เข้าสู่ระบบPagi itu terasa berbeda.
Bukan karena ada pertengkaran, bukan pula karena kata-kata menyakitkan. Justru karena tidak ada apa-apa. Terlalu sunyi, terlalu tenang—seperti ketenangan sebelum sesuatu runtuh. Aku bangun saat matahari sudah tinggi. Sisi ranjang kosong. Rapi. Dinginnya masih tertinggal, tapi orangnya sudah pergi. Aku duduk, menghela napas pelan. Semalam dia bilang akan dinas luar kota, tapi tidak ada waktu pasti. Tidak ada perpisahan. Tidak ada pesan singkat. Aku berjalan ke ruang tamu. Koper kecil yang biasa dia gunakan tidak terlihat. Aku ke dapur—bersih. Tidak ada secangkir kopi bekas. Tidak ada piring kotor. Dia pergi seperti angin. Ada, lalu menghilang tanpa jejak. Di meja makan, tidak ada catatan. Tidak seperti biasanya. Tidak ada kalimat singkat yang dingin itu. Tidak ada apa pun. Dadaku terasa aneh. Bukan cemas, bukan marah—lebih seperti kehilangan yang tak punya bentuk. Aku duduk lama, menatap meja kosong, lalu akhirnya berdiri. Aku mengambil ponsel, menatap layar beberapa detik sebelum memberanikan diri mengetik pesan. Apa kamu sudah berangkat? Hati-hati di jalan. Pesan terkirim. Centang dua abu-abu. Aku menunggu. Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak dibaca. Aku meletakkan ponsel, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini biasa. Dia memang tidak pernah membalas cepat. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya berbeda. Siang menjelang. Hujan kembali turun, tipis namun konsisten. Aku membersihkan rumah, bukan karena kotor, tapi karena ingin mengalihkan pikiran. Setiap sudut rumah ini penuh dengan jejak kebiasaan kami—atau lebih tepatnya, kebiasaan dia. Sore hari, ponselku bergetar. Pesan masuk. Iya. Jangan tunggu. Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kehangatan. Tidak ada lanjutan. Aku membaca pesan itu berulang kali, seolah berharap ada kata lain yang tersembunyi di antara huruf-hurufnya. Tapi tidak ada. Malam datang lebih cepat dari biasanya. Aku makan sendiri. Lagi. Kali ini tanpa menyiapkan dua piring. Aku belajar cepat—berharap hanya akan menyakitkan diri sendiri. Saat sedang mencuci piring, ponselku kembali bergetar. Bukan dari dia. Sebuah nomor tak dikenal. Aku ragu sejenak sebelum mengangkatnya. “Halo?” Di seberang sana, suara perempuan terdengar. Lembut, tapi terdengar ragu. “Maaf… ini benar dengan Nara?” Jantungku berdegup lebih cepat. “Iya, saya sendiri. Dengan siapa?” Ada jeda beberapa detik sebelum ia menjawab. “Saya… teman lama suami kamu.” Tanganku mencengkeram ponsel lebih erat. “Oh.” “Aku harap aku tidak mengganggu,” lanjutnya cepat, seolah takut aku memutuskan sambungan. “Aku cuma ingin memastikan… dia baik-baik saja.” Aku terdiam. Dari sekian banyak pertanyaan, itu yang ia pilih? “Dia dinas luar kota,” jawabku pelan. “Seharusnya baik-baik saja.” “Oh.” Perempuan itu terdengar lega. “Syukurlah.” Aku menelan ludah. “Ada perlu apa?” “Tidak.” Ia tertawa kecil, canggung. “Maaf, mungkin ini tidak sopan. Aku hanya… khawatir.” Percakapan itu berakhir tak lama kemudian, dengan permintaan maaf dan salam singkat. Tapi setelah sambungan terputus, aku berdiri kaku di dapur, air masih mengalir dari keran. Teman lama. Kata itu berputar-putar di kepalaku. Aku mencoba mengingat—selama ini, dia tidak pernah bercerita tentang teman perempuannya. Tidak pernah mengenalkanku pada masa lalunya. Aku duduk di sofa, memeluk lutut. Bukan rasa cemburu yang muncul, tapi kesadaran pahit: ada bagian dari hidup suamiku yang tidak pernah menjadi bagianku. Aku mengambil ponsel lagi, membuka galeri. Foto pernikahan kami muncul di layar—senyumku lebar, senyumnya tipis. Saat itu, aku pikir dia hanya gugup. Sekarang aku tahu, mungkin hatinya memang tidak ada di sana. Malam semakin larut. Aku berbaring sendirian di ranjang besar itu, menatap kosong. Pergi tanpa pamit… Bukan hanya soal perjalanan dinas. Tapi tentang perasaannya. Tentang dirinya yang tak pernah benar-benar tinggal. Aku memejamkan mata, menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, aku tidak menangis. Aku hanya merasa lelah—lelah menunggu, lelah menebak, lelah berharap pada seseorang yang bahkan tak menoleh ke belakang. Di dalam keheningan itu, sebuah keputusan kecil mulai terbentuk. Bukan keputusan besar yang dramatis. Hanya satu langkah sederhana: Aku akan berhenti mengejarnya. Dan entah kenapa, pikiran itu tidak menakutkan. Justru terasa seperti awal dari sesuatu yang baru.Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup
Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun
Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N
Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”







