Home / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 22 - Tabir Yang Terkoyak

Share

BAB 22 - Tabir Yang Terkoyak

Author: Redezilzie
last update Last Updated: 2026-01-19 17:16:04

BAB 22

Tabir Yang Terkoyak

Naya menyelipkan jemarinya ke dalam telapak tangan Arkan. Membuat lelaki itu menoleh, lalu balas menggenggam dan tersenyum. Naya membalas senyuman itu dengan lengkungan termanis yang dia bisa. Perasaannya menghangat.

Mereka terus berjalan keluar dari restoran.

“Aku mau begini terus.” Ujar Naya pelan saat mereka sudah di dalam mobil.

Arkan mengangguk, meski dalam hati tak yakin. Suara musik mengalun lembut. Sesekali ia bis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 56 - Topeng Yang Retak

    BAB 56Hari masih pagi ketika Arkan duduk diam di meja makan menghadap ke arah balkon apartemen yang pintunya terbuka lebar. Udara kota merayap masuk, membawa bau aspal dan sisa hujan semalam bercampur dengan aroma sarapan pagi sederhananya. Selembar roti panggang dan secangkir kopi hitam.Ia menghirup kopi yang tinggal setengah itu dan menyesapnya perlahan. Tatapannya lurus ke arah langit kota di depannya. Tangannya yang digips sesekali berdenyut, seolah ikut bereaksi terhadap ketegangan yang ia rasakan.Ia sedang menunggu kedatangan tunangannya, Naya, dan rencananya mereka akan sarapan bersama. Tak berapa lama terdengar suara beep tanda seseorang menekan sandi pintu apartemen. Arkan mengambil nafas dalam sebelum bangkit.Pintu terbuka.Beberapa detik kemudian Naya muncul di ambang pintu, melangkah anggun memasuki ruangan. Wanita dengan rambut pirang bergelombang itu tersenyum manis pada Arkan.Ia menjinjing dua t

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 55 - Kepingan Pelengkap

    BAB 55 Arkan menatap Zea dengan sedikit sengit. “Ini lagi di luar, mau beli makan,” didengarnya gadis itu berucap. “Nah kan, hampir lupa!” ia lalu berseru kecil sambil menatap Arkan, “Aku duluan ya, Mas. Mau pesan nasi goreng dulu buat dibawa pulang ke kosan,” katanya tiba-tiba sambil bangkit berdiri. Ia tersenyum tipis lalu berbalik pergi sambil terus menempelkan ponsel di telinganya. Arkan tercengang. Ia merasa ditinggal begitu saja saat pembicaraan mereka belum benar-benar selesai. Dengan perasaan sedikit tersinggung dan penasaran yang membuncah, Arkan buru-buru bangkit dan mengejar Zea. “Zea!” panggilnya gemas, sambil mensejajarkan langkah. Zea tampak tak menyadari panggilannya karena terlalu asyik berbincang. Gadis itu sesekali terkekeh, menjawab pertanyaan di telepon dengan nada yang sangat ramah, bahkan terdengar manja di telinga Arkan yang sedang panas. Arkan berjalan di sampingnya seperti bayangan yang tak dianggap. Sampai di warung nasi goreng, mereka kembali d

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 54 - Titik Yang Mulai Tersambung

    BAB 54 Arkan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Zea yang menghujam. Membuka semua kecurigaannya sekarang rasanya bukan tindakan bijak, apalagi ia belum memegang bukti fisik yang bisa ia lemparkan ke meja. Namun, melihat sorot mata Zea yang penuh luka, Arkan tak bisa hanya diam membisu. “Aku punya beberapa dugaan. Tapi masih harus kuselidiki lebih dalam, Ze. Aku nggak mau salah ngambil langkah,” ucap Arkan dengan nada berat. Zea menarik napas panjang, menatap sisa roti bakar di piringnya dengan pandangan kosong. “Jujur aja, Mas, tuduhan ini nggak bisa kuanggap sepele. Nama baikku terancam rusak. Bahkan perusahaan langsung bereaksi dengan men-skors aku tanpa ngasih kesempatan untuk membela diri. Mas tau kan, di dunia profesional, sekali nama kita dicap jelek, susah buat bersihin lagi.” Arkan mengangguk mengerti, rasa sesal makin menghimpit dadanya. “Aku betul-betul minta maaf, Ze. Seperti kataku tadi, aku akan bereskan semuanya. Aku nggak akan biarin karier kamu hancur karena s

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 53 - Impostor

    BAB 53 Sesampainya di kamar, Zea langsung membersihkan diri. Air dingin yang membasuh tubuhnya tak mampu menghilangkan rasa berat di kelopak matanya yang bengkak. Ia lalu membaringkan badan ke ranjang dan seketika itu juga rasa lelah menyerang tubuhnya, yang tadinya sudah terasa lebih segar. Kepalanya terasa berdenyut. Zea menghirup aroma bantal dalam-dalam. Begitu banyak yang terjadi hari ini, membuat otaknya bingung memilah bagian mana yang harus diproses lebih dulu. Zea mendekap bantal gulingnya erat. Ia menemukan rasa nyaman yang familiar di sana dan perlahan kedua matanya mulai memejam. Detik itu juga, pikirannya langsung melayang pada sosok Ibra. Lelaki itu seolah memiliki sihir yang membuatnya lupa sejenak pada badai masalah yang menghantamnya. Dan Zea tak langsung menyadarinya. Di sepanjang perjalanan pulang tadi, ia terus bersikap dingin dan kerap melontarkan ucapan ketus pada semua ucapan Ibra. Kekanak-kanakan sekali. Ah, Zea jadi merasa malu. Ia benar-benar tak

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 52 - Perdebatan Di Parkiran

    BAB 52 Sekujur tubuh Zea gemetar akibat luapan amarah. Ia menarik napas panjang, berkali-kali, mencoba memaksa paru-parunya bekerja normal, agar sesak di dadanya sedikit berkurang. “Minum dulu,” suara bariton Ibra menariknya kembali dari pusaran emosi. Lelaki itu menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya, sambil memandang Zea lekat, dengan tatapan sarat makna. Zea menerimanya dengan tangan yang masih gemetar halus. “Makasih,” gumamnya lirih. Cairan dingin itu mengalir melewati tenggorokannya yang kering, dan sedikit mendinginkan bara kemarahan yang tadi sempat membakarnya. Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Kesunyian di antara mereka hanya diisi oleh suara sayup-sayup pengunjung mall yang berlalu-lalang di kejauhan. Zea akhirnya mengangkat wajah, menatap Ibra yang masih setia menunggunya tenang. “Aku balik duluan ya, Mas,” pamit Zea. Ia butuh ruang sendiri. Ia butuh merebahkan tubuhnya dan memproses semua kegilaan ini. Ibra tidak membantah. Ia iku

  • Sampai Kau Ingat Aku   Bab 51 - Iris Madu Yang Menghanyutkan

    BAB 51 Ibra tersenyum kecil, matanya mengerling jenaka. “Okey, jadi kamu sebenarnya lebih baik dari yang aku kira?” Zea membalas tatapan itu sambil mengerucutkan bibirnya, sebuah gestur yang justru terlihat manis di mata Ibra. “Nggak jelas,” gumamnya pelan. Ibra terkekeh, namun tawanya perlahan menyurut, digantikan oleh sorot mata yang lebih dalam. “Kamu punya masalah sama mereka, Ze?” Zea terdiam. Lagi-lagi, ia hanya memandang Ibra tanpa suara. Ia sedang menimbang, seberapa banyak ia bisa membagi beban ini tanpa terlihat menyedihkan. Membuat Ibra menjadi gemas. Lelaki itu bahwa Zea sedang berusaha untuk menutupi sesuatu. Ibra mendesah, lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Oke, aku paham. Kamu belum mau cerita. Aku nggak akan maksa.” Zea meringis, merasa sedikit bersalah karena terus menerus menolak memberi jawaban pada pertanyaan pertanyaan yang Ibra lontarkan. “Maaf ya, Mas.” “No, jangan minta maaf. Santai aja.” sahut Ibra lembut. Hal terakhir yang ingin ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status