Compartir

O'ow

last update Fecha de publicación: 2026-10-02 20:25:36

“Lain kali kalo ke sawah jangan pake baju pendek!” ucap Kang Ipul sambil melepas pelukan. Eh tunggu. Dia meluk aku? Kampret! Sial kuadrad dong aku hari ini.

“Emang kenapa kalo pake baju pendek?” Aku bertanya ketus sambil menepuk bajuku. Enak aja mau ngatur hidupku.

“Banyak semak-semak, nanti lengan kamu kegores, perih dan gatel,terus kena sinar matahari juga nanti item, mau?” Wajahnya maju lebih dekat, membuatku segera mundur.

Aku Cuma memutar bola mata. Sok perhatian banget deh. Bilang aja modus.

“Lagian ngapain ke sawah, emang kamu udah sembuh beneran?”

“Udah!” Aku membuang muka. Pura-pura memilih cabai yang siap di petik. Menengok kanan-kiri. Sawah ini cukup luas dengan ditamai cabai keriting dan cabai setan yang tumbuh subur dan tinggi. Lahan sebelahnya juga sebagian besar ditanami cabai.

“Terus apa bisa bantu?”

Diih, nyepelein dia. Nggak tau aja dia. Gini-gini juga aku nggak bisa apa-apa.

“Bisalah, paling metik cabe, sepele!” ucapku sombong. Padahal nggak ngerti urusan percabean. Taunya cabe-cabean.

“Baguslah kalo gitu, kamu bisa bantuin metik cabe nanti nyegat dari pojokan sebelah barat sama aku, yang lain dari timur nanti biar ketemu di tengah-tengah.” Laki-laki itu lalu berjalan ke arah gubug tempat orang-orang ngumpul buat makan. Karena takut ada ulat lagi, aku mengikutinya.

.

“Bojone Mas Ipul bocah dari mana si, kok kemayu banget kaya anak ningrat aja,” bisik seseorang yang bisa kudengar.

“Nggak tau kayane daerah kabupaten si.”

Aku noleh sebentar ke arah mereka dan mereka langsung saling sikut sambil mengangguk dan tersenyum canggung ke arahku. Ternyata di nggunung banyak spek Bu Tedjo juga. Awas aja kutandai wajah mereka. Kalo perlu tandain pake spidol permanen biar tau rasa.

.

Selesai sarapan, orang-orang kembali bergerak memetik cabe lagi. Aku dan Kang Ipul disuruh barengan metiknya. Katanya biar romantis. Apaan romantis kok di sawah. Meskipun memang tempat ini cukup adem. Persawahan dengan view Gunung Sumbing yang gagah di depan mata. Kalau disyuting menggunakan drone dan diunggah di media sosial bakalan rame. Tapi tetap saja. Nggak ada kata romantis bagiku. Apalagi dengan Kang Brewok yang sangat iyuch.

“Metiknya yang cabe merah aja,” ucap Kang Ipul.

“Iya tahu!”

“Yang sudah semburat orange juga dipetik aja,”

“Iya, tahu!”

“Daunnya jangan ikut dipetik juga.”

“Iya, tahu, bawel banget deh!”

“Kalo sampe depan pohon pisang jangan lupa permisi, ada penunggunya.”

“Iya, tahu—“

Eh gimana? Aku celingukan. Di ujung sana memang ada pohon pisang yang berada di pinggiran. Aku menelan ludah. Kok jadi merinding si.

“Emang beneran ada penunggunya, Om eh Kang?” tanyaku pelan-pelan.

“He’em, bekicot.”

Asem. Kirain demit. Tapi sama aja ngeri sih. Jadi aku harus tetep deketan sama Kang Ipul, biar nanti ada yang nolongin kalo ada binatang melata lagi.

.

“Nih pake ini biar nggak kepanasan!” Kang Ipul memberikan caping gunung: topi berbentuk segitiga yang terbuat dari rotan. Dia melepaskan dari kepalanya lalu memberikan padaku.

“Nggak usah, Om eh Kang.” Aku pura-pura nolak. Padahal aslinya keringatku sudah netes-netes di dahi. Belum lagi wajah yang entah sudah seperti apa karena terkena debu yang diterbangkan angin. Mungkin sekarang sudah mirip pulu-pulu.

“Pake aja, kamu baru sembuh, nanti malah sakit lagi, nanti habis ini pulang aja sampe setengah hari.”

Duh! Diperlakukan kaya gini kok kaya ada yang meleleh tapi bukan eskrim. Orang tuaku saja nggak begitu. Mereka ya tetep perhatian sama aku, tapi kok beda ya kalo laki-laki yang giniin. Bapakku juga laki-laki dan perhatian. Tapi kenapa rasanya beda. Ada asin-asinnya gitu.

Ngomong-ngomong soal orang tua, kok aku jadi kangen ya. Mereka kangen juga nggak ya sama aku. Kok nggak pernah menghubungi. Apa sebenernya mereka kangen tapi terhalang sinyal ya. Soalnya aku juga kemarin waktu mau nelepon sinyal nggak ada, harus keluar rumah dulu. Kalo kata Tika si disini yang gampang sinyalnya pake simerah. Tapi kan mahal. Makanya aku tetep bertahan sama kartu lama. Sayang juga mau ganti. Sayang duwitnya buat beli kartu perdana lagi.

.

Angin tiba-tiba datang cukup kencang. Bikin debu-debu semakin banyak beterbangan. Mataku kelilipan. Seketika tanganku langsung ngucek mata tanpa ingat lagi metik cabe. Akhirnya mataku perih kepedesan. Aku setengah menjerit membuat Kang Ipul tergopoh-gopoh mendekatiku.

“Kenapa, Yun, kelilipen?” Dia mendekatkan wajah, meniup mataku pelan-pelan setelah melepas kaus tangan. Aku berkedip dan mengeluarkan air mata.

Kami duduk di bawah pohon cabai yang cukup rimbun tapi nggak begitu tinggi. Hanya sekitar daguku panjang pohonnya.

“Perih, Kang tanganku kena cabe malah buat ngucek mata jadinya pedes,” keluhku.

Dia malah menahan tawa. Sejenak kemudian mengambil kain dari saku lalu menyiram dengan air putih, kemudian dia kompreskan ke mataku. Cukup adem si, meskipun nggak langsung sembuh kaya di film-film.

Wajah kami cukup dekat membuatku bisa melihat mata tajamnya dengan jelas. Karena dia mengenakan masker warna hitam jadi Cuma mata dan alis tebalnya yang bisa kulihat. Tapi aku jadi berasa kaya lagi dikompres sama Kakashi. Duuhh mana itu tokoh favoritku lagi. Kok bisa jadi deg-degan gini ya.

“Lah ... panen lombok disambi yang-yangan, kapan rampunge?” Suara Bapak mertua bikin kami kikuk. Berasa ketahuan nyuri apa gitu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   O'ow

    “Lain kali kalo ke sawah jangan pake baju pendek!” ucap Kang Ipul sambil melepas pelukan. Eh tunggu. Dia meluk aku? Kampret! Sial kuadrad dong aku hari ini. “Emang kenapa kalo pake baju pendek?” Aku bertanya ketus sambil menepuk bajuku. Enak aja mau ngatur hidupku. “Banyak semak-semak, nanti lengan kamu kegores, perih dan gatel,terus kena sinar matahari juga nanti item, mau?” Wajahnya maju lebih dekat, membuatku segera mundur. Aku Cuma memutar bola mata. Sok perhatian banget deh. Bilang aja modus. “Lagian ngapain ke sawah, emang kamu udah sembuh beneran?”“Udah!” Aku membuang muka. Pura-pura memilih cabai yang siap di petik. Menengok kanan-kiri. Sawah ini cukup luas dengan ditamai cabai keriting dan cabai setan yang tumbuh subur dan tinggi. Lahan sebelahnya juga sebagian besar ditanami cabai. “Terus apa bisa bantu?”Diih, nyepelein dia. Nggak tau aja dia. Gini-gini juga aku nggak bisa apa-apa. “Bisalah, paling metik cabe, sepele!” ucapku sombong. Padahal nggak ngerti urusan per

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Drama Ulat

    Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bom Atom

    Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Balik Maning

    Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Bertemu Mantan Rival

    "Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Penampakan

    "Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status