LOGINLintang Aksara Narendra melangkah ringan di lorong fakultas bisnis dan ekonomi. Setiap langkahnya seolah menarik perhatian tanpa harus ia minta. Beberapa mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman menoleh, berbisik pelan satu sama lain, bahkan ada yang mencoba menatap sekilas dari balik buku. Lintang tidak peduli, ia memang terbiasa. Populer, tajam, dan hampir sempurna di mata banyak orang. Rambut hitamnya lurus rapi, mata hitam legamnya yang tajam seakan mampu menilai setiap orang hanya dalam satu detik, hidungnya mancung lurus, bibir tipis yang jarang tersenyum, wajahnya V-line sempurna, dan tinggi badannya 180 cm membuatnya tampak seperti sosok yang selalu berada satu langkah di atas orang lain.
Dia duduk di bangku panjang dekat taman fakultas, membuka laptop dan memeriksa catatan proposal skripsinya. Sudah semester tujuh, dan dunia akademiknya hampir mencapai garis akhir. Namun, meski sibuk dengan skripsi, Lintang selalu menyisihkan waktu untuk hal-hal yang lebih kompleks daripada sekadar kuliah. “Lintang…”, suara lembut dari seorang junior membuatnya menoleh sebentar. Seorang mahasiswi tersipu, menyerahkan secarik kertas berisi pertanyaan tentang mata kuliah yang sama. Lintang mengambilnya, membacanya sebentar, lalu mengangguk dengan nada singkat. “Ini harus kamu selesaikan sendiri. Aku yakin kamu bisa.” Gadis itu menatapnya kagum, lalu tersenyum malu-malu sebelum bergegas pergi. Lintang hanya menunduk kembali ke laptopnya, seolah tidak ada yang terjadi. Di luar sana, dunia melihatnya sebagai pria yang sempurna, dingin, dan tak tergoyahkan. Tetapi di balik tatapan tajam dan karisma itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Sebuah rasa ingin memiliki, dan rasa frustrasi yang tersembunyi. Karena tidak semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan, dan kadang, ketika sesuatu menghalangi jalannya, Lintang Aksara Narendra tidak segan untuk menempuh cara yang tak biasa. Langkahnya tenang, tatapannya dingin, namun pikirannya sudah mulai merancang sesuatu. Sesuatu yang akan menguji batas kemampuan, kesabaran, dan mungkin hati manusia lain. Hari itu, kampus tetap berjalan seperti biasa. Tetapi bagi Lintang, hari ini hanyalah awal dari sebuah permainan yang jauh lebih besar daripada skripsinya. • Lintang Aksara Narendra berjalan santai di lorong fakultas bisnis dan ekonomi, wajahnya tertutup masker hitam yang rapi. Mata hitamnya tetap tajam, menembus keramaian mahasiswa tanpa terlihat berlebihan. Di tengah kerumunan, pandangannya tertuju pada Melisa Cahyani. Ia duduk di bangku taman, tertawa pelan dengan teman-temannya, rambutnya hitam panjang berkilau, senyumnya menawan. Tapi Lintang tahu, senyum itu bukan untuknya, setidaknya untuk sekarang belum. Dengan langkah tenang, ia mendekat, tetap memakai maskernya. Beberapa mahasiswa memberi jalan otomatis karena karisma dan aura dominannya. Saat duduk di bangku di samping Melisa, masker itu menutupi sebagian ekspresi wajahnya tapi matanya tetap berbicara, tajam, fokus, dan sedikit mengundang penasaran. “Melisa”, sapanya ringan, suara tenang menembus keramaian. Melisa menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan. “Oh… kak Lintang.” Lintang membalas dengan anggukan ringan, menyesuaikan posisi duduk, matanya menatap Melisa melalui tepi masker. Ia mulai berbicara tentang tugas kuliah, proyek kelompok, dan sedikit candaan ringan. Melisa tertawa pelan, dan Lintang menyadari bahwa senyum itu benar-benar berbeda, lebih hangat dari yang ia bayangkan. Ada sesuatu di balik senyum itu, rasa ingin diperhatikan. Dan Lintang, yang terbiasa mendapatkan hampir semua yang ia inginkan, merasa ada tantangan baru di depannya. Ia sedikit membungkuk ke arah Melisa, menatap matanya. “Kalau kamu mau, nanti aku bisa bantu menjelaskan bagian itu. Aku rasa kamu bisa lebih cepat paham kalau kita kerjakan bersama.” Melisa mengangguk malu-malu. “Terima kasih… itu sangat membantu.” Lintang tersenyum tipis, tapi ada percikan kecil kepuasan di matanya. Ia tahu, ini hanya langkah pertama. Mendekati Melisa mungkin mudah untuk sebagian orang, tapi bagi Lintang, ini juga bagian dari permainan dan ia tidak pernah kalah dalam permainan apa pun. Saat mereka bercakap-cakap, beberapa mahasiswa lain menoleh, berbisik pelan, tetapi Lintang tetap tenang. Matanya mengamati Melisa, merencanakan langkah berikutnya, sambil masker menutupi sebagian ekspresi yang bisa menimbulkan kecurigaan. Sementara itu, dari kejauhan, seorang gadis dengan kacamata dan kemeja sederhana melintas. Rambutnya digerai bebas, celana panjang dan sepatu snickers membuatnya tampak lincah dan praktis, ya Hazel Chiara Parameswari. Hari itu, Lintang terus fokus ke Melisa, tetapi bayangan gadis misterius tadi tetap tersimpan di sudut pikirannya tanpa disadari, itu adalah awal dari sesuatu yang kelak akan mengubah jalannya. Percakapan dengan Melisa selesai, Lintang tersenyum tipis, bangga dengan langkah pertama PDKT-nya. Tapi di hatinya, ada rasa penasaran halus yang tidak bisa ia abaikan, sebuah rasa penasaran yang, kelak, akan menjeratnya dalam drama dan kesalahan yang tak terduga. • Setelah Lintang pergi dari bangku taman, Melisa duduk kembali di antara teman-temannya, tersenyum tipis sambil menata catatan kuliahnya. Suasana ceria, tetapi teman-temannya tampak penasaran. “Eh, Melisa”, suara salah satu temannya memecah keheningan, “aku nggak ngerti deh… akhir-akhir ini kamu sering banget bareng kakak tingkat itu, Lintang, kan? Apa kalian… lagi PDKT, gitu?” Melisa mengangkat alis, menahan senyum kecil. “PDKT? Ah, kalian terlalu lebay aja,” jawabnya santai, menatap teman-temannya satu per satu. Temannya yang lain menimpali, setengah bercanda tapi penuh penasaran, “Tapi kan… kamu kan udah punya pacar? Pacaran lumayan lama juga. Terus sekarang malah didatangi kakak tingkat yang terkenal sekali kepopulerannya lagi dikampus ini. Gimana, gimana rasanya didatangi orang seperti Lintang?” Melisa hanya tersenyum, lalu menyandarkan diri sedikit ke bangku. “Aku tahu kalian khawatir, tapi… lingkungan kuliah berbeda dengan kehidupan di luar. Pacarku tetap prioritas, jelas. Tapi kalau ada kakak tingkat terkenal, pintar, kaya, karismatik, dan… ya, tampan, siapa yang akan menolak kalau dia mendekati kita?” Teman-temannya terdiam sesaat, tersenyum malu-malu karena menyadari logikanya. Melisa menambahkan, setengah bergurau tapi terdengar meyakinkan, “Lagipula, aku sudah mengagumi sosok Lintang ini sejak awal kuliah. Dia ketua panitia ospek waktu itu. Jadi ya… kalau aku bisa mendapat sedikit perhatian darinya, kenapa harus disia-siakan? Anggap saja ini… keberuntungan.” Mereka semua tertawa pelan, dan topik itu perlahan beralih. Tapi di mata Melisa, ada kilatan kesadaran, sadar akan kesempatan yang ada, tahu cara memanfaatkan perhatian Lintang tanpa harus mengorbankan hubungan aslinya. Sifat cerdas baginya itu membuatnya selalu selangkah di depan, setidaknya untuk saat ini. • Setelah beberapa jam di kampus berlalu, Lintang berdiri di balkon lantai tiga fakultas bisnis dan ekonomi, memandang ke arah taman dari kejauhan. Bangku tempat Melisa tadi duduk kini kosong, hanya tersisa beberapa catatan yang tertinggal, tersibak angin sore. Ia menurunkan masker sebentar, menghela napas ringan, lalu memasangnya kembali. Wajahnya tetap tenang, tapi di mata hitam legam itu ada sesuatu yang berbeda perhitungan, perhatian yang teliti, dan sedikit rasa puas. “Baiklah…”, gumamnya pelan, suaranya hampir terseret oleh angin sore. “Langkah pertama selesai, tapi permainan ini baru dimulai.” Ia menatap sekeliling kampus yang mulai sepi. Gedung-gedung tinggi, mahasiswa yang berlarian pulang, semuanya tampak biasa. Tapi di matanya, setiap gerakan, setiap peluang, bahkan percakapan ringan adalah bagian dari strategi. Lintang tahu cara membaca situasi, memahami orang, dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Meski hari ini hanya sekadar mendekati Melisa, di benaknya sudah mulai muncul skema-skema lain. Perhatian kecil, senyum sopan, kata-kata ringan, semua akan ia gunakan dengan tepat. Tidak ada ruang untuk kesalahan, dan tentu saja, tidak ada tempat untuk emosi yang lemah. Lintang menghela napas lagi, menatap ke kejauhan, membayangkan langkah-langkah berikutnya. Dunia bisa saja tampak biasa, tapi baginya setiap orang hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar. Dan seperti biasanya, Lintang Aksara Narendra selalu bermain untuk menang.Setelah makan mereka selesai Leyan langsung duduk menyandar kenyang sambil mengusap perut kecilnya. “Aku full…” Sedangkan Liana masih sibuk menghabiskan potongan wortel dari sotonya pelan-pelan. Dan Lintang kecil sudah selesai lebih dulu sambil duduk tenang memperhatikan suasana restoran. Lintang akhirnya memanggil pelayan lagi. “Mbak.” Pelayan itu langsung mendekat ramah. “Iya Mas?” Lintang mulai menyebut beberapa menu tambahan dengan tenang. “Iga bakar satu, soto ayam bening dua, tongseng sapi satu, tempe goreng tepung sama bakwan juga tambah.” Pelayan langsung mencatat cepat. Sedangkan Leyan langsung menoleh bingung. “Ayah pesen lagi?” Lintang mengangguk kecil. “Buat bunda.” Tatapan anak-anak itu langsung berubah sedikit lebih cerah sekarang. Lintang kembali melanjutkan. “Nanti diantar ke rumah sakit ruangan Bunda, sekalian buat nenek Miranti.” Lalu laki-laki itu diam sebentar sebelum menambahkan lagi. “Sama dua orang yang jaga di luar.” Pelayan langsung mengangguk sopan
Restoran itu cukup ramai siang menjelang sore. Aroma iga bakar, kuah soto hangat dan asap panggangan memenuhi udara begitu Lintang membawa tiga anak kecil itu masuk ke dalam. Berbeda dari suasana rumah sakit tadi di sini suasananya jauh lebih hidup. Lampu gantung bernuansa hangat membuat ruangan terasa nyaman. Beberapa keluarga terlihat sedang makan bersama sambil mengobrol santai. Sedangkan Leyan langsung semangat begitu melihat area tempat makan favoritnya. “Ayah yang dekat kaca ya!” Anak itu langsung menunjuk salah satu meja besar dekat jendela. Lintang hanya mengangguk kecil sambil menarik kursi untuk mereka. Liana langsung duduk rapi sambil merapikan ujung bajunya. Sedangkan Lintang kecil duduk paling pinggir sambil memandang daftar menu diam-diam. Meski wajahnya masih lebih murung dibanding biasanya, setidaknya anak itu sudah tidak sesunyi tadi. Pelayan akhirnya datang menghampiri sambil membawa buku catatan kecil. “Mau pesan apa kak?” Dan seperti biasa, Leyan jadi yang
Sambungan telepon itu akhirnya terputus. Di rumah milik Hazel. Lintang masih berdiri diam di dekat tangga sambil menatap layar ponselnya beberapa detik. Sedangkan di Jakarta, Levian justru belum bergerak sama sekali dari kursi ruang kerjanya. Ponsel masih berada di tangannya. Tatapannya kosong lurus ke depan, ruangan direktur utama Narendra Group itu sunyi sekarang. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Namun isi kepala Levian justru terasa semakin ramai. Karena semakin dirinya memikirkan percakapan tadi, semakin aneh semuanya terdengar. Levian akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya pelan sambil mengusap rahang. “Anak kecil manggil ayah…” gumamnya pelan sendiri. Lalu laki-laki itu tertawa napas kecil tanpa sadar. Karena jujur saja cerita Lintang tadi masih terasa sangat mengambang baginya. Kalau cuma bantu antar perempuan pingsan ke rumah sakit, harusnya selesai sampai situ, normalnya begitu. Sedangkan ini Lintang justru sampai jemput anak-anak perempuan itu
Suasana kamar anak-anak itu perlahan kembali ramai setelah Lintang selesai memilihkan pakaian mereka. Leyan masih sibuk berdiri di depan lemari sambil memegang kaos bergambar dinosaurus pilihannya tadi. Sedangkan Liana memeluk dress pink kecil sambil tersenyum puas karena pilihannya akhirnya dipakai juga. Sementara Lintang kecil sudah duduk di tepi ranjang sambil melipat rapi seragam sekolahnya sendiri. Tatapan Lintang kembali menyapu kamar itu perlahan. Cukup lama dia memperhatikan, terasa hangat suasana di ruangan tersebut. Meski kamar itu sederhana semuanya terlihat hidup Ada jejak tawa anak-anak di sana, ada kebiasaan kecil mereka dan ada usaha Hazel membangun dunia nyaman untuk tiga anaknya. Lintang akhirnya membuka suara sambil berdiri dekat meja belajar kecil mereka. “Kalian tidur di kamar ini?” Lintang kecil langsung mengangguk kecil. “Iya.” Suaranya tenang seperti biasa. “Tapi kalau ada bunda…” Anak itu berhenti sebentar sambil melirik ke arah pintu kamar. “…ikutnya di k
Suasana ruang VVIP itu perlahan mulai lebih tenang setelah semuanya dibicarakan. Hazel Chiara Parameswari masih terlihat lelah di atas ranjang rumah sakit. Matanya sembab, tubuhnya juga tampak jauh lebih lemah dibanding biasanya. Sedangkan Miranti duduk di samping ranjang sambil sesekali mengusap kepala Hazel pelan. Sementara itu, Lintang mulai membantu membereskan tas kecil tiga anak tersebut yang tadi dibawa dari sekolah. Tatapannya sesekali jatuh ke arah Hazel setiap melihat wajah perempuan itu dadanya terasa makin berat. Akhirnya laki-laki itu kembali mendekat ke sisi ranjang. “Kalau gitu… Aku bawa anak-anak dulu ya.” Hazel perlahan mengangkat wajahnya. Sedangkan Lintang kembali bicara tenang. “Sekalian aku pinjam kunci cadangan rumah kamu. Kalian belum ganti pakaian dari sekolah.” Tatapannya bergantian melihat tiga anak kecil yang masih duduk dekat ranjang Hazel. “Kasihan juga kalau mereka terlalu lama di rumah sakit.” Hazel langsung diam berdiri. Dirinya memang tidak
Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkir rumah sakit. Suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat dari sekolah tadi. Leyan yang biasanya paling ribut sekarang duduk diam sambil memeluk tas sekolahnya. Sesekali anak itu melirik ke arah gedung rumah sakit dengan wajah cemas. Sedangkan Liana terlihat menggigit bibir kecilnya pelan sejak tadi. Matanya beberapa kali berkaca-kaca meski dirinya berusaha terlihat kuat. Dan Lintang kecil, anak itu justru paling diam. Tatapannya kosong mengarah keluar jendela mobil. Jemarinya menggenggam kuat tali tas di pangkuannya sampai buku-buku jarinya sedikit memutih. Lintang memperhatikan semuanya diam-diam dari kaca tengah. Melihat reaksi tiga anak itu, dadanya terasa makin berat. Dia sadar Hazel benar-benar pusat dunia mereka. Mobil akhirnya berhenti. “Ayo…” Suara Lintang terdengar pelan sekarang. Jauh lebih lembut dibanding biasanya. Leyan langsung turun cepat lebih dulu. Diikuti Liana, sedangkan Lintang kecil keluar paling
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu meny
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se







