MasukThea kembali ke meja kerjanya yang di depan ruangan Tuan Huggo.
Saat sekelilingnya sibuk dengan pekerjaan mereka, di divisi masing-masing, Thea terduduk lesu dengan pikirannya melayang jauh. Kenapa juga dia harus membuat video itu?
Sekarang, video itu menjadi senjata untuk Pak Boss menyebalkan itu.
Hatinya dipenuhi penyesalan yang tiada habisnya.
Helaan napasnya yang panjang pun terlihat sangat putus asa.
Di depannya seperti jalan buntu, sehingga Thea sampai membiarkan kepalanya terkulai ke meja dan keningnya lama berdiam di sana.
“Aku menyesal membuat video itu ...” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.
“Sekarang aku terpaksa menjadi sekretaris plus-plus nya dia?” gumamnya lagi bertanya pada dirinya sendiri.
Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang mengawasi tingkah lakunya dari layar CCTV.
___
“Bagaimana harimu tadi? Kok sepertinya murung?”
Pertanyaan dari Hudson bergema begitu Thea menginjakkan kaki di mobil Hudson.
“Masa sih? Aku biasa saja. Tumben bertanya seperti tadi? Jangan bilang kamu sudah mulai jatuh cinta pada istrimu ini?” balas Thea memaksa dirinya untuk tidak terbawa kekesalannya dengan Tn. Huggo tadi.
Beruntung Hudson tidak menyadari terlalu detil.
“Kalau aku tidak bertanya, kamu bilang tidak perhatian. Giliran aku bertanya katamu tumben dan menuduh jatuh cinta. Hah! Memang wanita sulit dimengerti!”
Mendengar itu Thea jadi tergelak dalam tawanya. Hubungannya dengan Hudson terkadang dingin terkadang hangat. Seperti hari ini, Hudson tumben-tumbennya hangat dan perhatian. Bahkan cukup humoris.
Jika sudah begini, mereka terlihat harmonis.
“Ya sudah ... anggaplah kamu hari ini memang sedang tumben dan aku memang murung. Nah, untuk menghiburku bagaimana kalau kamu mentraktirku makan malam di restoran bagus?”
“Menghiburmu? Aku tidak berminat menghiburmu ..."
“Astaga! Teganya!”
“Kau sudah tahu, aku memang tegaan!”
“Ck! Sekali ini sajalah! Traktir aku!”
Tatapan Thea penuh kesungguhan dan Hudson menyadari jarang-jarang dia melihat Thea seperti itu. Menuruti permintaan Thea mungkin menjadi sesuatu yang membuat Thea terhibur. Hudson pun mengiyakannya, meskipun sedikit mempermainkannya terlebih dahulu.
“Baiklah, baiklah. Tapi aku yang menentukan restorannya."
"Oke!"
"Hm, kita ke restoran Jepang. Makan sushi!”
“What? Aku tidak mau! Curang!”
Hudson pun terkekeh lalu memutar setirnya. Dia hanya bercanda saja hendak mengajak Thea makan sushi karena dia sendiri sudah tahu Thea tidak menyukai makanan Jepang.
Setelah beberapa saat lamanya, Hudson bersuara lagi. Kali ini tentang ayahnya.
“Ngomong-ngomong, tadi mertuamu menelponku,” ujar Hudson hati-hati.
“Hei, hei ... ayahmu itu ...”
“Iya, tapi kan benar dia mertuamu?”
Thea berdecak sambil meliriknya sebal. “Trus?”
“Dia memberikanku sebuah kartu nama seorang dokter kandungan.”
Thea membelalakkan matanya lalu menyilangkan tangannya.
“Itu urusanmu, Hudson! Aku tidak mau tahu!” Thea sudah pusing dengan tingkah Tn. Huggo korslet akibat video panasnya yang salah kirim itu, kini dia dihadapkan dengan permintaan ayah mertuanya untuk mendatangi dokter kandungan?
Tidak akan! Biarlah Hudson mengurusnya sendiri.
“Sudah kuduga,” ujar Hudson lagi memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.
“Lalu?” tanya Thea lagi.
“Ya ... paling-paling aku akan memberi seribu alasan pada mertuamu.”
“Ayahmu!” kilah Thea lagi sebelum obrolan mereka pun terhenti di situ.
Tidak seperti perkataannya tadi bahwa akan mentraktir di restoran Jepang, Hudson membawa Thea ke sebuah restoran bagus, yang romantis, untuk benar-benar makan.
Tentu saja bukan sushi sehingga Thea bisa makan dengan lahap.
Selesai makan, mereka pulang dan langsung masuk ke kamar masing-masing.
Kali ini Thea tidak lagi memiliki keinginan untuk menggoda Hudson. Dia benar-benar telah kapok. Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan pak boss hipertensi itu.
Apakah dia perlu menceritakan pada ayahnya tentang video syur itu dan meminta hacker ayahnya untuk meretas ponsel pak boss dan menghapus video itu?
Tapi jika begitu, dia harus menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Hudson juga menceritakan video syur itu pada ayahnya.
Satu cerita maka akan menyebar cepat pada seluruh keluarga Kozlov.
Tidak!
Itu mimpi buruk. Saudaranya pasti akan membicarakan dan menanyainya. Belum lagi ada pamannya yang menyebalkan yang akan menjadikan hal ini sebagai bahan mengolok-olok dirinya.
Haaah ...
Untuk saat ini Thea hanya ingin tidur, tanpa memikirkan masalah yang belum menemui jalan keluar ini.
Tapi di saat dia memaksa diri untuk memejamkan matanya, ponselnya bergetar.
Ternyata pesan masuk dari pak boss hipertensi-nya itu.
[Aku ingin jam 5 besok pagi kamu datang ke rumahku. Kita ke kantor bersama, setelah kamu selesai mengurus urusanku di rumah.]
Thea membelalakkan matanya membaca pesan itu.
Jam 05.00? Ke rumahnya pak boss? Lalu ke kantor bersama?
Apa tak salah?! Eror kali otaknya Pak Boss?
Sebelum ini tidak pernah dia diminta ke rumah pak boss. Lalu sekarang mendadak disuruh ke rumahnya pagi-pagi buta?
Mau bangun jam berapa lagi kalau jam 05.00 sudah harus berada di rumah pak boss itu?
Lagipula, rumahnya berjarak setengah jam naik mobil tanpa macet!
Dengan kekesalan yang berapi-api dalam hatinya, Thea membalas:
[Maaf, Pak, mau ngapain di rumah Anda pagi-pagi buta begitu?]
Tak lama kemudian, masuklah balasan pak boss yang membuat kedua mata Thea membulat lebar lagi.
[Kira-kira, kamu maunya ngapain kalau fajar-fajar ke rumahku?]
‘Lho, lho, ini ditanya malah balik bertanya! Gimana sih?!’
Hati kecil Thea semakin emosi dan menambah gas. [Pak ... tadi kan Anda yang memintaku datang fajar buta?]
Dua detik setelah Thea mengirim pesan itu, ponselnya berdering yang ternyata pak boss.
Begitu dia menjawab, tentunya dengan meredam kekesalan dalam hati, pak boss langsung mencecarnya,
“Jam 05.00, aku memintamu datang! Itu sudah pagi, bukan fajar! Bukan pula fajar buta! Tidak ada yang namanya pagi buta kalau jam segitu! Itu pagi saja!
Datang jam 05.00 besok pagi atau aku unggah screenshot fotomu yang kuambil dari video panasmu itu ke buletin bulanan kantor!”
Thea pun tak punya balasan lain selain satu kata yang diulang karena kesal, “Iya, iya.”
“Bisa tepat jam 05.00 pagi sudah di rumahku?" Pak Boss masih bertanya.
"Bisa!" Thea menjawab kesal. Masalahnya, jika dia menjawab tidak bisa, apa Pak Boss akan memakluminya? Sepertinya tidak!
Namun, Tn. Huggo sudah dipatuhi, masih juga tidak puas.
"Yakin kamu? Karena kalau tak yakin bisa tepat jam 05.00 sudah di rumahku, biar sekarang saja aku menjemputmu."
“Ha? Menjemput untuk?”
“Ya, agar kamu tidak terlambat besok! Kebetulan aku masih di jalan. Di mana rumahmu, biar kujemput. Daripada kamu besok ternyata terlambat, lebih baik kamu datang sekarang, lalu menginap.”
Thea kembali terheran-heran. Ini dia yang tidak paham, apa pak boss yang agak lain?
"Bagaimana?" desak Huggo dengan suara berat.
“Tidak, Pak, besok pagi saja. Saya pastikan tidak akan terlambat sedetik pun! Terima kasih!”
Thea langsung menutup telponnya dengan hati yang was-was. Bagaimana bisa pak bossnya seperti orang kebelet saja. Demi jam 05.00 besok pagi dia hendak dijemput sekarang juga!
Shania sangat ramah dan mudah memimpin percakapan. Dia banyak bertanya dan begitu riang dan murah senyum sehingga Thea cukup nyaman berbincang dengan Shania.Sepanjang percakapan ringan mereka, Shania cukup memancing banyak hal dari Thea. Hal-hal tentang kehidupan pribadi. Thea cukup kewalahan sehingga dia pun harus memutar otaknya, menghalukan dirinya menjadi istri Tn. Huggo demi bisa memberikan jawaban yang meyakinkan pada Shania.Dengan mudahnya, Shania percaya dan mulai membangun bayangan tentang pasangan di rumah ini.Dari jenis rumahnya, rumah ini tipe paling mewah dan luas. Sudah pasti bukan orang biasa. sungguh Thea sangat beruntung bisa memiliki suami yang memiliki rumah seperti ini.Dengan yakin, Shania menanamkan dalam hatinya, suami Thea adalah target incarannya yang berikutnya.Dia tidak mungkin menjadi seorang wanita single dalam waktu lama. Itu bukan gayanya.Di tengah percakapan mereka, tatapan Shania kembali menelusuri Thea. Di matanya, tampilan Thea seperti baru aka
Selama dua tahun ini hasrat Huggo seperti sponge yang diikat hingga ke dasar laut.Tapi malam ini, ketika melihat Thea dalam balutan gaun yang dia pilih sendiri, dengan warna favoritnya sendiri, sponge itu tak mampu ditahan lagi. Dia terus mengambang hingga akhirnya sanggup memutuskan tali pengikatnya.Begitu tali pengikat terputus, sponge langsung melesat ke permukaan laut dan mengambang di sana, terombang-ambing ombak.Begitulah apa yang dirasakan Huggo terutama ketika dia mencium Thea dan mendapatkan balasan yang sama semangatnya.Sekalipun ciuman Thea terasa amatir, tapi semangatnya bisa dia rasakan.Ini seperti menambah bahan bakar turbo untuk mendorong lesakan sponge ke permukaan laut.Pagutannya semakin berani, semakin dalam dan ketika respon tubuh Thea seirama dengan respon tubuhnya, Huggo mulai meraba tubuh itu dengan tangannya sendiri.Pada mulanya, jari jemarinya merayap di leher Thea, merasakan lembut dan halusnya kulit wanita itu, serta denyut nadinya yang terasa memburu
Thea tidak siap. Lahir maupun batin, dia tidak siap dicium apalagi oleh seseorang yang tekanan darahnya selalu tinggi seperti Pak Boss satu ini.Masalahnya, Huggo tidak peduli Thea siap atau tidak.Dia seperti iguana yang tertusuk duri di bokongnya sehingga tubuhnya melesat dalam lompatan gesit, lalu bibirnya mendarat dan menghisap penuh hasrat bibir Thea.Thea tidak ingin membalas, tapi entah mengapa setiap saraf bibir dan lidahnya malah merespon dengan penuh sama semangatnya.Pagutan yang tercipta seolah berasal dari dua insan yang lama terpisah, lalu bertemu untuk melepas rindu yang telah dipendam di relung hati._____Malam mulai larut.Langit semakin kelam namun ada keindahan tersendiri saat hamparan karpet hitam semakin bertaburan berlian-berlian kecil.Sebuah mobil SUV warna emas metalik memasuki halaman rumah yang bertetangga dengan Huggo.Dua orang wanita turun dari mobil dan memasuki rumah.“Nasibmu masi
Thea merasa aneh dengan semua yang ada pada dirinya, juga sekitarnya pada malam ini.Seperti saat ini, setelah Pak Boss memesankan makan malam ke rumah, lalu dia diminta mulai bekerja lembur.Sudah 30 menit dia diharuskan menulis surat perkenalan dan undangan makan bersama untuk rekan kerja Pak Boss.Dia diberikan contoh surat, lalu diminta menuliskan 5 surat yang berbeda tentang ajakan perkenalan resmi, lalu 5 lagi untuk undangan perjamuan makan malam bersama.Semakin dia mempelajari kata demi kata baku yang harus digunakan, juga bagaimana caranya membuka surat, lalu menutupnya dengan sopan dan ramah, Thea merasa yakin bahwa sekretaris bukanlah bidangnya.Dan dengan demikian dia pun semakin menyesali keputusannya untuk melarikan diri dari masalahnya dengan menjadi sekretaris.Belum lagi, dress merah marun yang dipakainya begitu seksi dan tipis. Dan belahan pahanya membuat Thea serba salah dalam duduknya.Lalu, di benak Thea dia
"Kenapa melihatku seperti itu? Kau berhasrat padaku?" tanya Tn. Huggo mengontani Thea.Mimisan yang tertahan tadi kini jadi terpaksa ditelan.Thea tentu saja tidak sedia mengiyakan tuduhan Pak Boss,"Mana ada! Aku hanya melihat ke arah Anda tadi karena ada kutu kecil terbang ke arah Anda situ. Kupikir kutu itu yang terpancing akan aroma sabun Anda."Kembali gurag-gurat biru nadi Pak Boss muncul ke permukaan wajah. Jelas-jelas dia melihat Thea hampir mimisan memandanginya, tapi malah menyangkal dan mengkambing hitamkan kutu!Hah! Sungguh degil sekretaris satu ini dan perlu dipermak biar rasa!"Begitu! Jadi kau melihat ke arahku seperti itu karena seekor kutu kecil?""Iya!""Bagus! Berarti matamu jeli sekali! Besok-besok boleh lah kuberikan tugas mengartikan surat yang tulisannya teramat kecil, oke? Ada ratusan surat seperti itu yang perlu diartikan!""Eh? Jangan begitu dong, Pak! Aku hanya kebetulan saja melihat kutu kecil tadi, bukan karena mataku super jeli! Hehehhe!"“Tidak usah ter
“Pak!” protes Thea, tanpa memedulikan lagi jika Tn. Huggo akan marah, “Kenapa aku harus bertugas di rumah Anda juga?”Rasanya sudah bagus dia terlepas dari permintaan aneh Pak Boss agar dirinya datang pagi buta ke rumah Pak Boss, tapi lalu jebakan lain seakan sudah siap menghadangnya.Pagi diganti jadi malam. Jika pagi datang, tugasnya di rumah Tn. Huggo berakhir saat jam kantor dimulai. Tapi jika malam? Pak Boss malah mengungkit tentang menginap di rumahnya! Itu jauh lebih buruk.Tapi, jawaban dari Tn. Huggo jauh lebih buruk dan tidak bisa diterima. “Karena kamu sekretaris plus-plus-ku sekarang.”Huh! Jawaban macam apa itu?Thea pun memprotes lagi, “Tapi sudah kubilang aku tidak mau menjadi wanita simpanan Anda!”Suara berat Huggo langsung menjawabnya ketus, “Siapa yang menyuruhmu menjadi wanita simpananku? Sudah kukatakan dari kemarin ... kau kujadikan sekretaris plus-plus. Kenapa kamu ngotot terus mengatakan wanita simpanan?”“Kan sama saja, Pak?”“Sama dari mana?” Huggo menantang







