เข้าสู่ระบบMalam kembali turun di rumah itu, membawa sunyi yang sama, namun terasa lebih berat dari biasanya.
Aku duduk di tepi ranjang, memandangi pintu kamar yang sejak sore tak juga terbuka. Jam di dinding berdetak pelan, seolah sengaja mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, sementara aku tetap terjebak di tempat yang sama—menunggu tanpa pernah benar-benar dinanti. Pintu kamar akhirnya terbuka. Dia masuk tanpa menoleh ke arahku, melepas jam tangan, lalu meletakkannya sembarang di atas meja. Gerakannya tenang, dingin, dan terbiasa. Seperti seseorang yang pulang ke rumah kosong, bukan ke tempat di mana istrinya menunggu. “Aku sudah makan,” katanya singkat, tanpa menatapku. Aku mengangguk pelan. “Di dapur masih ada sup. Kalau kamu mau—” “Tidak perlu.” Kalimat itu memotong ucapanku sebelum selesai. Selalu seperti itu. Aku sering lupa, di rumah ini, kepedulianku hanya terdengar seperti gangguan. Dia merebahkan diri di sisi ranjang yang jauh dariku, membelakangi. Jarak di antara kami tak sampai satu meter, tapi rasanya seperti dua dunia yang tak saling bersinggungan. Aku memeluk bantal, menatap langit-langit kamar. Dalam hati aku bertanya, sampai kapan begini? Aku bukan perempuan yang menuntut banyak. Aku tidak meminta kata manis, tidak menuntut sentuhan berlebihan. Aku hanya ingin diakui sebagai istri, bukan sekadar nama di buku nikah. “Apa kamu lelah?” tanyaku akhirnya, suara hampir tak terdengar. “Setiap hari,” jawabnya singkat. Aku mengangguk lagi, meski dia tak bisa melihat. “Mau aku pijat?” Hening. Beberapa detik berlalu sebelum dia menjawab, “Tidak usah. Tidurlah.” Kalimat itu terdengar seperti perintah, bukan penolakan biasa. Dadaku terasa sesak, tapi aku mematuhinya. Aku mematikan lampu dan berbaring, membelakangi arah yang sama. Gelap menelan kamar, namun pikiranku justru semakin terang—dipenuhi pertanyaan yang tak pernah terjawab. Aku teringat wajah ibu tadi siang, saat ia menggenggam tanganku dengan mata berkaca-kaca. “Bertahanlah, Nara. Rumah tangga memang begitu.” Tapi ibu tidak tahu, bertahan tanpa dicintai rasanya seperti tenggelam perlahan. Tidak langsung mati, tapi kehabisan napas sedikit demi sedikit. Di tengah malam, aku terbangun. Tanganku secara refleks bergerak ke sisi ranjangnya—dingin. Dia tidak ada. Aku duduk, menyalakan lampu kecil. Pintu kamar terbuka sedikit. Dari ruang tamu terdengar suara pelan, seperti seseorang sedang berbicara melalui telepon. Aku berjalan pelan, tanpa suara. “…iya, Nek. Aku mengerti,” suaranya terdengar jelas. “Aku akan tetap jalani pernikahan ini.” Aku berhenti di balik dinding, jantung berdegup cepat. “Tapi jangan minta lebih,” lanjutnya. “Aku tidak bisa memaksakan perasaan.” Dadaku seperti diremas kuat. Pernikahan ini… baginya hanyalah kewajiban. Bukan janji, bukan ikatan jiwa—hanya sesuatu yang harus dijalani. Aku mundur perlahan, kembali ke kamar sebelum dia menyadari kehadiranku. Aku duduk di ranjang, menutup mulut agar isak yang naik tak keluar. Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku benar-benar istri, atau hanya beban yang disimpan demi memenuhi keinginan orang lain? Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Dia masuk, ekspresinya sama—datar, terkendali. “Kamu belum tidur?” tanyanya. Aku menggeleng. “Air minum ada di dapur. Aku bikinkan teh hangat.” Dia menatapku sesaat. Hanya sesaat. “Besok aku pulang malam. Jangan tunggu.” Kalimat itu seperti garis yang ditarik tegas di antara kami. Aku mengangguk, lagi-lagi mengangguk. “Iya.” Lampu kembali dimatikan. Dia berbaring, membelakangi, dan dalam hitungan menit napasnya teratur. Sementara aku… menatap gelap dengan mata basah. Di bawah atap yang sama, di ranjang yang sama, aku merasa lebih sendirian dibanding saat aku belum menikah. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang berbahaya muncul di benakku: Bagaimana kalau suatu hari aku benar-benar pergi?Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup
Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun
Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N
Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”







