Masuk"Citra! Lihat ke samping!"
Citra sampai menoleh gara-gara Nicho menyenggol bahunya. Matanya mendongak keluar jendela kelas. Ada beberapa anak kelas lain yang tengah latihan ekskul di lapangan. Beberapa di antara mereka membawa tandu, yang lain membawa ransel dan satu lagi membawa obat-obatan. "Oh. Anak-anak PMR lagi latihan!" Jawab Citra menoleh lagi. Mereka tengah berkumpul di kelas untuk melakukan rapat. Tahun ini adalah masa purna bakti mereka sebagai pengurus osis. Citra dan Nicho duduk di satu kelas yang sama dan dalam kepengurusan yang sama jua. Keduanya merupakan pengurus osis dimana si tampan Nicho menjadi ketuanya. Sebentar lagi mereka akan lulus dari SMA ini, dan mereka harus mencari anggota baru untuk menggantikan posisi mereka. "Kamu kenal nggak sama cewek itu?" Nicho menunjuk seorang perempuan yang memakai hijab berwarna coklat. Ia memakai topi abu-abu untuk melawan panasnya terik matahari. Citra kembali memandang perempuan yang ada di luar sana dengan mata memicing. Ia kenal siapa perempuan yang dimaksud Nicho. "Bunga Harum." "Bunga Harum mewangi?" Nicho jadi tertawa. Nama perempuan itu sangat cantik, seindah parasnya. "Iya. Anak IPA III, masa kamu nggak kenal juga sih?" "Udah tiga tahun tapi aku nggak pernah sekelas sama Bunga. Kamu kenal kan sama dia?" "Iya. Dulu pernah satu bangku di kelas X." "Kenalin aku ke dia dong." "Hah??" Citra jadi tertawa. "Kenapa? Naksir?!" Nicho menggaruk kepalanya. "Cuma mau kenalan aja." "Dasar!" Gerutu Citra tak mau menanggapi. "Lebih baik kamu fokus belajar aja. Katanya mau masuk kedokteran!" Nicho berdecak. "Kayaknya aku mau putar cita-cita." "Loh, kenapa begitu?" "Darimana aku uang untuk kuliah, Citra. Aku cuma anak yatim. Ibuku kerjanya cuma menjahit, aku masih punya satu adik perempuan yang masih SMP. Kasihan ibu pontang panting mencari uang demi kami." Citra jadi sedih mendengar ucapan Nicho. Ia tahu betul bagaimana sulitnya hidup teman prianya ini. Sejak kecil, ayahnya sudah meninggal karena sakit. Hanga ada ibunya yang bekerja sebagai tukang jahit. Untuk sekolah pun kadang Nicho harus mengambil upah diluar sebagai pekerja paruh waktu. Uang tersebut ia gunakan untuk membeli buku dan juga seragam sekolah. Pria ini cerdas. Dia adalah saingan terberat Citra. Namun keberuntungan mereka tak sama. Citra adalah anak orang kaya. Kedua orang tuanya adalah dokter spesialis ternama. Masuk ke fakultas kedokteran adalah hal yang mudah baginya. Dalam artian, Citra tak perlu bekerja keras dalam meraih impiannya. Sementara kehidupan Nicho sebaliknya. "Kalau begitu kamu harus kejar beasiswa, Nicho." "Ya, mudah-mudahan ada rezeki itu untukku." Sahut Nicho memandang Bunga yang tengah sibuk latihan diluar sana. Masa sekolah berakhir, semua anak kelas sekarang berkumpul ada hari perpisahan sekolah. Citra sudah resmi lulus menjadi mahasiswa fakultas kedokteran. Ia mendapatkannya dari jalur undangan tanpa tes. Ya, sebuah beasiswa yang diberikan pada anak-anak berprestasi. Sedangkan, Nicho lulus di fakultas keguruan. Satu Universitas dengan Citra. "Selamat, Citra." Bunga memberikan pelukannya. "Nanti kalau aku sakit tolong gratisin obatku, ya!" Selorohnya tertawa pada calon dokter ini. Mendengar itu, Citra tertawa. "Beres! Nanti aku gratisin buat kamu. Ngomong-ngomong ada yang mau kenalan nih sama kamu!" Citra lalu memanggil Nicho yang sejak tadi tak berkedip memandang Bunga. "Nicho!" Astaga! Nicho sampai melotot. Dasar kecut! Nicho ingin melarikan diri saat Bunga membalik badannya untuk melihat Nicho. Tapi senyum mengembang itu mengurungkan niatnya. Senyuman Bunga merekah. Begitu manis. Nicho rasanya ingin berubah menjadi kupu-kupu agar bisa hinggap di pipi ranum itu. "Nic! Sini! Katanya mau kenalan sama Bunga." Cetus Citra puas sekali melihat sahabatnya salah tingkah. Matilah aku! Dalam hati Nicho berteriak. Ia berjalan mendekat dengan rasa gugup luar biasa. Bunga tersenyum memandang wajah tampan itu. Ah.. siapa yang tak kenal ketua osis ini? Semua gadis rata-rata menyukainya. Tapi Nicho menjadi langka karena dia adalah pria yang alim. Tak pernah terdengar jika pria ini berpacaran. Prestasinya adalah mengenai pelajaran ataupun hal lainnya. "Hai, Nicho." Sapa Bunga mengulurkan tangan terlebih dahulu. "Hai, Bunga." Citra sampai tertawa melihat pipi Nicho memerah. Pria itu dengan malu-malu menjabat tangan Bunga. Keduanya saling melempar senyuman. "Ku dengar kamu juga udah lulus di fakultas keguruan. Selamat, ya! Rencananya ngambil program studi apa?" Tanya Bunga. "Biologi. Kalau kamu sendiri mau kuliah dimana setelah ini?" Tanya Nicho balik. "Aku juga mau ambil tes di universitas yang sama kayak kamu. Aku ingin kuliah keperawatan, tapi kalau nggak lulus mungkin pilihan keduanya guru bahasa indonesia." "Wah.. itu cita-cita yang mulia." Citra mengulum senyum melihat interaksi keduanya. Ia lalu memundurkan langkahnya untuk memberi ruang Nicho dan Bunga berbicara. Dari jauh, ia melihat kedua orang itu saling bertukar nomor ponsel. Kehidupan berlanjut ke masa kuliah. Citra dan Nicho sering bertemu dalam acara Universitas. Nicho sendiri masih dengan ambisinya menjadi anggota BEM Universitas. Dan selama dua tahun berkuliah, entah sudah berapa kali Citra gonta ganti pacar. Sebagai sahabat yang baik, Nicho selalu memberi nasehat. "Jangan terlalu dekat. Apa kamu nggak malu dilihat banyak orang?" Nicho menggerutu ketika melihat Citra berpelukan dengan lawan jenis di kantin. Bukan karena dia cemburu, melainkan karena dia perduli. Citra ini perempuan, dan Nicho menjaganya seperti saudara sendiri. Citra terkikik. "Apa kamu nggak bosen jomblo terus?? Sana pacaran. Biar hidupmu nggak kelabu!" Nicho menggeleng. "Emangnya siapa yang mau dengan pria miskin sepertiku? Buat beli bensin motor aja susah, gimana mau ngajak pacar jalan??" Citra mendengkus. Dia menatap Nicho lekat. "Aku masih mau menerimamu, kok. Tenang aja. Kita bisa pacaran mulai hari ini. Kamu nggak perlu panas-panasan lagi kuliah naik motor. Nanti ada sopirku yang akan antar jemput kamu." Nicho sampai berdecak. Dia lalu geleng-geleng kepala. "Dasar gila!" Nicho mengambil tas ranselnya dan pergi meninggalkan Citra begitu saja. Diberi nasehat malah tidak mempan! Biarkan saja kalau begitu. Sementara senyuman Citra mengambang saat melihat Nicho menjauh. Matanya lalu memerah. "Andai kamu tahu isi hatiku.." gumam Citra patah hati.Rose akhirnya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Sambil menyelesaikan pendidikan dokternya, Rose juga sering mengunjungi Citra di rumah baru milik wanita itu. Abraham dan Citra telah resmi berpisah dua bulan setelahnya. Kehidupan Rose di rumah sakit juga berjalan dengan normal. Keinginannya tidak dipandang sebagai anak direktur telah dicapai. Sekarang dia bisa belajar dengan bebas tanpa gangguan. Gelar dokter resmi diraih Rose. Nicho dan Citra mendampingi Rose sebagai orang tuanya saat wisuda. "Kamu selalu membanggakan mama." Citra memeluk anaknya dengan erat. Rose berjalan ke sebelah dan memeluk ayahnya. "Ayah sangat menyayangimu." "Aku juga!" Rose menarik diri. "Kita ke makam ibu Bunga. Aku mau menunjukkan ini." Rose ingin memamerkan ijazahnya pada Bunga. Ketiganya lalu pergi ke makam milik Bunga. Disana Rose bercerita mengenai perjuangan selanjut
Rose dibawa pulang oleh ayah kandungnya. Wanita ini diberikan kamar, diminta untuk berganti pakaian. Tantenya yang baik langsung menghidangkan makanan. Takut jika Rose kelaparan karena terlalu lama berkelana di jalanan."Rumah ini kecil, Rose. Mungkin nggak sebesar tempat tinggal kalian." Ucap Nadia sambil menuangkan nasi pada piring keponakannya.Rose tersenyum pahit. "Itu bukan rumahku, bu Nadia. Itu rumah papa Bram dan mama Citra.""Mamamu bilang kalau kamu kabur dari rumah. Apa itu benar?" Tanya Nadia.Rose mengangguk sambil menunduk."Mereka bilang ingin berpisah. Papa juga ingin menjual rumah itu. Lagi pula, mereka bukan orang tuaku." Jawab Rose sambil memandang wajah ayahnya. "Aku tahu pak Nicho pasti sangat terpukul karena perbuatan mama. Aku pun sama. Aku.. merasa seperti alat yang digunakan untuk mama mendapatkan pak Nicho. Aku.. aku..." Rose menangis tak mampu melanjutkan ucapannya."Nak.." tegur Nicho lembut.
Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh
"Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari
Pintu kamar itu diketuk berkali-kali. Rose masih enggan bangkit dari tidurnya. Ia terlungkup menyembunyikan tangisannya di bawah bantal.Semalaman ia tak tertidur karena takut kemarahan orang tuanya, namun pagi ini ia mendapatkan kejutan luar biasa yang berhasil meruntuhkan kepercayaannya.Citra yang ia muliakan memberikan fakta jika ternyata bukan ibu kandungnya. Rose hanyalah anak hasil curian. Ia terpisah dari orang tua aslinya karena obsesi yang dimiliki oleh Citra.Rose semakin menangis saat mengingat perlakuan Nicho padanya. Pria yang ternyata menjadi ayah kandung dari Rose. Pria yang sangat lembut dan juga penyayang."Rose, buka pintunya. Mama ingin bicara, nak.." bujuk Citra dari luar. Daritadi ia mengetuk pintu namun Rose masih enggan membukanya. Citra jadi cemas terlebih tak terdengar sahutan dari dalam."Rose! Kalau kamu nggak buka pintunya, mama akan suruh orang untuk mendobrak kamarmu!" Ucap Citra lagi. Kembali ia menggedor p
"Nicho.. mari kita bicara.." Nicho memandang Citra dengan penuh rasa kecewa. Untuk apa lagi wanita ini datang kemari? Hati Nicho sakit sekali dibuat olehnya. Wanita yang mengaku sebagai sahabatnya malah mengiris dan memberikan luka untuknya."Pergilah, Citra." Sahut Nicho dingin."Kumohon, Nicho. Sebentar saja.. aku ingin menjelaskan semuanya.." pinta Citra penuh harap.Nadia mengusap bahu kakaknya. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi Nadia menduga pasti ada hal yang berat sehingga membuat teman lama kakaknya itu datang kemari."Dengarkan saja, mas." Nicho menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya dan duduk di kursi ruang tamu. Begitu juga dengan Nadia dan Citra yang mengambil tempat duduk dan saling berhadapan."Apa yang kamu pikirkan itu semua benar, Nic. Rose adalah putri kandungmu." Ucap Citra memulai pembicaraan.Nadia terkejut setengah mati. Sedangkan Nicho memejamkan matanya."Aku ti







