Compartir

Bab 4

Autor: Peppa
Keesokan harinya, Ibu memasang ponselnya di atas tripod di ruang tamu.

Dia memindahkan dua buah kursi, lalu memintaku duduk di sampingnya.

"Tersenyum sedikit, jangan pasang muka cemberut."

Aku menarik sudut bibirku.

"Begini?"

"Lebih natural lagi."

Dia mulai merekam, lalu tersenyum ke arah kamera.

"Belakangan ini banyak orang tua yang bertanya padaku, bagaimana cara menghadapi anak yang sedikit-sedikit mengaku depresi."

“Sebenarnya mana ada begitu banyak penyakit? Mereka hanya gara-gara kebanyakan main ponsel, terlalu banyak pikiran dan nggak ada yang mendisiplinkan.”

Dia mengangkat lembar hasil pemeriksaan itu ke depan kamera.

“Putriku juga pernah ribut sebelumnya. Begitu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, ternyata nggak ada masalah apa-apa."

Kamera lalu diarahkan ke wajahku.

Di bawah meja, Ibu menyenggol kakiku.

"Ayo kasih tahu semuanya, sekarang kamu sudah sembuh?"

Aku menatap wajah pucat yang terpantul di layar ponsel.

"Sudah sembuh."

"Kok kamu bisa mengira dirimu sakit dulu?"

"Aku saja yang terlalu lebay."

"Ibu pernah menyiksamu?"

“Nggak pernah.”

"Lalu kalau Ibu mendisiplinkanmu, itu semua demi kebaikanmu kan?"

Aku mengangguk.

"Iya."

Ibu menghentikan rekaman, lalu menonton ulang video itu beberapa kali.

"Sikapmu lumayan bagus kali ini."

Dia mengunggah video itu ke grup orang tua murid, lengkap dengan sebuah tulisan,

[Masalah anak nggak boleh dimanja, semakin diturutin bakal semakin parah.]

Belum sampai setengah jam, kolom komentar sudah dipenuhi pujian untuknya.

Ada yang memuji cara mendidiknya yang mantap.

Ada yang bertanya bagaimana rahasianya agar anak bisa sepatuh itu.

Bahkan ada yang meneruskan video tersebut ke grup sekolah.

Sore harinya, wali kelas menelepon Ibu.

"Videonya sudah tersebar luas, beberapa murid di kelas mulai membicarakanya."

Ibu malah tertawa.

"Biarin saja mereka lihat, sekalian buat memberi tahu anak-anak itu supaya jangan pura-pura sakit kalau nggak ada apa-apa."

Setelah menutup telepon, dia menyuruhku untuk ikut melihatnya.

Di dalam video itu, aku terus-terusan tersenyum.

Di kolom komentar ada yang menulis,

[Anaknya terlihat normal sekali, mana terlihat seperti orang sakit?]

Ada juga yang berkomentar,

[Emang dasarnya kurang dihajar saja, sekarang juga sudah sembuh, ‘kan?]

Ibu menyodorkan ponselnya tepat di depan wajahku.

“Lihat, semua orang juga bisa menilai kalau kamu nggak sakit.”

Aku mengangguk, lalu tersenyum pelan.

Malam harinya, dia sengaja memasakkan daging kecap kesukaanku dulu.

“Hari ini hari yang menyenangkan, ayo makan yang banyak.”

Dia tidak berhenti menyendokkan daging ke dalam piringku

Aku menelan setiap potong daging itu tanpa sisa.

Ibu mengangkat ponselnya, memotret saat aku sedang makan.

“Bisa makan dan minum begini, masih saja mengaku depresi.”

"Biar kunggah foto ini supaya mereka lihat seberapa sehat keadaannmu sekarang."

Aku tersenyum sebentar ke arah kamera.

Saat menyantap piring kedua, perutku mulai mual dan bergolak hebat.

Aku memaksa diriku menelannya kuat-kuat.

Ibu masih sibuk membaca komentar-komentar baru di bawah videonya.

"Ada yang bilang Ibu sudah bisa buka kelas pengasuhan nih."

"Besok-besok khusus mengajari para orang tua cara menyembuhkan anak-anak lebay seperti kalian."

Ayah pun ikut tertawa.

"Kamu benar-benar berhasil menyembuhkannya ya."

Tengah malam, isi perutku akhirnya muntah keluar juga.

Aku berlutut di dalam kamar mandi, menutup mulut rapat-rapat, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Darah mengalir dari pergelangan tanganku, menetes ke dalam muntahan yang belum sempat disiram.

Luka baru itu menyobek bekas luka lama, daging yang tadinya sempat menyatu kini terkoyak kembali.

Warna merah dan putih bercampur menjadi satu.

Di ruang tamu, suara video Ibu masih terputar berulang-ulang.

Terdengar menembus celah dinding, aku mendengar suaraku sendiri yang begitu tenang berkata,

"Aku sudah sembuh."

Ibu tidak salah.

Hari ini aku bangun tepat waktu, menghabiskan dua piring nasi dan tersenyum kepada semua orang.

Aku tidak menangis dan tidak lagi mengeluh kesakitan.

Detak jantungku mulai melambat.

Satu ketukan, lalu satu ketukan lagi.

Jedanya terasa makin lama.

Aku menekan tanganku ke dada, menunggu dalam diam.

Kali ini, jantungku tidak lagi meronta meminta pertolongan.

Saat fajar menyingsing, Ibu menyadari lampu kamar mandi masih menyala.

Dia mendorong pintu hingga terbuka, melihat tubuhku terkapar di lantai, dia sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menjerit histeris.

Ayah berlari kencang menelepon ambulans.

Ibu berlutut di samping genangan darah dan muntahan, memanggil-manggil namaku berulang kali.

Hanya saja, suaranya terasa makin menjauh dan sangat samar, hingga aku tak mampu lagi mendengarnya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 8

    Upacara pemakamanku diadakan tiga hari kemudian.Ibu tidak memakaikanku gaun putih yang sudah disiapkannya.Padahal itu adalah gaun model kesukaannya.Dulu setiap kali mau bertamu ke rumah kerabat, dia selalu menyuruhku memakainya. Katanya seorang anak perempuan itu harus tampil bersih dan anggun, jangan selalu berpakaian seperti anak laki-laki.Namun kali ini, dia mengobrak-abrik isi lemari pakaian dan mengeluarkan baju hoodie hitam kesayanganku dari bagian yang paling bawah.Baju itu ukurannya terlalu longgar, makanya dulu dia tidak pernah mengizinkanku memakainya."Kelihatan tidak bersemangat, nanti orang lain yang lihat dikiranya Ibu nggak pernah membelikanmu pakaian."Kini dia memeluk pakaian itu di dadanya, menangis tersedu-sedu sambil memohon kepada petugas pemakaman,"Tolong pakaikan yang ini saja.""Dia sangat menyukai baju ini."Ini adalah kali pertama dalam hidupnya dia tidak membuatkan keputusan untukku.Rumah duka dipenuhi oleh banyak orang yang melayat.Tante, wali kelas,

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 7

    Ibu tak mau melepaskan tanganku.Suster membujuknya agar membiarkanku dibawa ke kamar jenazah, tetapi dia berdiri menghadang ranjangku mati-matian.“Dia takut dingin, nggak boleh di bawah ke tempat seperti itu.”"Dia cuma tertidur, kalau aku ajak bicara beberapa kali lagi, dia pasti bakal bangun."Ayah mencoba memeluk dan menenangkannya, tetapi Ibu langsung menepisnya kasar."Kamu juga salah!""Waktu aku melepas pintu kamarnya, kenapa kamu nggak melarang?""Waktu mereka mengejeknya lebay di grup, kenapa kamu ikut-ikutan bicara begitu?"Ayah menundukkan kepala, air matanya menetes jatuh ke lantai."Waktu itu kamu sendiri yang bilang, semuanya dilakukan demi kebaikannya."Ibu mendadak tertegun.Kalimat itu sudah terlalu sering dia ucapkan.Dulu kalimat tersebut bagaikan sebuah perisai, seberapa keras pun aku berusaha melawan, dia selalu bisa bersembunyi di baliknya dan tetap menjadi pihak yang selalu benar.Kini perisai itu dikembalikan utuh oleh Ayah, hingga akhirnya menghujam ke dalam

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 6

    Tangan Ibu mematung kaku di udara.Dia menatap tiga kata itu, seolah-olah tak mengenal kata di depannya.“Nggak mungkin.”Dia membalik amplop itu dan melihat tulisan [Untuk Ibu yang paling mencintaiku di dunia.], lalu buru-buru berkata, "Kamu tahu jelas kalau Ibu paling menyayangimu.""Kamu cuma lagi marah saja, ‘kan?"Tak ada seorang pun yang menjawabnya.Aku berdiri di sampingnya, menyaksikan dia melanjutkan membaca ke bawah.[Ibu, aku tahu kamu sangat menyayangiku.][Setiap hari memasakkan makanan untukku, mengantar jemput aku sekolah dan mencurahkan seluruh waktumu hanya untukku.][Karena itulah, setiap kali nggak nyaman, aku sealu merasa diriku sangat jahat.][Kamu sudah begitu baik padaku, mana berhak aku merasa nggak bahagia?]Bibir Ibu gemetaran.Dia mungkin mengira ini adalah untaian ucapan terima kasih. Begitu secercah binar baru saja terbit di matanya, baris kalimat berikutnya langsung memadamkannya.[Tapi Ibu, kasih sayangmu malah membuatku tak berani bilang kalau diriku m

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 5

    Ambulans pun tiba. Ibu mencengkeram erat tandu dan mulai menyalahkan, “Dia hanya impulsif saja, baru beberapa hari lalu diperiksa dan hasilnya nggak sakit.”"Kemarin dia bahkan masih makan dua piring nasi, mana mungkin benar-benar mau mati?"Dia mengucapkannya dengan begitu yakin. Seolah-olah jika dokter mengangguk, aku yang terbaring di atas tandu akan langsung membuka mata dan mengaku bahwa aku telah berbohong lagi.Aku mengikuti di sampingnya dan berbisik pelan,“Aku nggak membohongimu.”Namun, dia tak bisa mendengarnya.Bahkan saat aku masih hidup pun, dia tidak pernah benar-benar mendengarkanku.Teringat kali pertama merasa sesak napas di sekolah, aku bersembunyi di dalam kamar mandi dan meneleponnya."Ibu, sepertinya aku mau mati, bisa jemput aku sekarang?"Ujung telepon mendadak hening beberapa detik."Demi mendampingi sekolahmu, Ibu sampai rela berhenti kerja. Kamu mau aku bagaimana lagi?"Pada akhirnya, dia memang tetap datang.Namun di depan guru, dia menuduhku sengaja pura-

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 4

    Keesokan harinya, Ibu memasang ponselnya di atas tripod di ruang tamu.Dia memindahkan dua buah kursi, lalu memintaku duduk di sampingnya."Tersenyum sedikit, jangan pasang muka cemberut."Aku menarik sudut bibirku."Begini?""Lebih natural lagi."Dia mulai merekam, lalu tersenyum ke arah kamera."Belakangan ini banyak orang tua yang bertanya padaku, bagaimana cara menghadapi anak yang sedikit-sedikit mengaku depresi."“Sebenarnya mana ada begitu banyak penyakit? Mereka hanya gara-gara kebanyakan main ponsel, terlalu banyak pikiran dan nggak ada yang mendisiplinkan.”Dia mengangkat lembar hasil pemeriksaan itu ke depan kamera.“Putriku juga pernah ribut sebelumnya. Begitu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, ternyata nggak ada masalah apa-apa."Kamera lalu diarahkan ke wajahku.Di bawah meja, Ibu menyenggol kakiku."Ayo kasih tahu semuanya, sekarang kamu sudah sembuh?"Aku menatap wajah pucat yang terpantul di layar ponsel."Sudah sembuh.""Kok kamu bisa mengira dirimu sakit dulu?""

  • Saat Aku Tak Lagi Meronta   Bab 3

    Tiga hari setelah pintu kamar dilepas, sekolah mengadakan pertemuan orang tua murid.Ibu datang ke kelas setengah jam lebih awal.Saat wali kelas membahas tentang kesehatan mental murid, Ibu langsung mengacungkan tangan."Bu Guru, kebetulan aku juga mau membicarakan hal ini."Dia mengeluarkan lembar hasil pemeriksaan itu dari dalam tasnya.“Beberapa waktu lalu anakku juga bilang kalau dia kena depresi. Aku sudah bela-belain keluar uang untuk membawanya periksa dan ternyata dia nggak sakit sama sekali.”Ruang kelas pun penuh dengan orang tua murid.Ibu pun berbicara dengan nada yang semakin bersemangat.“Zaman sekarang, internet sering mengajari anak-anak untuk memberi label pada diri sendiri. Nilai jelek dibilang cemas, malas sekolah dibilang depresi, orang tua menegur sedikit langsung dibilang pola asuh toxic.”"Kalau kita sebagai orang tua tidak tegas mendidik, anak-anak ini bisa rusak."Beberapa orang tua murid tampak mengangguk-angguk setuju.Seseorang bertanya,"Terus bagaimana ke

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status