Compartir

Saat Aku Tak Lagi Meronta
Saat Aku Tak Lagi Meronta
Autor: Peppa

Bab 1

Autor: Peppa
“Sudah sejak awal kubilang kamu nggak apa-apa. Mana mungkin aku kalah tahu soal kondisimu dibanding dokter? Hanya buang-buang waktu saja jalan ke sini.”

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Ibu memotret lembar hasil pemeriksaan dan mengunggahnya ke grup keluarga.

Dia sengaja melingkari kalimat ‘penilaian normal’.

[Hari ini aku membawanya periksa, nggak ada apa-apa sama sekali, dia cuma menakut-nakuti dirinya sendiri.]

Begitu pesan itu terkirim, para kerabat langsung bermunculan satu per satu membalas.

Tante paling kecilku membalas, [Dari awal aku sudah bilang nggak mungkin depresi. Kondisi keluarga kalian sebagus itu, mana mungkin dia depresi?]

Paman menambahkan, [Anak-anak zaman sekarang kebanyakan main ponsel, suka menyamakan kondisi sendiri dengan beberapa kata baru.]

Akhirnya, Ayah membalas

[Syukurlah kalau nggak apa-apa. Lain kali jangan menyusahkan orang lagi, Ibumu juga nggak mudah menjagamu.]

Ibu meletakkan ponselnya dengan puas.

“Lihat, semua orang bilang kamu nggak apa-apa. Kamu yang lebay, aku sampai harus bangun pagi-pagi untuk mendampingimu.”

“Depresi segala lagi. Orang yang nggak tahu bisa-bisa mengira aku sudah menyiksamu.”

Aku menatap layar ponsel, lalu mengangguk.

“Iya, aku nggak apa-apa.”

Ibu sempat terdiam sejenak, mungkin tak menyangka aku bakal menyerah secepat itu.

Aku menundukkan kepala, teringat setiap kali meminta bantuan padanya, dia selalu lebih dulu terpuruk dibanding diriku.

“Aku bahkan nggak berani menyebut diriku sendiri depresi. Hidupku jauh lebih menderita dibanding kamu. Demi merawatmu, aku harus bangun pagi pulang malam mendampingi sekolahhmu, berganti-ganti menu memasakkan makanan bergizi untukmu. Aku sudah mengusahakan yang terbaik untuk merawatmu, emangnya masih salah?”

Bahkan kedatangan kami ke rumah sakit kali ini pun hanya karena dia emosi setelah menangis semalaman.

“Ya sudah, ayo ke rumah sakit. Biar kulihat, seberapa parah aku mencelakaimu.”

Kali ini, aku tidak berani membantah lagi.

Sejak hari itu, aku menjadi sangat normal.

Tanpa perlu dibangunkan Ibu, aku sudah bangun tepat pukul setengah tujuh pagi.

Makanan yang dia siapkan untuk sarapan selalu kuhabiskan tanpa sisa.

Meskipun perutku terasa mual dan tidak nyaman, aku tetap menelan suapan terakhir itu.

Sebelum berangkat sekolah, dia memeriksa tas dan ponselku.

Aku berdiri di samping menunggu, tidak lagi bertanya mengapa dia membongkar barang-barangku.

Saat dia menghapus tulisan acak di aplikasi catatan ponselku, aku pun tidak menghentikannya.

“Hal seperti ini semakin ditulis hanya akan semakin lebay.”

Dia mengembalikan ponsel itu kepadaku.

"Ke depannya, catat saja hal-hal yang bikin bahagia."

Saat pelajaran berlangsung, aku tidak lagi menaruh kepala di atas meja.

Ketika guru bertanya, aku langsung berdiri dan menjawab.

Teman sebangku bertanya apakah belakangan ini keadaanku sudah jauh lebih baik, aku tersenyum meniru nada bicara Ibu.

“Emang sejak awal nggak apa-apa, aku hanya terlalu banyak pikiran saja kemarin.”

Pulang sekolah, aku berinisiatif membantu Ibu menyiang sayuran, mengepel dan menjemur pakaian.

Saat bertelepon dengan Tante, suara Ibu terdengar begitu lega.

“Ternyata pemeriksaan kemari ada gunanya juga, sekarang pemikirannya sudah terbuka.

"Dulu setiap hari mukanya cemberut terus, seolah-olah sekeluarga berutang padanya. Sekarang setelah tahu dirinya nggak sakit, orangnya jadi makin bersemangat."

Tante tertawa di balik telepon.

“Sudah kubilang, anak kecil mana yang punya banyak beban pikiran.”

Ibu menoleh melihat ke arahku.

Aku sedang berjongkok di lantai, mengelap noda di dekat kakinya.

Dengan puas, dia berkata,

"Bagaimanapun juga, dia harus tahu kalau melarikan diri nggak akan menyelesaikan masalah."

Aku tetap menunduk dan terus mengelap.

Sebenarnya noda itu sudah bersih dari tadi.

Namun, aku tetap mengusap tempat yang sama berulang kali.

Pukul sepuluh malam, Ibu membuka pintu kamarku.

Aku sudah berbaring di atas kasur, seragam sekolah terlipat rapi dan tugas yang harus dikumpulkan besok diletakkan di bagian paling atas tas sekolah.

Akhirnya, dia tertawa.

“Lihat, tampil normal begini jauh lebih baik.”

“Dulu Ibu mengaturnya karena takut kamu mengambil jalan yang salah. Nanti kalau sudah besar, kamu bakal paham kalau Ibu melakukan ini semua demi kebaikanmu.”

Aku menatapnya.

“Terima kasih, Ibu.”

Dia mematikan lampu kamarku.

Di luar pintu, dia mengirim pesan suara kepada Ayah.

“Tenang saja, benar-benar sudah nggak apa-apa. Dia jadi patuh sekali, nggak pernah lagi membicarakan hal-hal yang menakutkan.”

Ayah bertanya, “Lalu untuk apa masih menyimpan lembar hasil pemeriksaannya?”

"Tentu saja harus disimpan, supaya nanti kalau dia ulangi lagi, ada buktinya."

Suara langkah kakinya perlahan menjauh.

Aku membuka mata dan menatap ke arah meja belajar.

Salinan lembar pemeriksaan itu tertimpa di bawah lampu meja.

Penilaian normal, tidak ada kecenderungan depresi, disarankan untuk menjaga komunikasi keluarga yang baik.

Aku menatapnya cukup lama, lalu mengeluarkan sebuah buku harian baru.

Di halaman pertama, aku menuliskan,

[Hari ini bangun tepat waktu, menghabiskan sarapan, fokus mendengarkan di kelas dan membantu Ibu membereskan rumah setelah pulang sekolah.]

[Hidupku sangat baik.]

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 8

    Upacara pemakamanku diadakan tiga hari kemudian.Ibu tidak memakaikanku gaun putih yang sudah disiapkannya.Padahal itu adalah gaun model kesukaannya.Dulu setiap kali mau bertamu ke rumah kerabat, dia selalu menyuruhku memakainya. Katanya seorang anak perempuan itu harus tampil bersih dan anggun, jangan selalu berpakaian seperti anak laki-laki.Namun kali ini, dia mengobrak-abrik isi lemari pakaian dan mengeluarkan baju hoodie hitam kesayanganku dari bagian yang paling bawah.Baju itu ukurannya terlalu longgar, makanya dulu dia tidak pernah mengizinkanku memakainya."Kelihatan tidak bersemangat, nanti orang lain yang lihat dikiranya Ibu nggak pernah membelikanmu pakaian."Kini dia memeluk pakaian itu di dadanya, menangis tersedu-sedu sambil memohon kepada petugas pemakaman,"Tolong pakaikan yang ini saja.""Dia sangat menyukai baju ini."Ini adalah kali pertama dalam hidupnya dia tidak membuatkan keputusan untukku.Rumah duka dipenuhi oleh banyak orang yang melayat.Tante, wali kelas,

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 7

    Ibu tak mau melepaskan tanganku.Suster membujuknya agar membiarkanku dibawa ke kamar jenazah, tetapi dia berdiri menghadang ranjangku mati-matian.“Dia takut dingin, nggak boleh di bawah ke tempat seperti itu.”"Dia cuma tertidur, kalau aku ajak bicara beberapa kali lagi, dia pasti bakal bangun."Ayah mencoba memeluk dan menenangkannya, tetapi Ibu langsung menepisnya kasar."Kamu juga salah!""Waktu aku melepas pintu kamarnya, kenapa kamu nggak melarang?""Waktu mereka mengejeknya lebay di grup, kenapa kamu ikut-ikutan bicara begitu?"Ayah menundukkan kepala, air matanya menetes jatuh ke lantai."Waktu itu kamu sendiri yang bilang, semuanya dilakukan demi kebaikannya."Ibu mendadak tertegun.Kalimat itu sudah terlalu sering dia ucapkan.Dulu kalimat tersebut bagaikan sebuah perisai, seberapa keras pun aku berusaha melawan, dia selalu bisa bersembunyi di baliknya dan tetap menjadi pihak yang selalu benar.Kini perisai itu dikembalikan utuh oleh Ayah, hingga akhirnya menghujam ke dalam

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 6

    Tangan Ibu mematung kaku di udara.Dia menatap tiga kata itu, seolah-olah tak mengenal kata di depannya.“Nggak mungkin.”Dia membalik amplop itu dan melihat tulisan [Untuk Ibu yang paling mencintaiku di dunia.], lalu buru-buru berkata, "Kamu tahu jelas kalau Ibu paling menyayangimu.""Kamu cuma lagi marah saja, ‘kan?"Tak ada seorang pun yang menjawabnya.Aku berdiri di sampingnya, menyaksikan dia melanjutkan membaca ke bawah.[Ibu, aku tahu kamu sangat menyayangiku.][Setiap hari memasakkan makanan untukku, mengantar jemput aku sekolah dan mencurahkan seluruh waktumu hanya untukku.][Karena itulah, setiap kali nggak nyaman, aku sealu merasa diriku sangat jahat.][Kamu sudah begitu baik padaku, mana berhak aku merasa nggak bahagia?]Bibir Ibu gemetaran.Dia mungkin mengira ini adalah untaian ucapan terima kasih. Begitu secercah binar baru saja terbit di matanya, baris kalimat berikutnya langsung memadamkannya.[Tapi Ibu, kasih sayangmu malah membuatku tak berani bilang kalau diriku m

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 5

    Ambulans pun tiba. Ibu mencengkeram erat tandu dan mulai menyalahkan, “Dia hanya impulsif saja, baru beberapa hari lalu diperiksa dan hasilnya nggak sakit.”"Kemarin dia bahkan masih makan dua piring nasi, mana mungkin benar-benar mau mati?"Dia mengucapkannya dengan begitu yakin. Seolah-olah jika dokter mengangguk, aku yang terbaring di atas tandu akan langsung membuka mata dan mengaku bahwa aku telah berbohong lagi.Aku mengikuti di sampingnya dan berbisik pelan,“Aku nggak membohongimu.”Namun, dia tak bisa mendengarnya.Bahkan saat aku masih hidup pun, dia tidak pernah benar-benar mendengarkanku.Teringat kali pertama merasa sesak napas di sekolah, aku bersembunyi di dalam kamar mandi dan meneleponnya."Ibu, sepertinya aku mau mati, bisa jemput aku sekarang?"Ujung telepon mendadak hening beberapa detik."Demi mendampingi sekolahmu, Ibu sampai rela berhenti kerja. Kamu mau aku bagaimana lagi?"Pada akhirnya, dia memang tetap datang.Namun di depan guru, dia menuduhku sengaja pura-

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 4

    Keesokan harinya, Ibu memasang ponselnya di atas tripod di ruang tamu.Dia memindahkan dua buah kursi, lalu memintaku duduk di sampingnya."Tersenyum sedikit, jangan pasang muka cemberut."Aku menarik sudut bibirku."Begini?""Lebih natural lagi."Dia mulai merekam, lalu tersenyum ke arah kamera."Belakangan ini banyak orang tua yang bertanya padaku, bagaimana cara menghadapi anak yang sedikit-sedikit mengaku depresi."“Sebenarnya mana ada begitu banyak penyakit? Mereka hanya gara-gara kebanyakan main ponsel, terlalu banyak pikiran dan nggak ada yang mendisiplinkan.”Dia mengangkat lembar hasil pemeriksaan itu ke depan kamera.“Putriku juga pernah ribut sebelumnya. Begitu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, ternyata nggak ada masalah apa-apa."Kamera lalu diarahkan ke wajahku.Di bawah meja, Ibu menyenggol kakiku."Ayo kasih tahu semuanya, sekarang kamu sudah sembuh?"Aku menatap wajah pucat yang terpantul di layar ponsel."Sudah sembuh.""Kok kamu bisa mengira dirimu sakit dulu?""

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 3

    Tiga hari setelah pintu kamar dilepas, sekolah mengadakan pertemuan orang tua murid.Ibu datang ke kelas setengah jam lebih awal.Saat wali kelas membahas tentang kesehatan mental murid, Ibu langsung mengacungkan tangan."Bu Guru, kebetulan aku juga mau membicarakan hal ini."Dia mengeluarkan lembar hasil pemeriksaan itu dari dalam tasnya.“Beberapa waktu lalu anakku juga bilang kalau dia kena depresi. Aku sudah bela-belain keluar uang untuk membawanya periksa dan ternyata dia nggak sakit sama sekali.”Ruang kelas pun penuh dengan orang tua murid.Ibu pun berbicara dengan nada yang semakin bersemangat.“Zaman sekarang, internet sering mengajari anak-anak untuk memberi label pada diri sendiri. Nilai jelek dibilang cemas, malas sekolah dibilang depresi, orang tua menegur sedikit langsung dibilang pola asuh toxic.”"Kalau kita sebagai orang tua tidak tegas mendidik, anak-anak ini bisa rusak."Beberapa orang tua murid tampak mengangguk-angguk setuju.Seseorang bertanya,"Terus bagaimana ke

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status