Compartir

Bab 2

Autor: Fen
Melihat sikapnya yang seperti itu, wajah Jeremy semakin menggelap. Pria itu menatap Nancy tajam dengan nada bicara yang penuh amarah.

"Kalau nggak ada alasan lain, cepat belikan barang itu!"

Nancy tidak membantah. Dia memungut uang dari lantai lalu keluar.

Setelah kembali, dia meletakkan benda itu di depan pintu, lalu masuk ke kamarnya sendiri dan mengunci pintu.

Malam itu, suara dari kamar sebelah tidak kunjung berhenti.

Seolah sengaja ingin membalas dendam, Jeremy berulang kali membisikkan kata-kata cinta yang manis kepada Seria.

"Sayang, kamu harum sekali, aku sangat mencintaimu."

"Kamu juga harus mencintaiku selamanya, jangan pernah tinggalkan aku, ya?"

Kata-kata manis itu adalah kata-kata yang dulu sering dia ucapkan saat memeluk Nancy.

Kala itu mereka hidup susah di kontrakan sempit kurang dari dua puluh meter persegi, tetapi benar-benar penuh cinta.

Nancy berulang kali membayangkan dia bersama Jeremy saling mencintai sampai tua, punya sepasang putra-putri, dan menjalani kehidupan yang bahagia selamanya.

Kenangan itu kini bagai fatamorgana. Seindah apa pun, kenangan itu takkan pernah kembali.

Nancy menangis semalaman hingga bantalnya basah kuyup.

Dia meyakinkan diri sendiri. Nancy, ini terakhir kalinya kamu menangis untuknya.

Pagi harinya, mereka semua sudah bangun. Biasanya wanita yang dibawa Jeremy tidak pernah menginap, tapi Seria adalah yang pertama.

Dia bahkan satu-satunya yang sarapan di sana.

Para pelayan tampak lebih sibuk dari biasanya. Nancy baru tahu bahwa hari ini adalah ulang tahun Seria. Jeremy akan mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran untuk wanita itu di rumah ini.

Saat pesta dimulai, banyak teman dari kalangan kelas atas yang datang. Mereka menyapa Seria dengan akrab, seolah dialah nyonya rumah yang sebenarnya.

Jeremy memberikan penghormatan penuh pada Seria. Dia menggandeng tangan wanita itu untuk menerima ucapan selamat, dan setelah tiup lilin, dia menghadiahi kalung berlian senilai puluhan miliar rupiah.

Di puncak acara, mereka bahkan berciuman mesra di depan semua orang.

Tepuk tangan membahana, sementara tatapan orang-orang terhadap Nancy penuh dengan rasa kasihan yang terang-terangan.

"Menyedihkan sekali menjadi istri sah sampai ke titik ini."

"Siapa yang nggak tahu kalau dia sekarang jadi bahan tertawaan seantero pergaulan kelas atas."

“Dia kelihatan baik-baik saja, bahkan dia sama sekali nggak bereaksi.”

Nancy hanya menyunggingkan senyum pahit. Penderitaan yang dia alami sudah terlalu banyak, penghinaan semacam ini tidak ada artinya lagi.

Di tengah pesta, di tempat yang sepi, Seria menghampirinya.

"Sudah seharian, apa kamu nggak mau tanya kenapa aku melakukan ini?"

Nancy menggeleng datar. "Aku sudah nggak perlu tahu lagi."

Seria adalah sahabatnya, jadi wanita itu tahu semua kejadian di masa lalu.

Selama bertahun-tahun ini, Seria menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa menderitanya Nancy, hingga rasanya lebih baik mati saja. Tak terhitung berapa kali dia melihat Nancy menatap foto-foto ranjang yang dikirimkan oleh Jeremy dengan mata memerah dan berurai air mata. Dia pun merasa sangat hancur melihatnya, hingga hampir tak tahan untuk menelepon dan membongkar seluruh kebenaran kepada Jeremy.

Namun, Nancy-lah yang menghentikannya. Dia berkata bahwa apa pun yang dilakukan, tidak akan bisa mengubah akhir cerita mereka berdua.

Kini, Seria menatapnya dengan mata yang merah padam. Di dalam bola mata itu tersembunyi terlalu banyak emosi yang sulit untuk dipahami.

"Nancy, kamu tahu, aku paling benci sikapmu yang seperti ini. Seolah-olah kamu nggak peduli pada apa pun. Kamu nggak tahu apa-apa, tentu saja kamu juga nggak tahu bahwa aku telah mencintai Jeremy secara diam-diam selama bertahun-tahun."

"Sialnya, di dalam hatinya hanya ada kamu. Aku tahu selama bertahun-tahun ini, kamu menderita setengah mati karenanya, tapi apa kamu tahu kehidupan seperti apa yang dia jalani setelah kamu pergi?"

"Demi dirimu, dia mabuk-mabukan setiap hari, minum hingga muntah darah. Dia mendekam sendirian di rumah yang dulu kalian sewa, menghabiskan seluruh malam di sana. Foto yang kamu tinggalkan, dia simpan di dalam dompetnya selama bertahun-tahun. Pernah suatu kali dia dirampok, dia bahkan rela ditikam berkali-kali demi melindungi dompet itu. Hanya agar satu-satunya kenangan yang kamu tinggalkan nggak dirampas darinya."

"Bahkan setelah dia sukses dan terpandang, dia tetap menikahimu. Alasan dia membawa begitu banyak wanita ke rumah hanya karena ingin kamu menyerah dan bersikap lunak padanya. Asalkan kamu bilang kamu masih mencintainya, dia akan mengabaikan segalanya dan melepaskan semuanya demi berbaikan denganmu seperti sedia kala."

Seria melanjutkan dengan suara bergetar, "Dia membencimu, tapi dia lebih mencintaimu. Dia membawa banyak wanita hanya untuk memancingmu agar kamu memohon maaf padanya. Dia mau kamu bilang kalau kamu masih mencintainya!"

"Nancy, dia adalah pria yang begitu angkuh, tapi demi dirimu, dia merendahkan martabatnya hingga sejauh itu. Dia memang membencimu, tapi dia jauh lebih mencintaimu!"

Sampai di sini, Seria terdiam sejenak.

"Apa kamu tahu? Aku juga membencimu. Aku benci melihatmu memperlakukannya seperti itu, tapi dia tetap saja nggak mau melepaskanmu."

"Sebenarnya, dari awal, Jeremy nggak berniat menerimaku. Selama bertahun-tahun ini, semua wanita yang dia bawa pulang punya wajah yang mirip denganmu, sedangkan aku sama sekali nggak mirip denganmu. Tapi, akulah wanita yang sanggup bertahan paling lama di sisinya."

"Kamu tahu kenapa? Karena aku membohonginya. Aku bilang padanya bahwa ginjal yang dia terima saat itu adalah donor dariku."

Nancy hanya mendengarkan dengan tenang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Melihatnya tetap terdiam, napas Seria perlahan menjadi memburu. Setelah beberapa saat, dia baru berkata, "Nancy, tahun ini kamu belum memberiku hadiah ulang tahun. Tapi yang kuinginkan hanya satu. Aku mau kamu menyerahkan Jeremy kepadaku."

Mendengar itu, Nancy terdiam cukup lama. Tepat saat Seria mengira Nancy tidak akan menjawab, Nancy akhirnya membuka suara.

"Oke."

Seria tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau mau menyerahkannya, lakukan dengan benar. Biar di hatinya, nggak ada lagi namamu."

Begitu kalimat itu selesai, Seria melepaskan pegangannya pada riling tangga, memejamkan mata, dan menjatuhkan diri ke belakang!

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 26

    "Nancy ...." "Ikhlaskan dia." "Jangan terlalu sedih."Di depan makam, Nancy menatap batu nisan itu dengan pandangan kosong. Rekan-rekan sejawatnya mencoba menghiburnya. Mereka semua tahu betapa besarnya risiko menjadi polisi anti-narkotika, satu kesalahan kecil bisa berarti kehancuran seluruh keluarga.Dulu, keluarga Nancy dibantai oleh kartel narkoba. Dia datang terlambat dan tidak sempat melihat mereka untuk terakhir kalinya. Sekarang, pria yang paling dia cintai juga mati di tangan kartel yang sama. Tepat di depannya, dipukuli sampai mati demi melindunginya.Dari hasil autopsi, dokter menyatakan bahwa hampir seluruh tulang di tubuh Jeremy patah dan organ dalamnya hancur. Betapa luar biasa rasa sakit yang dia tanggung. Namun pada akhirnya, hanya karena mendengar ucapan cinta dari Nancy, Jeremy pergi dengan senyuman.Hal ini membuat Nancy sangat membenci dirinya sendiri. Dia akhirnya merasakan kepedihan yang sama dengan yang dirasakan Jeremy saat dia memalsukan kematiannya dulu.

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 25

    Tak lama kemudian, suara sirene polisi menggema di luar. Gudang itu seketika menjadi kacau balau."Ada polisi!" "Bagaimana polisi bisa menemukan tempat ini?" "Jelas-jelas nggak ada yang tahu lokasi ini, bagaimana mereka bisa sampai ke sini?"Para penjaga di sana, yang semuanya adalah orang-orang Keluarga Lumadi, panik luar biasa. Namun, karena sudah bertahun-tahun bergelut di dunia hitam, mereka langsung menaruh curiga pada Naomi."Pasti wanita ini yang membocorkannya! Belum lama dia dikurung, polisi sudah datang!" "Jalang sialan, ternyata dia bekerja sama dengan polisi!" "Kalau kami nggak bisa lari, dia juga nggak boleh hidup!"Orang yang sudah terdesak bisa melakukan apa saja, apalagi mereka yang memang terbiasa hidup dalam bahaya. Sekelompok pria dengan beringas membawa tongkat besi, berniat menghabisi Naomi sebelum polisi merangsek masuk.Mereka mengepungnya, menghujani tubuhnya dengan pukulan tongkat tanpa ampun, meluapkan amarah atas kegagalan mereka."Dasar jalang!" "Mati

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 24

    Meski sempat terjadi kekacauan karena Jeremy, pesta pertunangan itu akhirnya selesai. Naomi pun sudah menenangkan emosinya."Ayo pulang, hari ini aku akan membawamu ke rumah utama Keluarga Lumadi untuk bertemu dengan para tetua," ujar Daren dengan semangat. Dia sudah lama ingin membawa Naomi ke sana, tetapi baru sekarang dia punya alasan yang tepat. Mata pria itu berkilat penuh ketamakan."Oke. Karena kita sudah bertunangan, kapan kita akan menikah, Daren? Kamu tahu sendiri, aku nggak punya posisi kuat di Keluarga Stevina," tanya Naomi sambil merangkul lengan Daren dengan nada khawatir."Nggak perlu buru-buru. Kita sudah bertunangan, pernikahan tinggal selangkah lagi. Setelah Kakek bertemu dan menyukaimu, semuanya akan beres. Tenang saja," jawab Daren dengan nada meremehkan.Daren memilih Naomi justru karena statusnya sebagai anak angkat Keluarga Stevina yang sebatang kara. Naomi tidak punya saham besar dan saudara-saudara angkatnya justru sangat membencinya dan ingin dia menyingkir

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 23

    Harapan Jeremy pupus, Naomi menolaknya. Wajah Jeremy seketika pucat pasi. Dia menyambar tangan wanita itu dengan kuat."Nggak boleh. Kamu harus ikut denganku! Daren bukan pria baik-baik! Dia akan mencelakaimu, semua yang kukatakan ini benar, bisnisnya di luar negeri itu sebenarnya ....""Cukup, Jeremy!"Naomi mengibaskan tangan pria itu. Di matanya terdapat kekecewaan, kemarahan, dan kecaman, sama sekali tidak ada cinta. Hal itu menghunjam jantung Jeremy dengan telak."Justru bersamamu yang akan membunuhku! Kamu memaksaku mendonorkan darah untuk Seria, kamu menghinaku dengan uang berkali-kali! Kamulah bajingan yang sebenarnya! Aku sudah susah payah pergi dari kamu, kenapa kamu masih mencariku?""Aku suka Daren, aku mencintainya! Dia beda dari kamu, dia nggak akan menyakitiku! Jeremy, kamu pikir semua orang sepertimu?"Naomi berteriak dengan napas tersengal, mengerahkan seluruh tenaganya. Matanya memerah, tetapi mata Jeremy jauh lebih merah karena air mata yang mulai mengalir."Apa kam

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 22

    Beberapa hari kemudian, pesta Keluarga Lumadi berlangsung sesuai rencana. Mengingat pengaruh Keluarga Lumadi yang terbatas, tamu yang datang biasanya hanya kerabat dan teman dekat. Tidak ada yang menyangka Jeremy akan muncul di sana."Pak Jeremy, mohon maaf atas sambutan yang kurang memadai ini. Kami sungguh tidak menyangka Anda berkenan hadir di pesta kecil kami ini," ujar CEO Perusahaan Lumadi, Pak Wilbert, dengan perasaan tersanjung saat ini. Keluarga mereka tidak pernah bermimpi bisa menjalin koneksi dengan tokoh besar seperti Jeremy."Haha, istri tercintaku tertarik dengan acara ini, jadi aku datang untuk melihat apa yang sedang dia mainkan di sini," jawab Jeremy datar tanpa ekspresi."Oh, ternyata istri Anda juga hadir? Di mana beliau? Saya akan meminta anak-anak muda di keluarga kami untuk menyambutnya," sahut Pak Wilbert dengan sangat sopan.Apa pun alasannya, kehadiran Jeremy di pesta mereka hari ini memiliki arti yang luar biasa. Pak Wilbert mengabaikan tamu lain dan fokus

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 21

    "Apa kamu sudah tuli? Kenapa belum melakukannya?" Jeremy mengerutkan kening. Seria tidak pernah membangkang perintahnya sebelumnya."Kenapa aku harus melakukannya? Kalau ada orang yang bersalah padanya, itu adalah kamu!" Siksaan berhari-hari membuat Seria tidak sanggup lagi menahan diri. Kabar bahwa Nancy masih hidup adalah hal terakhir yang mematahkan akal sehatnya. Dia tidak percaya bahwa segala penderitaannya masih tidak bisa mengalahkan wanita jalang itu.Seria menatap Jeremy dengan penuh kebencian. "Apa Nancy sepenting bagimu? Walaupun dia mencampakkanmu berulang kali? Lalu aku? Aku ini apa? Aku juga mencintaimu selama bertahun-tahun, Jeremy!""Jelas-jelas dulu kamu juga suka padaku, ‘kan? Kalau nggak, kenapa kamu setuju menikah denganku? Benar, ‘kan?""Nancy sudah lama mati, dia nggak menginginkanmu lagi! Kenapa kamu nggak bisa melihatku sekali saja!"Seria berteriak histeris, namun kata-katanya hanya membuat Jeremy semakin murka. Jeremy mencekik leher Seria dan menekannya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status