تسجيل الدخول"Hai, bu dokter!"
Citra mengembangkan senyuman saat mendengar sapaan itu. Suara khas berat pria maskulin yang selalu terngiang-ngiang diingatannya. Sudah tiga tahun mereka tak bertemu. Citra baru saja lulus dari internshipnya. Setelah mendapatkan gelar sarjana, Citra sibuk koas dan mengabdi di luar kota. Ia tak pernah lagi bertemu dengan sahabatnya. Ya, sahabat pria yang selama ini diam-diam disukainya. Apalagi hubungan keduanya seperti menghilang tanpa kabar. Syukurlah, Citra bisa lagi mendengar suara pria ini. Oh.. setampan apa Nicho sekarang? Degup jantung Citra rasanya tak kuat untuk memandangnya. Dan masih kah ada kesempatan untuknya? Dia pasti Nicho nya yang dulu. Nicho yang alim, supel tapi baik hati. Dia harus berterima kasih pada acara reuni SMA yang sudah mengantarkannya kembali ke cinta lamanya. Dan sekarang.. Citra sudah tak sabar lagi. Citra memutar tubuhnya dengan raut wajah yang berbinar. Tapi melihat siapa yang berdiri di belakangnya membuat senyum itu memudar. Di tangan kekar itu, tertaut tangan lain yang digenggamnya erat. Nicho tersenyum manis pada wanita yang berdiri di sisinya. "Hai, Citra. Apa kabar?" Sapa lembut wanita itu. "Eh.. kalian!" Citra berusaha menutupi keterkejutannya. "Nicho! Bunga! Hai.. apa kabar?" "Baik sekali. Udah lama banget kita nggak ketemu, ya?" Sapa Nicho hangat. "Ya udah lama sekali." Citra berusaha menampilkan senyum terbaiknya. "Sepertinya aku ketinggalan kabar, ya.." Nicho dan Bunga saling memandang. Mereka mengulum senyum. Tatapan itu penuh gelora akan cinta. "Ya banyak sekali." Nicho tertawa. "Tahun depan aku dan Bunga akan menikah. Please datang, ya! Ajak juga kekasihmu!" Citra tersenyum pahit. Ternyata hubungan mereka di pesta perpisahan sekolah itu berlanjut hingga sekarang. Ia pun merasa menyesal. Andai saja waktu itu dia tak menggoda Nicho untuk berkenalan dengan Bunga, mungkin mereka berdua tak mungkin menjalin cinta seperti sekarang. "Hey! Kok melamun?" Tegur Nicho keheranan. Citra tersenyum lagi. "Iya. Aku pasti akan datang." Nyatanya, Citra tak pernah datang ke pernikahan Nicho dan Bunga. Ia patah hati. Sebagai pelampiasannya, Citra mengambil sekolah lagi sebagai spesialis kandungan. Ia sibuk bekerja dan bekerja hingga lupa waktu. Di usianya yang ke 34 tahun, di saat semua temannya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Citra masih sunyi dalam kesendiriannya. Dia masih hidup sendiri tanpa terikat dengan pria manapun. Itu karena cintanya yang telah terhenti. Dan ia tak tahu apakah suatu saat nanti akan ada pria yang memenangkan hatinya. *** "Citra.." Citra yang sedang menunggu di depan ruang praktek langsung tersenyum saat melihat seniornya tiba. "Selamat sore, dok." "Ada apa gerangan kemari? Apa kamu juga tertarik ikut praktek disini?" Goda Chandra. Pendiri Mother Care. Tempat dimana dia mendirikan klinik untuk pasangan yang ingin melakukan program bayi tabung. Citra menggeleng sambil tersenyum. "Aku ingin melihat program bayi tabung sahabatku." "Oh, bagaimana kabar Bunga? Katanya dia masih haid sejak terakhir aku menghubunginya. Padahal kami sudah menyiapkan semuanya.." Citra tertegun sejenak. Sudah dua bulan dari Bunga dan Nicho melakukan program bayi tabung. Tak hanya itu, satu bulan yang lalu juga dia sudah mendapatkan kabar baik. Namun saat itu juga kesehatan Bunga memburuk drastis. Terlebih ditemukan sel kanker aktif pada rahim sahabatnya. Dan saat itulah, Citra sampai lupa jika keduanya mengikuti program bayi tabung ini. "Iya. Bunga tidak bisa hadir. Mungkin.." Citra meneguk ludah. "Tidak akan pernah bisa mengandung. Ada sel karsinoma yang berkembang di rahimnya. Kemarin aku baru mengangkat tiga tumornya yang berada disana. Jika tebakanku benar, ada kemungkinan rahim Bunga akan diangkat." "Ca ovarium?" Tebak Chandra. Citra mengangguk. "Minggu depan jika kondisinya stabil, Bunga akan menjalani kemoterapi." "Ya, Tuhan.. kasihan sekali.." iba Chandra mendengarnya. "Kalau begitu aku ingin melihat prosesnya, dok. Jika anda berkenan." Pinta Citra. "Tapi.. bagaimana ini? Aku nggak sanggup untuk mengatakannya pada Bunga." Ucap Chandra. Kenapa ada setitik harapan kecil bagi wanita yang sebentar lagi akan kehilangan rahimnya? Chandra sudah tak habis pikir dengan takdir yang dijalani oleh pasiennya itu. "Biar aku melihatnya terlebih dahulu.. setelah itu, aku akan mengatakan semuanya pada Bunga dan Nicho." Sambung Citra tercekat. "Baiklah. Kalau begitu mari kita masuk ke dalam." Sahut Chandra. Di sisi lain, Bunga baru saja pulang ke rumahnya sendiri bersama suaminya. Tubuh itu direbahkan secara perlahan. Tak lupa Nicho memberikan ciuman kasih sayang di dahi istrinya. "Mas.. sebentar lagi anak-anak sekolah ujian semester.." keluhnya lemah. "Sayang.. jangan pikirkan soal pekerjaan. Aku sudah mengajukan cuti besar untukmu." Nicho mengusap lengan istrinya. "Kalau perlu, lebih baik kamu ambil pensiun dini saja." Bunga dan Nicho bertemu lagi saat mereka menamatkan kuliah di fakultas keguruan di Universitas yang berbeda. Tepatnya ketika mereka masih menjadi guru honorer di sekolah negeri. Tapi nasib Nicho tak semulus Bunga kalau soal pekerjaan. Bunga lulus sebagai pegawai negeri terlebih dahulu dibanding Nicho yang harus berulang kali berjuang. "Sepertinya iya.. apa aku boleh minta tolong satu lagi?" "Apa itu, sayang?" Jika Bunga meminta jantungnya, Nicho pun akan memberikannya detik ini juga. "Buatkan aku surat kuasa, mas. Aku ingin seluruh tabungan yang kumiliki, gaji pensiunku ataupun dana lainnya yang mungkin nanti akan kudapatkan menjadi milikmu.." Dahi Nicho mengernyit. "Maksudmu?" "Aku nggak mau ada sengketa di kemudian hari, mas. Jika pun aku udah nggak ada lagi, aku mau hidupmu penuh dengan kenyamanan." Bunga tahu selelah apa Nicho berjuang dalam mencari nafkah. Suaminya yang baik hati ini menyerahkan semua gajinya pada Bunga. Sementara ia akan mencari uang tambahan lain untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan membantu perekonomian ibunya. Nicho mengambil les privat dan bekerja dari pagi hingga sore menjelang setiap harinya. Ia tak mau Bunga hidup serba kekurangan. Padahal Bunga sudah memiliki gaji sendiri. Tapi Nicho mengatakan untuk tak mau mengganggu penghasilan istrinya. Bahkan rumah ini dibayar melalui cicilan oleh suaminya. Begitu juga dengan program bayi tabung yang mereka lakukan ikut menguras isi tabungan suaminya. "Sayang.. jangan khawatirkan aku.." sahut Nicho serak. "Jika kamu pergi maka aku juga pergi. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Keduanya saling berpelukan dengan erat. Sakit sialan ini ataupun kematian tak akan memisahkan keduanya.Rose akhirnya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Sambil menyelesaikan pendidikan dokternya, Rose juga sering mengunjungi Citra di rumah baru milik wanita itu. Abraham dan Citra telah resmi berpisah dua bulan setelahnya. Kehidupan Rose di rumah sakit juga berjalan dengan normal. Keinginannya tidak dipandang sebagai anak direktur telah dicapai. Sekarang dia bisa belajar dengan bebas tanpa gangguan. Gelar dokter resmi diraih Rose. Nicho dan Citra mendampingi Rose sebagai orang tuanya saat wisuda. "Kamu selalu membanggakan mama." Citra memeluk anaknya dengan erat. Rose berjalan ke sebelah dan memeluk ayahnya. "Ayah sangat menyayangimu." "Aku juga!" Rose menarik diri. "Kita ke makam ibu Bunga. Aku mau menunjukkan ini." Rose ingin memamerkan ijazahnya pada Bunga. Ketiganya lalu pergi ke makam milik Bunga. Disana Rose bercerita mengenai perjuangan selanjut
Rose dibawa pulang oleh ayah kandungnya. Wanita ini diberikan kamar, diminta untuk berganti pakaian. Tantenya yang baik langsung menghidangkan makanan. Takut jika Rose kelaparan karena terlalu lama berkelana di jalanan."Rumah ini kecil, Rose. Mungkin nggak sebesar tempat tinggal kalian." Ucap Nadia sambil menuangkan nasi pada piring keponakannya.Rose tersenyum pahit. "Itu bukan rumahku, bu Nadia. Itu rumah papa Bram dan mama Citra.""Mamamu bilang kalau kamu kabur dari rumah. Apa itu benar?" Tanya Nadia.Rose mengangguk sambil menunduk."Mereka bilang ingin berpisah. Papa juga ingin menjual rumah itu. Lagi pula, mereka bukan orang tuaku." Jawab Rose sambil memandang wajah ayahnya. "Aku tahu pak Nicho pasti sangat terpukul karena perbuatan mama. Aku pun sama. Aku.. merasa seperti alat yang digunakan untuk mama mendapatkan pak Nicho. Aku.. aku..." Rose menangis tak mampu melanjutkan ucapannya."Nak.." tegur Nicho lembut.
Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh
"Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari
Pintu kamar itu diketuk berkali-kali. Rose masih enggan bangkit dari tidurnya. Ia terlungkup menyembunyikan tangisannya di bawah bantal.Semalaman ia tak tertidur karena takut kemarahan orang tuanya, namun pagi ini ia mendapatkan kejutan luar biasa yang berhasil meruntuhkan kepercayaannya.Citra yang ia muliakan memberikan fakta jika ternyata bukan ibu kandungnya. Rose hanyalah anak hasil curian. Ia terpisah dari orang tua aslinya karena obsesi yang dimiliki oleh Citra.Rose semakin menangis saat mengingat perlakuan Nicho padanya. Pria yang ternyata menjadi ayah kandung dari Rose. Pria yang sangat lembut dan juga penyayang."Rose, buka pintunya. Mama ingin bicara, nak.." bujuk Citra dari luar. Daritadi ia mengetuk pintu namun Rose masih enggan membukanya. Citra jadi cemas terlebih tak terdengar sahutan dari dalam."Rose! Kalau kamu nggak buka pintunya, mama akan suruh orang untuk mendobrak kamarmu!" Ucap Citra lagi. Kembali ia menggedor p
"Nicho.. mari kita bicara.." Nicho memandang Citra dengan penuh rasa kecewa. Untuk apa lagi wanita ini datang kemari? Hati Nicho sakit sekali dibuat olehnya. Wanita yang mengaku sebagai sahabatnya malah mengiris dan memberikan luka untuknya."Pergilah, Citra." Sahut Nicho dingin."Kumohon, Nicho. Sebentar saja.. aku ingin menjelaskan semuanya.." pinta Citra penuh harap.Nadia mengusap bahu kakaknya. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi Nadia menduga pasti ada hal yang berat sehingga membuat teman lama kakaknya itu datang kemari."Dengarkan saja, mas." Nicho menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya dan duduk di kursi ruang tamu. Begitu juga dengan Nadia dan Citra yang mengambil tempat duduk dan saling berhadapan."Apa yang kamu pikirkan itu semua benar, Nic. Rose adalah putri kandungmu." Ucap Citra memulai pembicaraan.Nadia terkejut setengah mati. Sedangkan Nicho memejamkan matanya."Aku ti







