Share

Drama Ulat

last update publish date: 2026-10-01 22:10:05

Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku.

"Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul.

"Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini.

"Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin.

.

"Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitraan.

Meskipun sebenarnya males banget, apalagi cuaca dingin disini enak banget buat ngumpet di dalam selimut, tapi setidaknya aku pengen meninggalkan kesan baik sama mertua kalau nanti aku berhasil kabur.

"Wes ben Mbo'e bae sing ngasai!" (udah biar ibu aja yang nyuci piring) Ibu mertua mengambil alih kerjaan. Wanita yang suka dengerin agu dnagdut itu mencuci piring sambil nyanyi lagu Ayu Ting Ting.

Akupun mundur-mundur cantik, dia sendiri yang minta, ya jadi dikasih aja dengan suka rela. Daripada rebutan kan nggak baik. Mending aku yang ngalah. Iya kan?

.

Ternyata nggak ada Kartika bosen juga. Bingung mau ngapain. Biasanya kan dia suka ngajakin jajan, anaknya juga cerewet suka cerita ini itu. Sekarang dia udah balik ke kosan. Padahal sekolah udah lulus, tapi masih betah aja ngekos. Alesannya sambil nunggu pengumuman dan persiapan kuliah. Padahal sebenarnya dia nggak mau disuruh bantuin kerjaan rumah atau sawah.

"Nek kelamaan di rumah nanti disuruh ngalas," ucapnya kemarin pas mau berangkat ngekos. Aku jadi kaya pengen ikut. Harusnya aku juga begitu sekarang. Kuliah sama ngekos. Tapi sayangnya biaya kuliah nggak ada. Bapak sama Mamak nggak sanggup. Karena sudah capek biayai kuliah Mbak Santi sampe jual sawah. Tapi malah nggak jadi apa-apa. Akhirnya aku yang jadi korban.

Sebenarnya sekolah SMA juga mereka kaya udah pesimis. Tapi untung aku dapat beasiswa. Walaupun beasiswa miskin nggak apa-apa yang penting sekolah. Meskipun uang saku juga pas-pasan. Kadang malah cuma cukup buat naik angkot aja. Kadang kerja apa aja seadanya: bantu penjahit nyetrika atau masang kancing, tapi nggak tau kenapa, kerjaanku kaya nggak pernah beres. Padahal menurutku udah sesuai arahan, tapi masih kurang aja. Emang dasar dianya yang kurang bersyukur.

.

Aku meniup tungku menggunakan bambu kecil yang biasa disebut semprong. Kebetulan Ibu mertua kebelet. Jadi dia nitip masakan biar kutunggui. Katanya tinggal nunggu mateng.

Kayu bakar seharusnya dijaga supaya api tetap stabil. Tapi aku terus menambah kayu bakar dan meniup dengan semprong sehingga api tambah besar. Awalnya aku ngerasa berhasil, tapi lama-lama panik melihat api yang semakin besar.

Aku berdiri. Bingung mau gimana, sementara air dalam masakan sudah semakin berkurang. Aturannya apinya dikecilin atau dimatiin biar nggak gosong, tapi aku nggak ngerti cara ngecilin api di tungku. Kalo pake kompor mah gampang, tinggal puter tombolnya. Lah kalau ini Apanya yang mau diputar? masak kayunya diputar.

Aroma gosong udah mulai tercium bikin aku tambah panik. Sementara api makin besar. Kayak mau kebakaran. Satu-satunya cara buat matiin api ya itu dengan air. Aku berlari mengambil air dengan gayung. Lalu menyiramkan ke atas tungku. Akhirnya api padam. Tapi wajan berisi masakan sudah gosong dan sekarang ditambah air yang kusiram memenuhi wajan. Kacau sudah.

"Loh ini kenapa, Nduk, ada angin topan?" Ibu Mertua udah kembali dengan wajah kaget. Matanya melebar rambutnya naik kaya di film kartun. Aku memejamkan mata. Pasrah. Perlahan mulai menghitung mundur siap untuk diomeli.

Tiga ...

Dua ...

Satu ....

"Wahahaha." Wanita yang suka goyang inul itu malah terbahak. Kupikir dia akan marah kaya di sinetron ala mertua jahat. Tapi malah reaksinya di luar prediksi BMKG. Dia ngakak sambil memegang perutnya sampai kentut.

"Ealah, Nduk ... Nduk, malah pasaran," ucapnya bikin aku kikuk.

"Ngapunten, Mbok, tadi kaya mau kebakaran, makanya tak siram air." Aku tambah bingung melihat reaksi Ibu Mertua.

"Yawes, ora papa, untung cuma sedikit, yang lain wes mateng, yok sarapan bae ben kuat menghadapi rumput tetangga!" Wanita itu mengajakku sarapan. Para laki-laki sudah berangkat lebih pagi ke sawah. Sementara Ibu memasak untuk dikirim ke sawah nanti.

Setelah sarapan bersama, Ibu menawariku ikut ngirim ke sawah. Daripada gabut di rumah sendirian, akupun ikut. Sambil memantau kegiatan harian di rumah ini apa aja. Siapa tahu nanti sudah punya tenaga untuk minggat.

.

"Nah itu bojone Mas Ipul udah nyusul, uhuyyy, nganten anyar ...," ledek salah seorang yang sepertinya bekerja di sawah.

Kupikir, Kang Ipul dan bapaknya cuma berdua di sawah, tapi ternyata ada beberapa pegawai yang membantu disana. Mereka sedang memetik cabai.

"Mas Ipul nyegat di pojokan sana, monggo Mbak Yun nek mau nyusul, disuruh istirahat kang masnya," ucap seorang Ibu dengan ramah. Beberapa pegawai lainnya yang terlihat masih muda menatapku dengan julid. Nggak tau ada masalah apa sebelumnya. Padahal kan kita nggak kenal.

Aku berjalan sangat hati-hati. Seumur-umur nggak pernah bantuin di sawah. Kan bapakku gak punya sawah, jadi mau bantu siapa? Tetangga juga nggak mau aku bantuin. Malah aku suka diusir kalo masuk sawah karena nginjekin tanaman.

Dulu sih pernah waktu kecil ke sawah. Sama teman-teman metik jambu biji. Temenku yang manjat, aku nunggu di bawah. Dia enak dapet mateng langsung makan di atas. Giliran yang busuk dilemar ke aku. Mana kena pas kepala lagi. Apes emang. Lebih apesnya lagi, yang punya datang dan aku yang kaget karena diteriaki, langsung lari sampe nabrak pohon cabe.

"Aduh!" Aku menggaruk tumit dengan jempol kaki. Tiba-tiba gatel kena rumput.

"Kemayu!" Terdengar salah seorang berbisik awaktu aku garuk-garuk. Kalo dilihat-lihat dia masih seumuran sama aku, tapi kok udah kerja buruh jadi petani ya.

Ah bodo amat. Aku lanjut jalan. Ini sawah berapa luas si, kok gak ketemu-ketemu sama pojokan yang dimaksud ibu-ibu tadi.

Sambil jalan, aku noleh kanan-kiri. Takut ada ulat bulu. Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang merambat di lenganku. Aku berjingkat sambil menjerit.

"Ulaat ...!" Aku menjerit sambil menutup mata saking takutnya. Mahluk itu masih kerasa merambat di punggungku membuatku semakin histeris. Dalam hati aku berdoa. Siapun yang nolong akan aku cintai sampai mati.

Saat aku lompat-lompat kaya pocong, tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan mengambil ulat itu lalu membuangnya.

"Udah nggak usah takut!" ucapnya. Aku membuka mata. Jadi aku harus mencintai dia sampai mati? Tolonglah, Doraemon, pinjem mesin waktu bentar aja buat ralat

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Drama Ulat

    Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bom Atom

    Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Balik Maning

    Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bertemu Mantan Rival

    "Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Penampakan

    "Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Kabur Aja Dulu

    "Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status