Beranda / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 31 - Panggilan Yang Tak Terjawab

Share

BAB 31 - Panggilan Yang Tak Terjawab

Penulis: Redezilzie
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 21:23:06

BAB 31 - Panggilan Yang Tak Terjawab

Nama Arkan tampak bersinar di layar hape Zea. Kedua gadis yang fokusnya telah beralih sepenuhnya lalu saling pandang.

Arkan is Calling...

Kedua gadis itu saling pandang. Ruangan yang tadinya hanya diisi suara dialog televisi mendadak berubah tegang.

“Kok…,” kalimat Vivid menggantung di udara. Ia mengerutkan kening, menatap layar ponsel itu dengan tatapan tidak percaya. “Ngapain dia telepon jam segini? Kan ada cewekn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 55 - Kepingan Pelengkap

    BAB 55Arkan menatap Zea dengan sedikit sengit. “Ini lagi di luar, mau beli makan,” didengarnya gadis itu berucap.“Nah kan, hampir lupa!” ia lalu berseru kecil sambil menatap Arkan, “Aku duluan ya, Mas. Mau pesan nasi goreng dulu buat dibawa pulang ke kosan,” katanya tiba-tiba sambil bangkit berdiri. Ia tersenyum tipis lalu berbalik pergi sambil terus menempelkan ponsel di telinganya.Arkan tercengang. Ia merasa ditinggal begitu saja saat pembicaraan mereka belum benar-benar selesai. Dengan perasaan sedikit tersinggung dan penasaran yang membuncah, Arkan buru-buru bangkit dan mengejar Zea.“Zea!” panggilnya gemas, sambil mensejajarkan langkah.Zea tampak tak menyadari panggilannya karena terlalu asyik berbincang. Gadis itu sesekali terkekeh, menjawab pertanyaan di telepon dengan nada yang sangat ramah, bahkan terdengar manja di telinga Arkan yang sedang panas. Arkan berjalan di sampingnya seperti bayangan yang tak dia

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 54 - Titik Yang Mulai Tersambung

    BAB 54Arkan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Zea yang menghujam. Membuka semua kecurigaannya sekarang rasanya bukan tindakan bijak, apalagi ia belum memegang bukti fisik yang bisa ia lemparkan ke meja. Namun, melihat sorot mata Zea yang penuh luka, Arkan tak bisa hanya diam membisu.“Aku punya beberapa dugaan. Tapi masih harus kuselidiki lebih dalam, Ze. Aku nggak mau salah ngambil langkah,” ucap Arkan dengan nada berat.Zea menarik napas panjang, menatap sisa roti bakar di piringnya dengan pandangan kosong. “Jujur aja, Mas, tuduhan ini nggak bisa kuanggap sepele. Nama baikku terancam rusak. Bahkan perusahaan langsung bereaksi dengan men-skors aku tanpa ngasih kesempatan untuk membela diri. Mas tau kan, di dunia profesional, sekali nama kita dicap jelek, susah buat bersihin lagi.”Arkan mengangguk mengerti, rasa sesal makin menghimpit dadanya. “Aku betul-betul minta maaf, Ze. Seperti kataku tadi, aku akan bereskan semuanya. Ak

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 53 - Impostor

    BAB 53Sesampainya di kamar, Zea langsung membersihkan diri. Air dingin yang membasuh tubuhnya tak mampu menghilangkan rasa berat di kelopak matanya yang bengkak. Ia lalu membaringkan badan ke ranjang dan seketika itu juga rasa lelah menyerang tubuhnya, yang tadinya sudah terasa lebih segar. Kepalanya terasa berdenyut.Zea menghirup aroma bantal dalam-dalam. Begitu banyak yang terjadi hari ini, membuat otaknya bingung memilah bagian mana yang harus diproses lebih dulu. Zea mendekap bantal gulingnya erat. Ia menemukan rasa nyaman yang familiar di sana dan perlahan kedua matanya mulai memejam. Detik itu juga, pikirannya langsung melayang pada sosok Ibra. Lelaki itu seolah memiliki sihir yang membuatnya lupa sejenak pada badai masalah yang menghantamnya.Dan Zea tak langsung menyadarinya. Di sepanjang perjalanan pulang tadi, ia terus bersikap dingin dan kerap melontarkan ucapan ketus pada semua ucapan Ibra. Kekanak-kanakan sekali.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 52 - Perdebatan Di Parkiran

    BAB 52Sekujur tubuh Zea gemetar akibat luapan amarah. Ia menarik napas panjang, berkali-kali, mencoba memaksa paru-parunya bekerja normal, agar sesak di dadanya sedikit berkurang.“Minum dulu,” suara bariton Ibra menariknya kembali dari pusaran emosi. Lelaki itu menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya, sambil memandang Zea lekat, dengan tatapan sarat makna.Zea menerimanya dengan tangan yang masih gemetar halus. “Makasih,” gumamnya lirih. Cairan dingin itu mengalir melewati tenggorokannya yang kering, dan sedikit mendinginkan bara kemarahan yang tadi sempat membakarnya.Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Kesunyian di antara mereka hanya diisi oleh suara sayup-sayup pengunjung mall yang berlalu-lalang di kejauhan. Zea akhirnya mengangkat wajah, menatap Ibra yang masih setia menunggunya tenang.“Aku balik duluan ya, Mas,” pamit Zea. Ia butuh ruang sendiri. Ia butuh merebahkan tubuhnya dan memproses

  • Sampai Kau Ingat Aku   Bab 51 - Iris Madu Yang Menghanyutkan

    BAB 51Ibra tersenyum kecil, matanya mengerling jenaka. “Okey, jadi kamu sebenarnya lebih baik dari yang aku kira?”Zea membalas tatapan itu sambil mengerucutkan bibirnya, sebuah gestur yang justru terlihat manis di mata Ibra. “Nggak jelas,” gumamnya pelan.Ibra terkekeh, namun tawanya perlahan menyurut, digantikan oleh sorot mata yang lebih dalam. “Kamu punya masalah sama mereka, Ze?”Zea terdiam. Lagi-lagi, ia hanya memandang Ibra tanpa suara. Ia sedang menimbang, seberapa banyak ia bisa membagi beban ini tanpa terlihat menyedihkan. Membuat Ibra menjadi gemas. Lelaki itu bahwa Zea sedang berusaha untuk menutupi sesuatu.Ibra mendesah, lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Oke, aku paham. Kamu belum mau cerita. Aku nggak akan maksa.”Zea meringis, merasa sedikit bersalah karena terus menerus menolak memberi jawaban pada pertanyaan pertanyaan yang Ibra lontarkan. “Maaf ya, Mas.”“No, jangan

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 50 - Garis Batas

    BAB 50“Ze…,” tegur Ibra pelan.Lelaki itu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Zea. Tatapan Zea yang sedari tadi kosong, perlahan mulai fokus kembali. Zea mengerjap, lalu meringis canggung. Ia baru sadar kalau dirinya sudah terlalu lama tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri.Ibra melipat kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Zea dengan ekspresi serius“Aku perhatiin kamu dari tadi kayak bengong terus. Kenapa sih? Ada masalah apa? Aku siap dengerin lho,” tanya Ibra lembut, namun ada nada menuntut di sana.Zea menggeleng pelan, mencoba memaksakan senyum tipis. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma tiba-tiba kepikiran sesuatu aja barusan. Maaf ya.”“Biasanya cewek kalau ngomong nggak apa-apa, berarti ada apa-apanya,” sahut Ibra, mencoba memancing kejujuran Zea dengan gaya santai.“Masa sih,” balas Zea singkat, masih dengan senyuman di wajahnya.“Iya, siapa tau aku bisa bantu, kan.” Tamba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status