Short
Melepaskanmu, Melepaskanku, Melepaskan Cinta Kita

Melepaskanmu, Melepaskanku, Melepaskan Cinta Kita

By:  MagnusCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
27Chapters
3.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Bu Noria, ini dari lembaga eutanasia di Swiss. Apakah benar Anda sendiri yang mengajukan eutanasia pada tanggal 25 Desember?" Bulu mata Noria bergetar ringan beberapa kali. Nadanya sangat tenang. "Ya." "Baik, pengajuan Anda sudah lolos verifikasi. Kami memberi waktu setengah bulan, silakan Anda mengatur urusan setelah kematian." Baru saja telepon ditutup, pintu kamar tidur langsung didorong terbuka. Aziel masuk membawa hawa dingin dari luar. Begitu melihat Noria, dia tersenyum sambil mengangkat kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di tangannya. "Nori, selamat ulang tahun." Noria tersenyum tipis. "Ulang tahunku kemarin." Gerakan Aziel sedikit kaku, sekilas rasa panik dan canggung melintas di wajahnya. "Maaf, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk kerja."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Bu Noria, ini dari lembaga eutanasia di Swiss. Apakah benar Anda sendiri yang mengajukan eutanasia pada tanggal 25 Desember?"

Bulu mata Noria bergetar ringan beberapa kali. Nadanya sangat tenang. "Ya."

"Baik, pengajuan Anda sudah lolos verifikasi. Kami memberi waktu setengah bulan, silakan Anda mengatur urusan setelah kematian."

Baru saja telepon ditutup, pintu kamar tidur langsung didorong terbuka.

Aziel masuk membawa hawa dingin dari luar. Begitu melihat Noria, dia tersenyum sambil mengangkat kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di tangannya. "Nori, selamat ulang tahun."

Noria tersenyum tipis. "Ulang tahunku kemarin."

Gerakan Aziel sedikit kaku, sekilas rasa panik dan canggung melintas di wajahnya.

"Maaf, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk kerja."

Setelah itu, dia berjongkok, mengangkat tangan, dan perlahan menempelkan telapak tangannya di betis Noria. Dia mulai memijat, sengaja mengalihkan topik. "Hari ini gimana? Kakimu masih nggak nyaman?"

Karena mengerahkan terlalu banyak tenaga, kedua tangan panjang itu memerah dan urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas, terlihat sangat mencolok. Teknik dan tekanan pijatannya sangat profesional, tetapi Noria tidak merasakan apa pun.

Karena lama tak mendapat jawaban, Aziel mengangkat kepala. Baru hendak bertanya, ponsel di sakunya berbunyi beberapa kali.

Dia mengeluarkannya dan membuka layar. Saat melihat nama yang tertera, senyuman bahagia tanpa sadar muncul di wajahnya.

Kata-kata yang sudah sampai di ujung bibir langsung dilupakan. Dia berdiri, melemparkan satu kalimat, lalu berjalan ke ruang kerja.

"Nori, aku ada sedikit urusan kerja, nanti aku pijat lagi kalau sudah pulang."

Noria tetap tidak berbicara, hanya menatapnya pergi dengan tenang. Saat sosoknya benar-benar menghilang di ambang pintu, di benak Noria masih terulang jelas senyuman yang tadi tak bisa dia sembunyikan.

Kalau itu urusan kerja, apakah Aziel akan tersenyum seperti itu? Ekspresi bahagia yang muncul dari dalam hati seperti itu, seharusnya hanya muncul saat menghadapi orang yang disukai, 'kan?

Lagi pula, senyuman seperti itu ... dulu dia sudah sering melihatnya.

Di masa SMA, Noria setiap pagi terburu-buru meneguk susu, lalu turun ke lantai bawah. Begitu mengangkat pandangan, dia selalu bisa melihat Aziel tersenyum seperti itu. Aziel akan berjalan mendekat dengan senyuman di bibir, mengambil tas sekolahnya yang berat, lalu mengantarnya ke sekolah.

Waktu itu mereka sama-sama berusia 18 tahun, masih lugu, penuh semangat. Di mata mereka hanya ada satu sama lain.

Seperti alur cerita yang klise di novel, dua orang yang tumbuh bersama sejak kecil itu mulai memiliki perasaan lain terhadap sesama, lalu saling jatuh cinta.

Mereka diam-diam menjalin hubungan, menyembunyikannya dari sekolah dan orang tua, berjanji untuk berusaha masuk universitas yang sama, lalu mengumumkan hubungan mereka secara terbuka.

Keduanya saling mendukung, berkembang bersama, dan akhirnya sama-sama diterima di Universitas Raija dengan nilai tinggi.

Segalanya seharusnya berakhir dengan sempurna di sini. Namun, kecelakaan terjadi.

Sehari sebelum masuk kuliah, mereka mengalami kecelakaan mobil. Di saat bahaya datang, Noria langsung mendorong Aziel menjauh.

Hari itu, Aziel selamat tanpa luka, sedangkan Noria kehilangan kedua kakinya.

Musibah datang bertubi-tubi. Tahun itu, orang tua Noria juga meninggal karena kecelakaan pesawat. Dia tidak mampu menerima rentetan pukulan itu sehingga sejak saat itu dia menderita depresi.

Aziel merasa sangat kasihan padanya. Begitu lulus kuliah, dia langsung melamar Noria. Dia bersumpah akan menepati janji, mengatakan bahwa seumur hidup tidak akan mengecewakannya.

Selama tiga tahun setelah menikah, Aziel memang melakukan hal itu. Sampai setengah bulan yang lalu, Noria menemukan buku harian Aziel.

Orang yang setiap hari mengatakan mencintainya, ternyata selalu melampiaskan penderitaannya di dalam buku harian.

Dia berkata, alasan dia melamar hanyalah karena tekanan moral. Jika tidak melakukannya, dia merasa semua orang akan menyalahkannya.

Dia berkata, setiap kali pulang ke rumah, perasaan tertekan dan terkekang itu membuatnya sulit bernapas. Setiap detik berada di sisi Noria terasa seperti siksaan.

Dia berkata, jika bisa mengulang waktu, dia lebih memilih Noria tidak menyelamatkannya. Bahkan jika harus menghabiskan hidup di kursi roda pun tidak masalah, setidaknya dia tidak akan menanggung rasa bersalah sebesar ini.

Dia berkata, dia diam-diam jatuh cinta pada seorang gadis bernama Maeva. Gadis itu hangat, ceria, ramah, sangat mirip dengan Noria sebelum kecelakaan.

Keesokan harinya, Noria menerima pesan dari Maeva.

[ Noria, aku dengar dari Aziel, kakimu nggak akan pernah sembuh lagi? Kalian sudah saling kenal begitu lama, bisakah kamu melepaskannya? ]

[ Kamu nggak tahu ya, karena kamu, dia sangat menderita setiap hari, bahkan ingin mati. Tapi dia nggak bisa mati, karena dia masih harus pura-pura tersenyum merawatmu. Hidupnya sangat menyedihkan, 'kan? ]

[ Kalau bukan karena bertemu denganku, entah kapan dia akan jadi gila. Masa kamu nggak merasa bersalah sedikit pun? Aku benar-benar kasihan padanya. Sekarang dia menyukaiku, jadi tolong berhenti menahannya. Cerai saja dan biarkan kami bersama ya? ]

Setelah itu, dia mengirim belasan foto mesra. Semua kamera mengarah ke Aziel.

Aziel tersenyum sambil membuat kopi. Saat melihat Maeva sedang selfie, dia mendekat dengan akrab dan ikut berpose.

Aziel mengupas sepiring besar udang dan menyajikannya di depan Maeva, lalu mengelap kuah yang menempel di jari-jarinya.

Aziel berjalan di pantai mengikuti jejak kaki Maeva, tersenyum sambil menyerahkan segenggam besar kerang laut.

Melihat satu per satu foto itu, hati Noria terasa sakit seperti disayat ribuan pisau. Dia sampai sulit bernapas.

Namun, matanya sudah tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, yang tersisa hanya kehampaan.

Dia tidak membalas pesan-pesan itu, tetapi Maeva tidak berhenti. Setiap hari setelah itu, Maeva mengirim banyak foto aktivitas harian baru. Di setiap foto ada penanda waktu.

Tanggal 21 November, mereka berjalan-jalan di taman saat matahari terbenam. Tanggal 26 November, mereka pergi ke studio keramik, membuat vas bunga bersama-sama. Tanggal 1 Desember, mereka pergi menonton konser, berbicara banyak tentang musik dan masa depan.

....

Setiap waktu di foto itu, semuanya cocok dengan waktu ketika Aziel menelepon dan mengatakan bahwa dia sedang lembur.

Bahkan kemarin saat ulang tahunnya, Noria menunggu di rumah sepanjang siang dan malam, tetapi Aziel tidak pulang. Alasan ketidakhadirannya adalah untuk menemani Maeva melihat kembang api.

Melihat foto yang dikirim Maeva, Noria akhirnya tersenyum, sampai air matanya mengalir.

Aziel yang berusia 18 tahun, mencintai Noria yang berusia 18 tahun dengan penuh gairah. Namun, Aziel yang berusia 25 tahun, tidak lagi mencintai Noria yang berusia 25 tahun.

Malam itu, Noria duduk di depan jendela semalaman. Keesokan harinya, dia mengirim banyak dokumen ke lembaga eutanasia di luar negeri, mengajukan permohonan untuk mengakhiri hidupnya.

'Aziel, aku sudah nggak punya apa-apa lagi, hanya punya kamu. Tapi kamu menganggapku seperti wabah. Kalau begitu, aku memilih melepaskanmu dan juga melepaskan diriku sendiri.'
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Yenita Siregar
Yenita Siregar
baru x ini penderitaan si penghianat banyak babnya, wlpun endingnya matekk juga tapi si pelakor selamat, Issa kurang mantap thorrr gak adil
2026-05-14 14:38:48
2
0
27 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status