ホーム / Romansa / Saingan Setengah kertas / Bab 7: Anomali di Luar Naskah

共有

Bab 7: Anomali di Luar Naskah

作者: Akuaja
last update 公開日: 2026-08-11 19:50:57

Sedan hitam klasik yang dikemudikan Arka melaju mulus membelah jalanan kota yang kembali normal. Sisa-sisa garis kode teks merah dan hijau di langit senja telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh langit malam berbintang yang tenang. Tidak ada lagi suara noise digital atau pemandangan bangunan yang terurai menjadi piksel.

Di kursi penumpang depan, Kinan menyandarkan kepalanya pada jendela, membiarkan angin malam menyapu wajahnya setelah ketegangan luar biasa di markas PT Sinar Abadi.

Sementara itu, Rian masih terpaku menatap layar ponselnya yang menampilkan satu baris teks asing berukuran mikro. Baris kode itu tidak berasal dari draf novel yang ia tulis.

"[Peringatan: Root sistem tidak dikenal mendeteksi anomali baru di luar bab ini.]"

Rian mengerutkan kening, jari-jarinya dengan cepat mengetuk tombol back untuk menutup sistem, tetapi layar ponselnya justru bergetar hebat. Huruf-huruf di atas layar bergeser sendiri membentuk kalimat baru:

[Bab Tambahan: Karakter Pengamat Tidak Diundang.]

"Ada apa, Rian?" tanya Arka dari balik kemudi, melirik sekilas lewat kaca spion tengah melihat ekspresi tegang di wajah sang penulis. "Dokumen dan flash drive-nya aman di dalam jaketku. Kita sudah lepas dari zona merah paman." Sambungnya.

"Bukannya masalah dokumen, Arka," jawab Rian pelan, suaranya terdengar dingin.

"Sistem fiksi ini... tidak menutup dirinya secara utuh setelah reset bab enam." Ia menutup dialog aksinya.

Sebelum Arka sempat meminta penjelasan lebih lanjut, lampu-lampu penerangan jalan di sepanjang tol layang yang mereka lewati mendadak berkedip serempak, dari warna kuning hangat menjadi putih menyilaukan.

Mesin mobil kehilangan tenaga secara drastis, membuat laju kendaraan melambat perlahan hingga akhirnya berhenti total di tengah jembatan sepi.

"Sial, kenapa mesinnya mati?" Arka memutar kunci kontak berulang kali, tetapi indikator dasbor hanya menampilkan garis lurus tanpa nyawa.

Kinan menegakkan tubuhnya, matanya membelalak menatap pemandangan di luar jendela.

"Arka... Rian... lihat ke depan."

Di ujung jalan tol yang gelap, lampu-lampu kota seketika padam. Dari dalam gulita malam, sesosok bayangan tinggi mengenakan mantel panjang hitam berjalan mendekat ke arah mobil mereka.

Langkah kaki sosok itu tidak menghasilkan suara di atas aspal, melainkan diikuti oleh suara ketukan tombol keyboard mekanis yang menggema di udara terbuka, ketukan itu menekan tombol keyboard itu sendiri klik, dan klik, lalu enter.

"Itu... Bukan bagian dari alur cerita yang kutulis," ucap Rian dengan napas tercekat, merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Sosok misterius itu berhenti tepat di depan kap mesin sedan. Di bawah temaram cahaya bulan yang terdistorsi, sosok tersebut mengangkat tangan kanannya, dan sebuah jendela antarmuka transparan berukuran raksasa melayang di udara, memunculkan kursor merah yang berkedip tepat mengarah ke mobil mereka.

Cahaya merah dari jendela antarmuka raksasa itu memantul di kaca depan sedan, menciptakan bayangan menyeramkan di wajah Arka dan Kinan.

Kursor melayang kaku, lalu berhenti tepat di atas atap mobil mereka, seolah-olah sedang bersiap untuk menekan tombol Delete.

"Keluar dari mobil! Sekarang!" teriak Rian panik sambil mendorong pintu sampingnya hingga terbuka lebar.

Tanpa pikir panjang, Arka dan Kinan langsung merunduk dan melompat keluar dari kendaraan, berguling di atas aspal tol yang dingin. Belum sempat mereka berdiri sempurna, suara hantaman keras terdengar nyaring.

“Bum!”

Sedan hitam klasik tempat mereka duduk sedetik lalu lenyap tak bersuara, menyisakan ruang kosong berbentuk kotak transparan tempat mobil itu tadinya berada.

Sosok berjas hitam di depan mereka baru saja mengeksekusi perintah penghapusan objek.

"Dia... dia menghapus mobilnya?!" seru Kinan dengan mata terbelalak, napasnya memburu ketakutan.

Sosok bermantel panjang itu perlahan menolehkan kepalanya. Wajahnya tertutup kabut putih berpiksel, membuat fitur wajahnya mustahil dikenali. Namun, suara mekanis yang dingin dan berat langsung bergema di kepala mereka bertiga, tanpa gerakan bibir sedikit pun.

"Kalian telah menyimpang dari skrip utama. Penulis amatir dan dua figurnya berani merusak batasan dunia simulasi ini." Suara sangat berat yang terdengar memang suara voice over mekanik digital terdengar dari sosok bermantel hitam ini.

Mendengar suara itu, Rian melangkah maju menempatkan dirinya di depan Arka dan Kinan. Meskipun lututnya bergetar hebat, naluri seorang pencipta cerita mengambil alih. Ia tahu persis siapa atau apa entitas di hadapannya ini.

"Kamu bukan karakter dalam novelku," kata Rian lantang, mencoba menutupi rasa gentarnya.

"Kamu adalah System Administrator, yang merupakan program pembersih otomatis yang bertugas mereset dunia ini saat terjadi bug permanen!" tukas Rian lugas.

Sosok berjas hitam itu mengangkat tangannya sekali lagi. Jendela antarmuka berubah warna dari merah menyala menjadi biru tua, memunculkan baris-baris kode skrip baru yang bergerak cepat ke atas.

"Benar. Dan kalian bertiga adalah bug yang harus segera di-patch," jawab entitas itu dingin.

Kursor merah kini mengunci langsung ke arah Rian, memancarkan sinar laser tipis yang mulai mengikis ujung sepatu Rian menjadi partikel debu digital.

"Rian!" teriak Arka histeris, hendak menerjang maju untuk menarik sahabatnya.

Tetapi sebelum laser itu menyentuh lutut Rian, Kinan dengan sigap meraih tangan Rian, dan membawanya berlari kencang menjauh dari tempat tersebut.

Sedangkan Arka yang Rian plot sebagai tokoh utama pria dalam naskahnya, malah di biarkan tertinggal oleh Kinan. Namun secara naluri Arka tidak tinggal diam.

Sebuah keinginan untuk bertahan hidup terlihat dengan jelas dan sangat kuat, benar-benar sosok tokoh utama dalam cerita Ia begitu tangguh, hingga akhirnya kecepatan larinya melampaui Kinan dan Rian.

Ia terus berlari kencang meninggalkan sosok pembuat ceritanya, dan juga tokoh pasangan utamanya. Arka mode survival benar-benar mengundang rasa heran Kinan.

Wanita tersebut seolah tidak percaya oleh apa yang dilihatnya.

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Saingan Setengah kertas   Bab 8: Sifat Dasar Wanita

    "Dasar cowok egois," teriak Kinan ketika mereka berhasil memasuki salah satu ruangan bertingkat di kota Lumina."Kamu tega ninggalin aku," tambah Kinan kepada Arka, tetapi tangannya masih tetso memegang Rian. Rian yang mendengar hal itu tersenyum dalam hati. Ia menyadari bahwa, ternyata memang benar sifat wanita memang benar seperti itu, tanpa ia harus menulisnya ke dalam naskah ceritanya tersebut. Arka yang mendengar omelan Kinan, hanya bisa diam, sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia hanya menyimak sambil terus mencari tempat perlindungan yang lebih baik. Beberapa rak buku dan meja ia coba geser untuk menghalangi pintu ruangan tersebut."Sudah Kinan, kita tidak punya waktu untuk meributkan hal itu! Lagian kamu juga tadi kan bareng sama Rian, jadi aku pikir bakal aman," jelas Arka, mulai mengambil beberapa barang untuk menutupi pintu tersebut. Bahkan tempat Sampah plastik yang tidak memiliki berat yang signifikan, ia letakkan di atas meja tersebut."Iya, tapi tetap s

  • Saingan Setengah kertas   Bab 7: Anomali di Luar Naskah

    Sedan hitam klasik yang dikemudikan Arka melaju mulus membelah jalanan kota yang kembali normal. Sisa-sisa garis kode teks merah dan hijau di langit senja telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh langit malam berbintang yang tenang. Tidak ada lagi suara noise digital atau pemandangan bangunan yang terurai menjadi piksel. Di kursi penumpang depan, Kinan menyandarkan kepalanya pada jendela, membiarkan angin malam menyapu wajahnya setelah ketegangan luar biasa di markas PT Sinar Abadi. Sementara itu, Rian masih terpaku menatap layar ponselnya yang menampilkan satu baris teks asing berukuran mikro. Baris kode itu tidak berasal dari draf novel yang ia tulis."[Peringatan: Root sistem tidak dikenal mendeteksi anomali baru di luar bab ini.]" Rian mengerutkan kening, jari-jarinya dengan cepat mengetuk tombol back untuk menutup sistem, tetapi layar ponselnya justru bergetar hebat. Huruf-huruf di atas layar bergeser sendiri membentuk kalimat baru: [Bab Tambahan: Karakter Pengamat

  • Saingan Setengah kertas   Bab 6: Keluar dari Garis Waktu

    Di atas kepala Rian, Kinan, dan Arka, langit kota bukan lagi bentangan senja biasa, melainkan layar raksasa penuh kode biner merah dan hijau yang berkedip liar. Glitch sistem semakin parah, meretakkan realitas fiksi tempat mereka terjebak. "Lewat sini! Ikuti jalan setapak menuju gerbang samping!" teriak Arka sambil memegang erat flash drive dan map dokumen di dalam jaketnya. Rian berlari di posisi paling belakang, sesekali menoleh ke arah jendela lantai dasar yang baru saja mereka masuki. Dari balik kaca yang pecah, bayangan sang paman, yang merupakan antagonis utama, sedang menatap tajam dengan tubuh yang separuhnya telah terurai menjadi piksel cahaya putih. Suara hancur nya sistem atau error digital berderak nyaring di udara, mirip suara radio rusak yang memekakkan telinga. "Dia mengejar kita?!" tanya Kinan terengah-engah, langkah kakinya bergemuruh di atas paving block taman. "Bukan cuma dia!" balas Rian, napasnya mulai memburu. "Karena ini bab akhir dari konflik lokal, skri

  • Saingan Setengah kertas   Bab 5: Brankas Rahasia di lantai dasar

    "Itu ruangannya," bisik Arka sambil menunjuk pintu tersebut dengan dagunya.Arka bergerak maju dengan langkah sangat hati-hati, memastikan tidak ada penjaga atau sistem keamanan otomatis yang aktif di koridor darurat itu, sedangkan Rian dan Kinan mengekor tepat di belakangnya. Rian mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselnya, memastikan daya baterainya masih cukup untuk melakukan proses dekode sistem. Sebagai penulis yang merancang seluruh latar belakang karakter di dunia ini, Rian tahu persis bahwa paman Arka menyukai teka-teki logika klasik berbasis angka, sebuah kebiasaan kecil yang sengaja Rian sisipkan dalam lembar deskripsi tokoh antagonis tersebut. Arka membuka pintu sebab pintu itu tidak terkunci, tetapi panel kunci digital di sampingnya memancarkan cahaya merah berkedip, menandakan sistem keamanan brankas di dalam ruangan sedang dalam status siaga tinggi. "Sistem keamanannya menggunakan enkripsi lapis ganda," kata Arka dengan kening berkerut, menatap layar sentuh b

  • Saingan Setengah kertas   Bab 4: Aliansi Tiga Sisi di Tengah Badai Digital

    "Jelaskan padaku secara rinci, Rian," suara bariton Arka memecah keheningan. "Kalau badai teks itu terus meluas, berapa lama waktu yang kita miliki sebelum seluruh distrik Kota Lumina terhapus total?" tanya Arka. Rian berhenti mengetik sejenak, lalu mendongakkan kepalanya menatap Arka dengan mengerutkan keningnya. "Berdasarkan kecepatan peluruhan sistem yang kulihat di layar laptopku, kita tidak punya banyak waktu. Mungkin kurang dari dua jam sebelum 'glitch' ini mencapai inti pusat kota dan memicu 'system crash' permanen." Kinan melangkah mendekati meja kerja dengan wajah pucatnya. "Lalu, apa hubungannya dengan ancaman paman Arka di kantor? Kenapa badai ini bisa terjadi bertepatan dengan konflik perusahaan PT Sinar Abadi?" tanya Kinan. Rian menghela napas panjang, bersandar lelah pada kursinya. "Karena di dalam alur cerita novel rom-com yang kutulis, konflik eksternal perusahaan dan konflik romansa utama saling terikat secara paralel." "Ketika Kinan menolak Arka di k

  • Saingan Setengah kertas   Bab 3: Penthouse Sinar Abadi dan Bayangan Teks

    "Rian, kita mau lari ke mana?!" tanya Kinan sambil terengah-engah di samping Rian. "Kota ini terasa asing. Jalan-jalan ini ... rasanya seperti bergeser dari tempat yang kuingat…" gumam Rian. Rian menoleh sejenak untuk melihat ekspresi Kinan. "Kita harus mencari Arka, Kinan. Di dalam alur cerita dasar bab-bab awal, tempat perlindungan paling logis bagi seorang tokoh utama pria kaya raya di distrik ini adalah penthouse pribadinya yang menghadap langsung ke alun-alun kota," jelas Rian. "Tapi, dia tadi sangat marah padamu," sangkal Kinan dengan nada ragu. "Dia hampir memukulmu di kafe tadi." "Dia marah karena merasa posisinya sebagai pasanganmu direbut oleh orang asing," jawab Rian sambil menarik napas panjang. "Tapi, dia juga ketakutan karena aku memegang rahasia tentang kebocoran data PT Sinar Abadi. Arka adalah tipe pebisnis rasional. Begitu kepanikannya reda, dia pasti menyadari bahwa kehadiranku adalah satu-satunya petunjuk untuk menyelamatkan perusahaannya," jelas Ria

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status