Partager

Bertemu Mantan Rival

last update Date de publication: 2026-09-29 11:46:30

"Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir.

Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja.

"Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran.

"Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"

Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya.

Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya.

Aku ingat dia karena dia yang paling mendominasi diantara cewek lainnya. Dia nyerocos, maki-maki pacar Sari sambil nunjuk-nunjuk wajahnya sambil nangis. Pokoknya effort banget dalam ngebela bestie-nya. Eh tapi kenapa dia ingat aku, padahal aku cuma ikutan nyimak aja.

"Kamu kan yang kecempling got pas aku dorong si Indra tapi malah dia nubruk kamu," ucapnya membuyarkan lamunan.

Ya Ampun! Aku padahal selama ini berusaha melupakan kejadian memalukan itu. Dia malah ngingetin lagi.

"Sorry, ya, nggak nyangka sekarang jadi kakak iparku." Dia melanjutkan. Aku cuma nyengir aja. Kupikir dia bakalan julid sama aku.

"Oh iya, kenalin aku Kartika adiknya Mas Ipul." Dia mengulurkan tangan.

"Yunita!" Akupun membalas uluran tangannya.

"Eh, iya maaf ya, Yun, kemarin pas akad aku nggak datang, masih ada acara perpisahan sama temen-temen, tapi kata Mbo'e kan resepsinya nanti aja, jadi aku pikir yang penting nanti pas resepsi ikutan." Dia ngomong lagi panjang lebar. Padahal aku mah nggak peduli siapa aja yang datang pas akad nikah. Eh apa katanya? Mau ada resepsian segala? Nggak lah no way! Aku pastikan ragaku ini udah nggak disini.

"Panggil 'Mbak', Tik, dia mbakmu," ucap Om Ipul.

"Eh, iya hehe." Gadis bergingsul itu meringis.

.

"Mbak kok kamu mau si jadi istri Mas Ipul?" tanya Kartika. Aku cuma nyengir aja. "Kenapa,ya?" Aku balik nanya. Apa dia nggak tahu ya kalo aku cuma pengantin serepan.

Kalo seandainya ditanya si jelas nggak mau lah. Kenal juga enggak. Mana umurnya beda lima belas tahun lagi. Aku juga nggak punya cita-cita nikah muda. Cita-citaku karena nggak bisa kuliah, ya kerja dulu. Nyenengin diri dulu pake duwit sendiri. Selain itu, nggak ada spek idamanku sedikitpun dari laki-laki itu.

"Nggak terpaksa kan, Mbak?" tanyanya lagi. Aku spontan keselek. Pop es yang baru saja masuk tenggorokan kaya mau keluar lagi.

"Pelan-pelan." Dia menepuk punggungku.

Saat ini kami sedang jajan di warung dekat rumah. Dia mengajakku jalan-jalan keliling kampung. Melihat rumah-rumah khas pegunungan yang mayoritas berada atas tanah miring. Kadang aku mikir, apa nggak pada takut jatuh ya. Tapi mungkin pembangunannya sudah sesuai SOP, nyatanya rumah mereka nggak miring.

Desa ini rupanya berada di lereng gunung sumbing. Pantesan dinginnya sampe nusuk ke tulang. Tapi view nya bagus. Hampir kaya di foto-foto orang yang mendaki gunung. Kalau pas cuaca cerah begini, pemandangannya bagus banget. Jadi betah--eh nggak. Aku kan mau minggat. Niatku ikut sama Kartika juga kan biar tahu jalan pulang.

"Disini jauh banget nggak si kalo sampe pasar?" tanyaku. Survey dimulai.

"Mbak pengen ke pasar? Minta anter aja sama Mas Ipul, dia kan juga sering kulakan sayur ke pasar kalo pas stok panenan lagi kurang."

Duh, malah jawabannya gitu. Aku kan niatnya nanya arah.

"Oh, eh, kalo jalan itu mau ke mana?" Aku menunjuk jalan ke arah kanan. Kebetulan warung jajan ini dekat perempatan. Jadi bisa cari info sekalian.

"Oh, kalo itu ke sawah, bisa juga ke desa sebelah."

"Kalo yang sebelahnya?"

"Oh, yang menurun itu, ke arah jalan gede atau kalo mau ke pasar, apa berangkat sekolah ya lewatnya sana."

Yes! Satu info penting dapet. Ini kudu disimpan di memori otak karena aku gak bawa rekaman.

"Kamu kalo sekolah lewat sana dong?" Aku pura-pura kepo.

"Ya he'em, pulang-pergi lewat jalan itu, kan itu pintu masuknya desa ini."

"Ngomong-ngomong kamu kan sekolahnya di kota, berangkatnya jam berapa dari rumah?"

"Aku kan ngekos, kalo laju capek banget berangkatnya harus setengah 6, mana nggak boleh bawa motor sama Pae, khawatir karena belom lancar. Disini kan jalannya cukup curam, banyak tanjakan tajam dan tikungan mesra.

Kalo naik angkot jadinya tiga kali, itu juga angkot nggak lewat sini jadi jalan kaki dulu sampe desa di bawhnya." Aku manggut-manggut mendengar perkataan Kartika. Jadi ngerasa hidup di hutan.

*

Kami kembali ke rumah setelah puas jajan cimol sama Pop Ice. Di pelataran rumah mertua yang luasnya dua kali pelataran rumahku, terparkir sebuah mobil bak terbuka. Dua orang laki-laki sedang menaikkan muatan sayur. Om Ipul ikut membantu dan memandu seperti bos.

"Itu mau dibawa kemana?" tanyaku pada Kartika.

"Ke pasar Kertek, biasanya kirim ke Semarang, tapi Mas Ipul kan lagi libur karena nikah, jadi kirimnya ke yang deket aja."

"Jam berapa bawa ke pasarnya?"

"Nanti sore, kan dibawanya pasar sore sama sekalian nunggu barang lainnya dari sawah, kenapa Mbak mau ikut?" tanyanya yang membuat ideku muncul. Kayaknya boleh juga nanti aku menyelinap ikut ke pasar. Dari pasar bisa naik ojek ke rumahku. Oke sip!

.

Jam empat sore aku mulai mencari celah. Mula-mula ikut nimbrung. Pura-pura mau bantu. Lama-lama menyusup ke dalam bak belakang. Muatan sayur nggak terlalu banyak. Jadi aku bisa ngumpet di balik karung berisi sawi. Bagian atas mobil sudah dipasang terpal, jadi aman kalau nanti hujan.

Aku menahan perut biar nggak mual. Jalanan yang berkelok-kelok membuatku mau muntah. Apalagi aku duduknya ngadep ke belakang. Wes, cocoklah!

Butuh waktu sekitar seperempat jam dari rumah sampai jalan raya. Lalu perjalanan ke pasar masih sekitar seperempat jam juga.

Aku segera melompat dari mobil saat mesinnya sudah dimatikan. Segera aku berlari ke kamar mandi, mengeluarkan isi perut.

Setelah puas mengeluarkan makanan, akupun keluar kamar mandi besiap pulang. Tapi di depan sana ada Mas Burhan--supir pick up. Aku panik dan naik ke mobil box di depanku. Kebetulan pintunya sedikit terbuka, sehingga dengan tubuh krepesku mudah menyusup dan langsung tutup pintu.

Di dalam ternyata ada banyak kotak berisi ikan. Mana ikannya pada melotot lagi pas aku deketin. Mentang-mentang nggak kenal jadi pada sinis.

Aku lalu berdiri, bermaksud mengintip apakah di luar sudah aman. Tapi tiba-tiba seseorang menutup pintu dari luar sambil mengunci. Setelah itu mobil bergerak.

"Paaak ... Ada orang di dalem, tolong berhenti!" Aku berteriak berharap mereka mendengar tapi mobil tetap melaju.

Aduh gimana nih. Bingung harus berbuat apa, akupun meminta tolong pada ikan. Sayangnya mereka lagi-lagi malah melotot. Salah apa coba aku.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Drama Ulat

    Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bom Atom

    Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Balik Maning

    Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bertemu Mantan Rival

    "Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Penampakan

    "Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Kabur Aja Dulu

    "Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status