FAZER LOGINRangga pulang ke rumah. Melempar tas kerjanya dan berkacak pinggang. Allea yang tengah memasak di dapur sampai terkejut. Tiba-tiba saja Rangga pulang dengan wajah yang tak sedap dipandang.
"Ada apa, mas?" Tanya Allea keheranan. "Kamu ngomong apa lagi sama ibu kali ini? Nggak bosen setiap hari curhat sama ibu!" "Aku? Aku.. nggak ngomong apa-apa." "Nggak perlu berbohong begitu. Kamu cerita kalau butikmu bangkrut dan minta aku carikan kerjaan. Astaga, Allea. Kamu mempermalukanku!" Seru Rangga sedikit kesal. "Aku memang cerita kalau mau menutup usaha butikku. Tapi mama bilang kalau aku bisa bekerja lagi saja.. terus.." "Udah! Jangan dijelaskan lagi!" Rangga tak mau mendengarkan istrinya. "Aku ini suamimu. Yang bertanggung jawab untuk menafkahi dirimu. Urusan rumah tangga harusnya nggak kamu bebankan kepada mama!" "Termasuk hubunganmu dengan Riana?" Rangga langsung terkesiap. "Sudah kukatakan kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Kenapa masih keras kepala juga??" "Iya. Aku percaya." Sahut Allea malas. Ia membalik diri dan kembali memotong sayuran di meja. Melihat sikap istrinya ini membuat Rangga kembali meradang. "Kamu terlalu kekanak-kanakan, Allea. Aku nggak suka sikapmu itu!" "Lalu apa yang kamu sukai dariku, mas? Kamu selalu marah padaku." "Iya itu karena salahmu sendiri. Kamu masih ngeyel dan berpikiran negatif pada suamimu sendiri. Satu lagi, jangan memberatkan mama soal usahamu yang bangkrut. Dia hanya mertuamu bukan orang tuamu!" Allea terperangah. Ia menatap suaminya tak percaya. "Tapi aku nggak punya orang tua lagi selain mama Sofia, mas. Kemana lagi aku mengadu jika bukan padanya?" "Oh.." Rangga kembali berkacak pinggang. "Dia ibuku, Allea. Kamu hanya menantu. Orang lain yang datang dalam keluarga kami. Jadi jaga sikapmu." Allea tertegun. Ternyata Rangga menganggapnya sebagai orang lain di rumah ini. Ia pun menahan tangisnya. "Boleh aku bertanya satu hal, mas. Apa kamu mencintaiku?" Rangga memutar bola matanya dengan malas. Pertanyaan menjebak apa lagi ini? "Kita sudah menikah sejauh ini. Pikirkan saja sendiri jawabannya!" Rangga tak mau lagi pembicaraan ini merembet kemana-mana. Ia lalu membalik dirinya. "Tidak perlu memasak. Aku tidak suka makanan buatanmu!" Sambung Rangga dingin. Pria itu pergi dari hadapan Allea begitu saja. Sedangkan Allea menangis. Ia terisak dengan hebat. "Kenapa kamu jadi berubah seperti ini, mas?" Allea sampai tak mengenali suaminya lagi. Ia lalu membuang seluruh sayur yang baru saja dipotongnya ke kotak sampah. Rangga bilang kalau tidak suka masakan Allea, kan? Maka Allea tak akan pernah memasak lagi. Hari demi hari dilalui, akhirnya butik milik Allea resmi ditutup. Ruko ini dikembalikan pada pemiliknya. Sisa baju yang ada di butik di obral di online shop. Dan Ratih resmi mengundurkan diri. "Maaf dan terima kasih." Allea memandang plang nama butiknya yang telah dirobohkan. Jika masih ada kesempatan di lain hari, Allea akan membuka bisnis baru yang lebih baik. Tapi itu nanti.. setelah Allea memulihkan hatinya yang patah. Jika Allea mengalami kedukaan yang berkepanjangan. Maka berbeda dengan Rangga. Di kantor, Rangga kembali naik jabatan. Prestasinya sangat membanggakan. Tak ayal ia menjadi bahan pujian banyak orang. Termasuk Riana. "Selamat ya, mas." Ucap Riana tersenyum manis. "Ini semua tidak terjadi kalau bukan karena dukunganmu. Gimana kalau rayakan ini dengan makan malam bersama?" Tawar Rangga. Riana mengulum senyum. "Mau banget, mas. Kalau soal makan-makan aku pasti nggak akan nolak." Keduanya lalu tertawa bersama. Malam menjelang, Rangga mengajak Riana untuk makan bersama di sebuah restoran ternama. Riana sampai takjub. Restoran ini termasuk dalam salah satu restoran termahal. Dan ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki disini. Oh, terima kasih diucapkannya pada Rangga. "Kamu suka makanannya?" Tanya Rangga. "Iya, suka. Enak banget, mas. Ini memang seleraku!" Seru Riana dengan mata berbinar. Melihat rekan kerjanya bahagia, membuat Rangga juga ikut senang. Buktinya kedekatan mereka semakin menjadi-jadi sejak malam itu. Mereka bilang hanya rekan kerja. Tapi bisik-bisik di kantor mulai terdengar. Sepertinya ada hubungan antara Rangga dan Riana? Buktinya jika ada perjalanan lapangan, maka Rangga lebih suka mengajak Riana daripada karyawan lainnya. Beberapa pria yang lebih tua sudah menasehati Rangga agar tidak terlalu dekat dengan Riana. Apalagi wanita itu sahabat karib istrinya. Allea yang dulu juga pernah bekerja di kantor ini. Namun Rangga tidak perduli. Dia mengatakan hubungannya dengan Riana tak lebih dari atasan dan bawahan saja. Tapi yang terjadi di hari berikutnya menjadi bukti keduanya memiliki hubungan. Rangga dan Riana berdua saja untuk meninjau proses pembuatan perumahan di sebuah lahan. Namun hujan deras malam itu membuat Rangga membawa Riana pulang ke rumahnya. Alih-alih mengantar wanita itu ke kost miliknya, Rangga lebih suka membawa Riana ke rumah. Alasannya karena lebih dekat. Dan lagipula Riana adalah sahabat karib dari Allea. Pasti Allea tak akan keberatan. Padahal Rangga tak tahu. Jika Allea dan Riana tak lah sedekat dulu. Ting. Tong. Rangga memencet bel berkali-kali. Hingga batang hidung istrinya terlihat. Rangga ingin marah. Namun ditahannya karena ada Riana disampingnya. "Mas Rangga.. Riana.." Allea terkejut. "Hai, Alle." Sapa Riana memberikan senyum. "Masuklah, Riana. Kamu kebasahan." Ujar Rangga tanpa memperdulikan raut wajah Allea yang masih terkejut. Riana masuk dan berjalan di belakang Rangga. Sementara Allea yang bingung masih berdiri di depan pintu. "Riana. Masuklah ke kamar tamu dan istirahat disana. Kamu pasti capek." Ucap Rangga lagi. "Nanti aku ambilkan baju ganti." Rangga naik ke lantai atas sementara Riana masuk ke kamar tamu dan menutup pintunya. Suara pintu yang tertutup baru menyadarkan Allea. Ada apa ini? Kenapa Riana menjadi selugas itu di rumah orang lain? Rangga kembali turun dari lantai atas dengan membawa gaun tidur berwarna merah muda. Melihat itu, Allea tak tinggal diam. Dia mendekat dan merampas gaun tidur itu. "Apa-apaan kamu ini, Allea??" Rangga jadi kesal. "Kamu yang apa-apaan, mas? Kamu membawa wanita lain ke rumah ini dan memberikannya baju tidurku. Dimana akal sehatmu?" "Apa? Kamu berani marah padaku?!" Rangga memandang tajam. "Allea. Aku dan Riana baru saja kembali survey. Kami kehujanan. Bajunya basah. Jadi aku membawanya kemari karena jarak rumah yang lebih dekat!" "Jangan banyak alasan kamu, mas. Sekarang suruh Riana pergi dari rumah kita!" "Allea!" Bentak Rangga. "Pada istrimu kamu berkata kasar tapi pada wanita lain kamu sangat lembut. Kamu tahu siapa Riana itu, kan? Dia sahabatku!" Seru Allea ikut marah. "Dan karena dia sahabatmu harusnya kamu mengerti! Dia bisa jatuh sakit kalau pulang malam ini juga!" "Aku nggak perduli, mas. Suruh dia pulang sekarang atau aku sendiri yang akan mengusirnya." Sahut Allea bermandikan kemarahan. Rangga menatap sengit. Pria keras kepala ini juga terbakar api kemarahan. "Kamu!!" Rangga mendekat dan ingin merampas gaun tidur itu lagi. Namun pintu kamar yang terbuka membuat pertengkaran ini teralih. Riana keluar dengan pipi yang basah karena air mata. "Maaf, Allea. Aku akan pergi sekarang." Lirih Riana menangis hingga membuat Rangga semakin tersulut emosi.Rangga mengaduk sendok di dalam kopinya dengan setengah menggerutu."Hebat sekali dia. Apa dia pikir aku akan perduli padanya?!" Sebal sekali Rangga dibuat oleh istrinya itu.Berani sekali Allea sarapan santai dan duduk manis. Hanya makan satu porsi dan tidak menawarkannya lagi.Biasanya wanita itu akan memanggil Rangga dengan lembut. Jika Rangga menolak, maka Allea akan memaksanya duduk dan menyuapinya makan. Dan yang paling konyol, Allea akan membawakan bekal makan siang untuknya.Tapi hari ini, Allea sama sekali tak menawarinya.Astaga!Bagaimana Allea bisa mengajaknya sarapan bersama jika melihat wajah suaminya saja tidak?"Hey! Mas Rangga lagi buat kopi juga?" Tegur suara cerah dari belakang.Rangga menoleh dan membingkai senyuman."Gimana perutmu?""Agak mendingan." Riana mengambil cangkir dan menyeduh kopi. "Kamu nggak sarapan, mas?"Rangga menggeleng. "Tadi masih kenyang."
Riana menekuk kepalanya dengan dalam. Di depan sana ada Ilmi dan Riza yang sibuk bekerja di balik komputer. Gara-gara ditegur Madani di hadapan rekan kerjanya membuat Riana jadi malu. Terlebih Madani mengatakan akan memutasi Riana ke divisi lain gara-gara hubungannya dengan Rangga yang terlanjur dekat. Astaga! Bagaimana ini? Mau ditaruh dimana wajah cantiknya ini. Apalagi memang keduanya acap kali menjadi buah bibir di kantor.Percuma mau mengelak. Toh, waktu itu rekan kerja mereka pernah memergoki Rangga membawa Riana menginap di rumah pria itu.Sedangkan, Rangga juga ikut pusing karena perkataan dari Madani tadi. Wajah ini jadi merah padam. Seolah-olah dia adalah pelaku perselingkuhan.Nyatanya, Rangga dan Riana kan hanya berteman saja.Ah, lupakan soal itu. Rangga melirik ponselnya yang sejak tadi tenang. Padahal hari sudah sore, tapi Allea kok tidak memberi kabar?Ralat. Allea tadi ada di IGD, kan? Dengan sikapnya yang kekan
Allea keluar dari kamar mandi sambil menggeret tiang infus. Tangannya yang kecil terkait dengan selang infus. Wajah itu pucat pasih. Hidungnya memerah karena muntah.Perawat yang melihat Allea bersusah payah berjalan dengan tiang infus itu lekas menolong. Allea lalu dipapah masuk ke dalam tirai tempat dirinya berbaring."Allea.." Rangga mengerjap kesadarannya.Mata Riana sampai membulat sempurna. Astaga! Kesialan apalagi kini yang menimpanya. Tadi pagi ia melihat Allea di kedai kopi. Dan sekarang Allea juga ada di rumah sakit dengan posisi terinfus. Oh.. pasti sakitnya parah sekali."Mas! Itu Allea, kan?" Riana mencoba bertanya. Allea masih memakai kemeja bergaris yang sama."Hmm.. iya.""Sakit apa dia, mas?"Rangga menggeleng. "Aku nggak tahu.""Ayo, kita lihat." Ajak Riana."Biarkan saja. Kita harus pulang ke kantor, Riana.""Tapi, dia...""Tidak." Potong Rangga tegas. "Jika Allea sa
"Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p
Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.
"Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki







