Compartilhar

Bab 3

Autor: Fen
Suara dentuman keras mengejutkan semua orang. Jeremy yang melihat Seria tergeletak bersimbah darah seketika murka.

"Nancy! Cari mati kamu!"

Dia menggendong Seria dan bergegas pergi.

Pesta berakhir kacau, dan Nancy pun dibawa oleh pengawal ke rumah sakit.

Mendengar Seria mengalami pendarahan hebat dan kebetulan golongan darah mereka sama, Jeremy tanpa ragu memerintahkan Nancy untuk mendonorkan darah.

Donor darah membutuhkan pemeriksaan fisik singkat. Riwayat operasi dan penyakit masa lalunya akan terbongkar. Dia tidak boleh membiarkan Jeremy tahu bahwa dialah yang mendonorkan ginjal dulu.

Memikirkan hal itu, Nancy sengaja bersikap ketus. "Aku nggak mau. Golongan darahnya bukan golongan darah langka, kenapa harus aku?"

Jeremy mengeluarkan segepok uang dan melemparkannya ke wajahnya.

"Bukannya kamu suka uang? Berapa pun yang kamu minta akan kuberikan, sekarang kamu mau donor nggak?"

Nancy menatap pria di depannya dengan mati rasa. Setelah dihujani beberapa gepok uang lagi, dia akhirnya berjongkok, memungut lembaran uang itu satu per satu, lalu tersenyum getir.

"Seharusnya kamu berikan dari tadi, jadi nggak buang-buang waktu."

Nancy pun masuk ke ruang donor.

Setelah pemeriksaan, dokter menggelengkan kepala melihat laporan medis.

"Nona ini pernah menjalani operasi pengangkatan satu ginjal dan memiliki riwayat pendarahan hebat. Tidak disarankan untuk donor darah."

Alis Jeremy bertaut rapat. "Apa maksudnya kehilangan satu ginjal?"

Sebelum Nancy sempat bicara, Jeremy mencibir dingin, "Kenapa? Demi uangku, kamu mau mengarang cerita bohong kalau kamulah yang mendonorkan ginjal untukku dulu?"

Hati Nancy berdenyut sangat nyeri. Dia memaksakan senyum dan mengangguk. "Benar, nggak disangka kamu bisa melihat aktingku."

Wajah Jeremy menjadi sangat gelap. Dia mencengkeram kerah baju dokter dan mendesis, "Aku nggak peduli berapa dia membayarmu untuk berbohong atau nggak, aku akan bayar dua kali lipat. Ambil darahnya sebanyak yang Seria butuhkan!"

Jarum besar menembus pembuluh darahnya, membuat Nancy gemetar tanpa sadar.

Darah mengalir keluar sedikit demi sedikit, dan tubuhnya terasa semakin dingin. Pandangannya mulai kabur hingga akhirnya dia pingsan.

Saat terbangun, hari sudah gelap. Di nakas samping tempat tidur, ada kue ketan manis kesukaannya.

Dulu, setiap kali dia merasa tidak enak badan, Jeremy akan menerjang hujan badai demi membelikan kue ini untuk menghiburnya.

Jeremy bilang, saat itu dia miskin. Hanya bisa memberikan kue itu, tapi selanjutnya dia akan memberikan yang terbaik.

Mengingat cara pria itu merangkulnya dan membujuknya dengan lembut, jantungnya terasa berdenyut-denyut nyeri, rasa sakitnya begitu hebat hingga ia merasa sesak napas.

Dia memakan kue itu secara mekanis, menelannya bulat-bulat meski terasa sesak.

Saat keluar kamar, dia melihat Jeremy sedang menyuapi Seria di kamar sebelah dengan penuh kasih sayang.

"Jeremy, panas sekali," kata Seria dengan manja.

Jeremy meniupnya dengan lembut.

"Kurang manis," keluhnya lagi.

Jeremy tidak marah, dia malah mengeluarkan permen dan menyuapinya.

Saat Seria masih mengeluh kurang manis, Jeremy langsung menciumnya dengan dalam.

Setelah tautan mereka terlepas, Seria bersandar di bahunya. "Jeremy, berhenti mencintai Nancy. Cintai aku saja, ya?"

Pandangan pria itu beralih ke pintu, tepat bertabrakan dengan mata Nancy.

Suasana mendadak hening. Jeremy menatapnya dengan dingin.

"Aku sudah nggak mencintainya lagi. Nggak akan pernah lagi."

Nancy tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyum pedih, lalu berbalik pergi.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 26

    "Nancy ...." "Ikhlaskan dia." "Jangan terlalu sedih."Di depan makam, Nancy menatap batu nisan itu dengan pandangan kosong. Rekan-rekan sejawatnya mencoba menghiburnya. Mereka semua tahu betapa besarnya risiko menjadi polisi anti-narkotika, satu kesalahan kecil bisa berarti kehancuran seluruh keluarga.Dulu, keluarga Nancy dibantai oleh kartel narkoba. Dia datang terlambat dan tidak sempat melihat mereka untuk terakhir kalinya. Sekarang, pria yang paling dia cintai juga mati di tangan kartel yang sama. Tepat di depannya, dipukuli sampai mati demi melindunginya.Dari hasil autopsi, dokter menyatakan bahwa hampir seluruh tulang di tubuh Jeremy patah dan organ dalamnya hancur. Betapa luar biasa rasa sakit yang dia tanggung. Namun pada akhirnya, hanya karena mendengar ucapan cinta dari Nancy, Jeremy pergi dengan senyuman.Hal ini membuat Nancy sangat membenci dirinya sendiri. Dia akhirnya merasakan kepedihan yang sama dengan yang dirasakan Jeremy saat dia memalsukan kematiannya dulu.

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 25

    Tak lama kemudian, suara sirene polisi menggema di luar. Gudang itu seketika menjadi kacau balau."Ada polisi!" "Bagaimana polisi bisa menemukan tempat ini?" "Jelas-jelas nggak ada yang tahu lokasi ini, bagaimana mereka bisa sampai ke sini?"Para penjaga di sana, yang semuanya adalah orang-orang Keluarga Lumadi, panik luar biasa. Namun, karena sudah bertahun-tahun bergelut di dunia hitam, mereka langsung menaruh curiga pada Naomi."Pasti wanita ini yang membocorkannya! Belum lama dia dikurung, polisi sudah datang!" "Jalang sialan, ternyata dia bekerja sama dengan polisi!" "Kalau kami nggak bisa lari, dia juga nggak boleh hidup!"Orang yang sudah terdesak bisa melakukan apa saja, apalagi mereka yang memang terbiasa hidup dalam bahaya. Sekelompok pria dengan beringas membawa tongkat besi, berniat menghabisi Naomi sebelum polisi merangsek masuk.Mereka mengepungnya, menghujani tubuhnya dengan pukulan tongkat tanpa ampun, meluapkan amarah atas kegagalan mereka."Dasar jalang!" "Mati

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 24

    Meski sempat terjadi kekacauan karena Jeremy, pesta pertunangan itu akhirnya selesai. Naomi pun sudah menenangkan emosinya."Ayo pulang, hari ini aku akan membawamu ke rumah utama Keluarga Lumadi untuk bertemu dengan para tetua," ujar Daren dengan semangat. Dia sudah lama ingin membawa Naomi ke sana, tetapi baru sekarang dia punya alasan yang tepat. Mata pria itu berkilat penuh ketamakan."Oke. Karena kita sudah bertunangan, kapan kita akan menikah, Daren? Kamu tahu sendiri, aku nggak punya posisi kuat di Keluarga Stevina," tanya Naomi sambil merangkul lengan Daren dengan nada khawatir."Nggak perlu buru-buru. Kita sudah bertunangan, pernikahan tinggal selangkah lagi. Setelah Kakek bertemu dan menyukaimu, semuanya akan beres. Tenang saja," jawab Daren dengan nada meremehkan.Daren memilih Naomi justru karena statusnya sebagai anak angkat Keluarga Stevina yang sebatang kara. Naomi tidak punya saham besar dan saudara-saudara angkatnya justru sangat membencinya dan ingin dia menyingkir

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 23

    Harapan Jeremy pupus, Naomi menolaknya. Wajah Jeremy seketika pucat pasi. Dia menyambar tangan wanita itu dengan kuat."Nggak boleh. Kamu harus ikut denganku! Daren bukan pria baik-baik! Dia akan mencelakaimu, semua yang kukatakan ini benar, bisnisnya di luar negeri itu sebenarnya ....""Cukup, Jeremy!"Naomi mengibaskan tangan pria itu. Di matanya terdapat kekecewaan, kemarahan, dan kecaman, sama sekali tidak ada cinta. Hal itu menghunjam jantung Jeremy dengan telak."Justru bersamamu yang akan membunuhku! Kamu memaksaku mendonorkan darah untuk Seria, kamu menghinaku dengan uang berkali-kali! Kamulah bajingan yang sebenarnya! Aku sudah susah payah pergi dari kamu, kenapa kamu masih mencariku?""Aku suka Daren, aku mencintainya! Dia beda dari kamu, dia nggak akan menyakitiku! Jeremy, kamu pikir semua orang sepertimu?"Naomi berteriak dengan napas tersengal, mengerahkan seluruh tenaganya. Matanya memerah, tetapi mata Jeremy jauh lebih merah karena air mata yang mulai mengalir."Apa kam

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 22

    Beberapa hari kemudian, pesta Keluarga Lumadi berlangsung sesuai rencana. Mengingat pengaruh Keluarga Lumadi yang terbatas, tamu yang datang biasanya hanya kerabat dan teman dekat. Tidak ada yang menyangka Jeremy akan muncul di sana."Pak Jeremy, mohon maaf atas sambutan yang kurang memadai ini. Kami sungguh tidak menyangka Anda berkenan hadir di pesta kecil kami ini," ujar CEO Perusahaan Lumadi, Pak Wilbert, dengan perasaan tersanjung saat ini. Keluarga mereka tidak pernah bermimpi bisa menjalin koneksi dengan tokoh besar seperti Jeremy."Haha, istri tercintaku tertarik dengan acara ini, jadi aku datang untuk melihat apa yang sedang dia mainkan di sini," jawab Jeremy datar tanpa ekspresi."Oh, ternyata istri Anda juga hadir? Di mana beliau? Saya akan meminta anak-anak muda di keluarga kami untuk menyambutnya," sahut Pak Wilbert dengan sangat sopan.Apa pun alasannya, kehadiran Jeremy di pesta mereka hari ini memiliki arti yang luar biasa. Pak Wilbert mengabaikan tamu lain dan fokus

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 21

    "Apa kamu sudah tuli? Kenapa belum melakukannya?" Jeremy mengerutkan kening. Seria tidak pernah membangkang perintahnya sebelumnya."Kenapa aku harus melakukannya? Kalau ada orang yang bersalah padanya, itu adalah kamu!" Siksaan berhari-hari membuat Seria tidak sanggup lagi menahan diri. Kabar bahwa Nancy masih hidup adalah hal terakhir yang mematahkan akal sehatnya. Dia tidak percaya bahwa segala penderitaannya masih tidak bisa mengalahkan wanita jalang itu.Seria menatap Jeremy dengan penuh kebencian. "Apa Nancy sepenting bagimu? Walaupun dia mencampakkanmu berulang kali? Lalu aku? Aku ini apa? Aku juga mencintaimu selama bertahun-tahun, Jeremy!""Jelas-jelas dulu kamu juga suka padaku, ‘kan? Kalau nggak, kenapa kamu setuju menikah denganku? Benar, ‘kan?""Nancy sudah lama mati, dia nggak menginginkanmu lagi! Kenapa kamu nggak bisa melihatku sekali saja!"Seria berteriak histeris, namun kata-katanya hanya membuat Jeremy semakin murka. Jeremy mencekik leher Seria dan menekannya

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status