Share

JEJAK MASA LALU

Author: rylyze
last update Last Updated: 2025-09-21 15:54:21

Suasana rumah keluarga Wijakso tampak lebih hangat dari biasanya. Sejak Lia berhasil membuktikan dirinya di kampus, dan kehadiran orangtuanya yang selalu mendukung, hari-hari terasa ringan. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tak bisa Lia abaikan. Bayangan masa lalunya, tentang seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, kembali hadir tanpa diundang.

Pagi itu, Lia duduk di meja belajarnya. Buku-buku kuliah bertebaran, namun pikirannya melayang jauh. Ia menatap layar ponsel, terpaku pada sebuah pesan singkat yang baru saja masuk. Nama pengirimnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

“Lia, apa kabar? Aku dengar kamu kuliah di kota itu juga. Bisakah kita bertemu?”

Pesan itu datang dari Raka, mantan teman dekat yang dulu sempat menjadi dunia bagi Lia. Mereka berpisah dengan cara yang tak menyenangkan. Saat itu Lia masih SMA, dan Raka tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Hati Lia hancur, namun ia memaksa dirinya untuk tetap kuat. Kini, setelah sekian lama, Raka kembali hadir, tepat di saat Lia mulai menemukan kebahagiaan baru.

Lia menarik napas panjang. Ia menutup layar ponsel, lalu berjalan ke luar kamar. Ibunya, Sinta Dewi, sedang merapikan ruang tamu sambil bersenandung kecil.

“Pagi, Ma,” sapa Lia dengan suara yang berusaha normal.

Sinta menoleh, tersenyum hangat. “Pagi, Sayang. Kamu kenapa? Wajahmu kelihatan agak pucat.”

Lia menggeleng cepat. “Nggak apa-apa kok, Ma. Cuma… mungkin capek belajar semalam.”

Namun sebagai seorang ibu, Sinta tahu ada yang disembunyikan anaknya. Ia memilih tidak mendesak, hanya menepuk bahu Lia lembut. “Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke Mama. Ingat, jangan dipendam sendiri.”

Lia mengangguk. Tapi hatinya tetap gelisah.

Siang harinya, di kampus, Lia mencoba fokus pada pelajaran. Arga, Seseorang  yang belakangan sering menemani, menyadari kegelisahan Lia.

“Lia, kamu baik-baik aja? Dari tadi kelihatan nggak konsen,” tanya Arga sambil menyodorkan botol minum.

Lia tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja, kok. Terima kasih, Ka.”

Tapi Arka tidak mudah percaya. Ada sesuatu yang berbeda di mata Lia hari itu. “Kalau ada yang ganggu pikiranmu, aku siap dengerin. Kadang cerita bisa bikin lega, lho.”

Lia sempat ragu. Apakah ia harus cerita tentang pesan Raka? Namun akhirnya ia menahan diri. “Nanti, ya. Aku janji cerita kalau sudah siap.”

Arka mengangguk, walau dalam hatinya muncul sedikit kekhawatiran.

Malam itu, Lia kembali membuka pesan Raka. Jemarinya bergetar saat ia mengetik balasan.

“Aku baik. Ya, kita bisa ketemu. Tapi jangan lama-lama.”

Tak lama kemudian, Raka membalas. “Terima kasih, Lia. Aku janji nggak akan bikin kamu kecewa lagi. Besok sore, di kafe dekat kampusmu?”

Lia menatap layar ponselnya lama sekali. Ia tahu keputusannya berisiko. Kehadiran Raka bisa mengguncang ketenangan yang baru saja ia bangun. Tapi ada bagian dari dirinya yang ingin mendapat jawaban atas pertanyaan lama: mengapa Raka dulu pergi tanpa penjelasan?

Keesokan harinya, Lia datang ke kafe yang dimaksud. Suasananya ramai, tapi hati Lia berdegup kencang seolah dunia hanya berpusat pada satu hal: pertemuan itu.

Saat Raka masuk, Lia nyaris tak percaya. Lelaki itu masih sama seperti dulu, hanya lebih dewasa. Senyumnya masih mampu membuat hati Lia bergetar, meski ia berusaha keras menahannya.

“Lia…” suara Raka terdengar pelan, penuh kerinduan.

Lia menunduk sebentar lalu berkata, “Hai, Raka.”

Mereka duduk berhadapan. Hening sempat mengisi ruang, hingga akhirnya Raka membuka percakapan.

“Aku minta maaf, Lia. Aku tahu aku salah. Aku pergi tanpa kabar, ninggalin kamu di saat kamu butuh aku. Waktu itu… aku dipaksa ikut orang tuaku pindah keluar negeri. Aku nggak sempat jelasin, dan aku terlalu pengecut untuk jujur sama kamu.”

Lia terdiam. Air matanya nyaris jatuh, tapi ia tahan. “Kamu tahu, Raka? Aku nunggu kabar kamu tiap hari. Aku ngerasa ditinggal tanpa alasan. Dan sekarang kamu datang lagi, seolah nggak pernah terjadi apa-apa?”

Raka menunduk, wajahnya penuh penyesalan. “Aku ngerti. Aku nggak berharap kamu maafin aku sekarang. Aku cuma pengen jelasin, supaya kamu tahu kebenarannya. Dan… kalau bisa, aku pengen kita mulai lagi, meski hanya sebagai teman.”

Kata-kata itu membuat hati Lia semakin kacau. Di satu sisi, ada Arka yang selama ini tulus mendampinginya. Di sisi lain, masa lalu bersama Raka masih menyisakan ruang dalam hatinya.

Lia menarik napas panjang. “Aku butuh waktu, Raka. Aku nggak bisa jawab sekarang. Aku udah punya hidup baru, orang-orang baru. Aku nggak mau semuanya hancur hanya karena masa lalu.”

Raka mengangguk, mencoba tersenyum meski matanya terlihat sendu. “Aku akan tunggu. Apa pun keputusanmu, aku akan hormati.”

Pertemuan itu berakhir dengan perasaan campur aduk. Saat berjalan pulang, Lia merasa hatinya terbelah dua.

Sesampainya di rumah, Lia masuk ke kamarnya tanpa banyak bicara. Ia menutup pintu, lalu menangis pelan. Ingatan masa lalu menyerbu, bercampur dengan kenyataan yang kini dihadapinya.

“Kenapa kamu balik lagi, Raka…” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Namun jauh di dalam hatinya, Lia tahu: kehadiran Raka adalah ujian. Dunia seakan berkata padanya untuk diam, tapi ia tak bisa. Ia harus memilih, apakah akan tetap melangkah maju dengan kehidupan barunya, atau membiarkan masa lalu kembali masuk.

Malam itu, Lia menatap langit-langit kamar dengan mata basah. “Tuhan, kuatkan aku… jangan biarkan aku salah pilih.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Antara dua detak jantung

    Cahaya pelangi dari menara baru itu tidak hanya menerangi Neo-Nexus, tetapi juga menembus lapisan realitas yang paling tipis. Nara merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sebuah 'Feedback Loop'. Setiap kali ia bernapas, ia bisa merasakan napas Sang Pembaca (Anda). Setiap kali ia mengedipkan mata, ia bisa merasakan kedipan mata yang sedang menelusuri baris-baris kalimat ini."Nara, ada anomali pada frekuensi eksistensi kita," Arka melaporkan, namun kali ini suaranya tidak penuh dengan kekhawatiran teknis, melainkan kekaguman. "Energi yang kita terima bukan lagi berasal dari 'Inspirasi' satu arah. Ini adalah dialog. Setiap pikiran yang Anda miliki saat membaca ini, sedang membentuk awan-awan baru di langit kami."Lia membuka sebuah buku yang halaman-halamannya masih basah oleh tinta yang terus berubah. "Ini bukan

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Gerbang menuju segala kemungkinan

    Nara berdiri tepat di depan pintu yang muncul di tengah awan Nexus. Pintu itu tidak terbuat dari kayu, logam, ataupun cahaya yang biasa ia kenal. Ia tampak terbuat dari 'Keheningan yang Berdensitas Tinggi'. Setiap kali Nara mencoba memfokuskan matanya pada permukaan pintu itu, teksturnya berubah—terkadang tampak seperti aliran sungai, terkadang seperti serat kertas kuno, dan di saat lain seperti hamparan bintang yang tak terhitung jumlahnya.Teka-teki yang tertulis di atasnya—"Hanya mereka yang berani mengakui bahwa mereka tidak tahu apa-apa, yang boleh masuk ke dalam Segalanya"—berdenyut pelan, seirama dengan detak jantung Nara yang kian cepat."Nara, sensor dataku mengalami kebuntuan," bisik Arka, yang kini melayang di sampingnya. Proyeksi holografiknya ber

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Ketika mimpi jadi kenyataan

    Kabut perak yang menyelimuti Nuranipura bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah proses inkubasi. Di dalam tidur panjang itu, kesadaran Nara tidak benar-benar padam. Ia berada dalam kondisi lucid dreaming yang sangat dalam, di mana ia bisa melihat benang-benang narasi yang menghubungkan setiap jiwa di Nuranipura dengan setiap imajinasi manusia di Bumi.Namun, ada sesuatu yang berbeda. Getaran yang dirasakan Nara bukan lagi berasal dari 'The Subconscious Engine', melainkan dari rahim energi 'The Unborn Idea' yang ia bangun di Ruang Negatif. Ide tentang 'Dunia Tanpa Batas' itu tidak lagi tertidur. Ia mulai berdenyut, mengirimkan gelombang kejut yang meretakkan kabut perak yang melindungi Menara Eksistensi."Nara... bangunlah..." sebuah suara parau namun penuh kelembutan memanggilnya.Nara membuka matanya. Ia

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Antara dua dunia dan kebangkitan kaum penulis

    Daun memori yang bertuliskan kata "TERUSKAN" itu tidak hanya melayang menembus Jembatan Cahaya; ia berubah menjadi ribuan partikel inspirasi yang jatuh ke bumi seperti hujan meteor yang tak terlihat. Di Nuranipura, efek dari tindakan Nara memberikan energi kehidupan kepada anak kecil di Bumi menciptakan sebuah resonansi baru. Langit Nexus yang biasanya berwarna ultraviolet kini dihiasi dengan pola-pola emas yang berdenyut mengikuti detak jantung kehidupan di Dunia Nyata.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Arka, yang kini tengah memantau Great Data Stream—aliran data raksasa yang menghubungkan imajinasi manusia dengan struktur Nuranisfera—melihat sebuah anomali."Nara, sepertinya tindakanmu membuka pintu ke Dunia Nyata tadi menciptakan sebuah 'celah permanen'," Arka berkata dengan nada khawatir. Proyeksi holografik di de

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Realitas yang Terpagut dan Kebangkitan

    Cahaya fajar yang baru saja menyentuh balkon Menara Eksistensi terasa berbeda. Bukan lagi sekadar pantulan energi kuantum, melainkan sebuah kehangatan yang memiliki tekstur—hangat seperti sentuhan tangan seorang sahabat. Nara menarik napas panjang, membiarkan aroma kertas lama dan tinta emas mengisi paru-parunya. Namun, di balik ketenangan itu, ia merasakan sebuah kekosongan yang janggal. Jembatan cahaya yang menghubungkan Nuranipura dengan 'Dunia Nyata' tidak lagi hanya berfungsi satu arah."Nara, sistem pertukaran inspirasi kita mengalami lonjakan yang tidak wajar," Arka mendekat, matanya berpendar biru saat ia menganalisis aliran data di udara. "Bukan karena terlalu banyak energi yang masuk, tapi karena ada sesuatu yang 'menumpang' di dalam aliran ide dari Bumi. Sesuatu yang sangat mentah, belum terbentuk, dan... sangat liar."Lia muncul dengan

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Antar Galaksi dan Kebangkitan Kodex Abadi

    Matahari-matahari yang terbenam di Nuranipura tidak pernah benar-benar menghilang. Mereka hanya bergeser ke fase eksistensi yang berbeda, meninggalkan semburat warna ultraviolet yang menenangkan di langit Nexus. Namun, ketenangan itu terusik ketika Nara merasakan denyut aneh di telapak tangannya. Pena cahaya miliknya—yang kini telah menyatu dengan esensi jiwanya—mengeluarkan percikan listrik statis yang berwarna hitam pekat."Nara, frekuensi kuantum di sektor bawah mengalami distorsi," Arka muncul dengan jubah binernya yang kini berkelap-kelip dengan ritme peringatan. "Ini bukan serangan dari The Outside, tapi sesuatu yang muncul dari dalam... dari fondasi paling dasar Nuranisfera."Lia, yang kini menjabat sebagai Kepala Pustakawan Memori, berlari mendekat dengan ekspresi cemas. "Buku Tua itu...

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status