Masuk"Damian..." desah Bianca terengah-engah, hendak melayangkan protes saat tautan bibir mereka terlepas sejenak.
"Lanjutkan," pangkas Damian pendek, suaranya terdengar sangat serak dan berat.Manik mata hitamnya menggelap sempurna, menatap Bianca seperti seekor pemangsa yang siap melahap habis buruannya."Kamu nakal ya, main balik posisi aja! Aku kan baru mau mulai..." bisik Bianca dengan nada manja.Jemari lentiknya terulur menyusuri dada bidang Damian yBianca mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Damian yang menggantung. “Tapi kenapa?!” “Tapi aku tetap tidak mengizinkan kamu bertemu dengan pria itu, meskipun dia pacar Velove..” Damian melanjutkan kata-katanya dengan nada datar. Bianca tertawa pelan, menyusupkan wajahnya semakin dalam di leher hangat Damian. ”Ya ampun Damian, aku tuh cuma cinta kamu.. Masa masih cemburu gitu..” “Jangan membantah, atau kamu suka dihukum, Bianca?!” “Suka sih.. Hihihi.. Tapi iya deh aku nurut..” Bianca mendongak mendaratkan kecupan singkat di bibir Damian sambil tersenyum. “Aku seneng deh hari ini... Kesal aku gara-gara kamu pulang terlambat semalam udah hilang total. Terus kita juga akhirnya tahu kalau Kak Dirga sama Velove sudah pacaran.. Jadi kamu jangan terlalu cemburu buta lagi ya, Pak suami?" Damian tidak menjawab. Tangannya yang hangat mengusap lembut rambut panjang
”Sshhh.. Jam berapa ini?! Tubuh gue rasanya kaku, kayak habis digebukin penghuni satu gedung penthouse!” oceh Bianca saat mencoba bergerak diatas ranjang. Gadis itu mencoba membuka matanya perlahan, rasa hangat yang familiar seketika menyapa tubuhnya. Saat menoleh sedikit, ia menyadari lengan tegap Damian masih melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh mungilnya rapat-rapat dalam dada bidang pria itu.Wajah Damian terlihat sempurna di sampingnya, kini masih tertidur lelap dengan napas teratur. Wajah Damian saat tidur terlihat jauh lebih tenang, tanpa raut dingin atau tatapan mengintimidasi yang biasa di tunjukkan di dunia bisnis.“Ya ampun, suami gue..” Bianca tersenyum takjub melihat wajah Damian.Jari tangan gadis itu terulur dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur suaminya, mengusap lembut alur alis tebal Damian, lalu turun menyusuri hidung mancung dan bibir tipis pria itu."Ganteng banget
"Damian..." desah Bianca terengah-engah, hendak melayangkan protes saat tautan bibir mereka terlepas sejenak."Lanjutkan," pangkas Damian pendek, suaranya terdengar sangat serak dan berat. Manik mata hitamnya menggelap sempurna, menatap Bianca seperti seekor pemangsa yang siap melahap habis buruannya."Kamu nakal ya, main balik posisi aja! Aku kan baru mau mulai..." bisik Bianca dengan nada manja.Jemari lentiknya terulur menyusuri dada bidang Damian yang kencang, bergerak turun melewati pahatan roti sobek suaminya, hingga berhenti tepat di tali pinggang celana tidur pria itu.Dengan cengiran polos namun dipenuhi binar gairah yang membara, Bianca membuka ikatan celana tidur Damian."Pusaka premium kamu ini... Benar-benar gak tahu kata istirahat ya, Damian?" goda Bianca saat tangannya merasakan kehangatan yang kembali mengeras sempurna di balik kain celana suaminya.Damian tidak menjawab. Pria itu hanya
‘Eh kok gue deg-degan, gimana nanti diatas ranjang?! Bisa goyang gak ya kira-kira?!’Suasana kamar tidur utama penthouse itu tampak begitu remang dan tenang, hanya jantung Bianca saja yang terdengar berisik. Gorden tebal sudah tertutup rapat, membiarkan cahaya lampu sudut ruangan berwarna keemasan menyinari area tempat tidur.Sementara di atas ranjang berukuran king size, Damian sudah menunggu. Pria itu bersandar kaku di kepala ranjang, mengenakan celana tidur kain berwarna hitam tanpa atasan. Dada bidangnya yang kokoh dan berurat tegas terekspos sempurna di bawah remangnya lampu kamar.Manik mata hitam Damian berkilat tajam begitu menangkap sosok Bianca yang melangkah mendekat. Tatapannya sangat intens, terkunci sepenuhnya pada tubuh mungil istrinya yang dibalut gaun tidur merah sensual.”Kemari," pangkas Damian pendek, menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya.Bianca mengulas senyum tipis yang tampak sa
"E-eh? Enggak kok, Damian!" celetuk Bianca refleks, sedikit melonjak kaget hingga kakinya hampir tersandung di lantai basah. Dengan cepat Bianca menguasai diri, menyunggingkan senyum manis yang paling anggun dan lembut. "Aku cuma lagi meratapi... Eh maksudku, menikmati betapa perhatiannya suami ku ini. Kamu lembut banget ya kalau lagi sentuh tubuhku.." "Jangan memancingku, Bianca. Sekarang berbalik," perintah Damian, suaranya terdengar kembali serak dan berat. Bianca memutar tubuhnya menurut tanpa berani berkata-kata lagi, gadis itu membelakangi Damian. Jari tangan pria itu kini bergerak mengusap busa sabun di sepanjang punggung mulusnya. Sentuhan jari-jari hangat Damian yang bersentuhan langsung dengan kulitnya membuat tubuh Bianca meremang seketika. "Damian..." panggil Bianca lirih, memiringkan kepalanya sedikit ke belakang. "Hm?" "Soal
Suara kulit tubuh Bianca yang beradu dengan kulit tubuh Damian terdengar bergema samar di dalam kamar mandi yang tertutup. Setiap hentakan dalam yang dilakukan Damian sukses membuat Bianca mendongakkan kepalanya, mendesah pasrah menikmati sensasi luar biasa yang diberikan suaminya."Nngghh! Damian... Sshh... pelan-pelan..." desah Bianca dengan napas terengah-engah. "Aaahhhh! Enak banget... Lebih cepat...""Ingat siapa pemilik tubuhmu ini, Bianca?" pangkas Damian kaku, mempercepat gerakannya menjadi semakin intens dan dalam. "Kamu... Cuma kamu, Damian! Hati ku, tubuh ku... Semuanya punya kamu!" sahut Bianca di tengah desahannya, tidak lagi menyembunyikan rasa cintanya yang begitu meluap.Mendengar pengakuan jujur dari bibir istrinya, gairah Damian semakin terbakar hebat. Pria itu merengkuh pinggang ramping Bianca, mengangkat tubuh gadis itu sedikit agar posisinya semakin menancap dalam, lalu menghujamkan pusaka p
"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema
Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan







