تسجيل الدخول“Katanya Presiden Grup Novaryn itu mantan tentara … orang yang biasanya percaya sains. Tapi setelah istrinya hilang, dia malah jadi agak … percaya spiritual begini ….”Clarin terdengar sedikit sedih, juga tidak bisa menahan rasa getir saat mengatakannya.Carles hanya mengatupkan bibir, tidak berkomentar.Di bawah kompetisi tawar-menawar yang bergantian, harga kalung mutiara liar alami itu melambung sampai lebih dari 200 miliar.“Pak Carles … kamu nggak merasa aku kurang satu kalung mutiara?” Clarin tersenyum manis, memberi kode terang-terangan.“Tidak,” jawab Carles dingin.Clarin, “…”“Dasar om-om nggak peka,” gumamnya pelan.Alis Carles berkerut. Tatapannya menyapu Clarin dingin.Clarin buru-buru berkata, “Aku nggak nyebut nama kok. Jangan merasa tersindir ya.”Carles tetap datar, tapi dia mengangkat papan tawaran, ikut masuk ke dalam persaingan lelang.Raut wajah Clarin langsung berubah drastis, senyumnya lebar seperti penggemar nomor satu.“Aduh .... Pak Carles-ku yang tampan dan t
Menghadapi “sapaan penuh perhatian” dari Clarin, senyum Herni langsung menegang. Di balik matanya melintas dingin dan kebencian yang nyaris tidak tersamar.“Nona Clarin, aku sedang bicara dengan Carles. Kamu menyela begini … sangat tidak sopan.”Clarin malah mengangkat dagu, menunjuk Herni seolah memberi tahu Carles, siapa yang sedang bicara.“Carles, dia ngomong sama kamu. Jawab.”Setelah itu, Clarin melotot tajam ke arah Carles. Tatapan yang jelas-jelas berisi peringatan, coba saja kamu berani menanggapi dia satu kata pun.Carles menunduk, bibirnya mengatup rapat. Dia tidak mengatakan apa-apa.Bukan karena takut pada Clarin.Dia hanya tidak ingin Clarin membuat keributan lagi setelah ini.Itu saja.Herni melihat Carles tidak menggubrisnya, dadanya langsung sesak.Namun cepat-cepat dia menghibur diri sendiri. Carles bersikap sedingin ini bukan karena sengaja mengabaikannya, melainkan karena kondisinya sedang tidak normal.Apalagi begitu banyak orang memperhatikan.Herni tidak mungkin
Staf hotel membungkuk hormat, lalu berkata dengan penuh sopan, “Presiden Lowui, ini kursi yang khusus disiapkan oleh pimpinan kami untuk Anda dan Nyonya Presiden. Makan malam di meja ini juga dimasak sesuai selera Anda berdua. Sebelum lelang dimulai, Anda dan Nyonya Presiden bisa makan terlebih dahulu.”Carles tidak menjawab. Dia hanya melambaikan tangan singkat, memberi isyarat agar staf itu mundur.Clarin langsung mengambil sumpit dan mulai makan. Setelah mencicipi dua-tiga hidangan, dia mengangguk puas.“Pantas jadi hotel bintang enam. Masakannya enak banget.”Dia makan beberapa suap lagi, tapi sejak tadi tidak melihat Carles menyentuh sumpitnya sama sekali, jadi Clarin bertanya, “Kamu nggak makan?”“Nggak,” jawab Carles dingin.Clarin teringat, dulu kalau Carles makan di luar, dia hampir selalu pesan ruang VIP.Carles jelas tidak suka makan di tempat yang ramai dan agak bising seperti ini.Clarin menunduk beberapa detik, lalu mengambil satu udang dengan saus wasabi bawang putih. Di
Mantan pacar Valen, pria bernama Yulius Zonati, menatap pria berjas hitam yang mencengkeram pergelangan tangannya. Dengan wajah merah karena marah, dia memaki, “Siapa kamu, kenapa ikut campur ….”“Diam!” Wanita di sampingnya buru-buru memotong, lalu menatap pria berjas hitam itu dengan senyum menjilat. “Kak Rudi … pacar saya memang nggak tahu diri, jangan dimasukkan ke hati.”Mata Valen seketika menegang.Dia mengenali pria berjas hitam itu.Itu pengawalnya Herni.Detik berikutnya, dia mendengar pengawal itu berkata dingin, “Nona Valen adalah teman Nona Besar kami. Kalau kalian berani sentuh dia, itu sama saja memusuhi Nona Besar kami!”Yulius refleks mengira ini pengawal Clarin.Tapi sedetik kemudian dia sadar ada yang janggal.Kalau itu orangnya Clarin, mereka pasti akan memanggil “Nyonya Muda”, bukan “Nona Besar”.Lagi pula … melihat Valen juga bersikap agak segan pada seorang pengawal.Yulius langsung penasaran. “Nona Besar kalian siapa?”Rudi menatapnya dengan tatapan merendahkan,
Setelah mencerna ucapan Herni barusan, Valen bertanya, “Kamu mau rekrut aku kerja di perusahaanmu?”Herni menggeleng, lalu melempar umpan. “Merekrutmu masuk perusahaanku itu terlalu menyia-nyiakan talentamu. Aku berniat investasi dan bantu kamu buka perusahaan. Kamu jadi bos.”“Aku nggak yakin diriku sanggup memikul tanggung jawab sebesar itu.” Valen cukup tahu diri. “Lagi pula, nggak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Kamu pasti mau memintaku untuk mencelakai Clarin, ‘kan?”“Bicara dengan orang cerdas memang lebih mudah.” Herni tersenyum.“Aku nggak akan bantu kamu.” Valen menolak tanpa ragu.“Clarin sudah lama menikah dengan Carles, sementara kamu adalah sahabatnya. Hasilnya? Apa dia pernah memberimu bantuan yang signifikan? Apa dia pernah memperkenalkanmu kepada cowok-cowok kaya? Kamu sudah putus dengan pacarmu, tapi dia nggak pernah berniat memperkenalkanmu pada cowok kaya.” Herni mengejek, “Kamu tulus menganggap dia sebagai sahabat, tapi dia jelas nggak menganggapmu penting.”V
Begitu kaki sudah hangat, Clarin segera terlelap.Dengan menempel pada tubuh Carles yang hangat bak tungku, tidurnya luar biasa pulas dan manis.Sementara Carles yang tidurnya memang mudah terbangun, baru saja terlelap, langsung merasa ada sesuatu menggesek pinggangnya. Pelan dan berulang kali … membuatnya terganggu dan terbangun.“Apa lagi yang mau kamu lakukan?” tanyanya sambil menahan emosi.Dia mengulurkan tangan hendak menghentikan gerakan Clarin, baru sadar perut Clarin menempel padanya. Orang yang bergerak ternyata adalah bayi dalam kandungan.Carles merasa tak berdaya.Dia menempelkan telapak tangan di titik gerakan itu, lalu memperingatkan dengan suara rendah dan dingin, “Cepat tidur! Kalau nggak, begitu kamu lahir, lihat saja bagaimana aku menghajarmu.”Entah karena gertakannya manjur atau bayi sudah capek, gerakan itu segera berhenti.Carles pun menarik kembali tangannya, memejam lagi.Rasanya baru tidur sebentar, dia kembali terbangun oleh gerakan bayi. Pada akhirnya, dia b







