เข้าสู่ระบบBianca mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Damian yang menggantung. “Tapi kenapa?!”
“Tapi aku tetap tidak mengizinkan kamu bertemu dengan pria itu, meskipun dia pacar Velove..” Damian melanjutkan kata-katanya dengan nada datar. Bianca tertawa pelan, menyusupkan wajahnya semakin dalam di leher hangat Damian. ”Ya ampun Damian, aku tuh cuma cinta kamu.. Masa masih cemburu gitu..” “Jangan membantah, atau kamu suka dihukum, Bia"Ganteng banget sih, Suamiku... Mukanya kalau lagi tidur tenang gini kelihatan makn tampan," bisik Bianca pelan. Bibirnya mengulas senyum manis dan anggun sambil membelai lembut rahang kokoh Damian yang masih terlelap di sampingnya. Bianca perlahan menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Setiap incinya terasa pegal, namun binar bahagia tak bersisa memancar dari matanya. Pagi ini, ia bertekad menunjukkan bakat barunya sebagai istri yang berbakti. 'Oke Bianca! Hari ini lo harus buktikan kalau lo gak cuma pintar mupeng di depan Suami Spek Dewa, tapi juga bisa jadi istri idaman! Gue bakal masak sarapan terlezat buat Damian sebelum kita ke kantor bareng!' batin Bianca membakar semangatnya sendiri. Bianca melangkah berjinjit agar tak mengusik tidur lelap suaminya, ia hanya mengenakan jubah tidur sutranya lalu mengikat rambut panjangnya ke atas. Dengan langkah anggun gadis itu keluar kamar menuju dapur penthouse milik Damian. Di dapur, Bianca berdiri menyilangkan ranga
"Kalau diajak lagi sih... Gue juga gak nolak sama sekali..." guman Bianca lirih, menyunggingkan senyum sendirian di depan cermin nakas. Gadis itu memperhatikan bekas jrnak kissmark di sepanjang ceruk leher dan area dadanya, membayangkan betapa perkasa suaminya beberapa menit yang lalu. Pintu kamar utama tiba-tiba terbuka pelan. Damian melangkah masuk membawa nampan besar berisi deretan piring hidangan mewahnya. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu, manik mata hitamnya menatap tajam ke arah Bianca. "Kamu mau lagi?" pangkas Damian singkat, datar, dan kaku. DEG! Mata Bianca seketika membelalak lebar. Pipi mulusnya terbakar pertanyaan ambigu yang tiba-tiba dilontarkan Damian. 'MAMUS GUE! Kenapa telinga pria ini tajam banget sih?! Jarak dari pintu meja ini kan lumayan jauh, kok bisa-bisanya dia dengar ucapan gue barusan?!' jerit Bianca histeris dalam batinnya. Dengan cepat Bianca menguasai diri, mengulas senyuman paling manis, anggun, dan lembut. Ia mem
"Gimana, Damian? Enak gak?" goda Bianca dengan napas yang mulai terengah-engah. Rambut panjangnya yang terurai jatuh menyapu dada bidang suaminya. "Service dari istri kamu ini memuaskan gak?" "Sangat nikmat, sayang.. Sshhh.. Bergeraklah lebih liar, Bianca.." pangkas Damian jujur dan tegas. Pria itu tak lagi sanggup hanya menjadi penonton pasif. Kedua tangannya yang besar dan hangat bergerak naik dari pinggang, meremas lembut kedua paha mulus Bianca, membantu menuntun gerakan naik turun istrinya agar terkunci semakin dalam dan presisi. "AHH! AHH! DAMIAN! Nngghh... Itu terlalu dalam, sayang!" jerit Bianca terkejut saat dorongan balasan dari bawah menghantam titik terdalam rahimnya. "Lebih cepat, Bianca.. Oouugghhh.." pangkas Damian kaku tanpa mengendurkan cengkeramannya. "I-iya, sayang... Aahh.. Aaahhhh!" Bianca memacu gerakannya semakin cepat dan berani. Kepalanya mendongak ke atas, merasakan sensasi kenikmatan yang membara, menjalar cepat ke seluruh inci tubuh
"D-Damian... tapi nanti Pak Hans keburu datang bawa makanan lho..." cicit Bianca dengan suara lembut dan sedikit serak. Gadis itu berusaha mempertahankan dirinya, namun nafas hangat Damian yang menyapu leher mulusnya membuat seluruh tubuh Bianca meremang seketika. "Biar dia menunggu, Bianca," pangkas Damian dingin dan kaku. Pria itu tidak memberikan ruang sedikitpun bagi Bianca untuk berpikir logis. Lengan kekarnya terulur cepat, memeluk pinggang ramping Bianca lalu memindahkan posisi mereka dalam satu hentakan penuh tenaga. Pria itu menuntun tubuh mungil Bianca untuk berpindah naik, mendudukkan gadis itu tepat di atas tubuh bidangnya yang terlentang santai. "Aww... Damian!" jerit Bianca pelan. "Naiklah. Ambil kendalimu," perintah Damian pendek. Manik matanya menatap lurus, mengunci pandangan istrinya dengan kilatan gairah yang sangat nyata. Bianca kini duduk tegak di atas pusaka premium milik suaminya. Saat gadis itu sedikit bergerak, goa miliknya bergesekan langsu
Bianca mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Damian yang menggantung. “Tapi kenapa?!” “Tapi aku tetap tidak mengizinkan kamu bertemu dengan pria itu, meskipun dia pacar Velove..” Damian melanjutkan kata-katanya dengan nada datar. Bianca tertawa pelan, menyusupkan wajahnya semakin dalam di leher hangat Damian. ”Ya ampun Damian, aku tuh cuma cinta kamu.. Masa masih cemburu gitu..” “Jangan membantah, atau kamu suka dihukum, Bianca?!” “Suka sih.. Hihihi.. Tapi iya deh aku nurut..” Bianca mendongak mendaratkan kecupan singkat di bibir Damian sambil tersenyum. “Aku seneng deh hari ini... Kesal aku gara-gara kamu pulang terlambat semalam udah hilang total. Terus kita juga akhirnya tahu kalau Kak Dirga sama Velove sudah pacaran.. Jadi kamu jangan terlalu cemburu buta lagi ya, Pak suami?" Damian tidak menjawab. Tangannya yang hangat mengusap lembut rambut panjang
”Sshhh.. Jam berapa ini?! Tubuh gue rasanya kaku, kayak habis digebukin penghuni satu gedung penthouse!” oceh Bianca saat mencoba bergerak diatas ranjang. Gadis itu mencoba membuka matanya perlahan, rasa hangat yang familiar seketika menyapa tubuhnya. Saat menoleh sedikit, ia menyadari lengan tegap Damian masih melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh mungilnya rapat-rapat dalam dada bidang pria itu.Wajah Damian terlihat sempurna di sampingnya, kini masih tertidur lelap dengan napas teratur. Wajah Damian saat tidur terlihat jauh lebih tenang, tanpa raut dingin atau tatapan mengintimidasi yang biasa di tunjukkan di dunia bisnis.“Ya ampun, suami gue..” Bianca tersenyum takjub melihat wajah Damian.Jari tangan gadis itu terulur dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur suaminya, mengusap lembut alur alis tebal Damian, lalu turun menyusuri hidung mancung dan bibir tipis pria itu."Ganteng banget
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema
Bianca berdiri di depan pintu ruangan Damian dengan gemetar. Jantungnya rasanya sudah merosot sampai ke dengkul, berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Tangannya yang dingin dan basah oleh keringat gemetar hebat saat terangkat, ragu untuk sekadar mengetuk pintu kayu mahoni di depanny
Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan







