ログイン“Tid- tidak begitu, Pak. Aku tidak berbohong. Video kemarin memang untuk iklan. Hanya saja, semua yang kulakukan itu sudah diarahkan dengan detil.”
Thea langsung membantah.
Lalu tatapan dingin Tn. Huggo terarah padanya.
Di benak pria itu kini terpajang bagaimana lingeri itu lepek dan memperlihatkan tubuh Thea di baliknya.
Sungguh gila jika video itu benar-benar untuk syuting iklan. Berarti Thea siap memperlihatkan tubuhnya sampai sejelas itu.
Entah dari mana kemarahannya tiba-tiba menyeruak.
Huggo tiba-tiba mengukungnya di meja dengan lengannya sehingga Thea tidak bisa bergerak.
Lalu wajahnya mendekat dan berbisik serius pada Thea, “Jadi kamu siap memerlihatkan tubuhmu di iklan yang kamu buat itu, tapi tidak mampu memberikan ekspresi klimaks bohongan di iklanku ini?”
Thea menggeleng kuat.
Huggo pun melepaskannya tapi dengan titah, “Sekarang juga lakukan pengambilan gambar. Jangan buang-buang waktu lagi!”
Terbirit-birit Thea menuju ruang syuting.
Dia lalu duduk di tempat yang disuruh dan mulai melakukan tugasnya.
Pengambil foto pun berlangsung bertubi-tubi.
Setelah selesai, Thea beristirahat.
Sutradara mengamati hasil foto sang fotografer dengan wajah kesal.
“Tn. Huggo, maaf sekali, tapi hasilnya sangat jelek. Sepertinya sekretaris Anda sengaja. Atau kalau ini sungguhan berarti dia ... ehm ... belum berpengalaman.
Ini lihat! Masa ekspresinya seperti ini? Ini sih ekspresi menang lotere!”
Kini kegeraman itu menyebar cepat dalam diri Huggo.
Dia menghampiri Thea lalu bergumam tegas, “Ganti pakaianmu lalu ke ruanganku lagi!”
***
Akibat terlalu panik, Thea pun menghubungi Delilah teman karibnya.
Dia menceritakan kronologi kejadian dari pengiriman video sampai kemarahan Tn. Huggo, Pak Boss-nya.
“Laaah ... lucu kenapa dia harus marah?”
“Entahlah, Del. Sekarang ini apa yang harus aku lakukan?”
“Ya ... mau tak mau hadapi boss mu si hipertensi itu. Kalau memang terpaksa, tegaskan saja kalau kamu sudah menikah dan hendak menggoda suamimu.”
“Apa? Itu jauh lebih memalukan. Kenapa aku harus menggoda suamiku sampai sebegitunya? Lagian masa dia tidak tahu aku sudah menikah? Bukannya ada dibahas infotainment, ya?”
“Idiiiih ... kamu belum seterkenal itu, Thea! Hahaha! Lagipula, CEO ngapain nengokin berita dunia hiburan? Yang mereka lihat adalah berita bisnis!
Lagian juga pernikahanmu waktu itu sangat tertutup. Hanya sedikit yang diundang. Wartawan sampai tidak berani membahasnya.”
Thea memukul ringan kepalanya. Inilah akibatnya kalau menjadikan pernikahan hanya sekadar memenuhi ekspektasi orang tua. Dia dan Hudson sepakat menggelar pernikahan tertutup sehingga pernikahan ini akhirnya tidak berefek apapun dalam membersihkan nama baiknya.
“Ya, sudah kalau begitu. Aku akan coba menghadap si darah tinggi itu!” sahut Thea dengan suara lesu pada akhirnya.
Delilah menyahutinya jauh lebih bersemangat. “Ya, bye! Semoga beruntung! Hihihihi!”
“Eh, malah tertawa!”
Thea kesal sehingga dia mematikan telpon mereka.
Kini mau tak mau dia menuju ke ruangan Tn. Huggo untuk ke tiga kalinya hari ini tapi bukan karena masalah pekerjaan.
Penyesalan pun merayapi hatinya. Andai dia tidak membuat video itu.
Andai dia tidak berniat menggoda Hudson.
Andai, andai, dan andai!
Kenapa pula video itu bisa nyasar?
Dengan kepala lunglai, Thea memasuki ruangan Tn. Huggo.
Pria berusia 32 tahun itu sudah menunggu dengan wajah yang sama seperti tadi, dingin dan tak berbelas kasihan.
“Pak, mohon lepaskan saya mengenai masalah ini. Tolong jangan dilanjutkan lagi, Pak. Video semalam hanyalah salah kirim, tidak perlu dibahas terus menerus. Saya kan juga punya rasa malu, Pak ...”
Huggo bukannya menjawab tapi semakin intens mengamatinya.
Di benaknya terngiang kata-kata sang sutradara.
Berarti dia belum berpengalaman ...
Belum pengalaman?
Huggo seakan tak percaya. Dia menjelajahi lagi diri Thea dengan tatapannya.
Merasa diberi kesempatan bicara, Thea pun melunjak, “Errr ... kalau bisa, Pak, video saya itu di HP Anda dihapus, ya. Setelah hapus tolong tunjukkan saya buktinya.”
“Kau berani memintaku menghapus dan menunjukkan buktinya? Apakah kamu atasanku?”
“Eh? Tid- tidak, Pak. Tapi video itu kan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya, Pak.”
Huggo maju lagi, selangkah demi selangkah yang pelan, sengaja membuat hati Thea semakin berdetak gugup.
“Asal kamu tahu, aku tidak meminta video itu. Kau mengirimnya sendiri, tanpa permisi.
Kenapa harus kuhapus? Aku tidak melihat alasannya!”
“Tap- tapi, Pak ... Itu kan video pribadi!”
“Siapa suruh mengirimnya padaku?”
“Kan tidak sengaja, Pak. Sudah kubilang kan, salah kirim.”
“Aku tidak peduli!”
“Pak ... pleaseeeeee ...”
Huggo mulai kembali ke mejanya. Dia berkata lagi, “Asal kamu tahu, aku mengalami kerugian yang tidak kecil karena kamu gagal menjadi bintang iklan parfume Puas dan Lagi!”
“Aku akan menggantinya!” seru Thea lantang dan cepat. Urusan uang, dia tidak kere!
Itu membuat Huggo sedikit terkejut, tapi dia menyembunyikannya dengan cepat.
“Kamu memang akan menggantinya, tapi tidak dengan uang.”
“Ha? Lalu dengan apa? Bukankah kerugian Anda adalah uang? Aku bisa menggantinya!”
“Memang kerugianku secara finansial, tapi aku tidak ingin meminta ganti rugi secara finansial.”
“Lalu ... apa?”
Huggo bangkit dan mendekatinya lagi, lalu berbisik, “Karena kamu gagal di syuting iklan tadi, kamu harus menggantinya dengan menjadi sekretaris plus-plus-ku, yang rahasia, yang bisa kupanggil kapan saja dan untuk apa saja. Dan ... tidak akan membantah, memprotes, apalagi menolak!”
Untuk beberapa detik Thea seperti tersedot ke dimensi lain.
Dia terhenyak dan tak bersuara.
Baru ketika pemahamannya hadir dengan jelas, Thea mendorong dada Tn. Huggo yang tepat di hadapannya.
“Bahasa Anda panjang lebar, juga halus, tapi maksud Anda wanita simpanan, kan? Ck, enak di Anda tidak enak di saya!”
'Yang benar saja!' pikir Thea marah dan berang.
Dia berharap Tn. Huggo bisa mendapatkan akal sehatnya kembali.
Lagipula, statusnya sudah menikah. Bisa habis dia jika ayahnya Hudson yang terpandang dan memiliki cukup kuasa itu mendapati menantunya menjadi wanita simpanan dari seorang duda kaku seperti Tn. Huggo ini!
Namun, Huggo malah tersenyum sinis, lalu mengangkat ponselnya. Sambil menggulir dia berkata, “Terserah bagaimana kamu memaknai bahasaku. Yang pasti, kamu boleh menolak tawaranku, tapi jika itu terjadi ... kira-kira video ini akan seberapa cepat viralnya jika kusebarkan?”
Thea tahu itu tidak sepenuhnya benar.Dia pun mengulurkan tangan dan mengelap air mata yang merembes di sudut mata ayahnya.Saat itulah dia melihat beberapa h elai rambut putih sang ayah. Hati Thea berdenyut perih. Kenapa tiba-tiba ayahnya menua mendadak?Thea tanpa sadar menoleh pada ibunya.Dia lebih terkejut lagi melihat ibunya pun sedang mengelap kedua sudut matanya.Dan ibunya pun tampak sama rentanya dengan sang ayah.---Perjalanan pulang ke rumah terasa aneh. Thea berada dalam pelukan Huggo di dalam mobil, masih dalam gaun pengantin.Untuk sementara Thea masih terlena memikirkan ayah dan ibunya, yang membuat hatinya bersedih. Dia merasa waktunya memanjakan balik orang tuanya belum dia tunaikan.Tapi sekarang, dia sudah memulai kehidupannya sendiri, membiarkan ayah dan ibunya kembali menua berdua saja.Thea sampai termenung dan ketika Huggo menanyakannya, dia menceritakan isi hatinya itu.Huggo pun menghiburnya. “Kamu harusnya bersyukur. Setidaknya orang tuamu masih memiliki sa
“Urgh ... kamu tidak bisa begini terus. Badanmu panas sekali. Seperti kompor. Aku saja sampai berkeringat. Ayo bangun dulu, minum obat.”“Tidak. Aku tidak ada tenaga.”“Kok tidak ada tenaga? Kan tadi sudah makan?”“Tetap saja tidak ada tenaga. Aku mau tidur.”“Tidak bisa! Minum obatnya dulu!”Thea mendorong tubuhnya agar bangun. Huggo sempat menahannya, tapi Thea berhasil karena dia sehat sedangkan Huggo sedang lemas.Benar Thea sudah mulai berkeringat. Tubuh Huggo benar-benar panas.Thea menyiapkan obat dan membawa ke mulut Huggo.“Ayo minum ini!”Membuka sedikit matanya, Huggo melihat sebutir obat di tangan Thea.Lalu saat menatap wajah Thea dia melihat wajah itu memelototinya.Terpaksa dia bangun dan minum.Setelah itu, Huggo kembali tidur.Thea menemaninya sepanjang malam.Esok paginya, tubuh Huggo sudah lebih baik.Dia bangun saat Thea sudah membawakannya sarapan ke tempat tidur.“Makan dulu, lalu minum obat lagi.”Huggo tidak banyak bersuara. Dia melakukan yang disuruh Thea. Tap
“Ini hari ke-30 kan kalau tak salah?”Trevor mengambil duduk di samping Thea saat mereka makan siang bersama. Kali ini hanya ada mereka bertiga saja. Ayahnya, ibunya, dan Thea.Sambil mengangguk, Thea menjawab, “Iya.”“Lalu mana dia?” tanya Trevor lagi dengan nada tak mengharapkan.“Entahlah.”“Kalian tidak saling kontak?”“Ada. Kemarin. Tapi katanya mau datang.”“Oh ...”Lalu ayahnya itu mendekatinya dan berbisik, “Jadi ... cincinnya dikembalikan atau diterima?”Thea lalu memperhatikan jari manisnya yang tersemat cincin dari Huggo.Dia memperhatikan dengan seksama lalu bertanya pada ibunya, “Menurut Mom gimana?”“Aku? Kenapa bertanya padaku? Aku kan sudah memiliki ayahmu, hahhaha.”“Yeee ... aku kan bertanya tentang pendapat.”“Ya ... kalau Mom sih terserah padamu. Huggo lumayan juga dan tidak buruk.”“Bagaimana dengan pendapatmu, Dad?”“Aku?” tanya Trevor dengan raut tak percaya.“Iya.”“Kalau aku ... lebih baik kau menemaniku saja, daripada menikah dengan dia.”“Kok begitu?”“Ya ..
‘Huh! Jangan harap!’Dengan sedikit mengentakkan sepatunya, Thea menghampiri Huggo.Kedua lengannya terlipat depan dada. Bibirnya pun merengut tak senang.Huggo menunggu dengan seksama, mengamati bagaimana penjual mengambil selapis demi selapis es krim.“Stroberi, oke?” tanyanya ketika Thea mendekatinya.Thea mendengus lagi dalam hati. ‘Sudah memesan baru bertanya. Untung benar pilihannya!’Thea pun mengangguk.Huggo pun senang dan kembali mengamati.Setelah es krim selesai, penjual menjulurkan es krim ke arah Huggo untuk diambil.Tanpa berpikiran buruk, Huggo menjulurkan tangannya, hendak mengambil, tapi eh ... penjual menggeser es krimnya.Huggo terhenyak. Keningnya berkerut kesal.Dideliknya tajam di penjual. Sedang mempermainkannya, huh?!Tapi penjual malah tersenyum kecil padanya. Oh, jelas tadi bukanlah ketidaksengajaan. Huggo pun menganggap ini sebagai tantangan.Dia pun menganggap ini semakin personal.Dengan kecepatan penuh, dia mengulurkan tangannya ke es krim yang sudah berg
“Untuk hari ini, ke mana kamu mau pergi?”Setelah mereka naik mobil, Huggo bertanya dengan sungguh-sungguh.Dia hanya ingin bersama Thea, sehingga ke mana pun mereka dia tidak peduli.Tapi Thea seringkali memprotes tempat pilihan Huggo.Jadi kali ini, sebelum diprotes, Huggo berinisiatif memberikan keputusan itu di tangan Thea.“Hmm ...” Thea berpikir keras setelah memasang seat belt. Huggo senang karena kali ini tidak perlu berpikir keras bagaimana menentukan tempat yang bisa menyenangkan hati Thea.Tiga detik kemudian, Thea memberi jawaban. “Terserah kamu deh.”Astaga!Huggo ingin menepuk jidatnya. Tapi dia masih bersabar.“Hmm, bagaimana kalau ke mall?”“Mall? Mau ngapain?”“Ya ... entah. Biasanya perempuan suka ke mall.”Thea mendengus, sambil memutar matanya. “Yang lain deh!”“Hmm ... bagaimana kalau minum saja di bar sambil mendengarkan musik? Cari yang bar nya di roof top.”“Hmm ... boleh juga sih. Tapi malas ah, ini belum malam.”Fiuuuuh ... oke!“Bagaiman kalau ke pantai?”Th
Berdasarkan kata-kata Thea, Huggo jadi gelisah.Dan karena itu juga, dia kembali mengunjungi Thea di esok harinya. Pagi-pagi dia bangun, menghubungi Lily dan memberitahu bahwa dia akan absen hari itu, lalu meminta Lily mengatur ulang jadwal pertemuannya dengan beberapa klien penting.“Anda pergi lagi, Pak?”“Iya! Ada yang sangat penting,” ujar Huggo dengan suara berat, agar Lily tidak berani bertanya lebih jauh lagi.“Oh, err, baiklah, Pak. Akan saya kabari jika sudah reschedule meeting.”“Hmm.”Setelah menelpon, Huggo bersiap berangkat. Dia minum kopi, sarapan singkat, lalu menaiki mobil.Jalanan pagi yang lengang membuat Huggo mengebut demi mencapai kota tujuan lebih cepat.Ketika dia tiba pekarangan rumah keluarga Kozlov, hari sudah hampir mencapai jam makan siang.Huggo memutuskan mencari keberadaan Thea di butik terlebih dahulu.Bell berbunyi saat pintu butik dibukanya.Pelayan datang menyambut.“Siang. Mencari siapa, Tuan?”“Aku mencari Thea.”“Oh, silakan.”Pelayan menuntun Hugg







