Share

61. Jangan Pergi

Author: Arira
last update publish date: 2026-05-13 21:28:59

"Harka." Sebuah kemajuan di mana Safir bisa berbicara lebih dalam berdua dengan Harka. Pada awalnya dia sangat ketakutan dengan kapten Eight itu, tapi sejak Harka terus mendorongnya maju, batas diantara keduanya juga menjadi pecah hingga menghilang. Hanya saja, benarkah itu tidak bisa abadi? Safir menekan-nekan jarinya sendiri. "Aku juga nolak keputusan itu ... aku mungkin orang luar yang gak tahu apa-apa, cuman tahu sekilas dan garis besar, tapi aku ngerti gimana perasaan mereka yang gak mau k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Safir dan Delapan Berandal   69. Kutukan Akhir

    "Kenapa saya?" Harka langsung melontarkan pertanyaan, nadanya jelas tidak menyetujui, ada pemberontakan di sana."Karena Neyna tidak bisa." Andre menatap anaknya sendiri, kemudian kembali pada Harka. "Anak saya hanya satu--Neyna. Tetapi ada kamu yang hadir di sini, maka kamu yang akan meneruskan saya. Tidak perlu cemas, Harka. Sean dan Sam juga seperti kamu, mereka akan melakukan bimbingan untuk ke depannya. Makanya, kalian harus sering meluangkan waktu dan pergi bersama anak buah saya. Dimulai bulan depan."Harka rasanya tak bisa menghirup udara. Dia ingin keluar, dia ingin berlari dan membuang semuanya. Namun, bagaimana itu terjadi? Dengan memberontak? Tentu saja.Tak ada getar dalam tatapan matanya. Seringai yang tak pernah tampil di hadapan Andre jadi keluar. "Saya tidak mau. Hubungan Anda hanya dengan Ayah saya. Anda tidak punya hubungan apa-apa dengan saya.""Harka!" Dion melotot, tidak menduga akan jawaban yang didengar dari mulut anaknya. Seharusnya Harka tidak berani berlaku

  • Safir dan Delapan Berandal   68. Bicarakan Bersama

    "Ayah." Dengan susah payah Safir berbicara, kepalanya tetap tak bergerak selain bola mata yang mengikuti pergerakan kendaraan lain yang melaju di samping kiri mobil Ferdi. "K-kalau ayah gak bilang semua ini ... aku bakalan terus anggap ayah itu orang jahat."Ferdi meneguk ludahnya susah payah. Wajar Safir menganggapnya begitu. Safir pasti bingung akan perubahan sikap Ferdi padanya. Ferdi frustrasi, antara Sophia yang memiliki perasaan karena waktu yang mereka habiskan bersama, dan juga Diana yang sudah dia raih sebagai pasangannya. Ferdi hanya ingin memilih apa yang dia inginkan, dia ingin bersama Diana tanpa Sophia yang terus datang menyatakan perasaan yang memaksa.Hingga tanpa sadar, semua kerumitan itu merugikan Safir, membuat tindakannya tak terkendali dan melupakan janji bahwa dia yang bertanggung jawab dan harus berlaku baik pada satu-satunya anak dari kakaknya. Ferdi begitu keterlaluan dengan melampiaskan semua pada seorang remaja."Ini pasti berat buat Ayah." Isakannya tak bi

  • Safir dan Delapan Berandal   67. Ayah Menjemput?

    Sudah begitu lama Ferdi tidak menuruti kemauan anak yang biasanya merengek meminta diantar pergi ke sekolah. Apalagi ketika awal-awal masuk. Sayangnya Ferdi enggan, menolak berulang kali, dan menyakitinya terus tanpa disadari. Pagi ini mendung, kota Bandung tak menunjukkan senyum mentari ketika dia mendongak ke atas. Ferdi tak berkomentar, tak pula menebak apakah akan turun hujan atau tidak. Sekarang yang dilakukannya adalah menunggu kedatangan sosok anak pertamanya.Hari ini Benji dan Tania diantarkan sopir, untuk pertama kali dia menyerahkan dua anak itu pada sopir rumah sementara dirinya hendak mengantar seseorang yang kini keluar lengkap dengan seragam.Seperti kota ini sekarang, mendung, muram, Safir yang keluar hendak menuju garasi bahkan tidak menatap Ferdi sama sekali."Safir."Suara yang tidak ingin Safir dengar hari ini. Semalam dia sudah ditenangkan oleh tujuh anggota Eight sekaligus. Tujuh cowok yang mencoba menghiburnya mati-matian, membuahkan hasil hingga Safir merasa te

  • Safir dan Delapan Berandal   66. Bersama Eight

    "Gue manggil mereka biar gak sepi, seenggaknya gak diem doang di sini." Tatapan Yasa mengarah pada Safir yang masih duduk di sofa, tapi bukan di ruang tamu, ini ruangan yang biasa digunakan ketika Eight berkumpul.Apa yang dimaksud Yasa barusan adalah dia mengundang Eight untuk datang malam ini. Yasa tidak terlalu bisa menangani hal-hal yang berkaitan dengan menghibur orang atau membuat mereka tertawa. Yasa bukan ahlinya."Gue bukain pintu dulu," ucap Yasa yang diangguki oleh Safir.Hanya suara dari televisi yang menemani, Safir mengeratkan selimut yang tadi dibawakan oleh ayahnya Yasa untuknya, lalu mengembuskan napas perlahan. Safir keluar dari rumah ketika Ferdi dan Diana ribut di rumah. Dia yang butuh menenangkan diri, tidak kuat berada di sana terus menerus. Bahkan dia tidak mampu menghampiri Tania yang menangis atau Benji yang menatap bengis. Safir kabur, tepat ke rumah yang dekat dengan rumahnya. Setidaknya nanti, Ferdi tidak akan tahu ke mana tujuan Safir.Safir tersadar dari

  • Safir dan Delapan Berandal   65. Jadi Terungkap

    Safir sekarang tahu jawaban jelasnya. Hal-hal buram yang membuatnya bertanya-tanya sudah menjadi kejelasan hingga rasa sakit menggila dalam diri. Pantas saja wanita yang dia anggap ibu kandungnya pergi begitu saja tanpa mau melihat, pantas saja pria yang dia akui sebagai ayah kandungnya pun berubah sikap. Sebab semuanya hanyalah kepalsuan, permainan, drama yang dilakukan dipanggung tanpa Safir ketahui.Alasan Safir merasa benar-benar sendiri, karena memang dia berdiri sendirian.Tak ada yang bisa dibantah dari semua itu, kedua tangannya terangkat menutupi wajah, tak bisa menghentikan getar yang tak menyenangkan dalam hati, semakin menenggelamkannya ke dasar.Melihat semua itu, Ferdi terdiam dengan rahang mengetat juga kedua tangan yang mengepal kuat.Kini, pandangannya beralih kembali pada Diana yang bergeming tegang, penuh rasa sesal, juga takut yang bergejolak.Hingga pada akhirnya, Ferdi berlutut, meraih kedua pundak Safir dan menariknya mendekat, lalu ia berikan pelukan hangat. Be

  • Safir dan Delapan Berandal   64. Bukan Anaknya

    Seminggu ini dihabiskan dengan belajar, belajar, dan belajar, sampai jadwal ujian akhirnya dilepas dari papan coklat muda di depannya. Safir mengembuskan napas dengan lega, akhirnya ujian dilewati dan dia bisa menghirup udara sebanyak mungkin dengan perasaan bebas, tidak terbebani karena harus mengingat setiap materi, memahami kembali, lalu melatih kemampuan dengan mengerjakan soal-soal yang tiada ujungnya.Bersandar di kursi birunya, Safir menatap langit-langit kamar, mulai bertanya-tanya kesibukan apa yang harus diambil setelah ini? Sebab dia tidak mau mendekam diri di kamar atau tinggal di rumahnya.Apa mungkin dia harus mengambil keputusan untuk memulai kerja? Jika kuliah, butuh biaya besar, dan sudah pasti ayahnya yang akan mengurus. Namun, benarkah Ferdi masih ingin mengurusnya?Ketakutan akan masa depan tidak dapat dihindari, apalagi bagi mereka yang sudah di tingkat akhir seperti ini. Tidak ada yang membimbing membuatnya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana langkah selanjutnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status