Short
Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan

Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan

By:  AurgandaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
23Chapters
430views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Seratus miliar. Dalam satu minggu, kamu harus ke luar negeri dan menjauh dari anakku selamanya." Mauria duduk di seberang Valerie, wajahnya yang terawat menampilkan rasa meremehkan tanpa disembunyikan sedikit pun. Kalau dulu, Valerie pasti akan membalas dengan mata memerah, "Aku pacaran sama dia bukan karena uang." Namun sekarang, dia hanya mengangguk dengan tenang, "Baik." Mauria jelas tertegun sejenak, lalu mencibir dengan sinis, "Lumayan tahu diri." Dia menekankan kata "tahu diri" itu dengan sangat berat, seolah sengaja menegaskan perbedaan status antara Valerie dan Bendy yang bagaikan langit dan bumi. Valerie menundukkan pandangannya tanpa berkata apa-apa. Dia mengambil cek itu, lalu berbalik dan pergi.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Seratus miliar. Dalam satu minggu, kamu harus ke luar negeri dan menjauh dari anakku selamanya." Mauria duduk di seberang Valerie, wajahnya yang terawat menampilkan rasa meremehkan tanpa disembunyikan sedikit pun.

Kalau dulu, Valerie pasti akan membalas dengan mata memerah, "Aku pacaran sama dia bukan karena uang."

Namun sekarang, dia hanya mengangguk dengan tenang, "Baik."

Mauria jelas tertegun sejenak, lalu mencibir dengan sinis, "Lumayan tahu diri."

Dia menekankan kata "tahu diri" itu dengan sangat berat, seolah sengaja menegaskan perbedaan status antara Valerie dan Bendy yang bagaikan langit dan bumi.

Valerie menundukkan pandangannya tanpa berkata apa-apa. Dia mengambil cek itu, lalu berbalik dan pergi.

....

Saat kembali ke vila, hari sudah gelap.

Tempat ini terlalu besar, sampai dia sering tersesat.

Satu-satunya yang terasa familier hanyalah foto bersama di atas meja. Di dalam foto itu, Bendy merangkul pinggangnya dan menunduk menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut.

Valerie mengusap foto itu dengan lembut, tiba-tiba teringat malam hujan tiga tahun lalu. Tahun itu, dia menemukan Bendy di ujung gang. Tubuhnya penuh darah dan tatapannya kosong.

"Kamu siapa?" tanya Valerie.

"Aku ... nggak ingat." Bendy menggeleng dengan bingung, air hujan bercampur darah menetes dari ujung rambutnya.

Begitulah, Valerie membawa pulang pria yang kehilangan ingatan itu. Rumah tua sempit berukuran 30 meter persegi, menampung mereka berdua. Cat dinding telah mengelupas dan pipa air bocor. Bahkan, mereka harus memakai tiga selimut agar tidak kedinginan saat musim dingin.

Namun, justru di tempat paling miskin itulah, tumbuh cinta yang paling murni. Mereka saling bergantung satu sama lain dan sejak saat itu menjadi satu-satunya pendukung bagi satu sama lain.

Bendy selalu berjongkok menunggu di bawah gedung selama tiga jam saat Valerie lembur, hanya untuk mengantarnya pulang.

Bendy akan tidak tidur semalaman saat Valerie kesakitan karena haid, lalu memijat perutnya sepanjang malam. Bendy bahkan diam-diam bekerja lima pekerjaan dalam sehari, hanya untuk membelikan kalung mahal yang sudah tiga kali dilihat Valerie tapi tidak pernah tega membeli.

Satu-satunya yang membuatnya kewalahan adalah, setiap malam Bendy selalu ingin bermesraan dengannya.

Saat Valerie memohon ampun dengan wajah memerah, Bendy hanya menggigit cuping telinganya sambil tertawa pelan, "Sayang, aku terlalu mencintaimu, makanya jadi begini."

Saat mereka paling saling mencintai, Bendy bahkan mengajaknya ke tempat tato dan menato nama Valerie di tulang selangkanya.

Seniman tato bertanya apakah dia takut sakit, tapi Bendy hanya menatapnya sambil tersenyum. "Justru harus sakit, supaya nggak melupakan orang yang paling aku cintai."

Valerie mengira, mereka akan terus bahagia seperti itu selamanya.

Sampai Bendy mendapatkan kembali ingatannya.

Barulah Valerie tahu, ternyata Bendy sama sekali bukan pria miskin yang telantar di jalanan, melainkan pewaris Keluarga Sunarta di ibu kota, orang yang menguasai setengah dunia keuangan. Waktu itu, Bendy hanya dijebak oleh musuh bebuyutannya hingga mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan, lalu telantar di jalan.

Setelah identitasnya kembali, Bendy membawa Valerie tinggal di vila seluas 2000 meter persegi. Bahkan kamar mandinya saja sepuluh kali lebih besar dari rumah lamanya.

Namun sejak itu, Bendy juga seperti berubah menjadi orang lain. Dia mengenakan setelan jas mahal yang mereknya bahkan tidak dikenal Valerie, memakai jam tangan bernilai fantastis, membicarakan kerja sama bernilai ratusan miliar, dan sering tidak pulang semalaman.

Valerie terus menipu dirinya sendiri, meyakini bahwa Bendy hanya terlalu sibuk.

Sampai hari itu, berita utama hiburan dipenuhi kabar skandal dirinya dengan putri Keluarga Salim, Celine.

Di foto itu, Bendy mengenakan setelan jas mahal dan membukakan pintu mobil untuknya. Cara mereka saling menatap dan tersenyum tampak begitu menusuk mata.

Kolom komentar dipenuhi kata-kata seperti "sepadan" dan "pasangan yang ditakdirkan".

Pada saat itu, Valerie duduk sendirian di dekat jendela. Dia menatap bulan sepanjang malam dan akhirnya memahami sebuah kenyataan.

Bendy yang akan menerobos angin dan salju untuk menjemputnya pulang kerja, Bendy yang mengangkut batu bata demi membelikan kalung untuknya, Bendy yang menato namanya di tulang selangka, semuanya sudah mati pada hari dia mendapatkan kembali ingatannya.

Sekarang, tuan muda Keluarga Sunarta itu berbeda bagaikan langit dan bumi dengan dirinya. Bendy berdiri di atas awan, sementara Valerie terjebak di lumpur.

Bagaikan pungguk merindukan bulan, orang seperti Bendy memang ditakdirkan bersama seseorang yang sama gemilangnya. Kalau begitu, untuk apa Valerie terus mempermalukan diri sendiri?

Lebih baik melepaskan.

Melepaskan Bendy dan juga melepaskan dirinya sendiri.

Malam itu, vila tetap kosong. Bendy masih belum pulang.

Valerie tidak lagi menunggunya sampai dini hari seperti biasanya, melainkan tidur lebih awal. Begitu fajar tiba, dia langsung pergi ke pusat pengurusan visa. Valerie mengambil jalur percepatan, sehingga visa dan paspornya bisa selesai dalam waktu satu minggu.

Saat keluar dari pusat visa, hari sudah siang. Valerie memilih sebuah restoran dengan asal-asalan.

Begitu mendorong pintu masuk, langkahnya sedikit terhenti. Di kursi dekat jendela, Bendy sedang menyeka sudut bibir Celine dengan tisu.

Tatapan itu tampak begitu lembut, persis sama seperti dulu saat Bendy tersenyum dan menciumnya di kamar sewaan. Valerie berdiri di tempat, merasa jantungnya seperti diremas kuat oleh tangan tak kasat mata. Dia berbalik ingin pergi, tapi tanpa sengaja menjatuhkan tanaman hias di dekat pintu.

Bendy mendengar suara itu dan mengangkat pandangan. Saat melihat Valerie, kehangatan di matanya langsung menghilang. Dia berjalan perlahan mendekati Valerie. Bibir tipisnya terbuka dan dia berkata dengan suara yang dingin, "Kamu mengikutiku?"

Belum sempat Valerie menjawab, dia sudah melanjutkan, "Bukannya aku sudah jelasin sama kamu soal foto-foto skandal di internet itu? Itu cuma pembicaraan kerja sama bisnis. Sampai kapan kamu mau bikin masalah?"

Valerie membuka mulut ingin menjelaskan, tapi tenggorokannya seperti tersumbat.

Kata-kata ibu Bendy kemarin masih terngiang di telinganya, "Pernikahan antara Bendy dan Celine sudah lama ditetapkan oleh kedua keluarga, dan dia sendiri juga sangat menyukai Celine ...."

'Kerja sama? Kerja sama seperti pernikahan bisnis itu?'

"Bendy, jangan galak begitu." Celine juga ikut berjalan mendekat, lalu tersenyum untuk meredakan suasana, "Kalau sudah ketemu, berarti memang takdir. Duduk sama-sama saja."

Belum sempat Valerie menolak, Celine sudah langsung menariknya ke meja mereka.

Valerie seperti boneka yang ditekan duduk di kursi. Dia menghadap tepat di wajah Bendy yang dingin seperti es.

"Bu Valerie mau makan apa?" Celine mendorong menu ke hadapannya, "Masakan Prancis di sini sangat autentik."

Valerie menatap tulisan Prancis di menu yang sama sekali tidak dia mengerti, rasa malu perlahan menyebar di dalam hatinya.

"Aku nggak lapar." Dia mendorong kembali menu itu.

"Kalau begitu minum sup saja." Celine menyendok semangkuk sup seafood dan meletakkannya di depan Valerie. "Segar sekali."

Valerie menatap udang yang mengapung di dalam sup itu, perutnya langsung terasa melilit. Dia alergi berat terhadap seafood. Baru saja ingin menolak dengan halus, ponsel Bendy berdering. Dia berdiri untuk menjawab telepon dengan postur tegap.

Setelan jas itu pernah dilihat Valerie di majalah, harganya cukup untuk membeli seluruh kompleks tempat tinggal lamanya.

"Cepat dicicipi." Celine tiba-tiba merendahkan suara, "Dengan statusmu, biasanya kamu nggak akan bisa menikmati makanan semahal ini."

Valerie langsung mengangkat kepala, menatap matanya yang tersenyum.

"Kamu nggak benar-benar berpikir, hanya karena pernah punya hubungan dengan Bendy, kamu bisa menikah ke keluarga kaya, 'kan?" Ujung jarinya mengetuk pelan bibir gelas dan melanjutkan, "Kalau bukan karena dia kehilangan ingatan, wanita kelas bawah sepertimu bahkan nggak pantas untuk mengelap sepatunya."

Valerie menggenggam serbet dengan erat hingga kainnya kusut.

Dirinya ini memang miskin, tapi bukan berarti orang lain boleh menginjak-injak harga dirinya seperti ini. "Bu Celine, kita nggak saling kenal, kamu ...."

"Ah!"

Baru saja Valerie hendak bicara, Celine tiba-tiba berteriak. Dia mengangkat tangan dan menjatuhkan mangkuk sup seafood itu. Cairan panas menyiram punggung tangannya dan juga memercik ke tangan Valerie.

Bendy yang mendengar suara itu langsung kembali, jari-jarinya yang panjang segera menggenggam tangan Celine. "Ada apa?"

"Nggak apa-apa ...." Mata Celine memerah dan berkata, "Ini salahku, ketahuan makan berdua denganmu. Wajar saja kalau Bu Valerie marah sebagai pacarmu ...."

Bendy langsung menatap Valerie dengan dingin. "Valerie, aku sudah menjelaskan berkali-kali, kamu tetap mau begini?"

"Nggak, dia sendiri yang ...."

"Cukup!" potong Bendy, "Aku melihatnya dengan mataku sendiri, apa mungkin salah? Sejak kapan kamu jadi sekeras kepala ini?"

Setelah berkata demikian, Bendy langsung menggendong Celine dan pergi tanpa menoleh lagi.

Celine bersandar di bahunya dan perlahan menoleh ke belakang, lalu memperlihatkan senyum kemenangan pada Valerie.

Valerie berdiri di tempat, dengan tangan gemetar mengangkat tangannya yang memerah karena tersiram. Lepuhan sudah muncul, rasa sakitnya seperti ditusuk ribuan jarum.

Namun di mata Bendy, hanya ada kulit tangan Celine yang sedikit memerah itu. Dia pergi dengan begitu cepat dan tegas, bahkan tidak memberi satu tatapan pun pada Valerie.

Padahal, Bendy miliknya dulu adalah orang yang paling mengkhawatirkannya.

Tiga tahun lalu saat dia terkena minyak panas saat memasak, Bendy begitu panik sampai matanya memerah. Dia berlari ke apotek untuk membeli obat di tengah malam, lalu saat kembali dia mengoleskan obat sambil berkata, "Val, sakit nggak?"

Saat itu, di mata Bendy hanya ada dirinya. Namun sekarang, Bendy sudah tidak bisa melihatnya lagi.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Oranye
Oranye
Cerita fiksi bukan berarti logika diabaikan. Readers bukan bodoh
2026-04-26 12:03:51
0
0
Oranye
Oranye
Paling lucu lg semua cerpen di app ini kok sama. Pas pu cewe perlu tetiba si laki yg selingkuh langsung gelisah n berubah pikiran, tetiba sadar. Aneh kali. Ga ada ide buat cerita kok maksa nulis
2026-04-26 12:38:05
0
0
23 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status