Narendra selalu bermain untuk menang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 157 Emosi yang Meluap

    Suara kasar Rehan masih terdengar memenuhi ruangan rawat itu. Bentakan demi bentakan keluar tanpa jeda. Sedangkan Hazel duduk diam di atas ranjang dengan tubuh yang mulai menegang. Tatapan matanya turun, jemarinya menggenggam ujung selimut erat. Lintang bisa melihat jelas perempuan itu sebenarnya gemetar sedikit. Bukan karena lemah, melainkan karena terlalu lama hidup di bawah tekanan seperti ini. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya duduk lebih dekat di sisi ranjang. Lalu perlahan tangannya menyentuh tangan Hazel. Hangat dan tenang, tidak menggenggam keras. Hanya menyentuh pelan seperti memberi tahu dirinya ada di sana. Sentuhan kecil itu langsung membuat Hazel sedikit tersadar. Tatapan perempuan itu perlahan berpindah ke arah Lintang. Sedangkan laki-laki itu hanya menatap tenang sambil mengangguk kecil. 'Jawab. Kamu bisa.' Entah kenapa keberanian kecil itu akhirnya muncul lagi di diri Hazel. Perempuan itu menarik napas pelan, lalu akhirnya bicara. “Ngapain kamu repot-repot ke r

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 156 Rekaman

    Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkiran rumah sakit. Lampu putih di area basement memantul samar di kaca depan mobilnya. Mesin mobil perlahan dimatikan. Namun Lintang tidak langsung turun. Tubuhnya masih bersandar di kursi kemudi beberapa detik sambil mengembuskan napas pelan.Percakapan dengan pengacara tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang bukti, tentang proses hukum, tentang kemungkinan perceraian dan tentang bagaimana semuanya perlahan mulai mengarah ke jalur yang tidak bisa ditarik mundur lagi.Tatapan matanya turun ke arah ponsel milik Hazel yang masih berada di kursi sebelah. Sejak tadi ponsel itu memang sengaja dibawa Lintang dan tepat saat dirinya hendak mengambilnya layar ponsel kembali menyala. Nama yang muncul di layar langsung membuat rahang Lintang mengeras.“REHAN.”Panggilan masuk lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Tatapan Lintang berubah dingin, kali ini—panggilan itu berhenti sendiri dan beberapa detik setelahnya notifikasi pesan kembali masuk, satu,

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 155 Konsultasi

    Setelah keluar dari restoran, akhirnya mereka berdiri sebentar di area parkiran sambil menentukan mau ke mana. Lintang sebenarnya berniat kembali ke rumah sakit untuk menemani Hazel. Sedangkan Levian masih ngotot ingin datang ke kantor cabang Bandung. Tentu saja niat itu langsung membuat Lintang mulai curiga. “Jangan bikin masalah.” Tatapan Lintang tajam saat bicara. Sedangkan Levian langsung mengangkat kedua tangan malas. “Yaelah… Gue cuma mau lihat kantor cabang. Sekalian lihat anak buah lo stres kalau direktur utama datang.” Dan ucapan itu langsung membuat Lintang Aksara Narendra memijat pelipis sebentar. Dia tahu persis kakaknya ini memang suka bikin suasana kantor mendadak mencekam hanya karena muncul tiba-tiba. Namun yang lebih parah ternyata tiga anak kecil itu malah langsung semangat ikut. “Aku ikut om!” Leyan paling cepat bersuara. “Aku juga.” Liana langsung mengangkat tangan tinggi. Sedangkan Lintang kecil hanya berdiri tenang di dekat Lintang sambil memandang dua s

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 154 Takut Penolakan

    Setelah selesai makan akhirnya mereka beranjak keluar dari restoran. Leyan berjalan paling depan sambil memegang perutnya sendiri. “Aku kenyang banget…” Sedangkan Liana langsung menyahut cepat. “Makanya jangan rakus. Kamu tadi nambah nasi dua kali.” Leyan langsung membela diri tanpa malu. “Kan ikannya enak.” Sementara Lintang kecil berjalan tenang di samping Lintang Aksara Narendra sambil membawa botol minumnya. Sedangkan Levian berjalan di belakang mereka dengan kedua tangan masuk saku celana. Tatapannya sesekali masih memperhatikan adiknya. Lintang semakin terlihat benar-benar cocok berada di tengah tiga anak kecil itu. Namun tepat saat mereka hampir keluar dari area restoran, langkah Lintang mendadak berhenti. Tatapan matanya langsung berubah dingin. Beberapa langkah di depan mereka berdiri seorang perempuan dengan pakaian cukup mencolok dan makeup bold, Melisa. Perempuan itu tampak cukup kaget melihat mereka. Terutama saat melihat Lintang masih bersama tiga anak kecil terse

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 153 Ikan

    Setelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 152 Berhak Tahu

    Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status