แชร์

Bab 9 – Tidak Lagi Menunggu

ผู้เขียน: Yoga
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-31 20:00:41

Pagi itu aku terbangun dengan perasaan yang asing—ringan, tapi juga hampa.

Untuk pertama kalinya, aku tidak meraih ponsel begitu membuka mata. Tidak ada dorongan untuk mengecek pesan, tidak ada harapan akan kabar darinya. Aku hanya berbaring sebentar, menatap langit-langit, membiarkan pikiranku kosong.

Mungkin inilah yang disebut menyerah. Atau mungkin, akhirnya aku lelah berharap.

Aku bangkit, merapikan tempat tidur, lalu bersiap seperti biasa. Tapi ada satu hal yang berubah—aku tidak lagi menyiapkan sarapan untuk dua orang. Satu piring. Satu gelas. Cukup.

Saat duduk di meja makan, aku menyadari betapa sunyinya rumah ini tanpa kehadirannya. Anehnya, sunyi itu tidak lagi terasa menyakitkan. Hanya… nyata.

Setelah membereskan dapur, aku membuka lemari pakaian. Pandanganku jatuh pada deretan baju yang jarang kusentuh sejak menikah. Baju-baju yang dulu sering kupakai saat masih bekerja, saat aku masih punya dunia sendiri.

Aku menarik satu atasan sederhana berwarna krem, lalu celana panjang hitam. Tidak istimewa, tapi rapi. Aku menatap bayanganku di cermin. Wajahku terlihat lebih pucat dari yang kuingat, tapi mataku… ada sesuatu di sana. Tekad kecil yang mulai tumbuh.

Aku mengambil tas lama dari sudut lemari, membersihkan debunya, lalu memasukkan dompet dan ponsel. Tidak ada tujuan besar. Aku hanya ingin keluar.

Di luar, udara pagi terasa segar. Aku berjalan menyusuri jalan kecil di dekat rumah, sesuatu yang jarang kulakukan sendirian. Setiap langkah terasa canggung, tapi juga membebaskan.

Aku berhenti di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan. Tempat itu sederhana, tenang. Aku memesan kopi hangat dan duduk di dekat jendela.

Untuk pertama kalinya setelah menikah, aku duduk sendirian di ruang publik tanpa merasa bersalah.

Aku membuka ponsel, bukan untuk menghubunginya, tapi untuk membuka catatan lama. Sebuah kontak yang lama tak kusentuh—mantan rekan kerjaku.

Masih ingat aku? ketikku ragu, lalu mengirimnya sebelum sempat berubah pikiran.

Tak lama, balasan masuk.

Tentu. Lama tak dengar kabar. Apa kabar?

Aku tersenyum tipis. Percakapan singkat itu terasa hangat, jauh lebih hangat dari ratusan pesan yang tak pernah terkirim di rumahku sendiri.

Siang hari, aku pulang. Rumah masih sama—sunyi, rapi, dingin. Tapi aku tidak lagi merasa kecil di dalamnya.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari suamiku.

Jangan lupa kunci pintu. Aku mungkin pulang lusa.

Aku membaca pesan itu sekali, lalu meletakkan ponsel tanpa membalas. Tidak ada amarah. Tidak ada air mata. Hanya kesadaran bahwa aku tidak wajib selalu menjawab.

Sore menjelang, aku membersihkan rumah sambil mendengarkan musik pelan. Lagu-lagu lama yang dulu sering kudengarkan sebelum menikah. Ada kenangan, tapi tidak lagi menyakitkan.

Malam tiba. Aku duduk di tepi ranjang, menatap kamar yang terlalu besar untuk satu orang. Aku memeluk bantal sebentar, lalu meletakkannya kembali.

Aku menatap pantulan diriku di cermin.

“Aku masih di sini,” gumamku pelan. “Aku belum hilang.”

Di saat yang sama, jauh di luar sana, mungkin dia tidak menyadari apa yang sedang berubah. Mungkin dia masih berpikir aku akan selalu menunggu, selalu ada, selalu diam.

Dia tidak tahu—diamku kali ini berbeda.

Bukan karena pasrah.

Bukan karena lemah.

Tapi karena aku sedang belajar berdiri sendiri.

Dan ketika pintu rumah itu akhirnya terbuka nanti, mungkin aku bukan lagi perempuan yang sama seperti saat dia pergi tanpa pamit.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 29 – Pilihan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 28 – Tidak Lagi Setengah Hati

    Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 27 – Bukti, Bukan Janji

    Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 26 – Ketika Semua Ikut Bicara

    Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 25 – Di Antara Bertahan dan Melepaskan

    Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 24 – Tekanan yang Datang Bersamaan

    Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status