Mag-log inAllea keluar dari kamar mandi sambil menggeret tiang infus. Tangannya yang kecil terkait dengan selang infus. Wajah itu pucat pasih. Hidungnya memerah karena muntah.
Perawat yang melihat Allea bersusah payah berjalan dengan tiang infus itu lekas menolong. Allea lalu dipapah masuk ke dalam tirai tempat dirinya berbaring."Allea.." Rangga mengerjap kesadarannya.Mata Riana sampai membulat sempurna. Astaga! Kesialan apalagi kini yang menimpanya. Tadi pagi ia melihat AlAllea masuk ke perkarangan rumah dan menatap sedikit mobil yang sudah terparkir disana. Tanpa banyak komentar, Allea membuka handle pintu dan masuk ke dalam rumah.Ia tertegun sebentar. Terkejut. Tapi mulai terbiasa.Wanita ini lagi.. wanita yang selalu dibawa pulang oleh suaminya."Hai, Alle!" Sapa Riana ramah. "Maaf ya, aku numpang lagi menginap malam ini. Abisnya kami pulang kemalaman dari survey."Alis Allea terangkat satu. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 18.30. Kemalaman di dunia apakah itu namanya?"Hmm.. ya, silahkan saja. Kamu pasti tahu akan tidur dimana." Sahut Allea datar.Wanita ini berlalu melewati Riana dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas. Saat dia masuk ke dalam kamar, Allea terkejut karena melihat Rangga tengah mengacak-ngacak pakaiannya."Mau cari apa kamu, mas?""Baju tidur yang biasa dipakai Riana." Jawabnya tanpa menoleh."Oh. Gaun tidur itu? Ku taruh di dalam lemari
Rangga mengaduk sendok di dalam kopinya dengan setengah menggerutu."Hebat sekali dia. Apa dia pikir aku akan perduli padanya?!" Sebal sekali Rangga dibuat oleh istrinya itu.Berani sekali Allea sarapan santai dan duduk manis. Hanya makan satu porsi dan tidak menawarkannya lagi.Biasanya wanita itu akan memanggil Rangga dengan lembut. Jika Rangga menolak, maka Allea akan memaksanya duduk dan menyuapinya makan. Dan yang paling konyol, Allea akan membawakan bekal makan siang untuknya.Tapi hari ini, Allea sama sekali tak menawarinya.Astaga!Bagaimana Allea bisa mengajaknya sarapan bersama jika melihat wajah suaminya saja tidak?"Hey! Mas Rangga lagi buat kopi juga?" Tegur suara cerah dari belakang.Rangga menoleh dan membingkai senyuman."Gimana perutmu?""Agak mendingan." Riana mengambil cangkir dan menyeduh kopi. "Kamu nggak sarapan, mas?"Rangga menggeleng. "Tadi masih kenyang."
Riana menekuk kepalanya dengan dalam. Di depan sana ada Ilmi dan Riza yang sibuk bekerja di balik komputer. Gara-gara ditegur Madani di hadapan rekan kerjanya membuat Riana jadi malu. Terlebih Madani mengatakan akan memutasi Riana ke divisi lain gara-gara hubungannya dengan Rangga yang terlanjur dekat. Astaga! Bagaimana ini? Mau ditaruh dimana wajah cantiknya ini. Apalagi memang keduanya acap kali menjadi buah bibir di kantor.Percuma mau mengelak. Toh, waktu itu rekan kerja mereka pernah memergoki Rangga membawa Riana menginap di rumah pria itu.Sedangkan, Rangga juga ikut pusing karena perkataan dari Madani tadi. Wajah ini jadi merah padam. Seolah-olah dia adalah pelaku perselingkuhan.Nyatanya, Rangga dan Riana kan hanya berteman saja.Ah, lupakan soal itu. Rangga melirik ponselnya yang sejak tadi tenang. Padahal hari sudah sore, tapi Allea kok tidak memberi kabar?Ralat. Allea tadi ada di IGD, kan? Dengan sikapnya yang kekan
Allea keluar dari kamar mandi sambil menggeret tiang infus. Tangannya yang kecil terkait dengan selang infus. Wajah itu pucat pasih. Hidungnya memerah karena muntah.Perawat yang melihat Allea bersusah payah berjalan dengan tiang infus itu lekas menolong. Allea lalu dipapah masuk ke dalam tirai tempat dirinya berbaring."Allea.." Rangga mengerjap kesadarannya.Mata Riana sampai membulat sempurna. Astaga! Kesialan apalagi kini yang menimpanya. Tadi pagi ia melihat Allea di kedai kopi. Dan sekarang Allea juga ada di rumah sakit dengan posisi terinfus. Oh.. pasti sakitnya parah sekali."Mas! Itu Allea, kan?" Riana mencoba bertanya. Allea masih memakai kemeja bergaris yang sama."Hmm.. iya.""Sakit apa dia, mas?"Rangga menggeleng. "Aku nggak tahu.""Ayo, kita lihat." Ajak Riana."Biarkan saja. Kita harus pulang ke kantor, Riana.""Tapi, dia...""Tidak." Potong Rangga tegas. "Jika Allea sa
"Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p
Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.







