LOGINBianca duduk dengan gelisah di dalam mobil milik Dirga. Jantungnya berdebar maraton, bukan karena terpesona ketampanan seniornya, tapi karena layar ponselnya menampilkan notifikasi pesan yang meresahkan.
Gadis itu menelan salivanya susah payah. ‘Aduh mampus gue! Ini ancaman terselubung atau gimana sih? Pak Damian kalau udah ngomong pake kata ‘lihat apa yang bisa aku lakukan’ itu bawaannya bikin pikiran gue jadi liar kemana-mana. Kira-kira dia bakal ngapain ya kBianca membelalakkan mata menyadari ciuman Damian yang terasa menuntut, namun seketika itu melumpuhkan seluruh pertahanannya. ‘Astaga Damian, ciumannya.. Uuhhh.. Mana tahan gue nolak..’ cicitnya dalam hati. Lidah pria itu menyusup masuk, menyesap manisnya rongga mulut Bianca tanpa memberi ruang sedikit pun untuk melarikan diri. Tangan kanan Damian meremas pelan pinggang Bianca, menekan tubuh mungil itu agar semakin menempel erat pada tubuh kekarnya."D-Damian... Mmpphhh..." desah Bianca terengah-engah di sela-sela tautan bibir mereka.Sensasi panas seketika menjalar cepat keseluruhan tubuh Bianca. Tangan mungilnya yang tadinya berniat mendorong dada Damian, perlahan merayap naik, meremas kerah kemeja pria itu.'Aduh mampus gue! Tangan Damian kalau udah menyelinap begini bisa menjelajah ke mana-mana, bener-bener ganas banget!' batin Bianca menjerit histeris dalam hati.Namun ia enggelam pasrah dalam ciuman posesif
"Velove! Awas ya lo!" teriak Bianca dengan wajah yang sudah merah padam sampai ke ujung telinga.Gadis itu buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik pintu fitting room, menutupnya rapat dengan napas terengah-engah.‘Aduh mampus gue! Mulut si Velove bener-bener gak ada filternya banget, kayak gue! Bikin malu aja di depan Damian!’ batin Bianca menjerit histeris. Tangannya menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa panas seperti terbakar.‘Tapi... Ya emang bener sih, gue kan emang mikirin gimana ganasnya kalau diserang Damian malam pertama nanti.. Pasti lebih brutal dadi biasanya.. Hish! Kok imajinasi gue makin gak terarah sih!’Sambil terus mengoceh pelan, Bianca berbalik menatap gaun pengantin putih yang terpajang di patung manekin dalam fitting room. Gaun eksklusif rancangan desainer internasional itu terlihat sangat cantik dan mewah."Oke, Bianca. Fokus! Lo harus coba gaun ini sekarang juga biar Damian p
‘Damian.. Dia datang tepat waktu..’ Bianca menghela nafas lega melihat kedatangan Damian. Pria itu sama sekali tidak menoleh ke arah Natasya. Manik mata menatap lurus pada tangan petugas keamanan yang nyaris menyentuh Bianca.“Menyingkir darinya!” perintah Damian dingin. Ia melangkah mendekati Bianca, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa ragu sedikitpun di depan umum, tangan kekarnya langsung merengkuh pinggang mungil Bianca, menarik tubuh gadis itu rapat ke dalam pelukannya."Kamu tidak apa-apa?" tanya Damian rendah. Nada suaranya mendadak melunak hanya khusus untuk Bianca, membuat semua orang di ruangan itu melotot tak percaya."Aku gak apa-apa, Damian..." cicit Bianca pelan, mendongak menatap rahang tegas calon suaminya. 'Aduh, calon suami otoriter gue datang tepat waktu kayak pahlawan kesiangan! Gantengnya makin bikin pusing ota mesum gue!' batin Bianca bersorak girang."Gue yang kenapa-kenapa, Kak
'Astaga, si nenek lampir dateng lagi! Gak capek apa ya? Padahal kemarin udah diusir sama Damian sampai menangis kejang-kejang!' batin Bianca jengkel."Ada apa lagi sih, Natasya? Lo gak cape ya mengacau terus? Suara lo tuh bikin kuping gue pengap tahu gak!" cetus Bianca ceplas-ceplos tanpa filter, bersedekap dada."Kurang ajar kamu!" jerit Natasya penuh kebencian, melangkah maju mendekati podium. "Lihat semuanya! Wanita ini, pelakor murahan! Dia menggoda Pak Damian Robert Delwyn, tunangan saya, dan menghancurkan kerjasama bisnis keluarga saya! Dia menjual tubuhnya demi mendapatkan posisi desainer dan gaun-gaun mewah ini demi status sosial!"Suasana butik tiba-tiba terasa tegang, beberapa pengunjung kelas atas mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Bianca."Heh, Nenek Lampir! Jaga ya mulut sampah lo!" potong Velove berdiri tegak di depan Bianca, matanya berkilat marah menatap Natasya. "Lo yang gak punya malu!
"Aduh! Sumpah ya Ve, gue tuh merinding dari tadi malam bayangin kata-kata Kakak lo!" oceh Bianca heboh, tangannya sibuk memoles lipstik tipis di depan cermin besar area fitting room butik ternama."Dia bilang 'aku tidak akan melepaskanmu saat malam pertama'... Hello?! Maksudnya gue mau digempur tanpa jeda gitu dari malam sampai subuh?! Bisa-bisa pas acara resepsi megah nanti kaki gue lemas terus jalan kayak pinguin!" lanjut Bianca ceplas-ceplos tanpa filter, bibirnya merungut lancip.Velove yang sedang menyeruput cappuccino hangat seketika tersedak, tertawa sampai matanya berair.”Astaga! Lo bener-bener gak ada matinya ya, Bi!" gelak Velove gemas, menepuk-nepuk dadanya. "Kak Damian tuh ngomong gitu biar lo tidur anteng, bukannya malah mikirin adegan ranjang sampai ke mana-mana! Tapi ya... Gue sih gak jamin ya, Kakak gue kan kalau udah mau A ya harus A. Jadi, lo siapkan aja fisik dan mental dari sekarang!""Ih, Ve
“Hhhh.. Lega banget akhirnya pulang..” lirih Bianca begitu berdiri di depan pintu penthouse. “Kamu lelah?” Damian memperhatikan Bianca yang mengangguk pelan. “Hmm.. Tentu saja..” ucap Bianca jujur. Begitu pintu penthouse terbuka, aroma masakan gurih langsung menyusup dalam indra penciuman Bianca. Gadis itu langsung melihat ke arah meja makan, Velove tampak sibuk menata beberapa piring makanan pesanan."Nah akhirnya kalian pulang juga! Sini Bi, bantuin gue!" seru Velove heboh begitu melihat Bianca dan Damian masuk. "Gimana persiapan pamerannya, Bi? Lancar?" tanyanya penasaran"Hmm.. Lancar sih hanya aja kedatangan tamu gak diundang!" cerocos Bianca sambil menghempaskan diri di kursi makan. "Tadi si nenek lampir Natasya datang ke hall pameran, Ve! Dia ngamuk-ngamuk histeris kayak kesurupan!" lanjut Bianca, menceritakan apa yang terjadi di gedung pameran. "HAH?! Seriusan lo?!" Velove membelalakk
"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.
"Aduh, Pak Damian! Jalannya jangan kayak atlet lari dong, pelan-pelan sedikit! Ini barang saya banyak banget, tangan saya cuma dua, bukan gurita!" seru Bianca, napasnya tersengal-sengal di koridor menuju lift penthouse.Kedua tangannya benar-benar penuh. Tangan kanan menenteng travelin
Bianca berdiri di depan pintu ruangan Damian dengan gemetar. Jantungnya rasanya sudah merosot sampai ke dengkul, berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Tangannya yang dingin dan basah oleh keringat gemetar hebat saat terangkat, ragu untuk sekadar mengetuk pintu kayu mahoni di depanny
Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan







