Partager

Bom Atom

last update Date de publication: 2026-09-29 12:03:13

Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres.

"Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi.

Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku.

Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak.

"Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja.

"Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!

Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialnya aku juga gak bisa ngelawan. Padahal tangannya raba-raba dahiku cari kesempatan. Tapi aku nggak bisa berontak, nggak ada tenaga. Kalo kata di iklan: lemes, Bray!

"Masih panas banget." Dia bergumam sambil mengganti air kompresan.

"Kamu kenapa, pusing?" tanyanya perhatian, tapi nggak bikin aku trenyuh, malah tambah muak. Ternyata air mataku keluar saking kesalnya gak bisa gebrak-gebrak. Kebiasaanku kalo kesel atau marah tu akhirnya nangis.

"Aku mau pulang!"

"Pulang kemana?"

"Ke rumah lah."

"Ini juga rumah, emang menurutmu istanah?"

Hiiihh! Kalo aja aku sehat udah kujambak itu brewoknya yang gondrong. Akupun membalikkan badan males lihat mukanya. Dia juga nggak ada tuh ngebujuk apa gimana. Malah pergi ninggalin aku. Sebel deh! Padahal kan kalo lagi sakit begini aku pengennya dimanja.

.

Pintu dibuka dari luar. Aku masih memalingkan muka males sama si Kang Ipul. Tapi ternyata yang masuk ibu mertua.

"Panas banget, presan wae ya, Nduk?" (Panas banget, priksa aja ya, Nak?)

"Pengen maem apa?" tanyanya lagi.

Aku nggak ngejawab cuma maksa diri buat senyum. Kalo lagi begini, biasanya dibeliin jenang candil. Soalnya mulut rasanya pahit. Jadi makannya yang manis-manis.

Beberapa menit berlalu, Kang Ipul datang. Dia membawa mangkok yang sepertinya berisi bubur.

"Maem ya, Nduk, biar Ipul yang nyuapi, Mbo'e tak njangan disit." Wanita itu lalu keluar. Tinggallah sekarang aku dan Kang Ipul. Dia menyendok bubur, lalu mengarahkan ke mulutku. Aku memalingkan wajah. Mending nggak usah makan daripada disuapi dia.

"Nggak mau, Nih? Yaudah!" Dia lalu menyuapkan bubur ke mulutnya sendiri. Lalu memakan dengan lahap sampai habis.

Tiba-tiba aku menelan liur melihat yang dia makan itu jenang candil alias bubur sum-sum. Ya Allah, tega bener ni orang makan dengan lahap di depan istrinya yang lagi sakit. Dasar suami dzolim. Aku sumpahin hidupnya ribet.

Setelah menghabiskan satu mangkok bubur, diapun keluar. Kemudian masuk lagi dengan mangkok lain.

Tanpa bilang apa-apa, dia mengangkat tubuhku, nyandarin ke tembok yang sudah dikasih bantal. Lalu tanpa banyak kata, dia menyuapiku. Herannya, aku manut aja. Sampe di suapan terkhir, perutku mual. Aku memuntahkan isi perut di bajunya. Dia kaget, tapi nggak ada muka marah apa kesel. Kan bikin aku ngerasa bersalah. Mau bilang maaf tapi gengsi.

Laki-laki itu bangkit, bukannya membersihkan diri malah mengambil kain lap untuk membersihkan bajuku yang kena muntahan, padahal bajunya lebih kotor. Setelah itu dia membuka bajunya di hadapanku tanpa sungkan. Membuatku memalingkan wajah melihat dada bidangnya yang berbulu.

"Maksudnya apa coba, buka-bukaan di depanku, mau lihatin perutnya kotak-kotak gitu?" gerutuku dalam hati sambil menahan jantung yang mau koprol.

"Bajumu kotor, bisa ganti sendiri?" Laki-laki itu bikin kaget lagi karena tiba-tiba udah nyodorin pakaian. Dia juga sudah mengganti baju.

"Gak bisa," jawabku asal.

"Yaudah sini aku gantiin!"

Heh!

Aku melotot. Tadi sengaja ganti baju di depanku, sekarang mau gantiin baju, ketahuan banget cari kesempatan.

*

"Apa Yunita meteng ya, Pul?" (apa Yunita hamil, Pul) tanya Ibu mertua yang nggak sengaja kudengar. Kang Ipul nggak ngejawab. Tebakanku si dia cuma senyum doang. Hamil dari mana coba, wong tidur juga pisahan terus. Lagian aku masih bocil, belom pengen hamil.

"Jangan-jangan dia udah anu sama orang lain, Pul? Masa baru mbojo berapa hari udah meteng?" Perkataan Ibu mertua bikin aku melotot. Bisa-bisanya.

"Hush, Mbok! Ampun su'udzon, Yunita itu masih perawan, dia itu masuk angin biasa bukan hamil." Kang Ipul menyangkal ucapan ibunya.

"Hehe iya, ya, kan pas malem pertama dia kesakitan sampe nangis di kamar mandi ya."

"Nah iya."

"Sekarang masih kesakitan nggak, apa udah mulai enak?"

Ya ampun, pertanyaan macam apa itu. Bikin geli.

.

Hampir satu minggu aku masuk angin. Sekarang keadaanku mulai membaik. Keluarga Kang Ipul baik. Ibu mertua juga perhatian. Dia rajin menengokku di kamar. Membawakan buah-buahan dan juga cemilan.

Sedangkan Bapak dan Mamak nggak ada yang menghubungiku. Mungkin karena sinyalnya susah. Padahal aku kangen banget. Beberapa kali aku mencoba menghubungi mereka, tapi kadang nyambung kadang enggak.

Kang Ipul rajin merawatku selama sakit. Dia tidak ke pergi ke sawah maupun ke pasar karena menjagaku. Setiap hari laki-laki itu menyuapiku. Meski aku sering pura-pura menolak, tapi dia bisa bikin aku nggak berkutik. Kalo aku nggak nolak, dia mau buka baju. Aku kan jadi takut, jadi terpaksa nurut.

.

"Udah baikan?" tanya kang Ipul saat aku sedang duduk sambil nonton tivi.

"Hmm." Aku nggak banyak ngomong cuma berdehem aja.

Laki-laki itu mengangkat tangan, mau nyentuh dahiku, tapi segera kutepis. Enak aja mau pegang-pegang.

"Boleh aku tanya?"

"Apa?" Aku langsung nge-gas. Kayaknya udah sembuh beneran nih. Yes bisa memulai siasat untuk kabur.

"Kamu kenapa mau nikah sama aku?"

"Terpaksa!" jawabku.

"Oh, sama."

"Ya kalo sama-sama terpaksa kenapa kamu nggak batalin aja waktu itu.

"Ya suka-suka akulah," jawabnya sambil beranjak mau pergi.

Aku segera menyusulnya, enak banget jawabnya gitu. Nggak terima aku dikatain terpaksa. Kutarik kausnya dari samping sampe dia terhuyung dan menabrakku. Aku yang nggak siap pun oleng dan kami jatuh bareng di atas amben dengan posisi dia di atasku.

"Ealah Pul ... Pul, mbok ya di kamar."

Ibu Mertua tiba-tiba udah di depan pintu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Drama Ulat

    Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bom Atom

    Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Balik Maning

    Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bertemu Mantan Rival

    "Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Penampakan

    "Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Kabur Aja Dulu

    "Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status