Share

Bab 4

Author: Stary Dream
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-31 08:57:49

Setelah merasa lebih baik, Allea kembali mengunjungi butiknya. Sudah satu tahun ini, tepatnya sebelum menikah Allea sudah membuka butik wanita. Namun karena dihantam oleh krisis ekonomi, butik ini tak seramai dulu.

Menyedihkannya, hanya ada satu pembeli saja terkadang untuk satu hari. Allea terpaksa mengurangi jumlah pegawainya. Termasuk dalam stok barang.

Saat Allea berkunjung, wanita ini terkejut setelah ada butik lain yang baru saja grand opening. Para wanita berkerumun seperti semut untuk mendapatkan barang-brang branded dengan harga terjangkau. Berbanding tebalik dengan butiknya saat ini yang sepi pembeli.

"Hai, mbak Allea. Udah sehat?" Tanya satu wanita yang menjadi pegawai di butik Allea ini.

"Iya. Alhamdulillah. Gimana butik selama aku tinggal?"

Wanita yang bernama Ratih ini tersenyum pahit.

"Ya.. begitulah. Seperti yang aku kasih tahu ke mbak."

Allea menarik nafas panjang.

"Sepertinya kita gulung tikar aja, Ratih."

"Loh? Mbak menyerah?"

Allea mengangguk. "Aku udah banyak banget mengeluarkan uang untuk menutupi kerugian. Belum lagi ada butik lain yang menjadi pesaing kita. Kayaknya lebih baik kita rehat dulu.."

Allea lalu memandang pegawainya dengan tak enak hati.

"Ratih.. maaf, ya.."

Ratih mengulas senyum dan mengusap bahu Allea.

"Nggak apa-apa, mbak. Aku ngerti kok." Ratih juga setuju akan keputusan Allea. Butik ini tidak bisa diharapkan lagi.

Dan sesuai dengan masa sewa bangunan, Allea akan menutup butiknya permanen pada akhir minggu ini. Setelah itu, Allea akan memikirkan cara lain untuk melanjutkan hidupnya.

Setelah mengunjungi butik, Allea bertandang ke rumah ibu mertuanya, Sofia. Sesampainya disana, Allea disambut dengan baik. Diberikan makanan enak. Disuruh istirahat dan tidak melakukan apapun.

"Jadi, butikmu akan ditutup?" Sofia terkejut mendengar cerita menantunya.

"Iya, ma. Kayaknya aku nggak punya bakat berbisnis."

"Rangga udah tahu soal ini?"

Allea tersenyum pahit. "Belum tahu."

"Ada baiknya kamu berdiskusi dulu sama Rangga, nak. Mungkin suamimu bisa membantu. Nah, atau kamu kerja lagi di properti itu, sayang.. apalagi Rangga juga kerja disana. Pasti dia bisa membawa kamu lagi ke kantor itu."

Allea menggeleng. "Tapi posisiku udah digantikan sama Riana, ma. Pasti nggak ada lowongan kerja lagi."

Melihat raut wajah menantunya yang berubah masam, Sofia seperti bisa merasakan kegundahan hatinya. Ia pun mendekat dan memegang tangan Allea dengan hangat.

"Nak, kamu ada masalah?" Tanya Sofia memandang seksama.

Allea pura-pura tertawa. "Nggak ada, ma."

"Kamu nggak bisa berbohong, sayang! Mama bisa melihat dari matamu. Kenapa? Cerita aja.."

"Nggak ada, ma."

"Apa Rangga menyakitimu?"

"Eh!" Allea tertawa lagi. "Nggak lah, ma. Kalau mas Rangga nyakitin aku pasti udah lama ngasih tahu mama. Cuma.. aku masih sedih aja karena kehilangan calon anakku."

"Oh, sayang.. mama mengerti perasaanmu. Tidak apa-apa untuk menangis. Nggak masalah untuk berduka. Tapi satu, kamu harus bangkit lagi dan menjalani hidupmu, ya.."

"Iya, ma." Allea tersenyum mendengar nasihat bijak dari Sofia.

Andai saja Rangga mewarisi sifat lembut ini. Rumah tangga Allea pasti akan baik-baik saja.

Allea berpamitan pulang ke rumah setelah sore menjelang. Pas sekali 10 menit kemudian ada Rangga yang berkunjung ke rumah ibunya.

Tak seperti menyambut Allea, Sofia bersikap biasa saja pada kedatangan putranya.

"Tumben kamu kemari!"

Rangga tergelak. "Aku dari dinas lapangan. Jadi sekalian mampir. Mama masak apa?"

"Lihat aja sana di meja makan!"

Rangga duduk di kursi makan dan menyantap opor ayam kesukaannya. Beruntung sekali. Dia memang kelaparan dan Sofia memasak ini untuknya.

"Rangga. Tadi Allea kemari."

Rangga langsung berhenti mengunyah saat mendengar nama istrinya.

"Ngapain dia kemari?"

"Cuma melihat mama. Dia juga cerita sedikit soal permasalahan yang ia alami."

"Uhuk!" Rangga langsung tersedak. Jangan-jangan Allea mengatakan pada ibunya kalau mereka memiliki masalah.

"Masalah apa?" Tanya Rangga serak.

"Katanya ia mau menutup butiknya selamanya karena sepi. Kasihan Allea. Gimana kalau kamu membantunya, Rangga?"

"Aku harus bantu apa?"

"Kamu bantu dia buka bisnis yang lain. Atau ajak Allea bekerja lagi di kantor properti."

"Hah? Untuk apa, ma? Allea itu istriku. Bukan tugasnya untuk mencari nafkah!"

"Iya, mama tahu. Tapi sayang dengan gelarnya, nak. Allea juga pasti punya mimpi sendiri."

Rangga lalu mengibaskan tangannya. Sangat tidak penting pembicaraan ini.

"Biarkan saja. Mama jangan takut Allea kekurangan. Dia aman hidup bersamaku!"

Sofia hanya geleng-geleng kepala. Yang dikatakan oleh Rangga separuh benar. Separuh juga tidak salah. Allea memang tidak perlu ikut mencari nafkah karena akan ada Rangga yang menyanggupinya.

"Kamu makan aja. Mama mau ke kamar sebentar." Sofia beringsut bangun dan pergi ke kamarnya yang ada di sebrang meja makan.

Sementara ponsel Rangga berdering. Pria ini mengguratkan senyuman. Rupanya panggilan masuk dari Riana.

"Halo, udah agak mendingan?" Tanyanya perhatian.

Ceklek. Pintu dibuka pelan oleh Sofia. Ia keluar lagi untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang keluarga.

Namun samar-samar ia mendengar suara Rangga begitu lembut saat berbicara dengan ponselnya.

Sofia tersenyum. Mungkin anaknya itu sedang menghubungi istrinya.

"Obatnya udah diminum belum? Ya ampun.. jangan telat makan. Mau aku belikan sesuatu?"

Suara penuh kelembutan itu terus terdengar ke telinga Sofia. Wanita ini lalu memilih masuk ke kamar agar tak mengganggu Rangga menelepon Allea.

Namun saat Rangga menyebutkan nama wanita lain. Sofia tersentak. Ternyata bukan Allea yang menjadi lawan bicara pria itu..

"Oke. Nanti aku kesana bawa makanan. Sampai ketemu, Riana."

Klik. Sambungan dimatikan oleh Rangga. Pria ini nampak tersenyum sambil menekan-nekan layar ponselnya.

Sementara, Sofia tertegun.

Riana.. bukankah itu nama sahabat dari Allea?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 14

    "Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 13

    Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 12

    "Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 11

    "Ada masalah apa lagi ini?" Desah Allea pelan.Tiba-tiba saja mobil kecilnya ini mogok di tengah jalan. Berulang kali dia menstarter. Bak kompor yang tak tersambar api, mobil ini masih tak hidup jua.Akhirnya, Allea membuka sabuk pengamannnya dan turun dari mobil. Dengan malu, ia meminta maaf pada kendaraan yang ada di belakang mobilnya."Maaf, mobil saya mogok." Allea tertunduk-tunduk ketika beberapa mobil membunyikan klakson.Pedagang kaki lima yang sedang berjualan di trotoar bergegas menolong Allea yang kesulitan. Oh, rasanya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun. Beberapa pria itu datang dan menawarkan bantuan.Allea masuk lagi ke mobil dan menstarter mobilnya meskipun gagal. Walaupun begitu, pria-pria itu tadi membantu mendorong mobil mogok itu sampai ke pinggir jalan."Mbak. Disana ada bengkel. Kita kesana aja!" Teriak pria yang mendorong dari belakang.Allea mengangguk. Setelah mendorong cukup jauh, mobil Allea akhirnya bisa di rescue oleh tim bengkel. Mereka membuka cap m

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 10

    "Sudah ku bilang kan kalo masakanku lebih enak!" Goda Rangga pada Riana.Wanita ini sampai tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang memerah."Iya, deh. Kamu memang pintar masak. Kamu pemenangnya!" Riana memberikan dua jempol. "Beruntung banget Allea bisa makan masakanmu tiap hari."Mendengar nama istrinya disebut membuat wajah Rangga yang cerah menjadi kelabu. Dia lalu berdeham tak enak. Entah apa yang membuat nama Allea jadi tak enak di dengar."Ya, begitulah." Sahut Rangga acuh.Giliran Riana yang tersenyum kecut. Dia iri pada sahabatnya bernama Allea itu. Dari kuliah, wanita itu selalu beruntung. Allea berprestasi dan langsung mendapat pekerjaan setelah tamat kuliah.Hebatnya lagi dia bisa mendirikan bisnis sendiri ya.. walaupun ambruk juga. Tapi yang lebih penting, Allea berhasil dipinang oleh pria sesempurna Rangga. Wah.. amalan apa yang sebenarnya dilakukan Allea hingga sebegitu beruntungnya!"Sini biar aku cuci piring!""Eh!" Riana terperanjat. Dia lekas menyusul Rangga yang su

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 9

    Rangga mengetuk pintu kamar tamu dengan pelan. Seakan takut mengganggu penghuni yang ada di dalam.Pintu itu terbuka lebar, Riana muncul dengan senyum manisnya. Dari rambutnya jatuh air bercucuran mengenai pakaiannya. Membasahi pakaian kerja Riana yang belum digantikan."Ini pakaian tidur untukmu." Rangga tersenyum melihat wajah wanita ini. Ternyata Riana lebih cantik tanpa polesan bedak."Ah, baju ini lagi." Riana tersipu. Gaun tidur pendek berwarna merah muda. Sudah beberapa kali Riana kemari dan sesering itu juga Rangga meminjamkan pakaian milik Allea ini untuknya."Iya. Pakailah. Jangan pakai baju yang basah. Nanti kamu masuk angin." Ujar Rangga perhatian sekali."Iya, mas. Aku ganti baju dulu, ya." Sahut Riana tersenyum manis. Dia melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Seolah dia akan pergi jauh dan sangat lama.Sementara dari ujung tangga, Allea ingin muntah melihat interaksi antara sahabat dan suaminya. Oh.. inikah namanya rekan kerja? Sungguh tidak masuk di akal. Memuakkan!

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status