Short
Sistem Kebahagiaan: Kehancuran Keluarga Setelah Mengusir Pewaris Palsu

Sistem Kebahagiaan: Kehancuran Keluarga Setelah Mengusir Pewaris Palsu

Por:  AdrianCompletado
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Capítulos
899vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Aku terlahir dengan sebuah sistem keberuntungan. Setiap kali aku merasa bahagia, semua orang di sekitarku akan menghasilkan uang. Demi menjaga suasana hatiku tetap baik, ayahku yang seorang miliarder mengajakku berpetualang setiap hari. Dia memanjakanku dengan sepatu edisi terbatas, menyewa kapal pesiar pribadi, dan menghadiahkan berbagai barang mewah yang hanya ada satu di dunia kepadaku. Semua itu ditentukan oleh satu hal. Keberuntungan Grup Kuncoro terikat langsung dengan suasana hatiku. Selama aku tertawa sampai terpingkal-pingkal, harga saham perusahaan akan terus naik dan uang mengalir tanpa henti. Begitu suasana hatiku memburuk, kerugian langsung bermunculan. Bahkan yang terburuk, seluruh grup bisa bangkrut. Contohnya bulan lalu. Salah seorang petugas kebersihan tanpa sengaja membuang setengah makaron yang kutinggalkan di atas meja. Aku hanya kesal sesaat, bahkan tidak sampai sedetik. Keesokan harinya, Grup Kuncoro Wilayah Barat mencatat kerugian sebesar 1,5 triliun. Ayahku menghabiskan semalaman membeli sepuluh toko roti premium sekaligus memutus kontrak perusahaan kebersihan itu hanya untuk menenangkanku. Sejak saat itu, tak seorang pun dari kalangan elite Manhattan berani bersikap kurang ajar sedikit pun di hadapanku. Sampai akhirnya ayahku terbang ke Los Angeles untuk urusan bisnis, dan Isabella, putri kandung yang baru saja ditemukan setelah bertahun-tahun terpisah, masuk ke kamarku. "Selama bertahun-tahun kamu cuma numpang hidup di keluarga ini," katanya sambil menatapku dengan penuh penghinaan. "Apa kamu benar-benar mengira menguras nama besar Keluarga Kuncoro bisa membuatmu jadi pewaris yang sebenarnya? Akulah yang memiliki darah Keluarga Kuncoro. Sekarang aku sudah kembali, jadi sudah waktunya kamu angkat kaki dari rumahku." Aku tidak bereaksi. Dia mengambil secangkir kopi hitam yang ada di dekatnya lalu menyiramkannya begitu saja ke atas keyboard laptopku. Aku hanya bisa melihat layar itu langsung mati, sementara kehampaan perlahan memenuhi dadaku. "Berlutut dan bersihkan." Aku mengusap kopi yang membasahi wajahku. Udara di sekelilingku seolah-olah berubah menjadi dingin. Grup Kuncoro sebentar lagi akan hancur berantakan. Tanpa sadar, aku bertanya-tanya apakah ayahku yang berada ribuan kilometer jauhnya di Los Angeles saat ini sudah mulai meraih obat jantungnya saat melihat ratusan triliun lenyap dari nilai saham perusahaan.

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Aku mendongak menatap Isla yang sedang memamerkan seringai paling angkuh yang pernah kulihat.

Aku mengeluarkan tisu, lalu dengan santai menyeka kopi yang membasahi tanganku.

Senyum di wajah Isla langsung membeku. Jelas dia tidak menyangka reaksiku akan seperti itu.

Di dalam bayangannya, seharusnya aku sudah terduduk di lantai sambil menangis atau menerjangnya seperti orang kesurupan. Namun, cara murahan seperti itu hanya dilakukan orang yang tidak pernah tumbuh di kalangan elite Manhattan.

"Kamu dengar nggak?" Suara Isla meninggi beberapa oktaf. "Aku bilang, berlutut dan bersihkan itu!"

Aku membuang tisu bekas ke tempat sampah, baru kemudian menatapnya.

"Baru lima menit balik dari kampung sudah mulai bikin ulah? Nama Keluarga Kuncoro sudah berdiri di kota ini selama 20 tahun, dan ternyata cuma ini hasilnya? Memalukan."

Wajah Isla langsung memerah.

"Siapa yang kamu sebut orang kampung?! Justru kamu yang ...." Kalimatnya terputus.

Terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang terburu-buru dari lorong luar. Dalam sekejap, mata Isla memerah dan air matanya langsung mengalir deras, seolah-olah tinggal menunggu aba-aba.

Margaret, ibu angkatku, mendorong pintu hingga terbuka.

"Ibu!" Isla langsung menjatuhkan diri ke pelukan Margaret. Dia menangis tersedu-sedu sampai hampir kehabisan napas.

"Aku cuma mau menemuinya, mau ngobrol baik-baik, tapi dia malah bilang aku cuma anak kampung yang nggak pantas ada di sini. Dia suruh aku kembali ke tempat asalku. Ibu, mungkin dia benar. Mungkin aku memang nggak seharusnya pulang. Biar aku pergi saja. Aku nggak mau bikin masalah buat siapa pun."

Aku memandangi sandiwara itu, lalu perutku langsung terasa mual.

Margaret langsung memeluk Isla erat-erat. Matanya pun mulai memerah sebelum akhirnya beralih menatapku.

"Ivy! Kamu masih punya hati nggak?!"

Jarinya menunjuk tepat ke depan wajahku, nyaris menyentuh hidungku.

"Kamu makan makanan keluarga kami, pakai pakaian yang kami belikan, tinggal di rumah kami. Selama 20 tahun kami membesarkanmu seperti anak sendiri, dan ini balasanmu?"

"Ibu ...."

"Jangan panggil aku begitu," potong Margaret dengan nada setajam pisau. "Kamu nggak berhak. Isla adalah darah dagingku. Dia sudah menderita selama 20 tahun di luar sana, lalu begitu akhirnya pulang, kamu malah memperlakukannya seperti ini?"

Aku membuka mulut hendak menjelaskan, tetapi Margaret bahkan tidak memberiku kesempatan.

"Selama 20 tahun aku sudah memberimu segalanya, tapi kamu nggak pernah tahu berterima kasih." Suaranya cukup keras hingga bergema ke seluruh lantai rumah.

"Kalau bukan karena aku, kamu sudah mati di jalanan. Sekarang berdiri dan beri hormat pada Isla. Membungkuk 90 derajat. Sekarang juga."

Aku tetap tidak bergerak. Rasa dingin menjalar dari ujung kakiku hingga ke puncak kepala.

Isla mengintip dari balik pelukan Margaret. Sudut bibirnya sempat terangkat tipis sebelum buru-buru kembali memasang wajah polos.

"Bu, nggak apa-apa. Dia pasti nggak sengaja." Dia menarik pelan lengan Margaret sambil memasang ekspresi manis dan penuh kepasrahan.

"Asal kita semua bisa akur, aku sanggup menahan sedikit rasa sakit. Aku nggak keberatan."

Kemudian, pandangannya beralih ke meja kerjaku. Di atasnya tergeletak kartu hitam titanium tanpa limit milik Grup Kuncoro. Satu-satunya kartu seperti itu di dunia, tanpa limit transaksi. Ayahku baru memberikannya kepadaku tadi malam.

Keserakahan berkelebat singkat di mata Isla, lalu lenyap seolah-olah tidak pernah ada, berganti dengan raut paling menyedihkan yang bisa dia tampilkan.

"Ivy, aku nggak bakal minta kamu minta maaf lagi. Berikan saja kartu itu kepadaku. Anggap saja sebagai sedikit ganti rugi atas 20 tahun hidupku yang penuh penderitaan di luar sana. Permintaan ini berlebihan nggak?"

Margaret mengangguk. "Kasih kartu itu. Anggap saja sebagai permintaan maafmu kepada adikmu. Kamu bisa tinggal di keluarga ini hanya karena dulu aku kasihan kepadamu, lalu ayahmu memberimu kartu itu. Jangan mulai merasa posisimu lebih tinggi dari tempatmu yang seharusnya."

Aku menatapnya lekat-lekat. Wajah yang selama 20 tahun selalu tersenyum kepadaku itu, yang memasakkan makanan untukku, yang rela berjaga semalaman di samping tempat tidur saat aku sakit, kini berubah menjadi sosok yang sama sekali tidak kukenal.

"Ibu lupa dengan apa yang sudah Ayah katakan dengan sangat jelas?" Suaraku terdengar sedingin es. "Kalau aku nggak bahagia, kerajaan bisnis Grup Kuncoro bakal runtuh."

Margaret mendengus sinis.

"Silakan saja terus berlindung di balik nama Raymond Kuncoro. Aku sudah muak melihatmu selalu lolos dengan sikapmu itu."

"Seluruh perusahaan mati-matian menjaga supaya kamu tetap tersenyum, sementara aku yang sudah 40 tahun menjadi istrinya malah berada di bawah seorang gadis dengan asal-usul yang bahkan nggak jelas. Dengar baik-baik. Kamu cuma alat yang dibayar Keluarga Kuncoro untuk mengusir kesialan. Emas asli nggak perlu dipoles. Yang palsu memang pantas dibuang ke tempat sampah."

Dia mengambil kartu hitam itu dari atas meja lalu menyelipkannya ke tangan Isla.

Aku melihat Isla membolak-balik kartu itu dengan penuh kepuasan, sementara Margaret tampak seolah-olah baru saja memenangkan hadiah terbesar dalam hidupnya.

"Baiklah." Kata itu keluar dari bibirku dengan ringan, bahkan senyum tipis sempat menghiasi wajahku.

Detik berikutnya, ponselku berdering tanpa henti.

[ Pelanggaran Kontrak Proyek Luar Negeri 3 Milik Grup Kuncoro. ]

[ Rantai likuiditas dana inti runtuh. Mekanisme penghentian perdagangan darurat Grup Kuncoro diaktifkan setelah valuasi ratusan triliun anjlok. ]

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
10 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status