เข้าสู่ระบบPagi datang tanpa membawa kehangatan.
Aku terbangun lebih dulu, seperti biasa. Sisi ranjang di sebelahku kosong, rapi—terlalu rapi untuk ukuran kamar yang ditinggali dua orang. Aku tahu, dia sudah pergi sebelum matahari terbit. Bukan karena terburu-buru, tapi karena tak ingin berpapasan denganku. Aku bangkit, merapikan selimut, lalu berjalan ke dapur. Di meja makan, secarik kertas tergeletak dengan tulisan singkat. Aku berangkat lebih awal. Jangan menunggu. Tulisan tangannya tegas, dingin, tanpa sapaan. Tidak ada namaku di sana. Tidak ada kata maaf atau terima kasih. Aku melipat kertas itu, menyimpannya di saku apron. Entah kenapa, membuangnya terasa terlalu kejam, sementara menyimpannya pun terasa menyakitkan. Aku menyiapkan sarapan seperti biasa. Dua piring. Dua gelas. Lalu aku tersadar—kebiasaan ini tidak lagi masuk akal. Aku menghela napas, menyingkirkan satu piring kembali ke lemari. Sendiri. Kata itu semakin sering menjadi temanku. Siang harinya, ibu menelepon. “Kamu sehat, Nara?” suaranya terdengar khawatir. “Sehat, Bu.” Aku berbohong dengan nada paling meyakinkan. “Suamimu pulang malam terus?” Aku terdiam sejenak. “Iya, Bu. Kerjaannya lagi banyak.” Ibu menghela napas. “Sabar ya. Laki-laki memang begitu. Kamu jangan terlalu banyak berharap.” Kalimat itu menusuk tanpa darah. Aku memejamkan mata, menahan rasa perih yang tak sempat keluar. “Iya, Bu.” Setelah telepon ditutup, aku duduk lama di sofa, menatap dinding kosong. Aku bertanya pada diri sendiri—apakah aku salah karena berharap dicintai? Apakah menjadi istri berarti harus rela diabaikan? Sore menjelang, hujan turun perlahan. Aku berdiri di dekat jendela, menatap tetesan air yang berlomba turun. Ada rasa sepi yang aneh—bukan karena hujan, tapi karena aku sadar, aku tak lagi menunggu siapa pun pulang. Pintu depan terbuka ketika langit mulai gelap. Dia masuk, jas masih rapi, wajah lelah namun tetap terkendali. Aku berdiri, refleks. “Kamu sudah makan?” tanyaku. Dia mengangguk. “Sudah.” Aku mengangguk kembali. Selalu begini. Pertukaran kata yang singkat, tanpa makna. “Aku buatkan teh hangat,” ucapku, berusaha. “Tidak usah,” katanya cepat. “Aku mau mandi.” Dia berlalu begitu saja. Aku mematung beberapa detik, lalu kembali duduk. Dadaku terasa kosong, seperti ada ruang yang perlahan melebar dan tak bisa diisi apa pun. Malam itu, kami makan di meja yang sama, tapi tanpa percakapan. Sendok dan piring berbunyi pelan, menjadi satu-satunya suara di antara kami. “Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku akhirnya, memberanikan diri. Dia berhenti makan, menatapku. Tatapannya datar, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak penting. “Tidak.” Satu kata. Selesai. Aku menunduk. “Kalau aku melakukan kesalahan—” “Kamu tidak salah apa-apa,” potongnya. “Aku hanya lelah.” Jawaban yang terdengar seperti penutup. Bukan penjelasan. Setelah makan, dia kembali ke kamarnya—kamar yang sama denganku, tapi terasa seperti wilayah terlarang. Aku masuk belakangan, berbaring di sisi ranjang, menjaga jarak. “Besok aku dinas luar kota,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh. “Oh.” Aku menelan ludah. “Berapa lama?” “Beberapa hari.” Aku ingin bertanya lebih banyak. Ke mana. Dengan siapa. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu terasa tidak pantas diucapkan oleh seseorang yang bahkan tak dianggap penting. “Iya,” kataku pelan. Lampu dimatikan. Gelap menyelimuti kami lagi. Di dalam gelap, aku menggenggam jemariku sendiri, berusaha menahan gemetar. Aku merasa seperti tamu di kehidupan orang lain—hadir, tapi tidak benar-benar dibutuhkan. Malam semakin larut. Napasnya di sampingku terdengar teratur. Aku menatap langit-langit, mata terbuka, pikiran berlari ke mana-mana. Aku teringat diriku sebelum menikah. Perempuan yang punya tawa, punya mimpi, dan berani berharap. Sekarang, aku seperti versi yang mengecil—lebih diam, lebih hati-hati, dan sering menyalahkan diri sendiri. Apakah ini harga dari bertahan? Sebelum terlelap, satu tekad kecil muncul di hatiku. Bukan keberanian besar. Bukan perlawanan. Hanya satu kesadaran sederhana: Aku tidak bisa selamanya menjadi bayangan. Entah bagaimana caranya, entah kapan waktunya, tapi aku tahu—suatu hari nanti, aku harus memilih diriku sendiri. Dan malam itu, jarak di antara kami tidak lagi sekadar ruang kosong di ranjang. Ia berubah menjadi tembok tak kasatmata, tinggi dan dingin, memisahkan dua orang yang terikat oleh nama, tapi tidak oleh perasaan.Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup
Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun
Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N
Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”







