Share

Bab 2

Author: Mountain
"Kalian dengar itu? Dia masih punya tenaga untuk berteriak begitu keras. Apa itu terdengar seperti orang yang hampir mati?"

Yani menunjukku, seolah aku ini hewan sirkus yang sedang dipertontonkan.

Di sampingnya, wajah Mason menggelap. Matanya penuh kejengkelan.

"Ruby, cukup. Hari ini adalah pesta ulang tahun pernikahan kita. Bisakah kamu, meskipun hanya sekali saja, tidak merusak suasana?"

Kata-katanya jauh lebih menyakitkan daripada tamparan apa pun.

"Aku... bukan berpura-pura..." Aku terengah. "Aku benar-benar alergi..."

Sesak napas membuat pandanganku gelap berulang kali, tubuhku kejang-kejang.

Tapi aku tetap berusaha menatap ke arah Mason, berharap dia akan menolongku.

Yani menghalangi pandanganku. Dia langsung menarik lengan Mason, membawanya menuju meja di tengah ruangan.

Di atasnya, terletak pai apel yang kubuat sendiri.

"Jangan pedulikan dia, Mason. Selama tidak ada yang memedulikannya, dramanya akan segera selesai. Kita potong pai apel dulu, yuk."

Orang-orang lain segera memberi jalan bagi pasangan ‘serasi’ itu, meninggalkanku terabaikan di sudut ruangan.

Mereka memotong potongan pertama.

Aroma kayu manis dan mentega dari pai apel menguar, aroma yang dulu berarti cinta, tapi kini hanya membuatku lebih mual.

Lalu Yani mengeluarkan teriakan dramatis.

Potongan pai apel di tangannya ‘tak sengaja’ terjatuh, dan selai buah yang kental langsung menodai bagian dada gaunnya.

"Aduh, kok agak gatal ya? Jangan-jangan aku alergi selai ini?"

Para pengikut Mason tertawa cekikikan, lalu mulai bersorak, "Selai kalau kena kulit memang mudah bikin alergi. Mason, cepat bantu Yani bersihkan!"

"Tisu barusan sudah kupakai semua. Kalau Yani sampai kenapa-napa gimana? Mason, kamu bantu jilati saja!"

Mason mengerutkan kening, melirik kotak tisu kosong di meja.

Yani mengulurkan jarinya, menyentuh selai di dadanya, lalu menatapnya genit.

"Mason... tolong aku..."

"Jangan omong sembarangan!" Mason membentak.

Meski begitu, dia tetap melangkah maju, mendekati noda selai itu untuk melihatnya dari dekat.

Seseorang sengaja berteriak ke arahku, "Hei, Mason, istrimu masih melihat loh. Dia nggak akan marah, kan?"

Yang lain langsung tertawa keras.

"Dia sedang sibuk dengan drama menyedihkannya itu! Biarkan saja, biarkan dia menikmati aktingnya!"

Di tengah suara tawa yang memekakkan telinga, pandanganku semakin kabur.

Aku hanya melihat Mason sempat berhenti, dan melirik ke arahku.

Lalu, di bawah tatapan semua orang, dia perlahan menundukkan kepala...

mendekat ke dada Yani.

Pada detik itu, dunia berhenti.

Hatiku seperti ditusuk ratusan jarum, rasa sakitnya menusuk tulang.

Pai apel yang kubuat dengan tangan sendiri selama dua hari...

Kini menjadi alat mereka untuk saling menggoda.

Aku mencoba bangkit untuk kabur dari sana, tapi baru setengah terdongak, pandanganku langsung gelap.

Semua tenaga tersedot habis.

Di saat aku hampir tenggelam dalam kegelapan, aku tiba-tiba teringat, beberapa hari lalu ada satu pil yang jatuh ke saku jaketku.

Aku memasukkan jari-jari tanganku yang gemetar ke dalam saku.

Setiap detik terasa seperti keabadian.

Akhirnya, ujung jariku menyentuh benda kecil yang begitu kukenal.

Aku menahan napas.

Saat perlahan mengeluarkannya, seluruh tubuhku sudah kejang dan menggigil.

Hampir berhasil... Hanya perlu memasukkannya ke dalam mulut...

Tapi tanganku gemetar terlalu hebat.

Pil itu terlepas dari sela jariku dan jatuh ke lantai.

Aku berusaha meraih, namun sebuah sepatu hak tinggi berhiaskan berlian lebih cepat dariku.

Yani.

Dia menginjak pil itu dengan tepat, menghancurkannya.

Serbuk putih menyebar di lantai seperti abu.

Lalu ia menginjak punggung tanganku dengan tumit sepatunya.

Rasa sakit yang tajam menembus kulit hingga ke tulang.

Aku bahkan mendengar suara retakan kecil dari tulangku, namun aku tak mampu berteriak.

"Mengapa?"

Aku memaksa mengeluarkan kata itu dengan sisa napas terakhir.

Yani perlahan berjongkok, wajahnya dipenuhi senyum kekejaman.

"Kita main permainan ‘andaikan’ ya, Ruby." Suaranya seperti bisikan iblis.

"Andaikan... putri tunggal Godfather Keluarga Jenner, malam ini ‘tidak sengaja’ meninggal karena kecelakaan. Maka, suaminya yang sangat berduka… secara alami akan mengambil alih keluarganya, bukan?"

"Lalu… setelah beberapa waktu, jika aku menikah dengan suaminya itu… bukankah seluruh kekayaan Keluarga Jenner akhirnya akan menjadi milikku?"

Begitu rupanya.

Tujuan dia bukan sekadar mempermalukanku, dia menginginkan nyawaku.

Namun dia salah besar.

Keluarga Jenner tidak akan pernah menyerahkan kekuasaan kepada orang luar.

Dengan sisa kekuatan yang hampir habis, aku mendongak memandang jam dinding.

Masih tersisa tiga menit.

"Nyawamu bandel juga rupanya."

Yani berdiri sambil terkekeh dingin, menepuk-nepuk gaunnya seolah menghilangkan debu yang tidak ada.

"Kalau begitu… biarkan aku bermurah hati, dan mengantarmu ke jalan terakhir."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Obat Alergi Berubah Menjadi Permen M&M   Bab 8

    Mason tidak mau menandatangani surat cerai.Mungkin itu adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang bisa ia lakukan ketika dirinya sudah tidak memiliki apa pun.Tapi ketika tim pengacara ayahku ‘menjelaskan’ konsekuensi dari tidak menandatangani, dan mengisyaratkan bahwa sisa hidupnya mungkin akan dipenuhi tuntutan hukum tanpa akhir dan berbagai ‘kecelakaan’, dia akhirnya menyerah.Proses perceraian kami berlangsung sangat cepat.Ketika aku kembali bertemu dengannya, kondisinya bahkan lebih menyedihkan daripada sebelumnya, seperti gelandangan yang hidup di pinggir jalan.Ketika melihatku, matanya langsung memancarkan cahaya. Ia berlari ke arahku dan menghadang jalanku."Ruby, jangan pergi."Dia mencengkeram lenganku dengan kekuatan yang mengejutkan."Aku tahu aku salah. Aku tahu aku bajingan! Beri aku satu kesempatan lagi, terakhir kali! Aku nggak mau apa pun. Perusahaan, uang, status… semuanya bisa kulepas. Aku hanya mau kamu. Mari kita kembali seperti dulu, boleh?"Dia mencoba memeluk

  • Saat Obat Alergi Berubah Menjadi Permen M&M   Bab 7

    Sebulan kemudian, tibalah saat Acara Pemimpin Bisnis Tahunan.Acara yang menghimpun seluruh pengusaha top dalam negeri itu adalah panggung tertinggi bagi kekuasaan dan kekayaan.Dan tahun ini, pusat perhatian tanpa diragukan lagi adalah Keluarga Jenner.Lima menit sebelum naik ke panggung, aku berdiri di ruang istirahat pribadi di belakang panggung, menatap bayanganku di cermin.Gaun hitam panjang yang dibuat khusus membalut tubuhku dengan potongan yang tegas dan elegan, membuat posturku tampak tegap dan kuat.Riasan di wajahku tajam dan sempurna, tatapanku mantap dan penuh percaya diri.Orang dalam cermin tampak begitu asing, namun juga begitu familiar.Aku seolah masih bisa melihat diriku sebulan lalu. Gadis yang memakai gaun sederhana, dengan hati penuh kebahagiaan saat menyiapkan pai apel untuk suaminya.Aku juga bisa melihat diriku yang tergeletak di lantai dingin, tubuh berantakan oleh selai dan wiski, terengah-engah… hanya demi bertahan hidup.Rasa sakit dan penghinaan itu, sepe

  • Saat Obat Alergi Berubah Menjadi Permen M&M   Bab 6

    Hari saat aku keluar dari rumah sakit, cuacanya sangat cerah.Aku mengenakan setelan jas putih dengan potongan yang rapi, dan memotong rambut panjang yang telah kupelihara selama bertahun-tahun untuk Mason. Rambut pendek yang ringkas membuatku merasa seperti mendapatkan hidup baru.Asistenku membukakan pintu mobil, dan ketika aku duduk di kursi belakang, ia mulai melaporkan dengan suara tenang."Nona, soal perkembangan terbaru Perusahaan Morg. Kita sudah memutus delapan puluh persen proyek kerja samanya, dan beberapa bank utama juga telah menarik kembali pinjaman mereka.""Menurut analisis konsultan keluarga, Perusahaan Morg pasti bangkrut dalam minggu ini."Aku mengangguk, menatap pemandangan kota yang melaju cepat di balik jendela mobil."Selain itu..." lanjut asistenku. "Jaksa daerah sudah mengajukan tuntutan terhadap Yani atas dugaan penganiayaan dengan sengaja.""Buktinya lengkap, dan seluruh aset Keluarga Yart juga telah disita oleh badan pajak federal karena penggelapan pajak da

  • Saat Obat Alergi Berubah Menjadi Permen M&M   Bab 5

    Saat aku kembali sadar, aku sudah terbaring di rumah sakit pribadi Keluarga Jenner yang terletak di pusat kota.Tempat ini bahkan lebih mewah dan tenang daripada hotel bintang lima mana pun, dengan aroma lembut cairan disinfektan memenuhi udara.Tangan yang sempat diinjak oleh sepatu hak tinggi Yani telah menjalani operasi oleh ahli bedah profesional dan kini dipasangi gips.Pembengkakan di tenggorokan sudah mereda, meski setiap kali berbicara masih terdengar serak.Ayah duduk di samping tempat tidurku. Hanya dalam satu malam, ia terlihat seperti menua sepuluh tahun.Saat melihatku terbangun, sorot matanya langsung dipenuhi rasa bersalah dan sayang yang dalam."Ruby, gimana perasaanmu?"Ia menggenggam tanganku yang tidak terluka, tangannya terasa hangat dan kuat"Sudah jauh lebih baik, Ayah." Aku tersenyum, sebuah senyum yang benar-benar tulus dari hati.Pesta itu, yang hampir merenggut nyawaku, terasa seperti mimpi buruk. Dan kini, aku sudah terbangun.Namun, ada sedikit rasa tidak te

  • Saat Obat Alergi Berubah Menjadi Permen M&M   Bab 4

    Pintu besar aula pesta dihantam dari luar oleh sebuah kekuatan dahsyat yang tak dapat dilawan. Dua daun pintu kayu solid yang berat itu roboh ke dalam dengan suara menggelegar, menebarkan debu ke mana-mana.Dalam pandangan semua orang yang penuh ketakutan, puluhan pria berjas hitam masuk berbaris.Gerakan mereka nyaris tanpa suara, namun membawa aura mematikan yang membuat seluruh keramaian dan cemoohan di aula itu seketika membeku.Kerumunan seperti ditekan tombol bisu. Semua suara tersangkut di tenggorokan, menyisakan hanya keterkejutan pada wajah mereka.Di depan rombongan itu adalah seorang pria paruh baya berwibawa. Wajahnya tampak lembut dan berpendidikan, namun saat ini sepasang mata elangnya yang tajam sedang menyapu seluruh ruangan.Ketika akhirnya pandangannya jatuh pada diriku. Aku yang tergeletak di sudut lantai, seluruh tubuh berantakan dan menyedihkan, seluruh kelembutan di matanya lenyap. Yang tersisa hanyalah keterkejutan yang mengerikan dan amarah yang sedingin pisau.

  • Saat Obat Alergi Berubah Menjadi Permen M&M   Bab 3

    Yani mengambil sepotong pai apel."Aku dengar pai apel ini kamu yang buat sendiri. Kenapa kamu nggak coba makan?"Sebelum aku sempat menjawab, dia langsung menekan pai itu keras-keras ke wajahku.Kulit pai hancur. Saus apel panas memercik ke kulitku. Pai apel itu menutup hidung dan mulutku, membuatku tak bisa bernapas!Ancaman kematian membangkitkan naluri bertahan hidupku. Aku tiba-tiba mengerahkan semua tenaga dan menjerit."Tolong!" Aku terengah-engah, suaraku parau. "Seseorang… tolong aku!"Teriakan sekarat itu akhirnya menarik perhatian orang-orang.Mason melangkah cepat ke arah kami, suaranya rendah dan dingin."Ada apa ini?"Gerakan Yani langsung berhenti. Senyuman bengisnya berubah menjadi pura-pura tak bersalah."Ya Tuhan, Ruby! Kenapa kamu makan pai apel sampai belepotan begini? Sini, biar aku bersihkan."Aku berusaha menghindar dengan seluruh tenaga yang tersisa, tapi tubuhku sudah tak bisa dikendalikan dan tanpa sengaja aku menyenggolnya.Yani menjerit, lalu jatuh terhempas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status