Home / Romansa / Saingan Setengah kertas / Bab 8: Sifat Dasar Wanita

Share

Bab 8: Sifat Dasar Wanita

Author: Akuaja
last update publish date: 2026-08-12 05:57:54

"Dasar cowok egois," teriak Kinan ketika mereka berhasil memasuki salah satu ruangan bertingkat di kota Lumina.

"Kamu tega ninggalin aku," tambah Kinan kepada Arka, tetapi tangannya masih tetso memegang Rian. Rian yang mendengar hal itu tersenyum dalam hati. Ia menyadari bahwa, ternyata memang benar sifat wanita memang benar seperti itu, tanpa ia harus menulisnya ke dalam naskah ceritanya tersebut.

Arka yang mendengar omelan Kinan, hanya bisa diam, sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia hanya menyimak sambil terus mencari tempat perlindungan yang lebih baik. Beberapa rak buku dan meja ia coba geser untuk menghalangi pintu ruangan tersebut.

"Sudah Kinan, kita tidak punya waktu untuk meributkan hal itu! Lagian kamu juga tadi kan bareng sama Rian, jadi aku pikir bakal aman," jelas Arka, mulai mengambil beberapa barang untuk menutupi pintu tersebut. Bahkan tempat Sampah plastik yang tidak memiliki berat yang signifikan, ia letakkan di atas meja tersebut.

"Iya, tapi tetap saja! Terus alau aku sampai ada apa-apa, gimana? Kamu kan sekarang masih jadi cowok aku, kata Rian kita tuh kita adalah pasangan, kamu tokoh utama pria, nah aku tokoh utama wanita!" jelas Kinan dengan nafas mendengus pelan, dan bibir terutup, seraya memalingkan wajah ke arah berlawanan, seolah tidak sudi menatap Arka. Ketus.

"Sini coba aku lihat tangan kamu? Takut ada yang terluka?" tangan Kinan meraih tangan Rian dan memerhatikan dengan seksama.

"Bruk... Brak"

Suara meja dan rak buku juga arsip kantor yang seperti di banting oleh Arka, ia terlihat kesal dengan perhatian yang Kinan berikan pada Rian. Wajahnya yang terkesan dingin seperti itu tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya, sedangkan tangannya terus mendorong meja untjkenghalangi pintu tersebut.

"Kamu biasa aja dong, Ka? Jangan bantik-banting pintu, nanti kalau mahluk itu mendengar jamu mau bertanggung jawab?" Kinan mengeluarkan nada suaranya yang sinis kepada pasangan utama pria dari cerita novel ini. Akan tetapi, berkat kehadiran Rian, ternyata mampu menghadirkan sebuah konflik di drama percintaan mereka.

Semua susunan meja di belakang pintu sudah terlihat tersusun rapi lengkap dengan susunan beberapa rak buku di atasnya sebelum akhirnya tumpukan tersebut di tutup dengan lemari besar.

Arka yang saat itu terlihat kesulitan mendorong lemari. Akhirnya mendapat uluran tangan dari Rian, kedua lelaki tersebut terlihat bergotong royong saling membantu demi keberlangsungan kehidupan mereka.

Sebuah kotak besar kayu terbuat dari jenis kayu Jati yang di hiasi oleh ukiran bermotif cendrawasih berhasil menutup dari susunan meja dan rak. Sehingga tumpukan di pintu itu terlihat sangat kokoh dan compact, sepertinya akan sulit untuk di dobrak dari luar.

Melihat hal tersebut Kinan dengan sigap mengeluarkan sapu tangan yang berada dalam kantung Jaketnya. Ia dengan sigap mengelap dahi Rian dengan penuh perhatian, sebuah tindakan kecil yang mampu merubah suasana hati Arka.

Api cemburu mulai terbakar sedikit demi sedikit, di dalam dada Arka, ia tahu benar bahwa dulu perhatian Kinan hanya miliknya seorang. Tapi, sekarang ia harus merelakan bahwa Kinan sudah membaginya dengan yang menulis cerita untuk mereka berdua. Sungguh Ironi. Tapi apa mau di kata apalagi? Memang benar seperti itu adanya.

"Nih, Ka!... Kamu lap sendiri keringatmu pakai tissu ini!" ucap Kinan dengan memberi tisu dalam kemasan plastik kepada Arka.

"Dasar cewek egois... Pilih kasih!" Tukas Arka tanpa menjelaskan alasan dari pernyataannya.

"Biarin!...Lha, kan kamu duluan yang bertindak seperti itu ke aku? Masih beruntung ksmu akasih tisu! Coba kalau aku ingat sifat egois dan arogan kamu, rasa nya malas aku. Jangankan tisu kain lap pun tidak sudi memberikannya!" ucap Kinan dengan nada ketus, dan sekali lagi sikapnya tersebut menunjukan bahwa, sebenarnya wanita lebih dominan dalam percakapan, satu kata dari mulut pria, di balas ribuan kata oleh bibir wanita.

"Heem" ucap Arka dengan melenguhkan nafasnya.

"Kenapa lagi kamu, Ka?" dengan nada kesal Kinan bertanya kepada Arka.

"Aku nafas Kinan!...Nafas... Masa aku tidak boleh nafas sama kamu?" jelas Arka kesal dan menggelengkan kepalanya, seolah tidak percaya.

"Ooh..! Ya udah mau nafas... Nafas aja... Tapi ngejelasinnya tidak usah lebay gitu! Males aku dengar aku–nya!" jawab Kinan sewot.

"Sstt, sudah jangan bertengkar, Kinan! Lebih baik kamu simpan suara merdu untuk memanggil burung- burung kecil, agar esok datangnya Mentari bisa memawa harapan dan senyuman! Karena saat ini, Kita masih belum aman dari buruan mahluk tersebut!" jelas Rian dengan pemilihan diksi yang diharapkan mampu merubah struktur bahasanya agar bisa meredam emosi Kinan.

Sementara tangan kanannya, ia gerakan untuk mengeluarkan laptop dari tasnya. Di atas sebuah meja furniture kantor, laptop tersebut di nyalakan, sementara Kinan dan Arka duduk di depan meja tersebut.

Tombol power sudah Rian tekan, layar mulai mengeluarkan sinar berwarna putih sepeeti tanda kilat. Logo perusahaan pembuat laptop tersebut mulai muncul, tidak lama kemudian tampilan awal monitor muncul.

Tidak sampai satu menit laptop sudah siap untuk di operasikan. Beberapa notif mulai bermunculan, dan ternyata benar dugaan Rian. Mahluk tersebut itu adalah bug dari system administrator dari program komputer Rian.

Jendela pemberitahuan yang muncul di layar laptop menunjukan bahwa program tersebut terlihat menunggu atau loading. Hal tersebut bisa terjadi di karenakan, Rian belum melakukan pembaruan data software atau yang biasa kita kenal update software.

Melihat hal tersebut Rian berguman dalam hati: "Pantas saja, mahluk tersebut tadi terlihat sempat melambat dan mengalami beberapa 'glitch' di susunan tubuhnya."

Entitas tersebut mengalami sedikit penurunan kecepatan di karenakan usangnya software tersebut. Sekarang Rian memiliki banyak waktu untuk memperbaiki beberapa sistem. Ia mengutak-atik laptopnya dengan teliti dan seksama.

Keadaan dalam ruangan kantor itu pun menjadi hening, yang terdengar hanya suara prosesor dari laptopnya. Suara ketikan dari papan keyboard menghiasi suasana ruangan tersebut.

Hewan malam terdengar bersahutan satu sama lainnya, terdengar menenangkan dari luar jendela, mereka seperti mengabarkan bahwa hari sudah berganti malam dan suara yang mereka keluarkan diharapkan menjadi panduan untuk melakukan penyegaran jasmani dengan cara merelaksasikan diri sendiri, melalui memejamkan indera penglihatan kita, agar mudah terlelap.

Hening dalam sinar remang yang hanya keluar dari sinar cahaya rembulan dan layar monitor Rian. Sementara Kinan sudah tenang dengan emosinya, dan Arka masih harap-harap cemas terhadap semua ini, begitupun juga Rian, ia hanya bisa mencoba mengutak-atik laptopnya.

"BRAAAAK" suara tempat sampah juga rak buku dan Arsip, jatuh ke lantai ruangan tersebut. Tanda bahwa ada sesuatu yang mendorongnya dari luar ruangan tersebut. Mereka bertiga pun saling memandang dengan rasa panik yang mendalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saingan Setengah kertas   Bab 8: Sifat Dasar Wanita

    "Dasar cowok egois," teriak Kinan ketika mereka berhasil memasuki salah satu ruangan bertingkat di kota Lumina."Kamu tega ninggalin aku," tambah Kinan kepada Arka, tetapi tangannya masih tetso memegang Rian. Rian yang mendengar hal itu tersenyum dalam hati. Ia menyadari bahwa, ternyata memang benar sifat wanita memang benar seperti itu, tanpa ia harus menulisnya ke dalam naskah ceritanya tersebut. Arka yang mendengar omelan Kinan, hanya bisa diam, sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia hanya menyimak sambil terus mencari tempat perlindungan yang lebih baik. Beberapa rak buku dan meja ia coba geser untuk menghalangi pintu ruangan tersebut."Sudah Kinan, kita tidak punya waktu untuk meributkan hal itu! Lagian kamu juga tadi kan bareng sama Rian, jadi aku pikir bakal aman," jelas Arka, mulai mengambil beberapa barang untuk menutupi pintu tersebut. Bahkan tempat Sampah plastik yang tidak memiliki berat yang signifikan, ia letakkan di atas meja tersebut."Iya, tapi tetap s

  • Saingan Setengah kertas   Bab 7: Anomali di Luar Naskah

    Sedan hitam klasik yang dikemudikan Arka melaju mulus membelah jalanan kota yang kembali normal. Sisa-sisa garis kode teks merah dan hijau di langit senja telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh langit malam berbintang yang tenang. Tidak ada lagi suara noise digital atau pemandangan bangunan yang terurai menjadi piksel. Di kursi penumpang depan, Kinan menyandarkan kepalanya pada jendela, membiarkan angin malam menyapu wajahnya setelah ketegangan luar biasa di markas PT Sinar Abadi. Sementara itu, Rian masih terpaku menatap layar ponselnya yang menampilkan satu baris teks asing berukuran mikro. Baris kode itu tidak berasal dari draf novel yang ia tulis."[Peringatan: Root sistem tidak dikenal mendeteksi anomali baru di luar bab ini.]" Rian mengerutkan kening, jari-jarinya dengan cepat mengetuk tombol back untuk menutup sistem, tetapi layar ponselnya justru bergetar hebat. Huruf-huruf di atas layar bergeser sendiri membentuk kalimat baru: [Bab Tambahan: Karakter Pengamat

  • Saingan Setengah kertas   Bab 6: Keluar dari Garis Waktu

    Di atas kepala Rian, Kinan, dan Arka, langit kota bukan lagi bentangan senja biasa, melainkan layar raksasa penuh kode biner merah dan hijau yang berkedip liar. Glitch sistem semakin parah, meretakkan realitas fiksi tempat mereka terjebak. "Lewat sini! Ikuti jalan setapak menuju gerbang samping!" teriak Arka sambil memegang erat flash drive dan map dokumen di dalam jaketnya. Rian berlari di posisi paling belakang, sesekali menoleh ke arah jendela lantai dasar yang baru saja mereka masuki. Dari balik kaca yang pecah, bayangan sang paman, yang merupakan antagonis utama, sedang menatap tajam dengan tubuh yang separuhnya telah terurai menjadi piksel cahaya putih. Suara hancur nya sistem atau error digital berderak nyaring di udara, mirip suara radio rusak yang memekakkan telinga. "Dia mengejar kita?!" tanya Kinan terengah-engah, langkah kakinya bergemuruh di atas paving block taman. "Bukan cuma dia!" balas Rian, napasnya mulai memburu. "Karena ini bab akhir dari konflik lokal, s

  • Saingan Setengah kertas   Bab 5: Brankas Rahasia di lantai dasar

    "Itu ruangannya," bisik Arka sambil menunjuk pintu tersebut dengan dagunya.Arka bergerak maju dengan langkah sangat hati-hati, memastikan tidak ada penjaga atau sistem keamanan otomatis yang aktif di koridor darurat itu, sedangkan Rian dan Kinan mengekor tepat di belakangnya. Rian mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselnya, memastikan daya baterainya masih cukup untuk melakukan proses dekode sistem. Sebagai penulis yang merancang seluruh latar belakang karakter di dunia ini, Rian tahu persis bahwa paman Arka menyukai teka-teki logika klasik berbasis angka, sebuah kebiasaan kecil yang sengaja Rian sisipkan dalam lembar deskripsi tokoh antagonis tersebut. Arka membuka pintu sebab pintu itu tidak terkunci, tetapi panel kunci digital di sampingnya memancarkan cahaya merah berkedip, menandakan sistem keamanan brankas di dalam ruangan sedang dalam status siaga tinggi. "Sistem keamanannya menggunakan enkripsi lapis ganda," kata Arka dengan kening berkerut, menatap layar sentuh b

  • Saingan Setengah kertas   Bab 4: Aliansi Tiga Sisi di Tengah Badai Digital

    "Jelaskan padaku secara rinci, Rian," suara bariton Arka memecah keheningan. "Kalau badai teks itu terus meluas, berapa lama waktu yang kita miliki sebelum seluruh distrik Kota Lumina terhapus total?" tanya Arka. Rian berhenti mengetik sejenak, lalu mendongakkan kepalanya menatap Arka dengan mengerutkan keningnya. "Berdasarkan kecepatan peluruhan sistem yang kulihat di layar laptopku, kita tidak punya banyak waktu. Mungkin kurang dari dua jam sebelum 'glitch' ini mencapai inti pusat kota dan memicu 'system crash' permanen." Kinan melangkah mendekati meja kerja dengan wajah pucatnya. "Lalu, apa hubungannya dengan ancaman paman Arka di kantor? Kenapa badai ini bisa terjadi bertepatan dengan konflik perusahaan PT Sinar Abadi?" tanya Kinan. Rian menghela napas panjang, bersandar lelah pada kursinya. "Karena di dalam alur cerita novel rom-com yang kutulis, konflik eksternal perusahaan dan konflik romansa utama saling terikat secara paralel." "Ketika Kinan menolak Arka di k

  • Saingan Setengah kertas   Bab 3: Penthouse Sinar Abadi dan Bayangan Teks

    "Rian, kita mau lari ke mana?!" tanya Kinan sambil terengah-engah di samping Rian. "Kota ini terasa asing. Jalan-jalan ini ... rasanya seperti bergeser dari tempat yang kuingat…" gumam Rian. Rian menoleh sejenak untuk melihat ekspresi Kinan. "Kita harus mencari Arka, Kinan. Di dalam alur cerita dasar bab-bab awal, tempat perlindungan paling logis bagi seorang tokoh utama pria kaya raya di distrik ini adalah penthouse pribadinya yang menghadap langsung ke alun-alun kota," jelas Rian. "Tapi, dia tadi sangat marah padamu," sangkal Kinan dengan nada ragu. "Dia hampir memukulmu di kafe tadi." "Dia marah karena merasa posisinya sebagai pasanganmu direbut oleh orang asing," jawab Rian sambil menarik napas panjang. "Tapi, dia juga ketakutan karena aku memegang rahasia tentang kebocoran data PT Sinar Abadi. Arka adalah tipe pebisnis rasional. Begitu kepanikannya reda, dia pasti menyadari bahwa kehadiranku adalah satu-satunya petunjuk untuk menyelamatkan perusahaannya," jelas Ria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status