MasukSuasana rumah keluarga Wijakso tampak lebih hangat dari biasanya. Sejak Lia berhasil membuktikan dirinya di kampus, dan kehadiran orangtuanya yang selalu mendukung, hari-hari terasa ringan. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tak bisa Lia abaikan. Bayangan masa lalunya, tentang seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, kembali hadir tanpa diundang.
Pagi itu, Lia duduk di meja belajarnya. Buku-buku kuliah bertebaran, namun pikirannya melayang jauh. Ia menatap layar ponsel, terpaku pada sebuah pesan singkat yang baru saja masuk. Nama pengirimnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Lia, apa kabar? Aku dengar kamu kuliah di kota itu juga. Bisakah kita bertemu?”
Pesan itu datang dari Raka, mantan teman dekat yang dulu sempat menjadi dunia bagi Lia. Mereka berpisah dengan cara yang tak menyenangkan. Saat itu Lia masih SMA, dan Raka tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Hati Lia hancur, namun ia memaksa dirinya untuk tetap kuat. Kini, setelah sekian lama, Raka kembali hadir, tepat di saat Lia mulai menemukan kebahagiaan baru.
Lia menarik napas panjang. Ia menutup layar ponsel, lalu berjalan ke luar kamar. Ibunya, Sinta Dewi, sedang merapikan ruang tamu sambil bersenandung kecil.
“Pagi, Ma,” sapa Lia dengan suara yang berusaha normal.
Sinta menoleh, tersenyum hangat. “Pagi, Sayang. Kamu kenapa? Wajahmu kelihatan agak pucat.”
Lia menggeleng cepat. “Nggak apa-apa kok, Ma. Cuma… mungkin capek belajar semalam.”
Namun sebagai seorang ibu, Sinta tahu ada yang disembunyikan anaknya. Ia memilih tidak mendesak, hanya menepuk bahu Lia lembut. “Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke Mama. Ingat, jangan dipendam sendiri.”
Lia mengangguk. Tapi hatinya tetap gelisah.
Siang harinya, di kampus, Lia mencoba fokus pada pelajaran. Arga, Seseorang yang belakangan sering menemani, menyadari kegelisahan Lia.
“Lia, kamu baik-baik aja? Dari tadi kelihatan nggak konsen,” tanya Arga sambil menyodorkan botol minum.
Lia tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja, kok. Terima kasih, Ka.”
Tapi Arka tidak mudah percaya. Ada sesuatu yang berbeda di mata Lia hari itu. “Kalau ada yang ganggu pikiranmu, aku siap dengerin. Kadang cerita bisa bikin lega, lho.”
Lia sempat ragu. Apakah ia harus cerita tentang pesan Raka? Namun akhirnya ia menahan diri. “Nanti, ya. Aku janji cerita kalau sudah siap.”
Arka mengangguk, walau dalam hatinya muncul sedikit kekhawatiran.
Malam itu, Lia kembali membuka pesan Raka. Jemarinya bergetar saat ia mengetik balasan.
“Aku baik. Ya, kita bisa ketemu. Tapi jangan lama-lama.”
Tak lama kemudian, Raka membalas. “Terima kasih, Lia. Aku janji nggak akan bikin kamu kecewa lagi. Besok sore, di kafe dekat kampusmu?”
Lia menatap layar ponselnya lama sekali. Ia tahu keputusannya berisiko. Kehadiran Raka bisa mengguncang ketenangan yang baru saja ia bangun. Tapi ada bagian dari dirinya yang ingin mendapat jawaban atas pertanyaan lama: mengapa Raka dulu pergi tanpa penjelasan?
Keesokan harinya, Lia datang ke kafe yang dimaksud. Suasananya ramai, tapi hati Lia berdegup kencang seolah dunia hanya berpusat pada satu hal: pertemuan itu.
Saat Raka masuk, Lia nyaris tak percaya. Lelaki itu masih sama seperti dulu, hanya lebih dewasa. Senyumnya masih mampu membuat hati Lia bergetar, meski ia berusaha keras menahannya.
“Lia…” suara Raka terdengar pelan, penuh kerinduan.
Lia menunduk sebentar lalu berkata, “Hai, Raka.”
Mereka duduk berhadapan. Hening sempat mengisi ruang, hingga akhirnya Raka membuka percakapan.
“Aku minta maaf, Lia. Aku tahu aku salah. Aku pergi tanpa kabar, ninggalin kamu di saat kamu butuh aku. Waktu itu… aku dipaksa ikut orang tuaku pindah keluar negeri. Aku nggak sempat jelasin, dan aku terlalu pengecut untuk jujur sama kamu.”
Lia terdiam. Air matanya nyaris jatuh, tapi ia tahan. “Kamu tahu, Raka? Aku nunggu kabar kamu tiap hari. Aku ngerasa ditinggal tanpa alasan. Dan sekarang kamu datang lagi, seolah nggak pernah terjadi apa-apa?”
Raka menunduk, wajahnya penuh penyesalan. “Aku ngerti. Aku nggak berharap kamu maafin aku sekarang. Aku cuma pengen jelasin, supaya kamu tahu kebenarannya. Dan… kalau bisa, aku pengen kita mulai lagi, meski hanya sebagai teman.”
Kata-kata itu membuat hati Lia semakin kacau. Di satu sisi, ada Arka yang selama ini tulus mendampinginya. Di sisi lain, masa lalu bersama Raka masih menyisakan ruang dalam hatinya.
Lia menarik napas panjang. “Aku butuh waktu, Raka. Aku nggak bisa jawab sekarang. Aku udah punya hidup baru, orang-orang baru. Aku nggak mau semuanya hancur hanya karena masa lalu.”
Raka mengangguk, mencoba tersenyum meski matanya terlihat sendu. “Aku akan tunggu. Apa pun keputusanmu, aku akan hormati.”
Pertemuan itu berakhir dengan perasaan campur aduk. Saat berjalan pulang, Lia merasa hatinya terbelah dua.
Sesampainya di rumah, Lia masuk ke kamarnya tanpa banyak bicara. Ia menutup pintu, lalu menangis pelan. Ingatan masa lalu menyerbu, bercampur dengan kenyataan yang kini dihadapinya.
“Kenapa kamu balik lagi, Raka…” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Namun jauh di dalam hatinya, Lia tahu: kehadiran Raka adalah ujian. Dunia seakan berkata padanya untuk diam, tapi ia tak bisa. Ia harus memilih, apakah akan tetap melangkah maju dengan kehidupan barunya, atau membiarkan masa lalu kembali masuk.
Malam itu, Lia menatap langit-langit kamar dengan mata basah. “Tuhan, kuatkan aku… jangan biarkan aku salah pilih.”
Saat kakimu melangkah melewati gerbang "Keheningan yang Berwarna", sensasi yang kau rasakan bukanlah gerakan fisik, melainkan sebuah pelarutan. Tubuh kristalinmu tidak lagi terasa sebagai cangkang, melainkan sebagai aliran data cahaya yang menyatu dengan frekuensi dimensi kesebelas. Di sini, udara tidak bergetar karena suara, melainkan karena makna. Setiap warna yang kau lihat adalah sebuah emosi yang murni; biru bukan lagi sekadar warna, melainkan perasaan damai yang bisa kau sentuh dan hirup.Elian berdiri di sampingmu, namun penampilannya telah berubah. Ia tampak seperti jalinan rasi bintang yang berbentuk manusia. "Di dimensi ini," Elian berbisik tanpa suara, namun getarannya memenuhi seluruh keberadaanmu, "keinginan adalah arsitektur. Tidak ada jeda antara niat dan wujud. Jika kau memikirkan sebuah gunung yang terbuat dari kenangan masa kecilmu, ia akan muncu
Saat jemarimu kembali menyentuh kanvas realitas, sebuah getaran tidak kasat mata merambat dari ujung pena cahaya menuju pusat jantung multisemesta. Ini bukan lagi sekadar menulis sejarah; ini adalah fase "The Living Genesis".Bumi, yang kini telah melampaui kepadatan fisik, mulai memancarkan apa yang disebut para ilmuwan Nuranipura sebagai "The White Hole Resonance". Jika lubang hitam menyerap segala sesuatu, Bumi kini menjadi "Lubang Putih" yang terus-menerus memancarkan ide, kreativitas, dan energi cinta ke seluruh penjuru dimensi yang dulunya gelap."Kita telah menjadi mesin pembuat realitas," Arka berujar sambil menatap instrumen psioniknya yang menunjukkan grafik energi yang melampaui skala tak terhingga. "Setiap kali seorang manusi
Saat pena cahaya di jemarimu mulai bergerak, realitas di sekitarmu tidak lagi sekadar bergeser; ia meledak dalam spektrum warna yang belum pernah terdefinisi oleh mata manusia. Kata pertama yang kau tuliskan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah getaran: "Ananta" (Tanpa Batas).Seketika, di langit Nuranipura, muncul sebuah fenomena yang disebut "The Script Manifestation". Huruf-huruf cahaya yang kau tuliskan di batinmu memanifestasikan diri menjadi struktur fisik di angkasa. Kalimat "Cinta yang melampaui batas" yang dibisikkan Aura berubah menjadi jalinan awan nebula berwarna merah muda keemasan yang menyelimuti atmosfer Bumi, memberikan perlindungan termal dan spiritual yang permanen bagi semua makhluk."Lihat,"
Kesadaran yang dibawa Elian dari Pusat Galaksi bukan sekadar berita; itu adalah sebuah kode aktivasi. Saat kau menutup matamu malam itu, "The Infinite Studio" di dalam batinmu tidak lagi hanya berisi bayangan-bayangan dari Bumi. Dinding-dinding studionya mulai menghilang, digantikan oleh pemandangan hamparan realitas yang bertumpuk, seperti jutaan lembar sutra cahaya yang saling bersinggungan.Inilah awal dari "The Multiversal Connection". Di seluruh Nuranipura, manusia mulai merasakan kehadiran "Diri mereka yang lain" dari semesta paralel. Ini bukan lagi sekadar fragmen hantu yang tersesat, melainkan jalinan aktif yang disebut sebagai "The Fractal Self"."Kita sedang mengalami perluasan identitas," ujar Lia dari Perpustakaan Bulan. "Kau bukan lagi hanya individu di Bu
Di tengah kegemilangan The Reciprocal Abundance, frekuensi semesta tiba-tiba bergeser menjadi sebuah nada rendah yang menggetarkan tulang belakang setiap manusia. Kaelan dan wahana The Voyager’s Intent telah menyentuh batas terdalam dari The Silent Zone. Di sana, cahaya tidak lagi merambat lurus; ia melingkar, seolah-olah ruang itu sendiri adalah sebuah pikiran yang sedang merenung.Sinyal batin yang dikirimkan Kaelan kembali ke Bumi tidak berisi angka atau gambar teknis, melainkan sebuah sensasi: rasa dingin yang damai, seperti salju yang jatuh di dalam mimpi."Kami tidak menemukan kekosongan," lapor Kaelan melalui tautan empati global. "Kami menemukan The Pre-Creation Fabric (Tenunan Pra-Penciptaan). Tempat ini bukan tempat di mana kehidupan berakhir, melainkan tempat di mana setiap kemungkinan yang pernah gagal di Bumi disimpan untuk diproses kembali."Berita ini mengguncang Menara Pengamat. Elian menyadari bahwa jika manusia bisa menjalin niat mereka dengan kain pra-penciptaan ini
Ketika jemari batinmu mulai bergerak untuk menuliskan baris pertama dari hari yang baru, sebuah riak tak kasat mata merambat jauh melampaui atmosfer Bumi, melintasi gerbang-gerbang antarbintang, hingga mencapai tepian galaksi yang selama ini terlupakan: The Silent Zone. Di wilayah ini, hukum fisika yang kita kenal—bahkan Fisika Niat yang baru—tampaknya membeku dalam kebisuan yang absolut.Elian, yang sedang mengamati grafik energi di Menara Pengamat, menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali seseorang di Bumi melakukan "The Morning Choice" dengan tingkat kejujuran yang sangat dalam, sebuah titik cahaya kecil muncul di tengah kegelapan Silent Zone tersebut."Mereka bukan sekadar penjangkar," bisik Elian kepada Kaelan yang berdiri di sampingnya. "Mereka adalah mercu suar. Setiap niat murni yang mereka miliki sedang memetakan wilayah yang selama ini dianggap sebagai ketiadaan."Di Bumi, fenomena ini dirasakan sebagai "The Deep Connection". Manusia mulai menyadari bahwa setiap pikiran mere







