LOGINDua minggu selanjutnya menjadi hari yang terberat bagi Bunga. Tangannya harus ditusuk infus berulang kali, obat keras kemoterapi masuk mengaliri pembuluh darahnya.
Apalagi efek samping kemo yang menyebabkan Bunga keletihan sempat membuatnya tak sadarkan diri. Wanita itu muntah hebat ketika selesai kemoterapi. Tak hanya disana, Bunga juga menderita sakit kepala sesampainya di rumah. "Biar aku bantu seka tubuhmu. Kamu jangan bergerak dulu, sayang." Ucap Nicho lembut. "Tapi aku mau buang air, mas.." lirih Bunga dengan mata ingin menangis. "Mari aku bantu." Nicho menggenggam tangan istrinya dan memapah Bunga ke kemar mandi. Disana Bunga buang air kecil dibantu oleh Nicho. Untung saja ia memiliki suami yang siap siaga. Saat Bunga hampir tergelincir jatuh, Nicho langsung memburu tubuh istrinya dalam dekapan. Wanita itu lalu dibaringkannya di atas tempat tidur. "Tidurlah, sayang.." Bunga melenguh dan memejamkan mata. Nicho menuangkan minyak kayu putih dan membalurkannya pada kaki Bunga. Setelah itu ia memberikan pijatan pelan. Saat terdengar suara dengkuran halus dari mulut istrinya barulah Nicho melepaskan tangannya. Ia pun menatap lekat wajah letih itu. "Maaf, sayang.. kamu pasti sangat menderita." Ucap Nicho sangat mencintai wanita ini. "Kita akan hadapi ini bersama-sama. Kamu tidak perlu takut." Sampai kapanpun Nicho tak akan meninggalkan istrinya. Nicho berjanji itu. Dua hari kemudian, Nicho mengajak istrinya kontrol ke Citra. Bunga meluapkan seluruh keluhannya. Mulai dari sakit kepala, sakit seluruh tubuh hingga mual dan muntah. Tak sampai disana, nafsu makan Bunga juga menurun drastis. "Apa kita hentikan aja kemoterapinya, Citra? Rasanya aku nggak sanggup lagi." Seru Bunga lemah. "Jangan, sayang.. ini demi kesembuhanmu." Nicho merengkuh bahu istrinya untuk memberi kekuatan. "Tapi aku nggak sanggup lagi, mas." Lirih Bunga. Citra yang melihat kemesraan keduanya hanya bisa menundukkan kepala. Ada perasaan iri dan juga sakit hati yang tak bisa ia jelaskan. Wanita ini lalu berdeham. "Aku akan memberikan vitamin untukmu, Bunga. Juga.. hasil PA sudah keluar." Nah, Nicho dan Bunga sekarang bersiap mendengar kabar buruk. Tumor yang berdiam di rahim Bunga sudah diangkat dan dianalisis, sekarang pasti ada cerita dibalik berkembang pesatnya penyakit tersebut. "Kami menegakkan diagnosis kankermu dari sejumlah pemeriksaan yang sudah kamu lakukan. Mulai dari pemeriksaan darah, pap smear dan juga usg. Hingga akhirnya tumor mu itu berhasil diangkat, kami juga sudah menelitinya. Ternyata..." Citra meneguk ludahnya sebelum melanjutkan ucapan. "Sesuai dugaan kami, Bunga mengalami kanker keganasan. Dan... aku sarankan agar rahimmu segera diangkat." Sambung Citra tercekat. "Nggak mau!" Sela Bunga menangis. "Aku nggak mau!" "Sayang.. tenang dulu!" Nicho memeluk istrinya. "Apa ada cara selain itu, Citra?" Citra menggeleng. "Untuk membuang penyakit maka kita harus mengambil sumbernya, Nicho. Jika rahim Bunga tidak diangkat maka ada kemungkinan tumornya akan berkembang lagi." "Tapi aku nggak mau menjadi wanita tanpa rahim, Citra. Aku masih mau hamil dan melahirkan." Ucap Bunga tersedu. "Mas, kumohon.." Nicho memeluk istrinya dan membiarkan Bunga menumpahkan tangis di dadanya. Sementara, ia merenungi ucapan Citra. Sahabatnya adalah dokter. Jelas Citra akan memberikan solusi yang terbaik. "Apa setelah rahim Bunga diangkat maka semuanya menjadi selesai? Dia bisa terbebas dari penyakit ini, kan?" Tanya Nicho. Citra memandang Nicho dengan getir. Ia bingung harus menjawab pertanyaan itu. Apalagi itu terlontar dari mulut sahabatnya. "Aku juga berharap seperti itu. Setidaknya sebelum sel kanker itu berkembang ke organ lain." Nicho mengangguk. Ia setuju akan operasi ini tapi tidak dengan Bunga. Wanita itu masih menangis. Ia mengelak dioperasi. "Aku nggak mau, mas. Lebih baik aku mati membawa rahimku daripada aku harus menjadi wanita yang tak sempurna!" Bunga bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang periksa. Meninggalkan Nicho dan Citra begitu saja. "Bunga! Sayang!" Oh.. Nicho ikut merasakan keputusasaan tersebut. "Hal yang wajar jika dia menolak, Nicho. Tugasmu sekarang menguatkan mentalnya. Bunga pasti terpukul sekali." Sambung Citra mengerti. "Aku akan memberi kabar padamu lagi. Kapan kita bisa rencanakan operasinya?" "Secepat mungkin." Jawab Citra. Ia yakin Bunga sekarang tengah berlari berkejaran dengan waktu. Oleh sebab itu, ia tak mau Bunga kalah dengan penyakitnya. "Baiklah." Nicho memutar tubuhnya dan hendak keluar dari ruang kerja Citra. Namun, ia teringat sesuatu. "Citra. Apa ada kabar soal bayi tabung kami?" Tanya Nicho memandang lekat. Sudah dua bulan lebih tapi dokter Chandra belum ada menghubunginya. "Itu.." tiba-tiba saja Citra menjadi gugup. Tangannya mengepal dengan erat. "Maaf sekali, Nicho.." Melihat wajah Citra yang berubah pedih, ia tahu apa jawabannya. "Terima kasih atas bantuanmu, Citra. Tidak masalah." Nicho berusaha tersenyum di atas kesedihannya. Rahim Bunga juga akan diangkat, jika pun program bayi tabung itu berhasil maka kemana akan dilekatkan calon anaknya itu. Sementara Nicho sudah tak berniat memiliki istri lagi.Rose akhirnya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Sambil menyelesaikan pendidikan dokternya, Rose juga sering mengunjungi Citra di rumah baru milik wanita itu. Abraham dan Citra telah resmi berpisah dua bulan setelahnya. Kehidupan Rose di rumah sakit juga berjalan dengan normal. Keinginannya tidak dipandang sebagai anak direktur telah dicapai. Sekarang dia bisa belajar dengan bebas tanpa gangguan. Gelar dokter resmi diraih Rose. Nicho dan Citra mendampingi Rose sebagai orang tuanya saat wisuda. "Kamu selalu membanggakan mama." Citra memeluk anaknya dengan erat. Rose berjalan ke sebelah dan memeluk ayahnya. "Ayah sangat menyayangimu." "Aku juga!" Rose menarik diri. "Kita ke makam ibu Bunga. Aku mau menunjukkan ini." Rose ingin memamerkan ijazahnya pada Bunga. Ketiganya lalu pergi ke makam milik Bunga. Disana Rose bercerita mengenai perjuangan selanjut
Rose dibawa pulang oleh ayah kandungnya. Wanita ini diberikan kamar, diminta untuk berganti pakaian. Tantenya yang baik langsung menghidangkan makanan. Takut jika Rose kelaparan karena terlalu lama berkelana di jalanan."Rumah ini kecil, Rose. Mungkin nggak sebesar tempat tinggal kalian." Ucap Nadia sambil menuangkan nasi pada piring keponakannya.Rose tersenyum pahit. "Itu bukan rumahku, bu Nadia. Itu rumah papa Bram dan mama Citra.""Mamamu bilang kalau kamu kabur dari rumah. Apa itu benar?" Tanya Nadia.Rose mengangguk sambil menunduk."Mereka bilang ingin berpisah. Papa juga ingin menjual rumah itu. Lagi pula, mereka bukan orang tuaku." Jawab Rose sambil memandang wajah ayahnya. "Aku tahu pak Nicho pasti sangat terpukul karena perbuatan mama. Aku pun sama. Aku.. merasa seperti alat yang digunakan untuk mama mendapatkan pak Nicho. Aku.. aku..." Rose menangis tak mampu melanjutkan ucapannya."Nak.." tegur Nicho lembut.
Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh
"Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari
Pintu kamar itu diketuk berkali-kali. Rose masih enggan bangkit dari tidurnya. Ia terlungkup menyembunyikan tangisannya di bawah bantal.Semalaman ia tak tertidur karena takut kemarahan orang tuanya, namun pagi ini ia mendapatkan kejutan luar biasa yang berhasil meruntuhkan kepercayaannya.Citra yang ia muliakan memberikan fakta jika ternyata bukan ibu kandungnya. Rose hanyalah anak hasil curian. Ia terpisah dari orang tua aslinya karena obsesi yang dimiliki oleh Citra.Rose semakin menangis saat mengingat perlakuan Nicho padanya. Pria yang ternyata menjadi ayah kandung dari Rose. Pria yang sangat lembut dan juga penyayang."Rose, buka pintunya. Mama ingin bicara, nak.." bujuk Citra dari luar. Daritadi ia mengetuk pintu namun Rose masih enggan membukanya. Citra jadi cemas terlebih tak terdengar sahutan dari dalam."Rose! Kalau kamu nggak buka pintunya, mama akan suruh orang untuk mendobrak kamarmu!" Ucap Citra lagi. Kembali ia menggedor p
"Nicho.. mari kita bicara.." Nicho memandang Citra dengan penuh rasa kecewa. Untuk apa lagi wanita ini datang kemari? Hati Nicho sakit sekali dibuat olehnya. Wanita yang mengaku sebagai sahabatnya malah mengiris dan memberikan luka untuknya."Pergilah, Citra." Sahut Nicho dingin."Kumohon, Nicho. Sebentar saja.. aku ingin menjelaskan semuanya.." pinta Citra penuh harap.Nadia mengusap bahu kakaknya. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi Nadia menduga pasti ada hal yang berat sehingga membuat teman lama kakaknya itu datang kemari."Dengarkan saja, mas." Nicho menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya dan duduk di kursi ruang tamu. Begitu juga dengan Nadia dan Citra yang mengambil tempat duduk dan saling berhadapan."Apa yang kamu pikirkan itu semua benar, Nic. Rose adalah putri kandungmu." Ucap Citra memulai pembicaraan.Nadia terkejut setengah mati. Sedangkan Nicho memejamkan matanya."Aku ti







