แชร์

Bab 268 Pegang dan Rasakan

ผู้เขียน: Cynta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-14 16:00:29
Bianca panik, tapi ia tidak sempat menolak saat pintu kamar mandi sudah terkunci rapat dari dalam.

“Damian, nanti kalau Velove bangun terus cari aku kesini gimana?!” tanya Bianca panik.

“Kalau kamu terus protes, akan semakin lama selesainya..” jawab Damian, ia membawa Bianca kedepan wastafel.

Tangannya perlahan terulur menyentuh dagu Bianca, menariknya mendekat ke arahnya.

“Damian, kamu mau ngapain?! Kamu beneran mau..”

“Ya,” potong Damian.

Tanpa peringatan ia mendaratkan ciuman lembu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 433 Kabar Tak Terduga

    ​"DAMIAN, STOP! JANGAN PUKUL LAGI!" jerit Bianca panik bukan main. ​Gadis itu berlari kencang, menarik lengan tegap suaminya dengan kedua tangannya, menahan beban tubuh Damian dengan sekuat tenaga yang ia miliki. ​"Damian! Kamu salah paham! Hentikan, Damian! Jangan bikin keributan di sini!" bujuk Bianca dengan nada memohon yang sangat cemas. ​Namun Damian bergeming. Tubuhnya bagai dinding kokoh yang tak bergeming sedikitpun oleh tarikan Bianca. Otot tangannya tetap menegang keras, siap menghantam Dirga sekali lagi. ​"LEPASKAN! Kak Damian, lepasin tanganmu dari Kak Dirga sekarang juga!" ​Sebuah suara lengkingan wanita yang sangat familiar mendadak memotong ketegangan panas di sudut ruangan tersebut. ​Semua orang refleks menoleh ke arah sumber suara. ​Velove, adik kandung Damian berlari kencang menghampiri mereka dengan raut wajah penuh kepanikan dan kemarahan. Tanpa rasa takut, Velove berdiri di antara Damian dan Dirga, lalu mendorong dada bidang kakak kandungnya itu hingga

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 432 Cemburu Tanpa Alasan

    ​Bianca mengangguk pelan, binar kebahagiaan terpancar dari manik matanya yang jernih. "Iya, Kak Dirga. Kami sudah menikah." ​"Selamat ya, Bianca," tutur Dirga tulus, tersenyum hangat padanya. "Jujur aku sempat gak nyangka kamu benar-benar sudah jadi istri Pak Damian sekarang. Waktu berlalu cepat banget ya." ​Bianca hanya membalas ucapan selamat itu dengan senyuman anggun tanpa menjelaskan panjang lebar. ​Namun, raut wajah Dirga perlahan berubah menjadi agak serius dan penuh kecemasan. "Terus... soal berita kemarin, apa benar kamu sempat diculik sama Evan dan Natasya? Beritanya sempat heboh banget di kalangan relasi bisnis. Aku khawatir banget waktu dengar kabar itu." ​Bianca menghela napas pelan, mengingat kejadian menegangkan yang telah berlalu tersebut. ​"Iya, Dirga. Memang sempat ada kejadian itu," cerita Bianca dengan nada suara yang tenang dan dewasa. "Evan dan Natasya nekat banget karena mereka udah gelap mata. Tapi syukurlah, Damian datang tepat waktu buat menye

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 431 Bertemu Seseorang

    Bianca melihat layar ponselnya yang berkedip, menampilkan nama ‘Suami Spek Dewa’ saat ia sedang berada di dalam taxi menuju kawasan galeri seni. Gadis itu tampak tersenyum puas penuh kemenangan. ​"Rasain deh nyariin gue! Angkat gak ya? Enggak ah, biar aja dia makin pusing!" gumam Bianca sengaja mengabaikan panggilan masuk dari Damian hingga terputus dengan sendirinya. ​Aura dingin seketika menyelimuti raut wajah Damian. Manik matanya berkilat tajam, rasa panik yang jarang sekali menghampirinya mendadak mencengkram dadanya. “Gak di angkat?!” gumamnya Damian menatap layar ponselnya yang kembali menampilkan panggilan tak terjawab. “Kemana dia?! Berani pergi diam-diam dan mengabaikan ku?!” Rahangnya mengeras kaku. Tanpa membuang waktu satu detik pun, pria itu menekan tombol panggilan ke nomor asisten pribadinya. ​[Hans,] pangkas Damian dingin, intonasi suaranya turun beberapa oktaf menunjukkan ancaman dan kecemasan yang tertahan. ​[Ya, Pak Damian?] sahut Hans cepat dari sebe

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 430 Penyesalan vs Pembalasan

    “Uuaahhh..” Bianca menguap lebar, tubuhnya bergeser, merebahkan diri di sofa panjang sambil meringkuk. “Gue ngantuk, tunggu disini aja.. Pasti denger kalau Damian dateng..” gumamnya lirih disisa kesadarannya. ​Selama perjalanan pulang di dalam mobil, Damian meraih ponselnya dan baru menyadari ada pesan dari istrinya beberapa jam yang lalu. Manik matanya berkilat khawatir saat menyadari betapa terlambatnya ia pulang malam ini. ‘Aku lupa menghubunginya..’ ​Mobil itu melaju kencang menembus jalanan kota yang mulai lengang, hingga akhirnya tiba di apartemen. Damian melangkah lebar memasuki penthouse, menggeser pintu utama dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara bising. ​Kondisi penthouse tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu sudut ruangan. Langkah kaki Damian terhenti saat matanya menangkap sosok tubuh mungil yang meringkuk di atas sofa ruang tamu. ‘Dia menungguku disini..’ ​Damian melangkah tenang mendekat. Pria itu terpaku sejenak saat melihat Bia

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 429 Kejutan yang Terabaikan

    "Lho? Kok ke kantor sih? Kan dokter bilang aku baru pulih, masa kamu udah mau ninggalin aku sendirian di sini?" ​Seketika itu juga gerakan sendok Bianca terhenti. Bibirnya langsung mengerucut maju, raut wajah bahagianya lenyap digantikan rasa tidak rela. ​"Rapat ini tidak bisa ditunda," balas Damian kaku, nadanya terdengar tidak menerima bantahan. "Kamu istirahat di kamar penthouse dulu ya.. Jangan keluyuran.." ​"Aku ikut ya? Boleh ya, Damian? Aku janji bakal duduk manis di ruangan kamu, gak bakal ganggu kamu rapat! Siapa tau aku ada inspirasi desain baru.." bujuk Bianca manja, memegang lengan tegap suaminya sambil mengedip-kedipkan mata. ​"Tidak," potong Damian tegas dan rendah. "Kondisimu belum stabil untuk perjalanan ke kantor. Istirahat di rumah, nurut ya.." ​"Tapi Damian—" ​"Aku akan pulang cepat," pangkas Damian menatap manik mata Bianca secara mendalam, memberi janji yang mengunci protes istrinya. "Oke?" ​Bianca menghela napas panjang, akhirnya mengalah di hadapan tatap

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 428 Pikiran Nakal di Dalam Mobil

    ​"E-eh?! Eng-nggak kok! Aku gak lagi mikirin apa-apa!" cicit Bianca gelagapan, mendadak salah tingkah hingga refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Gadis itu berpura-pura mengantuk berat, menyandarkan kepalanya kaku di bahu tegap Damian sambil menghembuskan napas buatan yang dibuat-buat. ​Damian melirik sekilas ke arah istrinya. Sudut bibir pria itu terangkat tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat langka, hampir tak terlihat namun tampak penuh kehangatan tersembunyi. Tangan kekarnya bergerak memeluk pinggang Bianca, menarik tubuh mungil itu makin merapat ke dadanya tanpa celah. ​Pria itu menundukkan kepala, membiarkan bibirnya berada tepat di samping daun telinga Bianca. "Tidak usah pura-pura tidur, Bianca," bisik Damian rendah, suaranya yang berat dan bernada bas bergetar langsung di tepat di telinga Istrinya "Aku bisa membaca apa yang sedang berputar di dalam kepalamu,

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 3 Mengundurkan Diri

    Bianca berdiri di depan pintu ruangan Damian dengan gemetar. Jantungnya rasanya sudah merosot sampai ke dengkul, berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Tangannya yang dingin dan basah oleh keringat gemetar hebat saat terangkat, ragu untuk sekadar mengetuk pintu kayu mahoni di depanny

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 2 Ide Gila

    Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 1 Imajinasi Liar

    "Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.

  • Salah Bicara, Pak Bos Jadi Tergoda   Bab 56 Tersandung Tapi Enak

    ​"Aduh, Pak Damian! Jalannya jangan kayak atlet lari dong, pelan-pelan sedikit! Ini barang saya banyak banget, tangan saya cuma dua, bukan gurita!" seru Bianca, napasnya tersengal-sengal di koridor menuju lift penthouse.​Kedua tangannya benar-benar penuh. Tangan kanan menenteng travelin

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status