Partager

Balik Maning

last update Date de publication: 2026-09-29 11:47:48

Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong.

Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku.

Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu.

"Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit.

Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?

Gusti Allah ... tolong.

.

"Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang mengendap-endap, terdengar suara Mas Burhan berseru, membuatku seketika berhenti. Ternyata di depan sana ada si Om sama Mas Burhan lagi ngobrol.

"Mbak Yunita lagi ngapain coba, pasti lagi main cul umpet ya?" godanya membuatku memutar bola mata. Cul umpet-cul umpet mbahmu! batinku. Najis banget.

"Kamu darimana dicari Mbo'e disuruh makan?" tanyanya sambil melihat nota dengan serius. Tadi dia hanya melirikku sekilas lalu kembali fokus pada kertas lecek yang dipegang. Dih sok cool banget. Emang dia pikir kertas lecek sama aku lebih berharga siapa? Pastinya kertas itu lah . Isinya nominal uang.

"Yaudah aku masuk ya, Om," ucapku sambil beranjak, tapi di belakangku ternyata ada yang mendengarkan dan langsung berkomentar.

"Kok manggilnya Om? Sayang dong." Mas Burhan nyeletuk, disambut tawa cekikikan dari Mas Marno.

Sayang? Dih Najong deh!

.

Di ruang dalam, makanan sudah siap di atas tikar. Mertua dan ipar duduk mengelilingi makanan.

"Eh, Yun, kamu dari mana, Nduk? Daritadi nggak kelihatan?" Ibu Mertua menyambutku dengan ramah. Di sebelahnya ada Mbak Ranti--anak kedua yang sedang menyentong makanan untuk anaknya. Wanita itu terlihat judes. Aku jadi sungkan kalau duduk dekat dengannya.

"Tadiii, habis jalan-jalan, Mbok, tapi malah kesasar ke sawah, jadinya lama pulangnya," jawabku kikuk.

Ternyata gini rasanya, ketika nggak biasa bohong, terus tiba-tiba terpaksa bohong, jantungnya berdebar lebih kenceng. Kaya pas ke kondangan terus duduk deket sama sound system.

"Howalahh, ngesuk maning nek dolan, ajek Ipul ya,men ora kesasar." (besok lagi kalo jalan-jalan ajak Ipul biar nggak kesasar)

"Yawes, yo, selak ngelih, Ipul ndi jal dicelukna." (yasudah yuk, keburu lapar, Ipul mana coba dipanggil)

Akupun bergabung bersama mereka setelah Om Ipul muncul dari balik pintu. Aku terpaksa duduk berdampingan dengannya. Suasana ini benar-benar membuatku canggung. Kebiasaan di rumah kalo makan ya tinggal makan aja nggak bareng-bareng begini.

"Bojone dijukutna segane, Pul, isin mesti!" (istrinya diambilin nasinya, Pul, malu pasti)

Ibu mertua memerintah si Om setelah dia mengambilkan untuk suaminya. Si Om pun menurutinya. Dia mengambilkanku nasi dengan porsi kuli.

"Jangan banyak-banyak, Om!" Aku reflek menahan tangan Ipul. Dia menoleh, Ternyata bukan cuma dia yang menoleh. Tapi semua yang duduk di sini menoleh ke arahku. Aku jadi kikuk.

"Mbak Yunita lucu manggilnya 'Om'," komentar Kartika.

"Enggak, kebawa tadi di depan manggil A0Om sama Burhan, jadinya keterusan, ya kan, Yun?" Ipul menimpali.

"Iya, Om, eh-- Kang." Akupun reflek mengangguk. Dan apa tadi aku bilang, Kang? Aku tertawa dalam hati. Daripada manggil Mas terlalu manis. Males banget deh.

*

"Jangan tidur di bawah, nanti kedinginan!" ucap si Om eh udah ganti Kang Ipul.

Aku nggak peduliin ucapan dia. Tetap kugelar tikar lalu bersiap menggulung tubuh dengan selimut.

"Kalo nggak mau tidur sama aku, biar aku yang keluar." Dia ngomong lagi, tapi aku bodo amat.

Pura-pura budeg aja sambil kusumpel telinga dengan head set biar nggak denger dia ngomong lagi, tapi tiba-tiba tubuhku diangkat olehnya dan diletakkan di atas kasur. Dia kemudian keluar sebelum aku ngomong apa-apa. Aku mengelus dada sambil menoleh ke bawah. Kayaknya jantungku masih ketinggalan disana.

.

Malam ini udara dingin banget sampe nembus daleman. Dalem tubuh maksudnya ya bukan daleman yang lain.

Aku menggigil padahal tubuh udah dibalut selimut tebal. Kubolak-balikkan tubuh mencari kehangatan tapi sampe tengah malam aku masih juga kedinginan. Kepalaku juga rasanya pusing. Ini pasti sisa perjalanan tadi.

Karena merasa kesepian kubuka ponsel, ingin menghubungi orang tua atau teman, tapi nggak ada sinyal. Di ruang chat, ada pesan masuk dari Wisnu dan beberapa teman lainnya. Mereka menanyakan kabarku yang sejak wisuda nggak tau kemana. Wisnu seeprtinya sangat khawatir. Aku membalas pesannya, beralasan sedang di tempat saudara. Entah nanti mau terkirim jam berapa, yang penting sudah kubalas.

*

Baru berapa menit terlelap,mataku terbuka. kepalaku rasanya berat. Perutku sakit. Kyaknya aku kembung. Perutku ini emang agak sensitif sama udara dingin. Gampang banget kembung.

Aku mencari minyak kayu putih, tapi nggak ada. Adanya balsem sama minyak gosok. Akhirnya kupakai aja balsem. Mudah-mudahan bisa ngeluarin gas yang nyumpel di dalam perut. Rasanya nggak enak banget sumpah.

Setelah mengoleskan balsem, aku mencari posisi agar memudahkan angin keluar lewat jalan belakang. Kalau menurut yang pernah kudengar untuk mengatasi kembung ada bayi, anak di baringkan lalu lututnya ditekuk sampai ke perut.

Kuperagakan itu, tapi kurang mempan. Aku ganti posisi nungging sambil kutepuk-tepuk perut supaya angin keluar, tapi masih aja betah di dalem. Heran disuguhi apa ya mereka di dalem perut.

Setelah beberapa posisi belum berhasil ngeluarin angin, aku akhirnya jongkok di bibir ranjang. Banyak orang bilang kalau jongkok itu bikin kentut. Akupun melakukannya sambil naik turun. Setelah beberpa detik akhirnya ....

'Brut ....' keluar juga mahluk tak kasat mata yang bikin sakit perut. Dan ... Hftf, bau juga.

"Ahh ... Lega ...." Aku berseru sambil mengelus perutku. Berharap masih ada lagi yang keluar karena ini belum tuntas.

Aku hendak menepuk perutku lagi, tapi nggak jadi karena terdengar suara batuk dari belakang. Saat kutoleh, ternyata Kang Ipul berdiri di ambang pintu dengan wajah kaya mau semaput.

Dia pasti mabok kena bom atom.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Drama Ulat

    Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bom Atom

    Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Balik Maning

    Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bertemu Mantan Rival

    "Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Penampakan

    "Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Kabur Aja Dulu

    "Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status