INICIAR SESIÓNAku terlahir dengan sebuah sistem keberuntungan. Setiap kali aku merasa bahagia, semua orang di sekitarku akan menghasilkan uang. Demi menjaga suasana hatiku tetap baik, ayahku yang seorang miliarder mengajakku berpetualang setiap hari. Dia memanjakanku dengan sepatu edisi terbatas, menyewa kapal pesiar pribadi, dan menghadiahkan berbagai barang mewah yang hanya ada satu di dunia kepadaku. Semua itu ditentukan oleh satu hal. Keberuntungan Grup Kuncoro terikat langsung dengan suasana hatiku. Selama aku tertawa sampai terpingkal-pingkal, harga saham perusahaan akan terus naik dan uang mengalir tanpa henti. Begitu suasana hatiku memburuk, kerugian langsung bermunculan. Bahkan yang terburuk, seluruh grup bisa bangkrut. Contohnya bulan lalu. Salah seorang petugas kebersihan tanpa sengaja membuang setengah makaron yang kutinggalkan di atas meja. Aku hanya kesal sesaat, bahkan tidak sampai sedetik. Keesokan harinya, Grup Kuncoro Wilayah Barat mencatat kerugian sebesar 1,5 triliun. Ayahku menghabiskan semalaman membeli sepuluh toko roti premium sekaligus memutus kontrak perusahaan kebersihan itu hanya untuk menenangkanku. Sejak saat itu, tak seorang pun dari kalangan elite Manhattan berani bersikap kurang ajar sedikit pun di hadapanku. Sampai akhirnya ayahku terbang ke Los Angeles untuk urusan bisnis, dan Isabella, putri kandung yang baru saja ditemukan setelah bertahun-tahun terpisah, masuk ke kamarku. "Selama bertahun-tahun kamu cuma numpang hidup di keluarga ini," katanya sambil menatapku dengan penuh penghinaan. "Apa kamu benar-benar mengira menguras nama besar Keluarga Kuncoro bisa membuatmu jadi pewaris yang sebenarnya? Akulah yang memiliki darah Keluarga Kuncoro. Sekarang aku sudah kembali, jadi sudah waktunya kamu angkat kaki dari rumahku." Aku tidak bereaksi. Dia mengambil secangkir kopi hitam yang ada di dekatnya lalu menyiramkannya begitu saja ke atas keyboard laptopku. Aku hanya bisa melihat layar itu langsung mati, sementara kehampaan perlahan memenuhi dadaku. "Berlutut dan bersihkan." Aku mengusap kopi yang membasahi wajahku. Udara di sekelilingku seolah-olah berubah menjadi dingin. Grup Kuncoro sebentar lagi akan hancur berantakan. Tanpa sadar, aku bertanya-tanya apakah ayahku yang berada ribuan kilometer jauhnya di Los Angeles saat ini sudah mulai meraih obat jantungnya saat melihat ratusan triliun lenyap dari nilai saham perusahaan.
Ver másAku berdiri di depan jendela kaca besar di lantai paling atas kantor pusat Grup Kuncoro.Lantai 68.Seluruh cakrawala New York terbentang di bawah kakiku. Ribuan titik cahaya bertebaran di kegelapan seperti papan permainan yang dijatuhkan seseorang, dan hanya aku yang tahu cara menyusunnya kembali.Ayah menghampiriku sambil membawa secangkir susu hangat dan meletakkannya di sampingku. "Masih panas. Tunggu beberapa menit."Suaranya begitu hati-hati, seperti sedang berbicara kepada seseorang yang rapuh.Padahal, itu sungguh lucu. Dia adalah pria yang menghancurkan para pesaingnya tanpa ampun selama puluhan tahun, tetapi sekarang justru bersikap begitu berhati-hati di hadapanku.Aku mengangkat tangan kananku dan melihat pergelangan tanganku. Lukanya sudah sembuh sepenuhnya. Kulit barunya lembut, berwarna merah muda pucat, hanya menyisakan lingkaran bekas luka yang samar.Ayah pernah menyarankan perawatan laser untuk menghilangkannya. Aku menolak.Biarkan saja. Bekas luka itu mengingatkank
Satu bulan kemudian.Kebangkrutan total dan likuidasi Grup Hartama menjadi berita utama selama tiga hari berturut-turut. Kepala Keluarga Hartama terkena serangan jantung akibat syok dan hingga kini masih belum keluar dari ruang ICU.Sedangkan Collin, Ayah memerintahkan anak buahnya untuk tidak benar-benar menghancurkan kedua tangannya.Pada akhirnya, mereka hanya mematahkan dua jarinya sebagai bentuk penghormatan terakhir atas hubungan baik yang dulu pernah terjalin dengan generasi orang tua Collin.Namun, itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada seorang pun di New York yang mau berbisnis dengan pria yang telah mengkhianati Keluarga Kuncoro.Setiap perusahaan di kota itu memasukkan nama Collin Hartama ke dalam daftar hitam. Tanpa penghasilan dan tanpa masa depan, wajah tampan yang selama ini selalu dia banggakan kini tertutup janggut tipis yang tumbuh berantakan selama berminggu-minggu.Dia mengais tempat sampah di belakang restoran cepat saji.Suatu malam, dia mencuri roti lapis yang sud
Para pengacara datang lebih cepat daripada yang kuduga. Delapan orang, semuanya berpakaian hitam. Tas kerja mereka terbuka serempak di sepanjang meja makan.Ayah melemparkan surat perjanjian perceraian ke hadapan Margaret."Tanda tangani."Hanya satu kata.Margaret memaksa tubuhnya bertumpu pada satu siku. Dengan mata yang hampir tertutup karena bengkak, dia menyipitkan mata untuk membaca isi dokumen itu.Tidak ada. Dia tidak mendapatkan apa pun.Seluruh properti dicabut. Semua saham dibatalkan. Setiap hak atas aset Grup Kuncoro, dalam bentuk apa pun, diputuskan secara permanen.Dia menggigit bibirnya yang berdarah lalu menggeleng. "Aku nggak mau ... Raymond ... dua puluh tahun ... kamu nggak bisa melakukan ini padaku ...."Ayah bersandar di sofa dengan kaki bersilang. Suaranya datar."Baik. Jangan tanda tangan. Ada 127 kamera keamanan di rumah ini. Malam ini juga aku akan meminta seseorang menyalin rekamannya dan mengirimkannya ke FBI. Penculikan. Penyekapan ilegal. Penganiayaan berat
Dua jam kemudian.Kediaman Keluarga Kuncoro, aula utama.Margaret sedang memasukkan batangan emas ke dalam koper. Tangannya gemetar hebat hingga batangan-batangan emas itu saling beradu dan berdenting. Di seberang ruangan, Isla memasukkan perhiasan ke dalam tas Birkin, gelang giok, kalung berlian, bros rubi, apa pun yang sempat dia ambil."Cepat. Lewat pintu belakang. Sekarang." Suara Margaret nyaris hanya berupa bisikan.Isla meraih tas itu lalu berlari. Dia membuka pintu belakang.Enam pria berpakaian hitam sudah berdiri berjajar. Pria yang berada paling depan mengarahkan pistol tepat ke dahinya.Isla menjerit.Tas itu terlepas dari tangannya.Perhiasan berserakan di seluruh lantai.Penjaga itu melangkah maju. Moncong pistol terus mengikuti kepalanya saat dia tersandung mundur hingga kembali ke tengah aula. Tim lain masuk melalui pintu dapur bersama Margaret. Kedua wanita itu didorong ke tengah aula utama.Tidak ada kursi, tidak ada dinding untuk bersandar, tidak ada tempat berlindun












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.