แชร์

Tugas Agak Lain?

ผู้เขียน: Chani yoh
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-07 20:30:39

Thea kembali ke meja kerjanya yang di depan ruangan Tuan Huggo.

Saat sekelilingnya sibuk dengan pekerjaan mereka, di divisi masing-masing, Thea terduduk lesu dengan pikirannya melayang jauh. Kenapa juga dia harus membuat video itu?

Sekarang, video itu menjadi senjata untuk Pak Boss menyebalkan itu.

Hatinya dipenuhi penyesalan yang tiada habisnya.

Helaan napasnya yang panjang pun terlihat sangat putus asa.

Di depannya seperti jalan buntu, sehingga Thea sampai membiarkan kepalanya terkulai ke meja dan keningnya lama berdiam di sana.

“Aku menyesal membuat video itu ...” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

“Sekarang aku terpaksa menjadi sekretaris plus-plus nya dia?” gumamnya lagi bertanya pada dirinya sendiri.

Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang mengawasi tingkah lakunya dari layar CCTV.

___

“Bagaimana harimu tadi? Kok sepertinya murung?”

Pertanyaan dari Hudson bergema begitu Thea menginjakkan kaki di mobil Hudson.

“Masa sih? Aku biasa saja. Tumben bertanya seperti tadi? Jangan bilang kamu sudah mulai jatuh cinta pada istrimu ini?” balas Thea memaksa dirinya untuk tidak terbawa kekesalannya dengan Tn. Huggo tadi.

Beruntung Hudson tidak menyadari terlalu detil.

“Kalau aku tidak bertanya, kamu bilang tidak perhatian. Giliran aku bertanya katamu tumben dan menuduh jatuh cinta. Hah! Memang wanita sulit dimengerti!”

Mendengar itu Thea jadi tergelak dalam tawanya. Hubungannya dengan Hudson terkadang dingin terkadang hangat. Seperti hari ini, Hudson tumben-tumbennya hangat dan perhatian. Bahkan cukup humoris. 

Jika sudah begini, mereka terlihat harmonis.

“Ya sudah ... anggaplah kamu hari ini memang sedang tumben dan aku memang murung. Nah, untuk menghiburku bagaimana kalau kamu mentraktirku makan malam di restoran bagus?”

“Menghiburmu? Aku tidak berminat menghiburmu ..."

“Astaga! Teganya!”

“Kau sudah tahu, aku memang tegaan!”

“Ck! Sekali ini sajalah! Traktir aku!”

Tatapan Thea penuh kesungguhan dan Hudson menyadari jarang-jarang dia melihat Thea seperti itu. Menuruti permintaan Thea mungkin menjadi sesuatu yang membuat Thea terhibur. Hudson pun mengiyakannya, meskipun sedikit mempermainkannya terlebih dahulu.

“Baiklah, baiklah. Tapi aku yang menentukan restorannya."

"Oke!"

"Hm, kita ke restoran Jepang. Makan sushi!”

“What? Aku tidak mau! Curang!”

Hudson pun terkekeh lalu memutar setirnya. Dia hanya bercanda saja hendak mengajak Thea makan sushi karena dia sendiri sudah tahu Thea tidak menyukai makanan Jepang.

Setelah beberapa saat lamanya, Hudson bersuara lagi. Kali ini tentang ayahnya.

“Ngomong-ngomong, tadi mertuamu menelponku,” ujar Hudson hati-hati.

“Hei, hei ... ayahmu itu ...”

“Iya, tapi kan benar dia mertuamu?”

Thea berdecak sambil meliriknya sebal. “Trus?”

“Dia memberikanku sebuah kartu nama seorang dokter kandungan.”

Thea membelalakkan matanya lalu menyilangkan tangannya.

“Itu urusanmu, Hudson! Aku tidak mau tahu!” Thea sudah pusing dengan tingkah Tn. Huggo korslet akibat video panasnya yang salah kirim itu, kini dia dihadapkan dengan permintaan ayah mertuanya untuk mendatangi dokter kandungan?

Tidak akan! Biarlah Hudson mengurusnya sendiri.

“Sudah kuduga,” ujar Hudson lagi memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.

“Lalu?” tanya Thea lagi.

“Ya ... paling-paling aku akan memberi seribu alasan pada mertuamu.”

“Ayahmu!” kilah Thea lagi sebelum obrolan mereka pun terhenti di situ.

Tidak seperti perkataannya tadi bahwa akan mentraktir di restoran Jepang, Hudson membawa Thea ke sebuah restoran bagus, yang romantis, untuk benar-benar makan.

Tentu saja bukan sushi sehingga Thea bisa makan dengan lahap.

Selesai makan, mereka pulang dan langsung masuk ke kamar masing-masing.

Kali ini Thea tidak lagi memiliki keinginan untuk menggoda Hudson. Dia benar-benar telah kapok. Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan pak boss hipertensi itu.

Apakah dia perlu menceritakan pada ayahnya tentang video syur itu dan meminta hacker ayahnya untuk meretas ponsel pak boss dan menghapus video itu?

Tapi jika begitu, dia harus menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Hudson juga menceritakan video syur itu pada ayahnya.

Satu cerita maka akan menyebar cepat pada seluruh keluarga Kozlov.

Tidak!

Itu mimpi buruk. Saudaranya pasti akan membicarakan dan menanyainya. Belum lagi ada pamannya yang menyebalkan yang akan menjadikan hal ini sebagai bahan mengolok-olok dirinya.

Haaah ...

Untuk saat ini Thea hanya ingin tidur, tanpa memikirkan masalah yang belum menemui jalan keluar ini.

Tapi di saat dia memaksa diri untuk memejamkan matanya, ponselnya bergetar.

Ternyata pesan masuk dari pak boss hipertensi-nya itu.

[Aku ingin jam 05.00 besok pagi kamu datang ke rumahku. Kita ke kantor bersama, setelah kamu selesai mengurus urusanku di rumah.]

Thea membelalakkan matanya membaca pesan itu.

Jam 05.00? Ke rumahnya Pak Boss? Lalu ke kantor bersama?

Apa tak salah?! Eror kali otaknya Pak Boss?

Sebelum ini tidak pernah dia diminta ke rumah Pak Boss. Lalu sekarang mendadak disuruh ke rumahnya pagi-pagi buta?

Mau bangun jam berapa lagi kalau jam 05.00 sudah harus berada di rumah Pak Boss satu itu?

Lagipula, rumahnya berjarak setengah jam naik mobil tanpa macet!

Dengan kekesalan yang berapi-api dalam hatinya, Thea membalas:

[Maaf, Pak, mau ngapain di rumah Anda pagi-pagi buta begitu?]

Tak lama kemudian, masuklah balasan Pak Boss yang membuat kedua mata Thea membulat lebar lagi.

[Kira-kira ... kamu maunya ngapain kalau fajar-fajar ke rumahku?]

‘Lho, lho, ini ditanya malah balik bertanya! Gimana sih?!’

Hati kecil Thea semakin emosi dan menambah gas. [Pak ... tadi kan Anda yang memintaku datang fajar buta?]

Dua detik setelah Thea mengirim pesan itu, ponselnya berdering yang ternyata Pak Boss.

Begitu dia menjawab, tentunya dengan meredam kekesalan dalam hati, Pak Boss langsung mencecarnya,

“Jam 05.00, aku memintamu datang! Itu sudah pagi, bukan fajar! Bukan pula fajar buta! Tidak ada yang namanya pagi buta kalau jam segitu! Itu pagi saja!

Jadi, datang jam 05.00 besok pagi atau aku unggah screenshot fotomu yang kuambil dari video panasmu itu ke buletin bulanan kantor!”

Thea pun tak punya balasan lain selain satu kata yang diulang karena kesal, “Iya, iya.”

“Bisa tepat jam 05.00 pagi sudah di rumahku? Yang aku maksud adalah jam 05.00 itu telapak kakimu sudah berada di lantai rumahku!" Pak Boss masih bertanya dengan sangat menuntut.

"Bisa!" Thea menjawab kesal. Masalahnya, jika dia menjawab tidak bisa, apa Pak Boss akan memakluminya? Sudah pasti tidak!

Namun, Tn. Huggo sudah dipatuhi, masih juga tidak puas.

"Yakin kamu? Karena kalau tak yakin bisa tepat jam 05.00 sudah di rumahku, biar sekarang saja aku menjemputmu."

“Ha? Sekarang? Menjemput untuk?”

“Ya, agar kamu tidak terlambat besok! Kebetulan aku masih di jalan. Di mana rumahmu, biar kujemput. Daripada kamu besok ternyata terlambat, lebih baik kamu datang sekarang, lalu menginap.”

Thea kembali terheran-heran. Ini dia yang tidak paham, apa Pak Boss yang semakin agak lain?

"Bagaimana?" desak Huggo dengan suara berat.

“Tidak, Pak, besok pagi saja. Saya pastikan tidak akan terlambat sedetik pun! Terima kasih!”

Thea langsung menutup telponnya dengan hati yang was-was. Bagaimana bisa pak bossnya seperti orang kebelet saja. Demi jam 05.00 besok pagi dia hendak dijemput sekarang juga!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Alma Elmi
susah di buka punyaku...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Menjawab Tantangan

    Merasa tatapannya membuat Huggo tak nyaman, Thea pun beralih. Dia mengangkat wajah dan menatap Huggo.“Ada apa memanggilku?” tanyanya lirih, datar, dan tak bersemangat.Thea juga terlihat sedih dan menyedihkan.Huggo tahu itu tapi dia tetap mengeraskan hati dan raut wajahnya.Dia mengeluarkan sebuah berkas dan meletakkannya di depan Thea.“Pelajari ini dan tolong realisasikan ke sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di kota ini. Aku ingin produk kita dikenal luas dengan predikat yang bisa dipercaya.”Thea mengambil berkas dan langsung mengatakan, “Baik. Ada lagi?”“Waktumu hanya satu bulan. Jika kau berhasil, aku akan mengangkatmu di divisi lain.”Thea memandang kosong pada berkas lalu pada Huggo. Dia paham arti kata ‘mengangkat ke divisi lain’.Ini sama juga dengan membuangnya.Ingin rasanya Thea menertawakan pilihan kata yang terlalu sopan itu. Tapi tidak dia lakukan.Thea hanya mengangguk. “Baik. Ada lagi?”“Tidak. Kau boleh kembali ke mejamu,” ujar Huggo lagi dan bersiap untuk b

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Tantangan

    “Kamu sedang tidak stabil, Hudson! Ini justru hal tergila yang pernah aku dengar!Kamu itu sedang terburu emosimu saja sehingga tidak bisa berpikir jernih. Kalau kamu sudah berpikir jernih, tidak mungkin kamu akan rela menjalani open relationship.Lagipula, kalaupun kamu rela, aku tetap tidak mau! Aku tidak sudi! Memangnya aku apa yang menjalani hubungan dengan beberapa pria sekaligus! Itu justru merendahkan diriku sendiri!”Mendengar kata merendahkan yang keluar dari bibirnya sendiri Thea jadi teringat akan kata-kata Huggo. Hatinya teriris perih lagi. Tanpa dia menjalani open relationship saja Huggo sudah merendahkannya.Lalu suara Hudson terdengar lagi, lebih panik dari sebelumnya.“Tapi aku rela, Thea. Dan hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap memilikimu, sekalipun itu hanya sebagai istri di atas kertas. Aku rela, Thea. Aku rela!”Thea memijit pelipisnya sendiri. Hudson sudah kerasukan. Pikirannya sudah tak wajar.“Tidak bisa, Hudson. Aku tidak bisa! Lebih baik kamu cepat

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Terpaksa #3

    Saat Thea mengangkat wajahnya dia melihat tatapan Huggo yang kelam dan penuh kemarahan tertuju padanya.Thea tidak peduli lagi. Untuk apa dia bekerja jika dia seperti tidak ada di kantor ini?Masih sambil menatap marah padanya, Huggo mengambil amplop dan membukanya.Saat itulah Thea memperhatikan bukit-bukit jari di punggung tangan Huggo.Di sana tampak goresan-goresan luka yang telah mengering.Thea terperangah dan tanpa sadar langsung menarik tangan itu untuk melihatnya dengan lebih jelas.“Kenapa ini? Kenapa tanganmu bisa luka?” tanyanya spontan.Yang ditanya malah menarik tangannya. Tatapan Huggo kembali mengejeknya.“Bukan urusanmu!”Thea yang masih ingin bertanya, yang masih ingin tahu dan tak puas dengan jawaban Huggo pun membuka mulutnya lagi.Tapi tatapan tajam Huggo menyurutkan niatnya. Dia menutup bibirnya dan mengalihkan tatapannya dari luka di punggung tangan Huggo.Huggo melirik lagi pada surat pengunduran diri Thea.Setelah membacanya, dia tersenyum sinis.“Kau pikir ak

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Terpaksa #2

    Dia juga memakai cushion yang berkilau dan bersinar agar wajahnya tampak cerah dan terlihat semangat.Di kantor, Thea menghadap Bu Melaney terlebih dahulu. Dia diceramahi panjang lebar. Thea tidak membantahnya karena sebenarnya dia tidak terlalu mendengarkan kata-kata Bu Melaney.“Ya sudah, kamu ke mejamu. Jangan bolos lagi. Dan kalau dugem jangan di hari kerja dong. Kamu begitu saja masa tidak bisa mengaturnya? Orang-orang juga tahu, kalau mau dugem di akhir pekan, jadi tidak mengganggu performa mengantor.”Thea mengangguk dan tidak banyak bicara.Dia lalu menuju mejanya. Lily baru saja keluar dari ruangan Huggo dengan wajah berbinar senang.Thea meliriknya dengan tak tahan. Dulu kala ... dia lah yang keluar dari ruangan itu dengan wajah berbinar. Bahkan ... merona panas.Apakah Lily juga mengalami apa yang pernah dialaminya di dalam?Oh, Thea benci pikiran buruknya ini.Bagaimana mugnkin dia bisa menuduh hal tak senonoh itu pada Lily? Wanita itu bahkan terlalu polos untuk menjadi se

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Terpaksa #1

    Hiks ...Thea cegukan untuk ke sekian kali.Delilah yang hendak menjawabnya, jadi terpaksa menahan dirinya dulu.Dia pun meminta air mineral dan memberikannya pada Thea.“Minum ini dulu, setelah itu kita pulang,” katanya seraya menyodorkan botol mineral pada Thea.“Tidak mau ...!” Thea menepis botol itu. “Aku tidak mau pulang. Biarkan aku di sini.”“Mau ngapain kamu di sini?”Ditanya begitu, dalam mabuknya Thea menjawab, “Aku mau menjadi bartender. Seperti dia!”Yang ditunjuk jadi salah tingkah. Meskipun tahu yang menunjuk sudah mabuk, tetap saja dia bingung. “Kenapa mau seperti aku? Tidak bisa asal menjadi bartender. Kau harus punya pengetahuan tentang minuman-minuman ini, juga bagaimana cara meraciknya.”“Ya ... aku mau saja. Maksudku biar bukan cuma aku yang mabuk, tapi semua orang pun bisa mabuk sepertiku, menemaniku ...”Bartender yang sudah menjawab dengan serius pun jadi menyesal. Sudah tahu mabuk tapi dia meladeni omongannya.Sedangkan Delilah hanya tersenyum geli.Tapi senyum

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Jadi Apa Maunya?

    “Kopinya hitam, tanpa gula, dengan creamer satu sendok kecil ini. Tapi terkadang Pak Boss meminta tanpa creamer.”Di pantry, Thea menunjukkan cara membuat kopi bagi Pak Boss. Lily melihat dengan kepala mengangguk-angguk.Kali ini Thea masih membuatkannya sendiri, Lily hanya melihatnya.Setelah itu, dia menyerahkan pada Lily untuk dibawa ke hadapan Huggo.“Ini, bawa masuk. Letakkan di meja dengan perlahan.”“Iya, Kak. Siap!” ujar Lily sembari membawa nampan dan cangkir kopi ke dalam ruangan Huggo.Thea kembali duduk dan menunggu di luar.Dia membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Mungkin Lily meletakkan cangkir kopi di meja, Huggo sedang mengetik di laptopnya, atau membaca email, atau sedang menelpon.Tanpa menoleh Huggo akan bilang, terima kasih.Itu yang tergambar dalam benak Thea.Namun, seiring waktu berlalu dan Lily belum kunjung keluar, Thea pun semakin bertanya-tanya. Apa lagi yang terjadi di dalam sana?---Sisa hari itu berlalu dengan terasa sangat lambat. Di pengh

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status