LOGINLintang berjalan santai di koridor kampus, masker menutupi sebagian wajahnya, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh perhitungan. Mata hitam legamnya mengamati arah kelas di mana Melisa baru saja keluar, beberapa teman mengiringi dari belakang. Hari ini, Lintang menargetkan beberapa momen kecil, sesuatu yang bisa membuat Melisa merasa diperhatikan tanpa terlihat berlebihan.
Saat Melisa menuruni tangga, Lintang mendekat dengan senyum tipis. “Hey, Melisa. Kamu nggak kesulitan kan tadi di kelas?”, tanyanya ringan, seakan menanyakan hal sepele, tapi nada suaranya membuat Melisa sedikit tersipu. Melisa menoleh, ragu-ragu sejenak sebelum tersenyum. “Ah, nggak kok. Cuma agak bingung sama tugas itu tadi”, jawabnya sambil mengatur tasnya. Lintang mengangguk pelan, lalu menawar. “Kalau mau, aku bisa bantu jelasin lagi. Nggak terlalu sulit, tapi bisa bikin lebih gampang dimengerti.” Melisa menatapnya sebentar, ada rasa senang di matanya. Ia tahu dirinya punya pacar di luar kampus, tapi ada sesuatu di cara Lintang berbicara, di gestur kecilnya, yang membuatnya merasa diperhatikan. “Ah… terima kasih” katanya singkat, senyum tipis muncul. Lintang terus melakukan momen-momen kecil, membantu Melisa mengambil buku yang hampir jatuh, menepuk ringan bahunya saat ia tersandung di koridor, bahkan muncul di kantin di mana Melisa biasa duduk. Semua dilakukan dengan santai, wajar, dan terlihat alami, strategi yang tepat agar Melisa merasa nyaman tanpa sadar sedang didekati. Di sisi lain, Melisa mulai merasakan bahwa perhatian Lintang berbeda. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuatnya merasa “spesial” di tengah keramaian kampus. Ia menepuk tasnya, tersenyum sendiri, berpikir, “Ah, siapa yang bisa menolak kakak tingkat sehebat Lintang ini?” Hari itu berakhir dengan Lintang meninggalkan Melisa di kantin, menatap dari kejauhan, sedikit puas. Ia tahu PDKT-nya berjalan lancar. Lintang berjalan meninggalkan area kantin, tatapannya tetap tenang, tapi ada perhitungan halus di balik masker, setiap senyum, setiap gestur, dan setiap kata yang diucapkan semuanya bagian dari strategi yang sudah ia susun. • Di hari berikutnya, Lintang tampak lebih santai namun tetap rapi, jas almamaternya disesuaikan dengan kegiatan kuliah pagi. Kali ini, fokusnya bukan hanya muncul di sekitar Melisa, tapi juga membuat dirinya terlihat “tidak sengaja” ada di momen yang Melisa perlukan bantuan tanpa terlalu mencolok. Di kantin, Melisa tampak sibuk dengan buku catatan di meja, beberapa teman berkerumun di sekitarnya. Lintang mengambil tempat di meja yang agak jauh, pura-pura membaca buku sendiri, sambil sesekali menatap Melisa dari sudut matanya. Ia menunggu kesempatan yang tepat. Beberapa menit kemudian, salah satu teman Melisa menumpahkan air minum secara tidak sengaja, membuat beberapa kertas catatan Melisa basah. Melisa tampak panik, tanpa menunggu diminta, Lintang berdiri cepat, melangkah ke arah Melisa. “Eh, tenang pelan-pelan jangan panik. Aku bantu ambilin kertasnya”, katanya sambil menyingkirkan beberapa kertas basah dan menepuk tas Melisa agar tidak terguling. Melisa menatapnya dengan mata sedikit terbuka lebar, tersentuh oleh perhatian itu. “Ah… terima kasih… Kak Lintang”, gumamnya, senyum tipis muncul di wajahnya. Seusai itu, Lintang pura-pura berjalan meninggalkan meja, tapi sesaat kemudian kembali dengan selembar kertas bersih dan pulpen cadangan. “Ini buat catatanmu, biar nggak hilang lagi”, ucapnya santai. Melisa tersipu, menatap kertas itu, merasa benar-benar diperhatikan. Sepanjang hari, Lintang terus menempatkan diri di momen-momen kecil seperti ini, membantu Melisa mengambil buku dari rak tinggi di perpustakaan, memberikan saran ringan ketika Melisa terlihat kebingungan dengan soal kuliah, pura-pura “tidak sengaja” berjalan bersamanya saat keluar kelas, sambil menanyakan hal sepele, “Sudah makan siang?” atau “Mau jalan sebentar ke kantin?” Melisa mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ia masih mencintai pacarnya, tapi Lintang, dengan cara santai dan karismatiknya, membuatnya merasa diperhatikan dengan intens. Ia mulai menunggu-nunggu momen Lintang hadir, merasa “spesial” dalam perhatian yang diberikan. Di sisi lain, Lintang tetap memperhitungkan semuanya dengan cermat. Setiap senyum, setiap pertanyaan kecil, bahkan posisi duduknya di kantin dan perpustakaan, semua diperhitungkan untuk membuat Melisa nyaman, tapi tetap tertarik. Ia tahu, hari-hari berikutnya harus lebih hati-hati, lebih intens, tapi tetap terlihat alami. Sore menjelang, Lintang meninggalkan kampus dengan langkah santai. Di balik masker, ada senyum tipis yang menandakan puas, strategi PDKT-nya berjalan lancar. Sementara Melisa, masih duduk di meja kantin, menatap ke arah Lintang pergi, merasa sedikit lega tapi juga senang, tanpa sadar, hatinya mulai terpaut. • Lintang menutup pintu apartemennya dengan lembut, suara kunci berderik sedikit ketika masuk ke ruang kecil yang rapi itu. Masker yang menutupi sebagian wajahnya sepanjang hari kini dilepas, tersimpan di samping tasnya. Ia menatap sejenak ruang yang sunyi, apartemennya cukup luas, setiap sudut mencerminkan dirinya, rapi, teratur, dan penuh perhitungan. Buku-buku tertata di rak, catatan-catatan kecil menempel di papan, dan laptop di meja kerja siap digunakan. Ia berjalan ke meja, menaruh tasnya dengan hati-hati, kemudian duduk. Napasnya tertahan sejenak sebelum ia mengeluarkan buku catatan tebal yang selalu ia bawa kemanapun. Matanya menelusuri halaman-halaman yang penuh catatan strategi, ide-ide kecil, dan rencana-rencana yang tertata rapi. Hari-hari terakhir, PDKT dengan Melisa berjalan lancar, tapi Lintang tahu bahwa langkah selanjutnya harus sempurna. “Baiklah…”, gumamnya pelan, suaranya hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Besok… semua harus sempurna, tidak ada yang boleh salah.” Tangannya mulai menulis lagi, tapi bukan sekadar membuat daftar. Ia menulis perlahan, menata kata demi kata, membayangkan situasi dan respons Melisa. Ia mengingat bagaimana senyum tipis Melisa saat dibantu mengambil buku yang hampir jatuh, gestur ringannya di kantin, cara Melisa menatapnya sebentar sebelum kembali fokus ke teman-temannya. Semua itu menjadi bahan perhitungannya. “Kalau aku bicara santai… mungkin dia akan tersenyum. Tapi kalau terlalu cepat, dia bisa menarik diri. Harus… pelan dan perlahan”, ucapnya pada dirinya sendiri, suara lembut tapi penuh ketegasan. “Dan harus terlihat alami, bukan seperti sedang direncanakan, tidak boleh terlalu jelas. Semua harus spontan, tapi berkesan.” Lintang menatap catatan itu lagi, lalu berdiri sejenak. Ia berjalan ke jendela, melihat kota Jakarta di bawah cahaya sore yang mulai hangat. Tangannya menyentuh tirai, menatap jalanan yang ramai di bawah. Meski terlihat tenang, pikirannya penuh perhitungan, lokasi terbaik, momen yang tepat, kata-kata yang tepat. Bahkan detail kecil, seperti kapan harus tersenyum, kapan menatap mata Melisa, kapan pura-pura lewat, semua sudah diulang dalam pikirannya. “Besok… aku harus buat dia merasa nyaman. Harus membuatnya merasa… diperhatikan, tapi bukan seperti sedang diburu. Aku ingin dia merasa… ini alami, seakan aku tidak sengaja ada di momen itu”, bisiknya, suaranya rendah tapi terdengar tegas. Ia duduk kembali di meja, menatap catatan. Tangannya menyentuh pulpen, seolah menimbang setiap kata yang akan diucapkannya. Beberapa ide tambahan muncul, buku cadangan jika catatan Melisa jatuh, catatan ringan untuk memberi kesan peduli, atau sekadar sapaan kecil di koridor. Semua hal kecil itu bisa menjadi jembatan menuju konfess. “Kalau semuanya berjalan sesuai rencana… dia akan tersenyum. Dan aku bisa mulai langkah berikutnya, tapi kalau ada yang salah…” Lintang menghela napas panjang. “Aku harus cepat menyesuaikan diri. Harus tetap tenang dan tidak boleh kehilangan fokus.” Ia menatap langit sore dari jendela lagi, membiarkan ketenangan itu meresap. Setiap detik terasa penting. Lintang tahu, besok adalah babak baru. Semua strategi, semua senyum tipis, semua kata yang diucapkan dengan hati-hati, semua itu akan diuji. Lintang menutup buku catatannya perlahan, tersenyum tipis. “Aku siap”, bisiknya pelan, seperti janji pada diri sendiri. “Besok, semuanya akan berubah sedikit lebih dekat… sedikit lebih nyata.” Ia berdiri, merapikan ruangannya, memastikan semuanya rapi. Masker, buku catatan, laptop, semua sudah siap untuk hari esok. Lintang menatap ruang apartemen yang hening, menghela napas panjang, lalu duduk sejenak menikmati kesunyian. Hari besok, PDKT yang ia persiapkan dengan cermat akan mulai diekseskusi.Tangis Hazel belum benar-benar berhenti. Perempuan itu masih menunduk di atas ranjang rumah sakit sambil memegang erat selimut di pangkuannya. Bahu kecilnya sesekali bergetar pelan. Sedangkan suasana ruangan terasa begitu tenang malam itu. Lampu redup di sudut ruangan membuat semuanya terasa lebih hening. Suara pendingin ruangan terdengar samar, dari luar jendela lampu kota Bandung masih menyala terang. Namun di dalam sana isi hati Hazel justru terasa jauh lebih berisik dibanding apa pun. Semua ucapan Lintang Aksara Narendra sejak tadi terus memukul kesadarannya perlahan. Tentang anak-anak, tentang dirinya sendiri dan tentang hidup yang selama ini ia pertahankan mati-matian. Padahal yang ia pertahankan justru perlahan menghancurkan dirinya. Sedangkan Lintang masih duduk di sofa dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel diam-diam. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, justru sekarang jauh lebih lembut. Laki-laki itu tahu Hazel sebenarnya sudah terlalu lelah untuk terus melawan semuanya
Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Lintang Aksara Narendra tadi selesai. Lampu ruangan dibuat sedikit redup agar Hazel bisa lebih nyaman beristirahat. Di luar jendela, langit malam Bandung terlihat tenang dengan cahaya lampu kota yang berpendar samar. Sedangkan di dalam ruangan, suasana hati Hazel justru terasa semakin penuh. Perempuan itu masih duduk bersandar di ranjang. Tangannya saling menggenggam di atas selimut, tatapannya turun, pikirannya terus berkelana. Dia sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Menahan sakit, menahan takut, dan menahan tangis. Sampai akhirnya dia sendiri lupa bagaimana rasanya mengeluh tanpa merasa bersalah. Sedangkan Lintang duduk tidak jauh darinya. Tatapan laki-laki itu masih tertuju penuh pada Hazel. Dia sadar betapa rusaknya hidup yang sudah Hazel jalani bertahun-tahun ini. Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Kamu gak perlu merasa harus nahan diri terus menerus.” Hazel perlahan mengangkat wajah. Tatapan matanya mulai berkabut
Malam mulai turun saat mobil Lintang memasuki area parkir rumah sakit. Lampu-lampu gedung menyala terang di tengah langit Bandung yang mulai gelap. Udara malam terasa lebih dingin dibanding siang tadi. Sedangkan di dalam mobil suasana justru cukup ramai. Leyan sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu ibunya lagi. “Bunda pasti udah sembuh…” Sedangkan Liana sibuk merapikan bando kecil di rambutnya sendiri. “Aku tadi udah mandi loh… Biar bunda lihat aku cantik.” Dan di kursi belakang Lintang kecil duduk tenang sambil memeluk tas kecilnya. Meski anak itu masih lebih diam, wajahnya sudah tidak semurung siang tadi. Begitu mobil berhenti Lintang langsung turun lalu membukakan pintu untuk mereka. “Nah pelan-pelan.” Leyan langsung turun paling cepat. Sedangkan Liana otomatis menggenggam tangan Lintang sambil berjalan masuk ke lobby rumah sakit. Sementara Lintang kecil berjalan di sisi lain laki-laki itu. Entah sejak kapan tiga anak kecil tersebut sudah seperti terbiasa berada di dek
Setelah makan mereka selesai Leyan langsung duduk menyandar kenyang sambil mengusap perut kecilnya. “Aku full…” Sedangkan Liana masih sibuk menghabiskan potongan wortel dari sotonya pelan-pelan. Dan Lintang kecil sudah selesai lebih dulu sambil duduk tenang memperhatikan suasana restoran. Lintang akhirnya memanggil pelayan lagi. “Mbak.” Pelayan itu langsung mendekat ramah. “Iya Mas?” Lintang mulai menyebut beberapa menu tambahan dengan tenang. “Iga bakar satu, soto ayam bening dua, tongseng sapi satu, tempe goreng tepung sama bakwan juga tambah.” Pelayan langsung mencatat cepat. Sedangkan Leyan langsung menoleh bingung. “Ayah pesen lagi?” Lintang mengangguk kecil. “Buat bunda.” Tatapan anak-anak itu langsung berubah sedikit lebih cerah sekarang. Lintang kembali melanjutkan. “Nanti diantar ke rumah sakit ruangan Bunda, sekalian buat nenek Miranti.” Lalu laki-laki itu diam sebentar sebelum menambahkan lagi. “Sama dua orang yang jaga di luar.” Pelayan langsung mengangguk sopan
Restoran itu cukup ramai siang menjelang sore. Aroma iga bakar, kuah soto hangat dan asap panggangan memenuhi udara begitu Lintang membawa tiga anak kecil itu masuk ke dalam. Berbeda dari suasana rumah sakit tadi di sini suasananya jauh lebih hidup. Lampu gantung bernuansa hangat membuat ruangan terasa nyaman. Beberapa keluarga terlihat sedang makan bersama sambil mengobrol santai. Sedangkan Leyan langsung semangat begitu melihat area tempat makan favoritnya. “Ayah yang dekat kaca ya!” Anak itu langsung menunjuk salah satu meja besar dekat jendela. Lintang hanya mengangguk kecil sambil menarik kursi untuk mereka. Liana langsung duduk rapi sambil merapikan ujung bajunya. Sedangkan Lintang kecil duduk paling pinggir sambil memandang daftar menu diam-diam. Meski wajahnya masih lebih murung dibanding biasanya, setidaknya anak itu sudah tidak sesunyi tadi. Pelayan akhirnya datang menghampiri sambil membawa buku catatan kecil. “Mau pesan apa kak?” Dan seperti biasa, Leyan jadi yang
Sambungan telepon itu akhirnya terputus. Di rumah milik Hazel. Lintang masih berdiri diam di dekat tangga sambil menatap layar ponselnya beberapa detik. Sedangkan di Jakarta, Levian justru belum bergerak sama sekali dari kursi ruang kerjanya. Ponsel masih berada di tangannya. Tatapannya kosong lurus ke depan, ruangan direktur utama Narendra Group itu sunyi sekarang. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Namun isi kepala Levian justru terasa semakin ramai. Karena semakin dirinya memikirkan percakapan tadi, semakin aneh semuanya terdengar. Levian akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya pelan sambil mengusap rahang. “Anak kecil manggil ayah…” gumamnya pelan sendiri. Lalu laki-laki itu tertawa napas kecil tanpa sadar. Karena jujur saja cerita Lintang tadi masih terasa sangat mengambang baginya. Kalau cuma bantu antar perempuan pingsan ke rumah sakit, harusnya selesai sampai situ, normalnya begitu. Sedangkan ini Lintang justru sampai jemput anak-anak perempuan itu
Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw
Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany
Siang itu, matahari bersinar cerah di halaman kampus, namun kelas tetap terasa hangat. Lintang menyesuaikan masker di wajahnya, langkahnya mantap saat memasuki gedung fakultas. Ia menatap pintu kelas tempat Melisa biasanya mengikuti perkuliahan, lalu menarik napas dalam.“Kalau chat dan telepon tid
Pagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang ber







